Budaya Sekolah Islami di SMA Muhammadiyah PK Kottabarat Tanamkan Karakter Disiplin Siswa

KABARMUH.ID; SURAKARTA – SMA Muhammadiyah Program Khusus (PK) Kottabarat Surakarta terus memperkuat karakter disiplin siswa melalui penerapan budaya sekolah Islami dalam kehidupan sehari-hari. Nilai disiplin tidak hanya diterapkan melalui aturan sekolah, tetapi juga dibangun melalui pembiasaan, kegiatan keagamaan, keteladanan, serta pengawasan yang dilakukan secara berkelanjutan.
Kepala SMA Muhammadiyah PK Kottabarat Surakarta, Upik Mairina S.Pd, menjelaskan bahwa disiplin menjadi salah satu nilai penting yang ditanamkan kepada siswa sebagai bekal untuk kehidupan mereka di masa depan. Menurutnya, kebiasaan disiplin yang dibangun sejak di bangku sekolah diharapkan dapat terbawa hingga siswa melanjutkan pendidikan hingga memasuki dunia kerja.
“Jadi kenapa kami disiplin karena nanti dari disiplin itu nanti akan memberimbas ataupun juga akan mendidik anak ke depannya,” ujar Upik Senin, (27/07/2026).
Ia menjelaskan, penerapan disiplin dilakukan dalam berbagai aspek kehidupan sekolah, mulai dari kedatangan siswa, cara berpakaian, hingga penampilan. Siswa dibiasakan untuk datang tepat waktu dan menaati aturan yang telah ditetapkan sekolah.
“Kalau anak-anak terbiasa datang awal, tidak terlambat, itu kan nanti juga secara tidak langsung mereka di alam bawah sadarnya itu nanti tentunya sampai mereka jadi pelajar, bekerja, dan seterusnya bisa juga akan terbiasa seperti itu,” jelasnya Senin, (27/07/2026) .
Budaya disiplin tersebut juga terintegrasi dengan nilai-nilai keislaman yang menjadi bagian dari karakter sekolah. Sebagai sekolah Muhammadiyah, SMA Muhammadiyah PK Kottabarat menerapkan berbagai pembiasaan keagamaan, seperti salat duha, salat berjamaah, kultum, hafalan Al-Qur’an, serta pelaksanaan salat tepat waktu.
Menurut Upik, pembiasaan tersebut tidak hanya bertujuan untuk membentuk kebiasaan siswa selama berada di lingkungan sekolah, tetapi juga diharapkan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari di luar sekolah.
“Kita harapannya tidak hanya di sekolah saja, jadi anak libur pun juga salat duha mereka. Kadang kita juga pantau anak-anak libur itu juga kita pantau sudah salat duha apa yang belum,” ungkapnya.
Selain itu, sekolah juga membiasakan siswa untuk melaksanakan shalat zuhur dan asar di awal waktu. Ketika waktu salat tiba, kegiatan pembelajaran dihentikan agar siswa dapat segera melaksanakan ibadah.
“Jadi kalau anak-anak berhenti pelajaran, waktu masuk salat zuhur, salat asar itu ya harapannya kita membiasakan anak-anak untuk salat itu tidak ditunda-tunda,” katanya.
Pembentukan karakter disiplin juga dilakukan melalui berbagai kegiatan yang melibatkan siswa. Salah satunya melalui Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) yang aktif dalam berbagai kegiatan sekolah maupun kegiatan sosial. Siswa diberi ruang untuk terlibat dalam perencanaan dan pelaksanaan kegiatan, termasuk kegiatan kolaborasi dengan sekolah lain dan kegiatan sosial keagamaan.
Dalam penerapan disiplin, sekolah juga melakukan pengawasan dan evaluasi secara berkala. Evaluasi dilakukan setiap hari Jumat untuk membahas kondisi siswa dan berbagai permasalahan yang muncul di masing-masing kelas. Apabila terdapat permasalahan tertentu, sekolah melakukan koordinasi antara wali kelas dan guru Bimbingan dan Konseling (BK), serta melibatkan pihak sekolah sesuai dengan tingkat permasalahan.
Upik menambahkan bahwa tantangan dalam mempertahankan disiplin budaya saat ini semakin kompleks, terutama karena pengaruh penggunaan teknologi dan kehidupan siswa di luar sekolah. Menurutnya, pembiasaan yang diterapkan di sekolah perlu terus didukung oleh orang tua agar dapat menjadi karakter yang melekat dalam diri siswa.
“Jadi orang tua harus itu juga, apa namanya, selalu mengingatkan anaknya,” tuturnya.
Ia berharap nilai-nilai disiplin dan budaya Islami yang diterapkan di sekolah dapat terus dibawa oleh siswa dalam kehidupan mereka sehari-hari. Menurutnya, keberhasilan karakter pendidikan tidak hanya dilihat dari kedisiplinan siswa selama berada di sekolah, tetapi juga dari kemampuan mereka menerapkan nilai-nilai tersebut di lingkungan keluarga dan masyarakat.
Dengan demikian, budaya sekolah Islami di SMA Muhammadiyah PK Kottabarat tidak hanya menjadi rutinitas kegiatan keagamaan, tetapi juga menjadi bagian dari proses pembentukan karakter siswa. Melalui pembiasaan yang dilakukan secara konsisten, sekolah berupaya menanamkan nilai-nilai disiplin sebagai kebiasaan yang diharapkan dapat melekat dalam diri siswa hingga mereka berada di luar lingkungan sekolah.
Kontributor: Pemas, Indah, Mudiana
Editor: Nurul Fahri



