Pendaftaran UMS Health Innovation Hackathon 2026 Dibuka, Peserta Ditantang Ciptakan Solusi
- account_circle Maysali/Humas
- calendar_month 11 jam yang lalu
- visibility 20
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
KABARMUH.ID, SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar Health Innovation Hackathon 2026 sebagai upaya mendorong pengembangan dan hilirisasi inovasi di bidang kesehatan. Kegiatan tersebut menjadi ruang bagi civitas academica dan praktisi untuk mengembangkan solusi atas permasalahan nyata di bidang kesehatan sekaligus menghasilkan inovasi yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat secara lebih luas.
Dalam sosialisasinya, Direktur Direktorat Riset, Pengabdian kepada Masyarakat, Publikasi, dan Sentra Kekayaan Intelektual (DRPPS) Prof. Ir. Sarjito, M.T., Ph.D., menyampaikan bahwa UMS Hackathon 2026 bukan sekadar kompetisi, melainkan bagian dari respons strategis UMS terhadap arah pengembangan riset dan inovasi nasional.
“Hackathon ini bukan sekadar lomba. Ini adalah jawaban strategis UMS terhadap peta jalan riset nasional yang sempat dirumuskan dalam KSTI 2025,” ujarnya, Rabu (7/10/2026).

Direktur Direktorat Riset, Pengabdian kepada Masyarakat, Publikasi, dan Sentra Kekayaan Intelektual (DRPPS) Prof. Ir. Sarjito, M.T., Ph.D., saat memberikan sambutan pada saat kegiatan sosialisasi UMS Health Innovation Hackathon 2026
Ia menjelaskan, sektor kesehatan menjadi salah satu dari delapan prioritas utama dalam Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) 2025, berdampingan dengan digitalisasi, artificial intelligence, dan hilirisasi industri. Menurutnya, arah tersebut sejalan dengan potensi inovasi kesehatan yang telah dikembangkan UMS.
“Namun, pertanyaannya di sini adalah bagaimana inovasi yang masih di laboratorium ini agar bisa menjadi produk yang dipakai oleh masyarakat luas? Maka jawabannya adalah tentu saja pada hilirisasi. Dan Hackathon inilah jembatannya,” jelasnya.
Ia menambahkan, kolaborasi lintas disiplin menjadi salah satu kunci dalam menghasilkan inovasi kesehatan. Karena itu, peserta didorong untuk membangun tim yang melibatkan berbagai bidang keilmuan, seperti kedokteran, farmasi, teknik, informatika, hingga ekonomi.
“Gabungan kedokteran, farmasi, teknik, informatika, dan ekonomi. Inovasi kesehatan itu yang terbaik lahir dari sebuah kolaborasi. Jadi inovasi yang baik itu lahir dari kolaborasi. Ini adalah kuncinya,” tuturnya.
Selain kolaborasi, peserta juga didorong menghasilkan inovasi yang solutif dan memiliki orientasi hilirisasi. Pengembangan inovasi tidak diharapkan berhenti pada tahap prototipe, tetapi turut mempertimbangkan model bisnis, aspek regulasi, termasuk bidang BPOM, sinergi dengan Kementerian Kesehatan, serta kemanfaatannya bagi masyarakat di Solo Raya maupun Indonesia.
“Jangan sampai penelitian hanya berhenti di prototipe saja. Kita perlu memikirkan model bisnis, regulasi, mungkin di bidang Badan Pengawas Obat dan Makanan/BPOM, sinergi dengan Kemenkes, dan kemanfaatan untuk masyarakat di Solo Raya maupun Indonesia pada umumnya,” katanya.
Health Innovation Hackathon 2026 juga menjadi kesempatan bagi peserta untuk berani menampilkan hasil inovasinya. Karya yang dihasilkan nantinya akan melalui proses kurasi untuk dipertimbangkan menjadi representasi UMS dalam KSTI 2026.
“Berani tampil. Baik di Hackathon ini maupun nanti kalau menjadi nominator itu bisa tampil di KSTI. Hasil dari Hackathon ini akan kita kurasi untuk kita bawa sebagai representasi UMS di KSTI ’26 nanti, bersanding dengan produk-produk yang tentu saja sudah kita mapping di UMS,” ungkapnya.
Tim Taskforce UMS Hackathon 2026, Agus Triyono, S.Sos., M.Si., menyampaikan bahwa Health Innovation Hackathon 2026 menggandeng tiga mitra, yakni CV Arbain, RS AR Fachruddin, dan PT Likuid Pharmalab Indonesia (LKPI).
Agus menjelaskan, peserta akan mengembangkan solusi berdasarkan permasalahan yang dihadapi masing-masing mitra. Tantangan tersebut dapat berupa pengembangan sistem informasi, pembuatan formula, maupun kebutuhan lain yang membutuhkan solusi berbasis inovasi dan teknologi.
Proses pengembangan dilakukan secara intensif melalui pembekalan, kerja tim, serta pendampingan. Peserta kemudian mengembangkan gagasan hingga menghasilkan purwarupa. Purwarupa tersebut selanjutnya akan diuji bersama mitra untuk melihat kesesuaian solusi yang dikembangkan dengan permasalahan yang dihadapi. Selain itu, peserta tim juga akan mendapatkan pendanaan dengan total dana mencapai ratusan juta rupiah.
“Di UMS Health Innovation Hackathon, kebutuhan mitra menjadi dasar pengembangan inovasi kesehatan,” ujar Agus.
Menurutnya, pendekatan tersebut diharapkan memastikan teknologi maupun inovasi yang dikembangkan peserta tidak hanya memiliki nilai kebaruan, tetapi juga mampu menjawab kebutuhan nyata dari mitra.
Program ini menjadi wadah pengembangan inovasi kesehatan berbasis deep tech yang mempertemukan dosen, mahasiswa, dan praktisi untuk menjawab tantangan nyata dari rumah sakit maupun mitra industri.
Peserta dapat membentuk tim yang terdiri atas minimal dua unsur dari mahasiswa, dosen, atau praktisi beranggotakan 3-6 orang. Batas maksimal pengumpulan proposal pada 15 Oktober 2026. Informasi mengenai pendaftaran dan berbagai tantangan yang dapat dipilih peserta tersedia melalui website resmi UMS Hackathon https://ihub.ums.ac.id/hackathon. (Maysali/Humas)
- Penulis: Maysali/Humas
- Editor: Unais Al bunayya