Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Featured » Keluarga Muhammadiyah dan Muhammadiyah Keluarga

Keluarga Muhammadiyah dan Muhammadiyah Keluarga

  • account_circle Kabar Muhammadiyah
  • calendar_month Kamis, 6 Jun 2024
  • visibility 233
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh : Rahmat Balaroa, Kader Muhammadiyah, Founder Candu Buku Kota Palu

Ada petuah yang menarik, maknanya teramat dalam disampaikan oleh guru kami, Ayahanda Abdul Hanif  dengan dialeg salah satu daerah yang ada di Sulawesi Tengah. “Bermuhammadiyah itu kejar surga, jangan sampai gegara torang berorganisasi, so itu bekeng surga  jauh.”  Terjemahan sederhananya adalah bermuhammadiyah itu untuk mengejar surga, jangan lah kegiatan berorganisasi itu justru menjauhkan kita dari surga.

Muhammadiyah dengan kebesaran namanya, sebagaimana taglinenya “mencerahkan semesta” telah banyak melahirkan insan yang dalam bahasa Ali Syariati disebut sebagai Rausyanfikr, orang-orang yang tercerahkan, menjadi tiang inti tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Itu adalah fakta yang tidak bisa dibantah.

Namun, jangan mengira dibalik kebesaran itu tidak terdapat gejolak api pergerakan yang mengerikan. Seakan membuat Muhammadiyah tak lagi ada marwahnya. Tapi begitulah Muhammadiyah, dengan adab organisasi yang adiluhung menjadikannya sinar surya yang terus menyinari.

Keluarga Muhammadiyah

Keluarga Muhammadiyah dan Muhammadiyah Keluarga adalah dua frasa berbeda yang kerap disatupadankan maknanya. Kalau kita menengok Pedoman Hidup Islam Warga  Muhammadiyah (PHIWM), pada bagian tiga, tentang kehidupan dalam kelurga dituliskan bahwa keluarga-keluarga di lingkungan Muhammadiyah dituntut keteladanan (uswah hasanah) dalam mempraktikkan kehidupan yang Islami yakni tertanamnya ihsan/kebaikan dan bergaul dengan ma’ruf, saling menyayangi dan mengasihi, menghormati hak hidup anak, saling menghargai dan menghormati antar anggota keluarga, memberikan pendidikan akhlaq yang mulia secara paripuma, menjauhkan segenap anggota keluarga dari bencana siksa neraka, membiasakan bermusyawarah dalam menyelasaikan urusan, berbuat adil dan ihsan, memelihara persamaan hak dan kewajiban, dan menyantuni anggota keluarga yang tidak mampu.

Jelas, bahwa keluarga yang berada dalam lingukangan Muhammadiyah adalah keluarga Muhammadiyah yang membawa misi rahmatan lil alamin serta menjunjung profesionalitas dalam menjalankan amanah persyarikatan.

Kalau lah tidak keberatan, mari sejenak kita menengok satu sosok yang dalam Muhammadiyah menjadi teladan profesionalitas berorganisasi, K.H Mas Mansur. Soebagijo, dalam bukunya K.H Mas Mansur Pembaharu Islam Indonesia, menuliskan bahwa periode keemasan Muhamadiyah, ada pada periode Mas Mansur. Pernah suatu ketika, pada perhelatan besar Muhamadiyah, kongres ke-28 di Medan 1939, yang seharusnya Pimpinan Pusat disedikan tempat khusus untuk beristirahat, K.H. Mas Mansur sebagai Ketua Pimpinan Pusat kala itu lebih memilih untuk tetap bergabung bersama peserta utusan wilayah yang lain.

