Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Esai » Kyai Dahlan: Ulama’-Intelektual Penggagas Pendidikan Islam Berkemajuan

Kyai Dahlan: Ulama’-Intelektual Penggagas Pendidikan Islam Berkemajuan

  • account_circle Kabar Muhammadiyah
  • calendar_month Selasa, 15 Sep 2020
  • visibility 1.392
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Kyai Dahlan: Ulama’-Intelektual Penggagas Pendidikan Islam Berkemajuan

Oleh : M. Andhim

 

Siapa yang tak kenal dengan Muhammadiyah?

Sebuah ormas Islam yang dikenal dengan kiprahnya dalam bidang sosial, kesehatan dan tak lupa juga pendidikan. Tercatat jumlah AUM dalam bidang pendidikan pada tahun 2016 yaitu lembaga pendidikan yang berada dibawah majelis DIKDASMEN PP Muhammadiyah sebanyak 5.527 SD/MI, 1.632 SMP/MTs, 113 SMA/MA, 546 SMK dan 175 Pesantren. Sedangkan Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisiyah  (PTMA) pada saat ini tak kurang  dari 170-an unit yang tersebar di seluruh nusantara. Sayang seribu sayang, jika kita hari ini bisa menikmati buah tapi lupa siapa yang menanamnya.  Demikian halnya dengan kita yang terkadang sampai lupa terhadap sosok di balik persyarikatan ini. Oleh karenanya penulis ingin kembali mengajak para pembaca yang budiman sekalian untuk mengenal sekaligus mengenang buah pikiran dari kyai Dahlan dalam bidang pendidikan.

Sosio Kultural Masyarakat Setempat

Ahmad Dahlan hidup di masa penjajahan Belanda. Di mana pada masa itu “kastasisasi sosial” sangat mencolok. Banyak pribumi yang tidak mendapatkan hak-nya secara layak. Satu di antara hak-hak itu adalah hak pendidikan. Kala itu diskriminasi terhadap masyarakat masih menjadi hal yang dipandang lumrah. Seolah hak mendapat pendidikan yang layak hanya terbatas untuk anak keturunan para aristrokat/ bangsawan yang memiliki kedudukan.  Sehingga tidak banyak dari golongan pribumi yang dapat mengenyam pendidikan di sekolah-sekolah modern milik pemerintah. Padahal hanya melalui wasilah pendidikanlah rakyat akan tercerdaskan.

Di lain sisi berkembang model pendidikan Islam tradisisonal  yang lebih dikenal dengan nama pesantren. Ciri utama pada lembaga pendidikan ini yakni masih mempertahankan metode-metode pembelajaran yang tradisional. Satu paket dengan materi ajar berupa  ilmu-ilmu yang juga terbatas pada kitab-kitab klasik (at-turats). Adapun sistem yang ada pada pesantren bercorak turun-temurun. Sehingga  tidak ada proses yang mengarah pada perubahan yang signifikan pada kemajuan pendidikan.

Urgensi Pendidikan

Kyai pendiri persyarikatan Muhammadiyah ini berupaya menyelamatkan umat Islam dari pola berpikir yang statis menuju pada pemikiran yang dinamis. Ia memilih bergerilya melalui jalur pendidikan. Baginya pendidikan harus ditempatkan pada skala prioritas utama dalam proses pembangunan umat. Masyarakat perlu dididik supaya cerdas, kritis dan memiliki daya analisis yang tajam. Supaya mampu memperbaiki tatanan sosial yang pada saat itu penuh dengan ketidak-adilan.

Oleh karena itu kyai Dahlan berupaya untuk merekonstruksi sistem pendidikan yang ada. Membuat suatu terobosan baru konsep pendidikan Islam yang dapat menjawab tuntutan zaman. Yakni pendidikan Islam yang menjadi pusat rekonstruksi sosial dan berorientasi ke masa depan.  Pendidikan inilah yang penulis sebut sebagai pendidikan Islam berkemajuan.

Tujuan Pendidikan Yang Ideal

Pada masa itu terjadi dua benturan antara pendidikan pesantren dan pendidikan modern Belanda. Di satu sisi pendidikan pesantren hanya bertujuan untuk menciptakan individu yang “Solih” dengan fokus mendalami ilmu agama. Sebaliknya, pendidikan sekolah model Belanda merupakan pendidikan sekuler yang di dalamnya tidak diajarkan agama sama sekali. Akibat dualisme pendidikan tersebut lahirlah dua kutub intelegensia. Lulusan pesantren menguasai agama tetapi tidak menguasai ilmu umum. Sedangkan  lulusan sekolah Belanda menguasai ilmu umum tetapi tidak mengetahui sama sekali perihal agama.

