Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Opini » “Guru di Tengah Kekacauan Teladan Publik: Mengajar di Era yang Membingungkan”

“Guru di Tengah Kekacauan Teladan Publik: Mengajar di Era yang Membingungkan”

  • account_circle Redaksi Kabarmuh
  • calendar_month Senin, 24 Nov 2025
  • visibility 39
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Di tengah tuntutan besar untuk mencerdaskan dan membentuk akhlak generasi bangsa, guru justru berdiri paling rapuh ketika teladan publik semakin menjauh dari nilai-nilai yang mereka ajarkan.

Oleh : Amir Hady (Sekretaris PW Muhammadiyah Kaltim)

Setiap kali Hari Guru tiba, ada rasa haru dan bangga yang mengalir di kalangan pendidik. Namun di balik senyum dan ucapan selamat, banyak guru menyimpan kegelisahan yang tak terucapkan. Mereka menghadapi realitas yang semakin rumit: wibawa guru menurun, tuntutan meningkat, sementara lingkungan sosial justru menampilkan contoh buruk yang bertolak belakang dengan apa yang mereka ajarkan.

Guru di Indonesia memikul tugas sangat besar. Mereka tidak hanya mengajarkan membaca, berhitung, dan memahami pelajaran. Lebih dari itu, guru dituntut menanamkan akhlak, membentuk karakter, mengajarkan disiplin, menguatkan moral, mengajak menghormati orang tua, hingga mempersiapkan anak menjadi manusia yang berguna bagi bangsa dan negara. Tugas sebesar itu seharusnya dibarengi dengan dukungan moral dan sosial yang kuat. Namun kenyataannya tidak begitu.

Guru sering harus menghadapi fenomena yang menyakitkan: mereka diminta mengajarkan nilai-nilai mulia, sedangkan contoh yang muncul di mata para siswa justru sebaliknya. Ketika guru menekankan kejujuran dan integritas, berita korupsi justru berseliweran setiap hari. Saat guru menanamkan disiplin, mereka melihat pejabat saling menghina di televisi, influencer merayakan sensasi daripada prestasi, atau orang dewasa melanggar aturan lalu lintas tanpa rasa bersalah. Para murid menyerap itu semua, dan bertanya dalam diam: “Mengapa kami harus patuh kalau orang dewasa saja tidak?”

Inilah tantangan terbesar guru hari ini: mereka mengajarkan sesuatu yang tidak didukung lingkungan sekitar. Guru mengajarkan sopan santun, tetapi sebagian figur publik mempertontonkan gaya komunikasi yang kasar. Guru menanamkan etika, tetapi media sosial memuja popularitas instan. Guru mendisiplinkan anak, tetapi orang tua kadang justru mempertanyakan bahkan mengintervensi tindakan pendisiplinan itu. Di titik inilah guru merasa berdiri sendiri.

Keadaan menjadi semakin rumit ketika muncul fenomena kriminalisasi guru. Tidak sedikit guru yang dilaporkan hanya karena menegur, menasihati, atau memberikan pendisiplinan wajar. Ruang gerak guru menyempit. Guru menjadi takut melakukan tindakan yang seharusnya menjadi bagian inti dari proses pendidikan. Ketika guru takut mendidik, pendidikan pun kehilangan arah.

Di banyak sekolah, guru berjuang bukan hanya mengatur kelas atau menyusun rencana pembelajaran, tetapi juga menata kembali semangat dan mental mereka sendiri agar tetap kuat menghadapi tekanan sosial. Mereka harus terus bersabar, terus menahan diri, sambil tetap memikirkan generasi yang mereka bentuk.

Padahal, jika melihat sejarah bangsa, guru selalu menjadi pilar moral. Di masa perjuangan kemerdekaan, guru menjadi pembentuk karakter bangsa. Di masa pembangunan, guru menjadi agen perubahan. Hari ini pun seharusnya demikian, tetapi tekanan yang mereka hadapi semakin berat.

Guru tidak menuntut untuk dipuja. Mereka hanya ingin dihargai. Mereka tidak mengharapkan kekayaan. Mereka hanya ingin didukung. Guru tidak meminta lingkungan menjadi sempurna. Mereka hanya ingin teladan sosial tidak bertolak belakang dengan nilai yang mereka tanamkan.

Solusi tentu tidak dapat diserahkan pada guru semata. Masyarakat harus menjadi teladan, orang tua harus menjadi mitra, pejabat harus memberi contoh, media harus memberikan ruang bagi nilai-nilai kebaikan, dan pemerintah perlu memberikan perlindungan hukum yang memadai. Ekosistem pendidikan harus menjadi karya bersama, bukan beban guru sendirian.

Pada akhirnya, meskipun wibawa guru menurun secara sosial, nilai tugas mereka tidak pernah menurun. Selama bangsa ini masih berdiri, guru akan selalu menjadi fondasi. Namun fondasi pun perlu diperkuat, agar bangunan besar bernama Indonesia tidak runtuh oleh lemahnya keteladanan generasi yang dibentuk tanpa dukungan dari lingkungan sekitarnya.

Hari Guru seharusnya menjadi momentum untuk bertanya kepada diri kita sendiri: Sudahkah kita membantu guru mendidik? Ataukah kita justru memperberat tugas mereka?
Karena tanpa guru yang kuat, tidak akan ada bangsa yang hebat.

