Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Esai » Tapak Jejak Pendidikan Indonesia di Era 4.0

Tapak Jejak Pendidikan Indonesia di Era 4.0

  • account_circle Kabar Muhammadiyah
  • calendar_month Jumat, 25 Mar 2022
  • visibility 673
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh : Ghinaa Masturina

Berbicara mengenai Pendidikan di Indonesia, tanpa disadari kita sangatlah dekat dengan kata ‘penindasan’, baik dari segi politik, sosial, budaya, Pendidikan, dan lain-lain. Penindasan dominan dirasakan oleh kaum lemah atau kaum tertindas seperti orang miskin, kelompok minoritas, penyandang disabilitas, dan lain sebagainya. Hal seperti ini telah dibahas oleh Paulo Freire dalam bukunya yang berjudul “Pedagogy of Oppresed” yang telah diterjemahkan kedalam Bahasa Indonesia menjadi “Pendidikan Kaum Tertindas”. Freire membahas pemikirannya mengenai betapa pentingnya Pendidikan untuk kaum tertindas, humanisasi, Pendidikan gaya bank, Pendidikan hadap masalah, serta Pendidikan dialogis dan antidialogis, yang mana hal ini tak jarang ditemui dalam Pendidikan di Indonesia.

Humanisasi dapat dikatakan sebagai suatu langkah untuk memanusiakan manusia, tetapi yang dihadapi sekarang ialah belum meratanya Pendidikan di Indonesia dan masih banyak kaum yang belum merasakan kemerdekaan dalam belajar. Tidak meratanya Pendidikan di Indonesia dapat disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya yaitu minimnya sarana dan prasarana, rendahnya kualitas guru, rendahnya kesejahteraan guru dan prestasi murid, kurangnya pemerataan Pendidikan ke pelosok desa, rendahnya kecocokan Pendidikan dengan kebutuhan dunia kerja, dan mahalnya biaya Pendidikan (Zulkarnaen & Handoyo, 2019). Faktor-faktor di atas dapat terjadi karena, ketidakseimbangan pengoptimalan Pendidikan di daerah kota dan daerah terpencil. Selain itu, kemiskinan juga berperan dalam masalah ini.

Kebanyakan kaum tertindas (miskin) tidak dapat melanjutkan pendidikannya meskipun tinggal di daerah perkotaan yang kualitas pendidikannya sudah memadai karena biaya yang terlampau mahal, atau karena mereka lebih memilih untuk bekerja demi kelangsungan hidupnya beserta keluarga ketimbang menyelesaikan pendidikannya sendiri. Sekolah-sekolah yang berada di daerah 3T (Terdepan, Terpencil, dan Tertinggal)  seperti di pedalaman Indonesia Timur masih banyak yang belum memiliki fasilitas layak dan susah untuk merealisasikan dana BOS. Selain itu, tenaga jasa guru di daerah terpencil masih kurang memadai, walaupun ada biasanya mereka berasal dari masyarakat yang bekerja sukarela atau bahkan mendapat gaji lebih rendah daripada guru-guru diperkotaan. Permasalahan seperti ini dapat dikatakan sebagai bentuk ketidakadilan, karena Pada era modernisasi seperti saat ini sekolah-sekolah di daerah 3T belum bisa mendapatkan sarana dan prasarana Pendidikan yang layaknya seperti di daerah perkotaan.

Salah satu bentuk dari humanisasi yang lain ialah menghargai sesama dan tidak melakukan penindasan atau tindak kekerasan terhadap satu sama lain. Namun, perundungan atau penindasan sering terjadi dikalangan pelajar atau mahasiswa di Indonesia, mereka melakukannya secara sadar maupun tidak sadar. Anak-anak atau remaja yang memiliki keterbatasan finansial, penyandang disabilitas, memiliki keterbelakangan mental, atau anak yang dianggap lemah biasanya akan mendapat ejekan atau perlakuan yang berbeda dari teman-temannya padahal mereka juga berhak merasakan kebebasan dalam belajar dan bersosialisasi di lingkungannya.