Selain itu, ketika kongres sedang berlangsung, K.H. Mas Mansur menerima kabar telegram bahwa istrinya yang berada di Surabaya telah kembali ke Haribaan ilahi. Di sinilah bentuk profesionalitasnya,  beliau sedikitpun tak menunjukan kesedihan itu di hadapan peserta Kongres, yang sebenarnya itu bisa saja dilakukannya walau sekedear memberi tahu. Baru lah setelah kongres berakhir, K.H Mas Mansur menyampaikan bahwa telegram yang datang itu adalah kabar berpulangnya sang Istri.

Muhammadiyah Keluarga

Istilah Muhammadiyah keluarga kerapkali disandingan dengan amal kerja muhammadiyah, berupa Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) yang pengelolaanya dipegang oleh keluarga-keluarga tertentu. Benar saja, sering kita menjumpai praktek-praktek menyimpang itu dalam tubuh Muhammadiyah dengan motif yang berbeda-beda. Pertanyaanya, apa yang menjadi masalah ketika AUM hanya dikeola oleh keluarga-keluarga tertentu yang dengan halus kita sebut “Nepotisme AUM” bukankah akan lebih terurus ketika dipegang oleh sekelompok keluarga? Tentu ini menghadirkan pandangan yang berbeda-beda.

Namun, yang peru diingat, Muhammadiyah adalah amanat besar yang dititipkan oleh Kiyai Dahlan yang dalam prakteknya, mengesampingkan ego ingin menguasai. Memang, sejarah memberi kabar pada kita bahwa Muhammadiyah lahir dari lingkup keluarga dengan segala tantangannya. Demikian halnya dakwah Nabi Muhammad SAW. Muhammadiyah harus dirasakan oleh semua orang. Sebagaimana Jendral Sudirman, sosok pemuda yang dikenal lentur membawa identitas Kemuhammadiyahannya terhadap siapa saja yang ia temui,

Beberapa bulan yang lalu, penulis sempat mendiskusikan beberapa hal bersama karib semasa kuliah di Universitas Muhammadiyah Surakarta. Salah satu poin pembicaraannya adalah, bagaimana nasib AUM yang di dalamnya terjadi praktek menyimpang sebagaimana yang disebutkan sebelumnya. Ya, miris. Setelah melihat beberapa kasus yang sudah terjadi, tidak salah kalau kita menarik kesimpulan bahwa sesuatu yang semula adalah kerja-kerja jamaah (bersama) akan hancur bilamana diserahkan pada tangan-tangan yang dengan sadar menuruti hawa nafsu untuk berkuasa.

Belum lagi, beberapa minggu terakhir, desas-desus dualisme wahabi-muhammadiyah kembali mencuat. Yang mengharuskan persyarikatan bertindak tegas, yang kalau dalam bahasa Bukhari Muslim, penulis buku Memenangkan Islam Progresif, “Muhammadiyah harus berani bersih-bersih.”

Seharusnya, itu menjadi penyadar bagi kita, bahwa yang harus ditumbuhkan adalah rasa memiliki persyarikatan bukan rasa ingin memliki Amal Usahanya saja. Atau paling tidak, sekurang-kurangnya menurunkan rasa ingin menguasai persyarikatan secara pribadi sebab di luar sana, ada banyak kelompok yang berusaha menguasai persyarikatan Muhammadiyah.

Kembali lagi kita pada nasihat di awal, “Muhammadiyah ini jalan kita untuk menuju surga, jangan malah menjadikan kita jauh dari surga”.

  • Penulis: Kabar Muhammadiyah

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • IMM Shabran UMS Ajak Mahasiswa Renungi Makna Hidup Lewat “Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati”

    IMM Shabran UMS Ajak Mahasiswa Renungi Makna Hidup Lewat “Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati”

    • calendar_month Rabu, 26 Nov 2025
    • account_circle Dwi Kurniadi
    • visibility 8
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, SURAKARTA— Pimpinan Komisariat (PK) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Pondok Hajjah Nuriyah Shobron Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) adakan bedah buku “Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati” yang ditulis oleh Brian Khrisna dan diterbitkan pertama kali pada Januari 2025 lalu. Agenda ini bertempat di Taman Djazman Kampus 1 UMS pada Senin, (24/11). Pemas, selaku pemantik pertama, mengatakan […]

