Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Esai » Tapak Jejak Pendidikan Indonesia di Era 4.0

Tapak Jejak Pendidikan Indonesia di Era 4.0

  • account_circle Kabar Muhammadiyah
  • calendar_month Jumat, 25 Mar 2022
  • visibility 617
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh : Ghinaa Masturina

Berbicara mengenai Pendidikan di Indonesia, tanpa disadari kita sangatlah dekat dengan kata ‘penindasan’, baik dari segi politik, sosial, budaya, Pendidikan, dan lain-lain. Penindasan dominan dirasakan oleh kaum lemah atau kaum tertindas seperti orang miskin, kelompok minoritas, penyandang disabilitas, dan lain sebagainya. Hal seperti ini telah dibahas oleh Paulo Freire dalam bukunya yang berjudul “Pedagogy of Oppresed” yang telah diterjemahkan kedalam Bahasa Indonesia menjadi “Pendidikan Kaum Tertindas”. Freire membahas pemikirannya mengenai betapa pentingnya Pendidikan untuk kaum tertindas, humanisasi, Pendidikan gaya bank, Pendidikan hadap masalah, serta Pendidikan dialogis dan antidialogis, yang mana hal ini tak jarang ditemui dalam Pendidikan di Indonesia.

Humanisasi dapat dikatakan sebagai suatu langkah untuk memanusiakan manusia, tetapi yang dihadapi sekarang ialah belum meratanya Pendidikan di Indonesia dan masih banyak kaum yang belum merasakan kemerdekaan dalam belajar. Tidak meratanya Pendidikan di Indonesia dapat disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya yaitu minimnya sarana dan prasarana, rendahnya kualitas guru, rendahnya kesejahteraan guru dan prestasi murid, kurangnya pemerataan Pendidikan ke pelosok desa, rendahnya kecocokan Pendidikan dengan kebutuhan dunia kerja, dan mahalnya biaya Pendidikan (Zulkarnaen & Handoyo, 2019). Faktor-faktor di atas dapat terjadi karena, ketidakseimbangan pengoptimalan Pendidikan di daerah kota dan daerah terpencil. Selain itu, kemiskinan juga berperan dalam masalah ini.

Kebanyakan kaum tertindas (miskin) tidak dapat melanjutkan pendidikannya meskipun tinggal di daerah perkotaan yang kualitas pendidikannya sudah memadai karena biaya yang terlampau mahal, atau karena mereka lebih memilih untuk bekerja demi kelangsungan hidupnya beserta keluarga ketimbang menyelesaikan pendidikannya sendiri. Sekolah-sekolah yang berada di daerah 3T (Terdepan, Terpencil, dan Tertinggal)  seperti di pedalaman Indonesia Timur masih banyak yang belum memiliki fasilitas layak dan susah untuk merealisasikan dana BOS. Selain itu, tenaga jasa guru di daerah terpencil masih kurang memadai, walaupun ada biasanya mereka berasal dari masyarakat yang bekerja sukarela atau bahkan mendapat gaji lebih rendah daripada guru-guru diperkotaan. Permasalahan seperti ini dapat dikatakan sebagai bentuk ketidakadilan, karena Pada era modernisasi seperti saat ini sekolah-sekolah di daerah 3T belum bisa mendapatkan sarana dan prasarana Pendidikan yang layaknya seperti di daerah perkotaan.

Salah satu bentuk dari humanisasi yang lain ialah menghargai sesama dan tidak melakukan penindasan atau tindak kekerasan terhadap satu sama lain. Namun, perundungan atau penindasan sering terjadi dikalangan pelajar atau mahasiswa di Indonesia, mereka melakukannya secara sadar maupun tidak sadar. Anak-anak atau remaja yang memiliki keterbatasan finansial, penyandang disabilitas, memiliki keterbelakangan mental, atau anak yang dianggap lemah biasanya akan mendapat ejekan atau perlakuan yang berbeda dari teman-temannya padahal mereka juga berhak merasakan kebebasan dalam belajar dan bersosialisasi di lingkungannya.

Tindakan perundungan yang terjadi di sekolah dapat merusak mental maupun fisik anak bangsa, serta menyebabkan rasa takut, trauma, putus asa, rendah diri, dan bahkan dapat menjadi penyebab kasus bunuh diri pada remaja. Anak-anak korban perundungan di sekolah terkadang menjadi perundung juga, mereka bisa saja menindas kaum yang lebih lemah daripada mereka, karena seperti yang telah dijelaskan Freire (2008), kaum yang tertindas telah menanamkan pemikiran bahwa hanya ada kaum penindas dan kaum tertindas, sehingga mereka berpikir apabila telah bebas dari kaum tertindas maka akan berbalik menjadi kaum penindas. Maka dari itu, diperlukan adanya Pendidikan untuk kaum tertindas yang dibutuhkan oleh kedua belah pihak, yaitu penindas dan yang tertindas.