Tindakan perundungan yang terjadi di sekolah dapat merusak mental maupun fisik anak bangsa, serta menyebabkan rasa takut, trauma, putus asa, rendah diri, dan bahkan dapat menjadi penyebab kasus bunuh diri pada remaja. Anak-anak korban perundungan di sekolah terkadang menjadi perundung juga, mereka bisa saja menindas kaum yang lebih lemah daripada mereka, karena seperti yang telah dijelaskan Freire (2008), kaum yang tertindas telah menanamkan pemikiran bahwa hanya ada kaum penindas dan kaum tertindas, sehingga mereka berpikir apabila telah bebas dari kaum tertindas maka akan berbalik menjadi kaum penindas. Maka dari itu, diperlukan adanya Pendidikan untuk kaum tertindas yang dibutuhkan oleh kedua belah pihak, yaitu penindas dan yang tertindas.

Setelah membahas mengenai humanisasi, tahukah kamu bahwa sistem pembelajaran dapat menjadi sebuah bentuk penindasan dalam pendidikan? Freire (2008) mengungkapkan dalam bukunya mengenai sistem Pendidikan bank bahwa, proses yang terjadi dalam pembelajaran gaya bank adalah guru menyampaikan pertanyaan-pertanyaannya dan ruang gerak yang disediakan bagi para murid hanya terbatas pada menerima, mencatat, dan menyimpan. Meskipun Indonesia telah menerapkan kurikulum 2013 dalam sistem pembelajaran, dimana murid di dorong menjadi lebih aktif dan menggali lebih dalam mengenai kemampuannya, masih sering ditemukan keadaan ketika para murid atau mahasiswa merasakan kejenuhan selama pembelajaran berlangsung dan ingin segera mengakhiri kelas tersebut. Tanpa disadari hal seperti ini termasuk dalam pembelajaran satu arah atau gaya bank dan para pelajar tidak merasakan kemerdekaan dalam belajar.

Solusi dari pembelajaran gaya bank telah dibahas oleh Freire (2008), yaitu sistem Pendidikan hadap masalah. Pada sistem Pendidikan ini, guru dan murid bertukar pendapat, berpikir, serta mengembangkan diri bersama. Tidak seperti gaya bank yang digambarkan Freire dimana guru sebagai subjek  dan  pelajar sebagai objeknya, tetapi dalam sistem Pendidikan hadap masalah, guru dan pelajar bersamaan menjadi subjek dan disatukan oleh objek yang sama. Dalam hal ini, dialog merupakan hal yang penting, karena dari dialog terdapat kata-kata yang apabila diucapkan dapat menimbulkan komunikasi, dari komunikasi dapat tercipta pemikiran-pemikiran kritis yang dapat mengubah dunia dan memicu pembebasan. Dialog menuntut seseorang untuk bersikap mau mendengar, memahami diri sendiri, memiliki selera humor, dan berani berpendapat serta menuntut suatu program yang bersifat dialogis.

Sistem Pendidikan dialogis memiliki sifat kooperatif, yaitu pemimpin dan masyarakat menjadi satu kesatuan dalam usaha pembebasan, karena pembebasan tidak dapat terjadi karena paksaan pimpinan tetapi haruslah kesadaran dari dua belah pihak. Lawan dari sistem Pendidikan dialogis adalah sistem Pendidikan antidialogis yang memiliki ciri membuat manusia tetap tertindas dengan usaha untuk menguasai manusia. Tindakan antidialogis memanipulasi masyarakat dengan adanya mitos-mitos yang disebarkan oleh kaum penindas agar kaum yang tertindas merasa rendah diri dan menghambat kreativitas mereka. Contohnya mitos yang mengatakan bahwa orang miskin tidak perlu atau tidak bisa berpendidikan tinggi, padahal Pendidikan itu ditujukan untuk siapapun tanpa memandang status dan dapat dicapai ketika memiliki tekad yang kuat.