  • Penulis: Redaksi Kabarmuh

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • “Sumpah Pemuda: Ketika Ruh Persatuan Bangsa Turun ke Bumi Nusantara”

    “Sumpah Pemuda: Ketika Ruh Persatuan Bangsa Turun ke Bumi Nusantara”

    • calendar_month Senin, 27 Okt 2025
    • account_circle Redaksi Kabarmuh
    • visibility 27
    • 0Komentar

    Oleh : Amir Hady (Sekretaris PWM Kaltim) SOEMPAH PEMOEDA Pertama : – KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE BERTOEMPAH DARAH JANG SATOE, TANAH AIR INDONESIA Kedua : – KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA, MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE, BANGSA INDONESIA Ketiga : – KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGJOENJOENG BAHASA PERSATOEAN, BAHASA INDONESIA Djakarta, 28 Oktober […]

  • Hj. Lasiah dan Muhammad Sudiono Dianugerahi Penghargaan pada Milad ke-113 Muhammadiyah Kaltim

    Hj. Lasiah dan Muhammad Sudiono Dianugerahi Penghargaan pada Milad ke-113 Muhammadiyah Kaltim

    • calendar_month Minggu, 23 Nov 2025
    • account_circle Redaksi Kabarmuh
    • visibility 42
    • 0Komentar

    Resepsi Milad Muhammadiyah ke-113 di Gedung Olah Bebaya, Kompleks Kantor Gubernur Kalimantan Timur, Ahad 23 November 2025, menjadi saksi penghormatan mendalam bagi dua tokoh yang telah mengabdikan hidupnya untuk dakwah, pendidikan, dan gerakan pembaruan. PWM Kaltim memberikan Anugerah Kehormatan kepada Hj. Lasiah binti H. Imbran Saleh dan Muhammad Sudiono, dua figur bersejarah yang kontribusinya menjadi […]

  • Kilaukan Ramadan Bersama (KURMA) 2025: Recharge Iman, Reconnect with Allah

    Kilaukan Ramadan Bersama (KURMA) 2025: Recharge Iman, Reconnect with Allah

    • calendar_month Sabtu, 15 Mar 2025
    • account_circle Najihus Salam
    • visibility 101
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Surakarta – 13 Maret 2025 – Dalam rangka menyemarakkan bulan suci Ramadan, Keluarga Mahasiswa Fakultas Agama Islam (KMF—AI) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) melalui Departemen Pengembangan Materi dan Evaluasi (DPME) sukses menggelar kegiatan Kilaukan Ramadan Bersama (KURMA) 2025. Acara yang mengusung tema “Recharge Iman, Reconnect with Allah” ini berlangsung pada Kamis, 13 Maret 2025, di […]

  • MEBP PWM Lampung dan DIY Sepakat Bikin Kolaborasi Bisnis, Apa Saja Wujudnya?

    MEBP PWM Lampung dan DIY Sepakat Bikin Kolaborasi Bisnis, Apa Saja Wujudnya?

    • calendar_month Senin, 26 Agt 2024
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 231
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Yogyakarta – Saat ini memang eranya untuk bekerjasama atau kolaborasi di Muhammadiyah lintas propinsi. Kolaborasi dapat dalam hal apapun, khususnya bidang ekonomi, bisnis dan pariwisata. Majelis Ekonomi, Bisnis, dan Pariwisata (MEBP) PWM DIY dan Lampung bersepakat untuk menjajagi kerjasama yang riel dan berkelanjutan. Setidaknya hal tersebut di atas mengemuka saat digelar penyambutan studi tiru […]

  • 700 Guru Muhammadiyah Samarinda Padati Upacara Hari Guru Nasional 2025

    700 Guru Muhammadiyah Samarinda Padati Upacara Hari Guru Nasional 2025

    • calendar_month Rabu, 26 Nov 2025
    • account_circle Redaksi Kabarmuh
    • visibility 15
    • 0Komentar

    Upacara bendera memperingati Hari Guru Nasional (HGN) 2025 berlangsung khidmat dan meriah di halaman Perguruan Muhammadiyah Loa Bakung, Samarinda, Selasa (25/11). Lebih dari 700 guru Muhammadiyah dari jenjang PAUD hingga SMA/SMK memenuhi lapangan mengikuti apel besar yang diselenggarakan sebagai bagian dari program upacara serentak nasional.   Upacara dipimpin oleh Ir. H. Amir Hady, Sekretaris Pimpinan […]

  • Inovasi Lokal, Prestasi Global: Sampo Jeruk Nipis Anti Ketombe Karya Tim UMS Raih Silver Medal JISF 2026

    Inovasi Lokal, Prestasi Global: Sampo Jeruk Nipis Anti Ketombe Karya Tim UMS Raih Silver Medal JISF 2026

    • calendar_month Sabtu, 2 Mei 2026
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 47
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, SURAKARTA – Tingginya prevalensi gangguan kulit kepala akibat infeksi jamur di wilayah tropis mendorong kebutuhan akan produk perawatan rambut yang lebih aman dan berkelanjutan. Menjawab isu tersebut, tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id menghadirkan inovasi sampo antiketombe berbasis bahan alam yang berhasil meraih Silver Medal dalam ajang Jakarta International Science Fair 2026 yang […]

expand_less