Hal ini dianggap oleh kyai Dahlan sebagai suatu kesalahan yang mendasar dan bisa berakibat fatal. Bagai dua sisi  mata uang yang selalu bersama dan takkan pernah lekang oleh zaman. Baginya kedua hal tersebut (antara ilmu agama-umum, material-spritual dan dunia-akhirat) merupakan hal yang tidak bisa saling dipisahkan. Inilah alasan mengapa ia memberikan pelajaran agama dan ilmu umum sekaligus di sebuah sekolah yang dirintis olehnya. Sehingga tujuan pendidikan yang ia anggap ideal adalah untuk melahirkan ulama’-intelektual yang menguasai ilmu agama dan ilmu umum, material dan spritual serta berorientasi pada ukhrawi tanpa melupakan urusan duniawi.

Materi Ajar Integratif

Beranjak dari jargon “ar-ruju’ ila al-Qur’an wa as-Sunah”. Pada prinsipnya dalam menyelenggarakan pendidikan, Ia tetap berpegang kepada ajaran Al-Qur’an dan As-Sunnah. Karena beliau berkeyakinan bahwa kedua pedoman umat Islam inilah  tempat mencari jawaban dari segala persoalan. Banyak sekali dijumpai di dalam al-Qur’an maupun as-Sunah perintah untuk menuntut ilmu tanpa menganak-tirikan salah satu di antara pengetahuan agama maupun ilmu pengetahuan umum.

Ia mencoba mendamaikan dua keilmuan yang pada masanya masih dianggap saling bertentangan. Alhasil materi yang diajarkan merupakan satu kurikulum baru. Perpaduan antara kurikulum pesantren dan kurikulum sekolah Belanda. Sehingga beliaulah peletak dasar model pendidikan Islam yang integratif. Dengan memadukan ilmu-ilmu agama dan sains yang terus mengalami perkembangan.

Simpulan

Kyai Dahlan merupakan seorang ulama’-intelektual yang berfikir melintasi zaman. Produk pemikiran beliau tergolong sangat maju pada masanya. Pendidikan berkemajuan yang ia gagas berorientasi ke masa depan. Di saat lingkungan hidupnya masih terperangkap dalam dikotomi keilmuan, ia mulai keluar dari zona nyaman yang telah menjadi kemapanan. Bangkit dan menyerukan perlawanan melawan kebiasaan yang tidak memihak kepada keadilan dan kemajuan.

Perlahan mulai menyadarkan sikap berlebihan yang dilakukan oleh umat Islam. Yakni membatasi diri untuk belajar kitab-kitab klasik khazanah keislaman. Ia pun mulai memadukan antara keilmuan Islam klasik dengan keilmuan modern ala barat. Tidak hanya sebatas materi saja, metodenya pun juga diadopsi. Sehingga terciptalah model pendidikan Islam yang ideal.  Kemudian ide-ide itu dimanifestasikan dengan  membentuk lembaga pendidikan Islam yang menggabungkan sistem pendidikan pesantren (sorogan/halaqah) dengan sistem pendidikan Belanda (sistem modern).

Diakui atau tidak, model pendidikan seperti ini masih sangat relevan hingga detik ini.   Dan kini faktanya yang mempraktekkan sistem pendidikan seperti ini tidak hanya lembaga pendidikan Muhammadiyah saja. Alhamdulillah, kita dapat menjumpai buah pikiran kyai sang pencerah ini di mana-mana.

  • Penulis: Kabar Muhammadiyah

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • 11 Dewan Asatidz PesantrenMu Daarul Ulum Majenang masuk Kepengurusan Muhammadiyah dan Aisyiyah Cabang Majenang

    11 Dewan Asatidz PesantrenMu Daarul Ulum Majenang masuk Kepengurusan Muhammadiyah dan Aisyiyah Cabang Majenang

    • calendar_month Selasa, 26 Sep 2023
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 502
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Cilacap – Ribuan jama’ah menghadiri tabligh akbar dan pengukuhan Pimpinan Cabang Muhammadiyah dan Aisyiyah Majenang Cilacap beserta Unsur Pembantu Pimpinan (UPP) dan Badan Pembantu Pimpinan (BPP) di Alun-alun Kecamatan Majenang, Ahad, (24/9/2023/10 Robiul Awal 1445 H). Acara bersejarah bagi warga Muhammadiyah dan Aisyiyah Cabang Majenang yang dilaksanakan di alun-alun Kecamatan Majenang ini berlangsung hikmat […]