Setelah membaca uraian dan beberapa contoh diatas, dapat diketahui bahwa negara kita masih jauh dari kata berhasil dalam mencapai kejayaan dalam bidang Pendidikan. Masih banyak permasalahan-permasalahan yang belum dapat terselesaikan. Namun begitu, bukan berarti pemerintah tidak memiliki usaha untuk mengatasinya. Pemerintah telah melakukan banyak upaya untuk mengatasi terhambatnya kemajuan Pendidikan di Indonesia dengan menyediakan berbagai macam beasiswa, penyediaan kuota gratis untuk pembelajaran online, kunjungan sekolah di daerah 3T, dan lain sebagainya. Perlu diketahui bahwa Pendidikan merupakan elemen yang sangat penting untuk memberantas penindasan dan membebaskan kaum yang tertindas agar nasib Pendidikan di Indonesia menjadi lebih baik lagi dan dapat mencapai kejayaan di masa depan.

Referensi :

Freire, Paulo. (Trans). (2008). Pendidikan Kaum Tertindas. Indonesia, Jakarta: Pustaka LP3ES. Diakses pada 22 Maret 2022 dari https://drive.google.com/file/d/1ejrz9TSRxdmbnHaqgzwuH_YqFJ6Uj2KI/view?usp=drivesdk

Zulkarnaen., & Handoyo, A. D. (2019). Faktor-Faktor Penyebab Pendidikan Tidak Merata di Indonesia. Dalam Prosiding Seminar Nasional “Menjadi Mahasiswa yang Unggul di era Industri 4.0 dan Society 5.0”, 20-24. Diakses pada 22 Maret 2022 dari https://bimawa.uad.ac.id/wp-content/uploads/Paper-Seminar-Nasional-2.pdf

  • Penulis: Kabar Muhammadiyah

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • KMF-EB UMS Gelar Seminar dan Talkshow, Wujudkan Pemimpin Berintegritas di Era Globalisasi

    KMF-EB UMS Gelar Seminar dan Talkshow, Wujudkan Pemimpin Berintegritas di Era Globalisasi

    • calendar_month Minggu, 8 Des 2024
    • account_circle Najihus Salam
    • visibility 147
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, SURAKARTA – Koordinator Mentoring Fakultas Ekonomi & Bisnis (KMF-EB) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) mengadakan kegiatan Seminar dan Talkshow dengan tema “Dari hati ke aksi” yang dilaksanakan pada Minggu, (8/12) di Auditorium Moh. Djazman Kampus I UMS. Seminar dan Talkshow ini menghadirkan narasumber yang luar biasa seperti M. Atiatul Muqtadir, drg (Founder & Ketua BEM […]

  • Lazismu dan BCA Jalin Kerja Sama Permudah Pembayaran Zakat, Infaq, dan Shadaqah Lewat MyBCA

    Lazismu dan BCA Jalin Kerja Sama Permudah Pembayaran Zakat, Infaq, dan Shadaqah Lewat MyBCA

    • calendar_month Kamis, 27 Mar 2025
    • account_circle Najihus Salam
    • visibility 61
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, JAKARTA – Lembaga Amil Zakat, Infaq, dan Shadaqah Muhammadiyah (Lazismu) resmi menjalin kerja sama dengan PT Bank Central Asia Tbk (BCA) dalam pengembangan sistem pembayaran Zakat, Infak, dan Sedekah (ZIS) melalui aplikasi MyBCA. Seremoni penandatanganan kerja sama ini berlangsung di Gedung Dakwah Muhammadiyah, dihadiri oleh Badan Pengurus Lazismu Pusat Ahmad Imam Mujadid Rais, Presiden […]

  • Paradigma Komprehensif dalam Penanganan Covid-19

    Paradigma Komprehensif dalam Penanganan Covid-19

    • calendar_month Kamis, 15 Okt 2020
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 1.066
    • 0Komentar

