
Oleh: Anqiya Zaki Mushoddiq (Mahasiswa Baru Prodi Ilmu Qur’an & Tafsir UMS)
Literasi yang Mulai Dikesampingkan
Mengetahui kabar tentang perpustakaan sekolah yang dirobohkan untuk pembangunan koperasi, lalu disusul dengan berita pemangkasan anggaran Perpustakaan Nasional yang berdampak pada terhentinya distribusi buku ke berbagai daerah, membuat saya merenung. Mungkin kedua peristiwa tersebut lahir dari pertimbangan dan konteks yang berbeda. Namun, ada satu hal yang sama-sama menyita perhatian, yaitu bagaimana literasi seakan belum ditempatkan sebagai prioritas utama.
Padahal, perpustakaan bukan sekadar bangunan dan buku bukan sekadar tumpukan kertas. Keduanya merupakan ruang bertumbuhnya budaya baca, tempat lahirnya gagasan, sekaligus salah satu fondasi penting dalam membangun kualitas manusia dan kemajuan suatu bangsa. Seolah-olah, tanpa disadari, yang ikut dirobohkan bukan hanya fasilitas atau anggaran, melainkan salah satu kunci awal bagi lahirnya sebuah peradaban, yakni literasi.
Melimpahnya Informasi, Langkanya Makna
Ironisnya, persoalan literasi hari ini bukan lagi semata-mata persoalan akses terhadap buku. Kita hidup pada zaman ketika jutaan informasi dapat diperoleh hanya dalam hitungan detik. Artificial Intelligence (AI), media sosial, dan internet telah membuka pintu pengetahuan lebih lebar daripada generasi-generasi sebelumnya. Namun, kemudahan memperoleh informasi ternyata tidak selalu berbanding lurus dengan kedalaman memahami ilmu.
Di tengah bejibunnya informasi, justru muncul fenomena lain yang semakin banyak dibicarakan, khususnya di kalangan generasi muda, yaitu emptiness atau kehilangan makna. Banyak yang memiliki akses terhadap ilmu, tetapi kehilangan arah hidup. Banyak yang mampu menjawab berbagai pertanyaan, tetapi kesulitan menjawab pertanyaan paling mendasar tentang tujuan hidupnya sendiri.
Literasi dan Spiritualitas: Dua Hal yang Tak Terpisahkan
Menurut saya, fenomena emptiness atau krisis makna yang banyak dialami generasi muda di era Society 5.0, bukan semata-mata disebabkan oleh kemajuan teknologi. Teknologi hanyalah alat yang memperbesar kondisi hati manusia. Namun, penyebab utamanya adalah karena hubungan seorang hamba dengan Allah melemah, maka kekosongan batin akan tetap ada meskipun akses informasi, AI, dan media sosial semakin canggih. Karena itu, solusi tidak cukup hanya meningkatkan literasi, tetapi juga memperkuat pembinaan ruhani. Sebagaimana firman Allah,
- أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28).
Hal ini sejalan dengan materi Dr. Furqon Mawardi, M.P.I. dalam Sarasehan Kader Pondok Shabran Universitas Muhammadiyah Surakarta bertajuk “Profil Kader Islam Berkemajuan di Era Society 5.0”, yang menekankan bahwa kader Islam berkemajuan tidak hanya dituntut memiliki kecerdasan intelektual, tetapi juga fondasi ruhani yang kuat sebelum memimpin masyarakat.
Setelah Membaca, Lalu Apa?
Di tengah kegelisahan tersebut, saya teringat perkataan Raim Laode pada tahun 2023, di Kanal YouTubenya;
- “Kita bisa tahu kekurangan kita, lalu kita perbaiki kekurangan itu. Kurangnya kita, anak muda di Indonesia, adalah literasi. Literasi, literasi, literasi, literasi, literasi, literasi. Itulah kenapa perintah pertama, ayat pertama dalam Al-Qur’an, adalah membaca: Iqra, iqra, iqra, iqra.”
- “Tingkat literasi itu berbanding lurus dengan tingkat pembangunan dan kualitas manusia di suatu negara. Tinggi literasinya, manusianya pasti jauh berkualitas. Rendah literasinya, lihat Indonesia sekarang ini.”