Setelah membahas mengenai humanisasi, tahukah kamu bahwa sistem pembelajaran dapat menjadi sebuah bentuk penindasan dalam pendidikan? Freire (2008) mengungkapkan dalam bukunya mengenai sistem Pendidikan bank bahwa, proses yang terjadi dalam pembelajaran gaya bank adalah guru menyampaikan pertanyaan-pertanyaannya dan ruang gerak yang disediakan bagi para murid hanya terbatas pada menerima, mencatat, dan menyimpan. Meskipun Indonesia telah menerapkan kurikulum 2013 dalam sistem pembelajaran, dimana murid di dorong menjadi lebih aktif dan menggali lebih dalam mengenai kemampuannya, masih sering ditemukan keadaan ketika para murid atau mahasiswa merasakan kejenuhan selama pembelajaran berlangsung dan ingin segera mengakhiri kelas tersebut. Tanpa disadari hal seperti ini termasuk dalam pembelajaran satu arah atau gaya bank dan para pelajar tidak merasakan kemerdekaan dalam belajar.

Solusi dari pembelajaran gaya bank telah dibahas oleh Freire (2008), yaitu sistem Pendidikan hadap masalah. Pada sistem Pendidikan ini, guru dan murid bertukar pendapat, berpikir, serta mengembangkan diri bersama. Tidak seperti gaya bank yang digambarkan Freire dimana guru sebagai subjek  dan  pelajar sebagai objeknya, tetapi dalam sistem Pendidikan hadap masalah, guru dan pelajar bersamaan menjadi subjek dan disatukan oleh objek yang sama. Dalam hal ini, dialog merupakan hal yang penting, karena dari dialog terdapat kata-kata yang apabila diucapkan dapat menimbulkan komunikasi, dari komunikasi dapat tercipta pemikiran-pemikiran kritis yang dapat mengubah dunia dan memicu pembebasan. Dialog menuntut seseorang untuk bersikap mau mendengar, memahami diri sendiri, memiliki selera humor, dan berani berpendapat serta menuntut suatu program yang bersifat dialogis.

Sistem Pendidikan dialogis memiliki sifat kooperatif, yaitu pemimpin dan masyarakat menjadi satu kesatuan dalam usaha pembebasan, karena pembebasan tidak dapat terjadi karena paksaan pimpinan tetapi haruslah kesadaran dari dua belah pihak. Lawan dari sistem Pendidikan dialogis adalah sistem Pendidikan antidialogis yang memiliki ciri membuat manusia tetap tertindas dengan usaha untuk menguasai manusia. Tindakan antidialogis memanipulasi masyarakat dengan adanya mitos-mitos yang disebarkan oleh kaum penindas agar kaum yang tertindas merasa rendah diri dan menghambat kreativitas mereka. Contohnya mitos yang mengatakan bahwa orang miskin tidak perlu atau tidak bisa berpendidikan tinggi, padahal Pendidikan itu ditujukan untuk siapapun tanpa memandang status dan dapat dicapai ketika memiliki tekad yang kuat.

Setelah membaca uraian dan beberapa contoh diatas, dapat diketahui bahwa negara kita masih jauh dari kata berhasil dalam mencapai kejayaan dalam bidang Pendidikan. Masih banyak permasalahan-permasalahan yang belum dapat terselesaikan. Namun begitu, bukan berarti pemerintah tidak memiliki usaha untuk mengatasinya. Pemerintah telah melakukan banyak upaya untuk mengatasi terhambatnya kemajuan Pendidikan di Indonesia dengan menyediakan berbagai macam beasiswa, penyediaan kuota gratis untuk pembelajaran online, kunjungan sekolah di daerah 3T, dan lain sebagainya. Perlu diketahui bahwa Pendidikan merupakan elemen yang sangat penting untuk memberantas penindasan dan membebaskan kaum yang tertindas agar nasib Pendidikan di Indonesia menjadi lebih baik lagi dan dapat mencapai kejayaan di masa depan.

Referensi :

Freire, Paulo. (Trans). (2008). Pendidikan Kaum Tertindas. Indonesia, Jakarta: Pustaka LP3ES. Diakses pada 22 Maret 2022 dari https://drive.google.com/file/d/1ejrz9TSRxdmbnHaqgzwuH_YqFJ6Uj2KI/view?usp=drivesdk

Zulkarnaen., & Handoyo, A. D. (2019). Faktor-Faktor Penyebab Pendidikan Tidak Merata di Indonesia. Dalam Prosiding Seminar Nasional “Menjadi Mahasiswa yang Unggul di era Industri 4.0 dan Society 5.0”, 20-24. Diakses pada 22 Maret 2022 dari https://bimawa.uad.ac.id/wp-content/uploads/Paper-Seminar-Nasional-2.pdf

  • Penulis: Kabar Muhammadiyah

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Maarif House: Kita Butuh Pemimpin yang Tak Hanya Mengandalkan Pencitraan

    Maarif House: Kita Butuh Pemimpin yang Tak Hanya Mengandalkan Pencitraan

    • calendar_month Kamis, 12 Sep 2024
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 121
    • 0Komentar

