kabar muhammadiyahKaltimPersyarikatan

Ustadz Ir. Masumi: Amar Makruf Nahi Mungkar Butuh Keberanian, Bukan Sekadar Menjadi Penonton

Berbuat baik sering kali terasa lebih mudah daripada mencegah kemungkaran. Sebab, ketika berhadapan dengan kezaliman, penyalahgunaan kekuasaan, atau perilaku menyimpang, manusia kerap dihantui rasa takut terhadap risiko yang mungkin dihadapi.

Ustadz Ir. Masumi: Jangan Biarkan Kejahatan Bertahan karena Orang Baik Memilih Diam

ANGGANA — Pengajian Bulanan Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Anggana menghadirkan Ustadz Ir. Masumi (Bendahara PWM Kaltim) sebagai narasumber, Ahad, 9 Agustus 2026. Dalam kajiannya, Ustadz Masumi mengangkat tema “Amal Makruf Nahi Mungkar”, dengan menekankan pentingnya keberanian umat Islam dalam menyuarakan kebenaran dan mencegah kemungkaran di tengah kehidupan masyarakat.

Menurut Ustadz Masumi, amar makruf nahi mungkar merupakan konsep mendasar dalam ajaran Islam yang berarti mengajak kepada kebaikan serta mencegah dari kemungkaran. Konsep tersebut tidak hanya berkaitan dengan kesalehan individu, tetapi juga menjadi fondasi moral dan sosial dalam membangun kehidupan masyarakat yang adil, harmonis, dan diridai Allah SWT.

Ia mengingatkan bahwa Allah SWT secara tegas memerintahkan agar di tengah umat Islam terdapat sekelompok orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar.

Hal itu sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Ali Imran ayat 104:

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

Ustadz Masumi kemudian mengajak jamaah untuk merenungkan sebuah pertanyaan penting: mengapa berbuat baik sering kali jauh lebih mudah daripada melawan kejahatan?

Ia menjelaskan, banyak orang mampu melakukan kebaikan, seperti memberikan bantuan kepada korban bencana, menyumbang kepada yang membutuhkan, ataupun menghibur orang yang sedang berduka. Namun, keberanian untuk mencegah kemungkaran sering kali jauh lebih sedikit.

“Menegur penjudi, mengingatkan peminum atau pengguna narkoba, mencegah perzinaan, melarang korupsi, mengkritik penyalahgunaan kekuasaan, menghentikan perundungan, atau membela seseorang yang diperlakukan tidak adil, sering kali membuat orang memilih diam,” jelasnya dalam kajian tersebut.

Otak Manusia Cenderung Menghindari Ancaman

Mengutip perspektif neurosains dari buku The 7 Laws of the Brain karya Taufiq Fredrik Pasiak, Ustadz Masumi menjelaskan bahwa otak manusia memiliki kecenderungan untuk menghindari ancaman, kerugian, dan berbagai hal yang dianggap membahayakan.

Ketika seseorang hendak melawan ketidakadilan, menurutnya, otak akan secara otomatis memperhitungkan berbagai risiko yang mungkin muncul. Mulai dari kehilangan pekerjaan, dijauhi lingkungan pertemanan, mendapat serangan di media sosial, hingga ancaman terhadap keselamatan diri dan keluarga.

“Akibatnya, rasa takut sering kali mengalahkan dorongan moral untuk bertindak melawan kemungkaran,” ungkapnya.

Fenomena tersebut, lanjut Ustadz Masumi, juga dapat menjelaskan mengapa seseorang cenderung pasif ketika menyaksikan sebuah kejahatan atau ketidakadilan. Ketika banyak orang menyaksikan suatu kemungkaran, masing-masing individu justru dapat berpikir bahwa orang lainlah yang seharusnya bertindak.


“Karena itu, kejahatan sering kali bertahan bukan karena pelakunya sangat kuat, melainkan karena terlalu banyak orang baik yang memilih diam dan menjadi penonton,” tegasnya.

Amar Makruf Nahi Mungkar Sesuai Kemampuan

Lebih lanjut, Ustadz Masumi menjelaskan bahwa Islam memberikan tuntunan yang jelas mengenai bagaimana seorang Muslim menjalankan amar makruf nahi mungkar. Pelaksanaannya disesuaikan dengan kemampuan dan kapasitas masing-masing.

Ia mengutip hadis Rasulullah ﷺ yang diriwayatkan Imam Muslim:

“Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Jika ia tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika ia tidak mampu juga, maka dengan hatinya, dan itulah selemah-lemahnya iman.”
(HR. Muslim No. 49)

Hadis tersebut, menurutnya, menunjukkan bahwa amar makruf nahi mungkar bukan berarti seseorang harus bertindak secara serampangan. Ada tahapan, kemampuan, pertimbangan dan tanggung jawab yang harus diperhatikan.

Dengan demikian, setiap Muslim memiliki ruang untuk mengambil peran sesuai kapasitasnya, baik melalui tindakan, nasihat dan penyampaian kebenaran, maupun setidaknya dengan membenci kemungkaran di dalam hati.

Peradaban Membutuhkan Orang yang Berani Bersikap

Di bagian akhir kajiannya, Ustadz Masumi menegaskan bahwa peradaban tidak cukup dibangun hanya dengan banyaknya orang yang berbuat baik. Peradaban juga membutuhkan orang-orang yang memiliki keberanian moral untuk mencegah kejahatan, kezaliman, dan berbagai bentuk penyimpangan.

Menurutnya, selalu dibutuhkan sebagian kecil manusia yang berani mengatakan “ini benar” dan “itu keliru”, ketika sebagian besar orang memilih diam.

“Peradaban bertahan justru karena selalu ada sebagian manusia yang berbuat baik sekaligus mencegah kemungkaran, kejahatan dan kezaliman,” pesannya.

Karena itu, jamaah diajak untuk tidak berhenti pada kesalehan pribadi, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap kondisi lingkungan dan masyarakat. Kebaikan perlu ditegakkan, sementara kemungkaran harus dicegah dengan cara yang bijaksana, sesuai tuntunan agama dan kemampuan masing-masing.

Pengajian Bulanan PCM Anggana tersebut berlangsung pukul 14.00–15.00 WITA di kediaman H. Amir Hady, Desa Anggana, dan menjadi momentum untuk memperkuat pemahaman jamaah mengenai tanggung jawab sosial seorang Muslim dalam menjaga kebaikan dan mencegah kemungkaran.(ay.1)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button