Perkataan tersebut mengandung kegelisahan yang patut kita renungkan bersama. Saya sepakat bahwa literasi merupakan salah satu persoalan mendasar bangsa ini. Akan tetapi, semakin lama saya memikirkannya, muncul sebuah pertanyaan sederhana dalam benak saya: setelah membaca, lalu apa?
Bukankah seseorang dapat membaca puluhan sampai ratusan buku tanpa benar-benar memahaminya? Bukankah seseorang dapat memahami suatu ilmu tanpa pernah mengubah perilakunya? Bahkan, bukankah seseorang dapat mengetahui mana yang benar, tetapi tetap enggan mengamalkannya?
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), literasi tidak hanya dimaknai sebagai kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan mengolah informasi dan pengetahuan untuk kecakapan hidup. Pengertian ini menunjukkan bahwa membaca bukanlah tujuan akhir, melainkan awal dari sebuah proses pembentukan manusia.
Berbagai survei juga menunjukkan bahwa budaya membaca di Indonesia masih menghadapi tantangan yang besar. Namun menurut saya, tantangan yang lebih besar bukan hanya bagaimana membuat masyarakat gemar membaca, melainkan bagaimana menjadikan bacaan mampu melahirkan perubahan dalam cara berpikir, bersikap, dan bertindak.
Belajar dari Al-Qur’an dalam Memaknai Ilmu
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang kembali mengingatkan saya pada salah satu perkuliahan Aqidah dan Filsafat bersama Ustaz Dr. Hamdan Maghribi, dosen Pondok Hajjah Nuriyah Shabran Universitas Muhammadiyah Surakarta. Beliau juga pernah mengemban amanah sebagai Ketua PCIM Pakistan periode 2009–2010, aktif di Majelis Tabligh PWM Jawa Tengah, serta dikenal sebagai penulis dan pemateri nasional.
Dalam perkuliahan tersebut, beliau menjelaskan bahwa akal memiliki empat fungsi utama ketika berinteraksi dengan Al-Qur’an.
Pertama, tilāwah, yaitu membaca dengan menghadirkan teks Al-Qur’an.
Kedua, qirā’ah, yaitu membaca dalam makna yang lebih luas; tidak hanya membaca tulisan, tetapi juga membaca tanda-tanda, fenomena, dan realitas kehidupan.
Ketiga, tadabbur dan tafakkur, yaitu merenungkan makna secara mendalam dengan melibatkan akal sekaligus hati sehingga ayat-ayat Allah tidak berhenti sebagai bacaan, tetapi berubah menjadi pemahaman.
Keempat, muhāsabah, yaitu mengevaluasi diri berdasarkan petunjuk yang telah dipahami sehingga ilmu tidak berhenti sebagai pengetahuan, melainkan melahirkan perubahan dalam kehidupan.
Perkuliahan itu terus membekas dalam ingatan saya. Saya mulai bertanya, apakah prinsip tersebut hanya berlaku ketika seseorang berinteraksi dengan Al-Qur’an? Ataukah nilai-nilai di dalamnya juga dapat ditafsirkan lebih luas menjadi cara manusia berinteraksi dengan ilmu, pengalaman, dan seluruh realitas kehidupannya?
LIRII: Kerangka Berpikir Menuju Perubahan
Pertanyaan itu terus saya renungkan. Dari sanalah lahir sebuah kerangka berpikir sederhana yang hingga hari ini masih terus saya kembangkan. Saya menyebutnya LIRII, akronim dari Literasi, Interpretasi, Refleksi, Internalisasi, dan Implementasi. Saya berharap kerangka ini dapat berkembang menjadi sebagai sebuah teori, saat ini masih dalam tahapan sebagai kerangka berpikir, yang saya yakini dapat membantu seseorang menjadikan ilmu sebagai jalan perubahan.
Tahap pertama adalah literasi. Bagi saya, literasi tidak berhenti pada aktivitas membaca buku. Literasi berarti membaca dalam makna yang luas. Misalkan membaca Al-Qur’an, membaca ilmu pengetahuan, membaca sejarah, membaca fenomena sosial, membaca alam semesta, bahkan membaca diri sendiri. Sebab kehidupan ini dipenuhi “teks-teks” yang menunggu untuk dipahami.