    Oleh: Naufal Febrian* Dilansir dari www.bps.go.id (28/09/2020) bahwa Badan Pusat Statistik Indonesia mengumumkan pertumbuhan ekonomi kuartal kedua tahun ini minus 5,32%. Pemerintah dan pengamat juga telah memprediksi kemungkinan pertumbuhan negatif berlanjut pada kuartal ketiga. Hal ini terjadi akibat pandemi Covid-19. Indonesia akan masuk jurang resesi jika kondisi ini terus terjadi pada kuartal-kuartal berikutnya. Tak dapat dipungkiri […]

  • IMM Cabang Kota Yogyakarta Menanggapi Ancaman Terhadap Keruntuhan Demokrasi  di Indonesia

    IMM Cabang Kota Yogyakarta Menanggapi Ancaman Terhadap Keruntuhan Demokrasi di Indonesia

    • calendar_month Sabtu, 10 Feb 2024
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 403
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Yogyakarta – IMM Cabang AR. Fachruddin Kota Yogyakarta menanggapi situasi demokrasi dan politik yang berkembang di Indonesia melalui pernyataan sikap yang dipublikasi melalui Konferensi Pers serta lewat media daring di Instagram @immarfakhruddin pada Minggu, 11 Februari 2024. IMM Cabang AR. Fakhruddin Kota Yogyakarta telah mencermati sekaligus memperhatikan kondisi perpolitikan yang berkembang dan melihat bahwa […]

  • Indonesia Peringkat Lima Dunia, Hipertensi Ancam Remaja Usia Produktif

    Indonesia Peringkat Lima Dunia, Hipertensi Ancam Remaja Usia Produktif

    • calendar_month Sabtu, 17 Mei 2025
    • account_circle Dwi Kurniadi
    • visibility 147
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, SURAKARTA — Prevalensi hipertensi di Indonesia saat ini mencapai angka mengkhawatirkan. Berdasarkan data terbaru Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, sebanyak 34,11% masyarakat Indonesia mengidap hipertensi atau tekanan darah tinggi. Angka tersebut menempatkan Indonesia di peringkat kelima dunia sebagai negara dengan jumlah penderita hipertensi terbanyak. Dalam rangka memperingati Hari Hipertensi Sedunia yang jatuh setiap 17 […]

  • Kader IMM DIY Serukan Keadilan dan Amanah Hadapi Main Hakim Sendiri, Kemiskinan, dan Korupsi

    Kader IMM DIY Serukan Keadilan dan Amanah Hadapi Main Hakim Sendiri, Kemiskinan, dan Korupsi

    • calendar_month Sabtu, 1 Agt 2026
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 74
    • 0Komentar