  • Bangga! Siswa Muhammadiyah Raih Medali di PON XXI

    Bangga! Siswa Muhammadiyah Raih Medali di PON XXI

    • calendar_month Minggu, 22 Sep 2024
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 142
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Yogyakarta – Pelajar Muhammadiyah terus mendulang berbagai prestasi di tingkat nasional. Terbaru, prestasi membanggakan diraih oleh siswa kelas XI F2 SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta (MUHA) Lana Anindya Firjah Aqela. Melalui cabang olahraga Taekwondo, ia berhasil meraih medali perunggu PON XXI Aceh – Sumatera Utara pada 9-17 September 2024 lalu. Lana berlaga mewakili kontingen DI […]

  • Pengukuhan dan Rakerda PDNA Balikpapan 2022-2026, Mendorong Peran Tangguh Perempuan Muda

    Pengukuhan dan Rakerda PDNA Balikpapan 2022-2026, Mendorong Peran Tangguh Perempuan Muda

    • calendar_month Kamis, 8 Feb 2024
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 452
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Balikpapan – Suasana semangat membara menyertai Nasyiatul Aisyiyah (NA) Kota Balikpapan yang sedang menggelar kegiatan Pengukuhan dan Rakerda Periode 2022-2026, Kamis (08/02/2024). Dengan mengangkat tema “Keluarga Muda Tangguh, Kuatkan Balikpapan” kegiatan tersebut diselenggarakan di Sekretariat Aisyiyah Kota Balikpapan. Ketua Pimpinan Daerah Nasyiatul Aisyiyah Kota Balikpapan, Mardhotillah Yassarah, S.Pd. dalam sambutannya menyampaikan bahwa Keluarga adalah […]

  • Empat Alumni UMS Ungkap Kunci Kepemimpinan Masa Depan

    Empat Alumni UMS Ungkap Kunci Kepemimpinan Masa Depan

    • calendar_month Kamis, 26 Jun 2025
    • account_circle Zulfan Falakhi
    • visibility 22
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, SURAKARTA – Ikatan Keluarga Alumni Universitas Muhammadiyah Surakarta (IKA UMS) kembali menggelar Ultimate Talk edisi ke-4 bertajuk “Pemimpin Muda, Solusi Bangsa: Membangun Kepemimpinan Kolaboratif dan Inklusif,” Sabtu (21/6). Diselenggarakan secara daring melalui Zoom Meeting, kegiatan ini menghadirkan empat narasumber dari kalangan alumni dan akademisi lintas sektor untuk memberikan perspektif tentang kepemimpinan muda di era […]

  • Penuh Antusias, Tabligh Akbar PD IPM Sukoharjo Gaungkan Semangat Anak Muda untuk Terus Belajar dan Berbenah

    Penuh Antusias, Tabligh Akbar PD IPM Sukoharjo Gaungkan Semangat Anak Muda untuk Terus Belajar dan Berbenah

    • calendar_month Minggu, 27 Apr 2025
    • account_circle Najihus Salam
    • visibility 19
    • 0Komentar

      KABARMUH.ID, Sukoharjo – Suasana penuh semangat dan antusiasme mewarnai tabligh akbar yang digelar Pimpinan Daerah Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PD IPM) Sukoharjo di Masjid Agung Baiturrahman, Kabupaten Sukoharjo, Ahad (27/4/2025). Dengan mengusung tema “Yang Patah Tumbuh, yang Hilang Berganti”, acara ini berhasil menarik ratusan peserta dari seluruh Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) se-Sukoharjo. Para peserta yang didominasi […]

  • Mafindo-IPM Solo Edukasi Remaja tentang Demokrasi Sehat Berbasis Cek Fakta

    Mafindo-IPM Solo Edukasi Remaja tentang Demokrasi Sehat Berbasis Cek Fakta

    • calendar_month Minggu, 6 Okt 2024
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 162
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Solo – Masyarakat Anti-Fitnah Indonesia (Mafindo) Soloraya bersama Pimpinan Daerah Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PD IPM) Kota Solo berkolaborasi mengedukasi para pemilih pemula agar bisa membangun demokrasi sehat melalu cek fakta, Sabtu (5/10/2024). Pada Mini Workshop Bertema “Demokarsi Sehat Melalui Cek Fakta” ini para pemilih pemula yang terdiri dari aktivitas IPM dan Forum Osis Solo […]

expand_less