Namun membaca saja tidak cukup. Karena itu, tahap berikutnya adalah interpretasi. Informasi yang diperoleh perlu ditafsirkan, dipahami, dianalisis, dan dihubungkan dengan konteks kehidupan. Pada tahap inilah seseorang mulai membedakan antara sekadar mengetahui dengan benar-benar memahami.
Pemahaman tersebut kemudian membawa seseorang kepada refleksi. Ia mulai bertanya kepada dirinya sendiri, apa makna ilmu ini bagi saya? Apa yang harus saya perbaiki? Sudahkah perilaku saya selaras dengan apa yang saya ketahui? Tanpa refleksi, ilmu mudah berubah menjadi hafalan yang tidak menyentuh hati.
Dari refleksi lahirlah internalisasi. Nilai-nilai yang dipahami tidak lagi berada di kepala, tetapi mulai menetap di dalam hati dan membentuk karakter. Ilmu berubah menjadi cara berpikir, cara memandang kehidupan, serta cara memperlakukan sesama.
Barulah tahap terakhir adalah implementasi, yaitu menghadirkan ilmu dalam bentuk amal nyata. Sebab ukuran keberhasilan belajar bukanlah banyaknya buku yang telah dibaca, melainkan sejauh mana ilmu tersebut mampu menghadirkan manfaat bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat, dan umat.
Jika disederhanakan, perjalanan itu dapat digambarkan sebagai berikut:
Literasi → Interpretasi → Refleksi → Internalisasi → Implementasi.
Hakikat Literasi Yang Sesungguhnya
Bagi saya, di sinilah hakikat literasi yang sesungguhnya. Membaca bukanlah garis akhir, melainkan garis start. Ilmu yang berhenti pada bacaan hanya akan menjadi informasi. Ilmu yang dipahami akan menjadi pengetahuan. Ilmu yang direnungkan akan menjadi kebijaksanaan. Dan ilmu yang diamalkan akan melahirkan perubahan.
Karena itu, saya memandang bahwa membangun budaya literasi tidak cukup hanya dengan memperbanyak perpustakaan, memperluas akses buku, atau meningkatkan kemampuan membaca. Semua itu sangat penting dan harus terus diperjuangkan. Akan tetapi, yang tidak kalah penting adalah membangun budaya berpikir, budaya merenung, dan budaya mengamalkan ilmu.
Bukankah ayat pertama yang turun bukan sekadar mengajarkan membaca, tetapi juga mengingatkan bahwa membaca harus dilakukan “dengan nama Tuhanmu” (Iqra’ bismi rabbik). Artinya, aktivitas membaca tidak pernah terlepas dari dimensi spiritual, tanggung jawab moral, dan tujuan menghadirkan kemaslahatan.
Di tengah bejibunnya arus informasi, kecerdasan buatan, dan media sosial, tantangan terbesar kita bukan lagi kekurangan informasi, melainkan kekurangan kebijaksanaan dalam mengelolanya. Kita membutuhkan generasi yang tidak hanya cepat memperoleh informasi, tetapi juga mampu menafsirkannya secara benar, merefleksikannya dengan jujur, menginternalisasikannya menjadi karakter, lalu mengimplementasikannya dalam kehidupan.
Barangkali, inilah yang sedang kita butuhkan hari ini. Kita memang memerlukan lebih banyak perpustakaan, lebih banyak buku, dan budaya membaca yang semakin kuat. Namun, kita juga memerlukan manusia yang mampu mengubah bacaan menjadi pemahaman, pemahaman menjadi refleksi, refleksi menjadi karakter, dan karakter menjadi amal nyata.
Mungkin, peradaban tidak dibangun oleh mereka yang sekadar gemar membaca. Peradaban dibangun oleh mereka yang mampu menjadikan setiap ilmu sebagai jalan menuju perubahan.
Baca. Maknai. Renungi. Hayati. Amalkan. Itulah semangat LIRII.
Editor: Muhammad Farhan