    Maarif House menggelar diskusi seri keempat bertema Agama, Kebudayaan, dan Moralitas Publik. Salah satu penyataan yang muncul adalah kebutuhan akan pemimpin yang mampu mengambil keputusan berdasarkan nilai-nilai yang kuat. KABARMUH.ID, Jakarta – Di tengah hiruk pikuk Kota Jakarta, Rabu (11/9/2024) Maarif Institute menggelar sebuah diskusi terbatas dan mendalam tentang “Agama, Kebudayaan, dan Moralitas Publik”. Di […]

  • PWM Bengkulu Gelar Konsolidasi dan Safari Ramadhan di Lebong

    PWM Bengkulu Gelar Konsolidasi dan Safari Ramadhan di Lebong

    • calendar_month Kamis, 20 Mar 2025
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 12
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Lebong – Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Bengkulu menggelar konsolidasi yang diikuti oleh Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM), Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA), organisasi otonom (Ortom) tingkat daerah, serta Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) dan Pimpinan Cabang Aisyiyah (PCA) se-Kabupaten Lebong. Kegiatan ini berlangsung di Masjid Al-Jihad Muhammadiyah, Muara Aman, pada Rabu, 19 Maret 2025. Konsolidasi ini bertujuan […]

  • BIKERSMU CHAPTER KOTA BANDUNG, GASS TIPIS SAMBIL BERBAGI SEMBAKO

    BIKERSMU CHAPTER KOTA BANDUNG, GASS TIPIS SAMBIL BERBAGI SEMBAKO

    • calendar_month Minggu, 4 Mei 2025
    • account_circle Zulfan Falakhi
    • visibility 8
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Bandung – Pada 3 Mei 2025, Pagi itu suara deru mesin sepeda motor bergantian masuk ke lapangan PDM Kota Bandung yang terletak di Jalan Kadipaten Raya No. 47 Antapani Kota Bandung, pagi itu sudah berkumpul kurang lebih 52 peserta untuk melaksanakan kegiatan Touring gas tipis yang diselenggarakan oleh Bikersmu chapter Kota Bandung yang bekerjasama […]

  • Seorang pria paruh baya mengenakan batik biru sedang berbicara di podium kayu berlogo Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Ia mengangkat tangan kirinya dengan mengepal, di latar belakang terdapat layar proyektor yang menampilkan teks presentasi

    Atasi Depresi dengan Pendekatan Religius, UMS Perkenalkan BA-M dan Islamic Mindfulness Model

    • calendar_month Selasa, 31 Mar 2026
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 16
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) terus menunjukkan komitmennya dalam pengembangan keilmuan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat, khususnya dalam isu kesehatan mental berbasis nilai keislaman. Hal ini tercermin dari pemaparan akademisi Fakultas Psikologi UMS yang menekankan pentingnya integrasi aspek spiritual dalam intervensi psikologis, terutama untuk menangani depresi di kalangan masyarakat Muslim. Setiyo Purwanto, S.Psi., […]

  • Pawai Kemerdekaan MI Muhammadiyah Digdaya Bolon Pukau Warga, Tampilkan Kreasi Fantastis Penuh Pesan Kebangsaan

    Pawai Kemerdekaan MI Muhammadiyah Digdaya Bolon Pukau Warga, Tampilkan Kreasi Fantastis Penuh Pesan Kebangsaan

    • calendar_month Selasa, 19 Agt 2025
    • account_circle Andi Rezti Maharani
    • visibility 16
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Karanganyar — Semangat perjuangan dan kreativitas anak bangsa begitu terasa di Kecamatan Colomadu, Kabupaten Karanganyar. MI Muhammadiyah Digdaya Bolon menggelar pawai kemerdekaan yang penuh warna dan pesan mendalam, memukau ribuan pasang mata yang memadati sepanjang jalan. Digelar pada Sabtu (16/8) pagi, acara ini menjadi puncak dari serangkaian perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Republik […]

  • RAKERDA LLHPB ‘AISYIYAH SUKOHARJO: SATUKAN LANGKAH GERAKAN KETAHANAN KELUARGA TERHADAP PERUBAHAN IKLIM DAN BENCANA

    RAKERDA LLHPB ‘AISYIYAH SUKOHARJO: SATUKAN LANGKAH GERAKAN KETAHANAN KELUARGA TERHADAP PERUBAHAN IKLIM DAN BENCANA

    • calendar_month Rabu, 29 Nov 2023
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 248
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Sukoharjo – Konsolidasikan organisasi dan program kerja, Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB) Pimpinan Daerah (PD) ‘Aisyiyah selenggarakan Rapat Kerja Daerah (Rakerda) yang dihadiri 41 peserta dari pimpinan LLHPB Pimpinan Daerah dan Cabang ‘Aisyiyah (PCA) se-Sukoharjo. Pembukaan Rakerda LLHPB yang mengangkat tema ‘Ketahanan Keluarga terhadap Perubahan Iklim dan Bencana untuk Mewujudkan Qoryah Thoyyibah Daerah […]

expand_less