Health Innovation Hackathon 2026, UMS Buka Peluang bagi Peserta Multidisiplin
- account_circle Nurul Fahri Friyanda
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 10
- comment 0 komentar
- print Cetak

Halaman pendaftaran UMS Health Innovation Hackathon 2026
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
KABARMUH.ID; SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) untuk pertama kalinya menjadi penyelenggara program Hackathon 2026 yang diluncurkan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek). Melalui program bertajuk Health Innovation Hackathon 2026, UMS mendorong pengembangan solusi inovatif berbasis teknologi untuk menjawab permasalahan nyata di bidang kesehatan, obat, dan industri.
Ketua Tim Task Force Program Hackathon 2026 UMS, Prof. Dr. Ir. Suranto, S.T., M.M., M.Si., IPU., menjelaskan bahwa program tersebut terbuka bagi masyarakat dari berbagai latar belakang keahlian. Peserta tidak terbatas pada mahasiswa dan dosen UMS, tetapi juga dapat berasal dari perguruan tinggi lain, praktisi, maupun kalangan profesional.
“Program Hackathon ini terbuka bagi dosen, mahasiswa, praktisi, dan profesional dari berbagai bidang keahlian, atau multidisiplin, agar para peserta didorong dan dapat berkolaborasi dalam tim lintas ilmu (multidisiplin) untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi mitra,” jelasnya, Sabtu, (10/10/2026).
Ia menyampaikan, dari sejumlah proposal yang diajukan, sebanyak 17 perguruan tinggi dinyatakan lolos sebagai penyelenggara program Hackathon 2026. UMS berharap kesempatan tersebut dapat menjadi ruang untuk memperkuat kolaborasi sekaligus menghasilkan inovasi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan mitra.
Dalam pelaksanaannya, peserta UMS Health Innovation Hackathon 2026 tidak diwajibkan membawa produk yang telah memiliki purwarupa (prototype) saat mendaftar. Peserta dapat memulai proses dari gagasan inovasi yang dirancang berdasarkan permasalahan nyata yang dihadapi mitra.
Saat ini, proses pendaftaran telah dibuka hingga 15 Oktober 2026. Suranto menerangkan, peserta yang telah membentuk kelompok dan mendaftar akan menyusun proposal berisi gagasan untuk menjawab permasalahan mitra. Selanjutnya, peserta memperoleh pembekalan dan pendampingan untuk mengembangkan gagasan tersebut menjadi purwarupa, baik berupa produk maupun perangkat lunak (software).
Inovasi yang dikembangkan kemudian akan diujicobakan bersama mitra. Dengan tahapan tersebut, program Hackathon diharapkan tidak hanya menjadi ajang penciptaan ide, tetapi juga menghasilkan solusi yang dapat diuji dan diterapkan sesuai kebutuhan di lapangan.
“Adapun proposal yang diajukan, dapat berangkat dari gagasan inovasi yang dikembangkan berdasarkan permasalahan nyata dihadapi mitra,” ungkapnya.
Persyaratan lengkap mengenai peserta dan mekanisme pendaftaran dapat diakses melalui laman resmi UMS Health Innovation Hackathon 2026 https://ihub.ums.ac.id/hackathon.
Dalam program ini, UMS menargetkan sebanyak 15 kelompok untuk berpartisipasi. Setiap kelompok terdiri atas 3-6 orang dengan latar belakang keahlian yang memungkinkan terjadinya kolaborasi multidisiplin. Dari kelompok yang berpartisipasi, panitia menargetkan lima kelompok terpilih sebagai pemenang.
Terkait pendanaan pengembangan inovasi, Suranto menjelaskan bahwa besaran dana untuk setiap tim belum ditetapkan secara terperinci. Penentuan anggaran akan mempertimbangkan kebutuhan biaya pengembangan inovasi dari masing-masing kelompok, termasuk jenis produk yang dihasilkan untuk menentukan hadiah bagi para pemenang.
Meski demikian, ia menyebut total dana yang disiapkan untuk program tersebut mencapai ratusan juta rupiah.
Lebih lanjut, UMS Health Innovation Hackathon 2026 diarahkan untuk mendorong inovasi agar tidak berhenti pada tahap purwarupa. Inovasi yang dipilih dan dimanfaatkan oleh mitra berpeluang dikembangkan lebih lanjut melalui implementasi solusi, pengembangan produk, hingga hilirisasi dan komersialisasi.
UMS juga merencanakan pendampingan lanjutan untuk mendukung proses hilirisasi inovasi agar hasil pengembangan peserta memiliki peluang untuk diterapkan dan dimanfaatkan secara berkelanjutan.
“Harapan kami selaku pengelola, adanya implementasi inovasi, kolaborasi lanjutan, pengembangan dan komersialisasi produk,” ujarnya.
Suranto menambahkan, pengelola program masih mendiskusikan panduan lebih lanjut mengenai aspek kerja sama apabila inovasi peserta digunakan oleh mitra. Hal tersebut mencakup pengaturan pendapatan, royalti, kontrak kerja sama, hingga kemungkinan pemberian hak eksklusif atas inovasi yang dikembangkan.
Melalui program ini, lanjutnya, UMS berharap tercipta kolaborasi lintas disiplin yang solid antara akademisi, praktisi, profesional, dan mitra. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu menghasilkan solusi inovatif yang menjawab kebutuhan nyata, sekaligus membuka peluang pengembangan produk dan pemanfaatan teknologi.
Kontributor: Maysali/Humas
Editor: Nurul Fahri
- Penulis: Nurul Fahri Friyanda