BeritaInspirasikabar muhammadiyahSulsel

Dari Makassar ke Panggung Dunia: 28 Pelajar Sulsel Ditempa Jadi Diplomat Muda

KABARMUH.ID, MAKASSAR – Panggung diplomasi global kini tak lagi menjadi ruang eksklusif bagi pejabat negara atau kalangan dewasa. Sabtu, 10 Januari 2026, Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) menandai langkah penting dalam kaderisasi global pelajar melalui penyelenggaraan Muhammadiyah Global Fellowship Academy (MGFA) 2026. Sebanyak 28 pelajar terpilih dari Sulawesi Selatan mengikuti program ini sebagai bekal awal menapaki dunia diplomasi internasional.

Kegiatan yang digelar di Makassar ini merupakan program strategis Bidang Hubungan dan Kerja Sama Internasional Pimpinan Pusat IPM. Selain menjadi ruang pembelajaran, MGFA 2026 juga dilaksanakan sebagai bagian dari syiar dan semangat menyambut Muktamar IPM yang dijadwalkan berlangsung pada awal Februari 2026 mendatang.

Membuka Cakrawala Diplomasi Sejak Bangku SMA

Program Director MGFA 2026, Faishal Hazza, menyampaikan bahwa para peserta merupakan pelajar dengan minat tinggi terhadap isu global dan hubungan internasional. Meski pelatihan berlangsung hanya satu hari penuh, materi yang disampaikan dirancang padat dan aplikatif.

“Kami menghadirkan fasilitator dari Organization of Islamic Cooperation (OIC) Indonesia untuk mendampingi proses pembelajaran hingga sore hari. MGFA 2026 menjadi bagian dari komitmen IPM dalam menyiapkan pelajar yang memiliki wawasan global sejak dini,” ujar Faishal.

Hal senada disampaikan Imran Nur, Chairperson of International Relations PP IPM. Menurutnya, MGFA merupakan pintu masuk bagi pelajar untuk memperoleh pengalaman dan perspektif internasional yang penting bagi masa depan mereka.

“Pelajar perlu dikenalkan dengan isu global sejak bangku SMA agar memiliki daya saing, keberanian berpikir kritis, dan kesiapan berpartisipasi di forum internasional,” jelasnya.

Strategic Discussion Bersama Diplomat Indonesia

Salah satu sesi utama dalam MGFA 2026 adalah Strategic Discussion yang menghadirkan Ambassador Bunyan Saptomo, diplomat senior Indonesia, sebagai pembicara. Diskusi ini dipandu oleh Muhammad Yasir Abdad, pengamat politik internasional yang mengarahkan jalannya dialog secara interaktif dan sistematis.

Dalam sesi tersebut, Amb. Bunyan menekankan bahwa diplomasi bukan sekadar hubungan antarnegara, melainkan juga upaya membangun perdamaian, kepercayaan, dan kerja sama lintas budaya. Ia mendorong para peserta untuk memiliki ketajaman analisis, kepekaan kemanusiaan, serta ketahanan karakter dalam menghadapi dinamika global.

Format diskusi terbuka memberi ruang bagi para pelajar untuk bertanya, menyampaikan pandangan, serta melatih keberanian berbicara dalam forum strategis—sebuah pengalaman penting bagi calon diplomat muda.

Dukungan Wilayah dan Nilai Lokal

Dukungan terhadap MGFA 2026 juga datang dari Pimpinan Wilayah IPM Sulawesi Selatan. Zul Jalali wal Iqram, Ketua Umum PW IPM Sulsel, menegaskan bahwa kegiatan ini mendorong pelajar untuk tidak hanya memahami teori, tetapi juga membangun mimpi besar menembus ruang-ruang global.

Sementara itu, Ayahanda Dr. Pantja Nur Wahidin, perwakilan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sulawesi Selatan, menekankan pentingnya nilai lokal dalam praktik diplomasi. Ia mengaitkan diplomasi dengan falsafah Sirik na Pacce, yang dimaknai sebagai empati, kepedulian sosial, dan tanggung jawab kemanusiaan.

“Diplomasi membutuhkan stabilitas emosi dan ketenangan berpikir. Pelajar harus mampu mengendalikan diri dan tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang tidak jelas,” ujarnya.

Tiga Bekal Calon Diplomat Muda

Dr. Pantja juga menitipkan tiga bekal utama bagi para peserta MGFA 2026, yakni meneguhkan keimanan, mengasah wawasan keilmuan, dan mengelola kecerdasan emosi. Mengutip pemikiran Daniel Goleman, ia menegaskan bahwa kecerdasan emosional memiliki peran besar dalam keberhasilan seseorang di ruang publik.

“Diplomasi menuntut ketenangan, konsistensi argumen, dan kematangan emosi,” tegasnya.

Menuju Kader Muhammadiyah Berwawasan Global

Dengan kehadiran fasilitator dari OIC Indonesia serta diskusi strategis bersama diplomat nasional, MGFA 2026 diharapkan melahirkan kader Muhammadiyah yang mampu berkiprah di tingkat nasional maupun internasional.

Semangat yang dibangun melalui MGFA 2026 diharapkan terus berlanjut hingga pelaksanaan Muktamar IPM Februari mendatang. Dari 28 pelajar terpilih ini, diharapkan tumbuh generasi pemimpin masa depan yang memiliki iman yang kokoh, wawasan global yang luas, serta kecerdasan emosional yang matang.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button