  • LUNTURNYA TUGAS HUMANISTIK

    LUNTURNYA TUGAS HUMANISTIK

    • calendar_month Jumat, 25 Mar 2022
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 583
    • 0Komentar

    Oleh : Cantik Maulida Nurul Fatihah (202110230311059) Dunia pendidikan saat ini rupanya masih perlu banyak perbaikan. Hal penting mengenai komunikasi dan relasi yang seharusnya terjalin selama pembelajaran berlangsung kian hari makin terkikis. Pandangan Freire dalam bukunya yang berjudul “Pendidikan Kaum Tertindas”, mengusung istilah humanisasi dan dehumanisasi, di mana humanisasi adalah panggilan untuk manusia sejati dengan […]

  • PWM Jawa Barat Terima Buku Panduan MLC dari LDK PP Muhammadiyah

    PWM Jawa Barat Terima Buku Panduan MLC dari LDK PP Muhammadiyah

    • calendar_month Sabtu, 24 Mei 2025
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 16
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Cirebon — Dalam suasana hangat penuh semangat dakwah, Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Pusat Muhammadiyah secara resmi menyerahkan Buku Panduan Mualaf Learning Center (MLC) kepada Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Barat. Penyerahan ini dilakukan langsung oleh Ketua LDK PP Muhammadiyah, Ustaz Muchamad Arifin, kepada Ketua PWM Jawa Barat, Prof. Dr. KH. Ahmad Dahlan, M.Ag, serta […]

  • Mengenal Kedokteran dalam Islam

    Mengenal Kedokteran dalam Islam

    • calendar_month Rabu, 20 Mar 2024
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 169
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, YOGYAKARTA – Pada puasa hari ke-7 Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan kembali diramaikan dengan acara kajian jelang berbuka puasa yang disampaikan oleh dr. Barkah Djaka Purwanto Sp.PD-KGH FINASIM. Pada kesempatannya kali ini akan membawakan kajian jelang berbuka puasa dengan tema kedokteran dan Islam. Pada Surah Al-Alaq ayat 1-5 yaitu surat yang pertama kali […]

  • Manipulasi Kebaikan: Permainan Moral di Balik Jebakan Rasa “Nggak Enakan”

    Manipulasi Kebaikan: Permainan Moral di Balik Jebakan Rasa “Nggak Enakan”

    • calendar_month Sabtu, 22 Agt 2026
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 20
    • 0Komentar

    Penulis: M. Nur Isholattudin Pernahkah anda ketika sesorang meminta bantuan kepada kita, kita hamper tidak bisa menolaknya padahal ingin menolak? Ya, itu perasaan sungkan atau sering kita sebut tidak enakan (people pleser) yang mungkin tanpa sadar kita sudah termasuk golongan people pleasure. Sering terjadi di kehidupan kita, mungkin sesorang akan menganggap kita orang yang jahat […]

  • PRM Langenharjo Gelar Upgrading! Bangkitkan Semangat Kader Lewat Penguatan Ideologis

    PRM Langenharjo Gelar Upgrading! Bangkitkan Semangat Kader Lewat Penguatan Ideologis

    • calendar_month Minggu, 20 Jul 2025
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 16
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Sukoharjo – Dalam upaya memperkuat kapasitas dan semangat ber-Muhammadiyah, Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Langenharjo menyelenggarakan kegiatan Upgrading bersama Pimpinan Ranting Aisyiyah (PRA) selama dua hari, Kamis–Jumat, 17–18 Juli 2025. Kegiatan ini berlangsung penuh antusias di lingkungan PCM Grogol, Kabupaten Sukoharjo. Acara resmi dibuka oleh Ketua PCM Grogol, Drs. Agus Komarudin, yang dalam sambutannya menyampaikan […]

expand_less