    KABARMUH. ID, BANTUL — Khutbah Salat Jumat di Masjid Al- Musannif, 50 Tabligh Institute, Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Jumat (31/7), mengangkat keresahan atas maraknya aksi main hakim sendiri, himpitan ekonomi yang menghimpit masyarakat, dan praktik korupsi yang dinilai tak kunjung surut.  Bertajuk “Antara Keadilan, Kesabaran, dan Amanah: Menyikapi Main Hakim Sendiri, Himpitan Ekonomi, dan Korupsi”, khutbah disampaikan oleh Dafa Isandi Ananto, S.Hum., Sekretaris DPD IMM DIY Bidang Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat yang juga mahasiswa Magister Antropologi Universitas Gadjah Mada menegaskan tiga persoalan tersebut yang saling berkelindan dan berakar pada dua nilai dasar Islam, yakni keadilan dan amanah. Ia mengawali dengan menyoroti bahaya tindakan main hakim sendiri atau vigilantisme yang belakangan terjadi di tengah masyarakat, seperti kasus pengeroyokan terhadap terduga pencuri hingga tindak kekerasan massa lainnya. “Perbuatan main hakim sendiri, betapapun kemarahan yang mendasarinya bisa dipahami, tentu tidak dibenarkan dalam Islam. Penegakan hukum adalah hak dan kewajiban otoritas yang berwenang, bukan hak perorangan atau kerumunan,” ujarnya mengutip QS. An-Nisa ayat 58 tentang kewajiban menetapkan hukum secara adil. Meski demikian, Dafa mengajak jamaah untuk jujur melihat akar persoalan. Menurutnya, tidak sedikit kasus pencurian kecil di masyarakat berawal dari desakan kebutuhan hidup, bukan semata niat jahat. “Ini bukan pembenaran atas perbuatan mencuri, karena mencuri tetap haram dan harus dipertanggungjawabkan. Namun memahami sebabnya, penting agar penyelesaiannya menyentuh akar permasalahan, bukan berhenti pada amarah sesaat,” katanya, mencontohkan kebijakan Khalifah Umar bin Khattab r.a. yang menangguhkan hukuman potong tangan bagi pencuri saat terjadi paceklik. Ia mengingatkan kaidah fikih dar’ul mafasid muqaddamun ‘ala jalbil mashalih, yang artinya “mencegah kerusakan lebih diutamakan daripada mendatangkan kemaslahatan.” Hal tersebut sebagai dasar pentingnya peran pemerintah, ulama, dan masyarakat untuk membuka lapangan kerja layak serta menghadirkan jaring pengaman sosial, bukan sekadar menghukum gejala di permukaan. Kedua, Dafa membahas himpitan ekonomi yang dihadapi banyak keluarga akibat kenaikan harga kebutuhan pokok dan terbatasnya lapangan kerja. Ia mengajak jamaah untuk menguatkan ikhtiar yang halal sekaligus tawakal, mengutip QS. At-Talaq ayat 2-3 tentang jalan keluar dan rezeki tak terduga bagi siapa saja yang bertakwa. “Himpitan ekonomi tidak boleh dijadikan alasan untuk menempuh jalan haram, baik itu mencuri, menipu, berutang riba, apalagi terlibat korupsi. Justru dalam kesempitan itulah keimanan seseorang diuji,” tegasnya. Ketiga, Dafa menyoroti praktik korupsi yang menurutnya justru memperparah kesulitan ekonomi rakyat kecil karena dana yang seharusnya sampai kepada yang membutuhkan diselewengkan oleh pihak yang mengkhianati amanah. “Korupsi bukan hanya pelanggaran hukum negara, tetapi juga dosa besar di hadapan Allah karena merupakan bentuk pengkhianatan terhadap amanah dan penzaliman terhadap hak-hak rakyat,” tegasnya. Ia membedakan akar dua persoalan tersebut. Jika pencurian kecil oleh rakyat kerap lahir dari desakan kebutuhan hidup, korupsi oleh sebagian pejabat atau pemegang amanah umumnya lahir dari keserakahan dan rasa tidak pernah cukup. “Memutus mata rantai kemiskinan struktural, pencurian kecil, hingga aksi main hakim sendiri harus dimulai dari akar paling atas, yakni memberantas korupsi serta menegakkan amanah,” ujarnya. Di penghujung khutbah, Dafa mengajak jamaah untuk menahan diri dari tindakan main hakim sendiri dan menyerahkan permasalahan hukum kepada pihak berwenang, sembari mendesak aparat keamanan meningkatkan kesiapsiagaan 24 jam. Ia juga mengajak untuk menguatkan ikhtiar halal di tengah kesulitan ekonomi, menjauhi dan melawan praktik korupsi sekecil apa pun mulai dari diri sendiri. Selain itu, selalu memperbanyak doa kepada Allah SWT agar hadirnya pemimpin yang amanah, serta memperkuat ta’awun atau saling membantu antar sesama, khususnya di masa-masa sulit seperti sekarang. Kontributor: Faisal Editor: Muhammad Farhan

expand_less