BeritaInspirasiJateng

Dialog Publik Kupas Dinamika Politik dan Stabilitas Sosial di Era Politik Dinamis

KABARMUH.ID SURAKARTA – Dalam upaya menjaga dan merawat nalar kebangsaan dalam kehidupan sosial dan politik, Perhimpunan Rakyat Progresif (PRP) Jawa Tengah menggelar dialog publik bertajuk “Dinamika Politik dan Stabilitas Sosial: Deteksi Dini dan Pencegahan Polarisasi di Era Politik yang Dinamis.”

Acara yang digelar pada Jumat Selasa, (9/12/2025) di Tentrem Coffee Solo ini menghadirkan sejumlah pembicara dari kalangan akademisi, jurnalis, hingga pegiat dan aktivis sosial. Mereka membahas akar polarisasi, faktor penyebab, serta berbagai upaya penanggulangan sebelum potensi konflik horizontal dapat merugikan masyarakat.

Pada sesi pertama, Muh Isra Bil Ali, S.H., M.H., Dekan Fakultas Hukum (FH) Institut Teknologi Bisnis AAS Indonesia (ITB AAS), memaparkan sejarah serta definisi mendasar polarisasi dari perspektif akademik. Ia menjelaskan bahwa dalam ilmu pengetahuan, polarisasi justru dibutuhkan sebagai bagian dari proses kritik, penyempurnaan, dan perkembangan ilmu secara berkelanjutan. Polarisasi dalam ranah akademik mendorong pemikiran kritis dan inovasi, sehingga ilmu dapat berkembang lebih matang.

Suasana kegiatan dialog publik di tentrem bumi coffe Solo

Namun, ia menegaskan bahwa meskipun polarisasi relevan dalam dunia akademik, kondisi tersebut tidak dapat diterapkan di ranah sosial dan politik. Di konteks ini, polarisasi berpotensi memicu konflik yang dapat merusak tatanan masyarakat.

 

Sementara itu, Anas Syahirul Alim, S.Sos., M.I.Kom., Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Surakarta, menyoroti laju polarisasi yang tumbuh melalui media digital. Menurutnya, polarisasi sebenarnya telah terjadi sejak lama, namun tidak pernah sekompleks dan semasif saat ini. Kemajuan teknologi yang menjelma menjadi ruang publik baru telah membentuk lanskap informasi yang kuat memengaruhi kehidupan masyarakat.

Anas menjelaskan bahwa arus informasi kini menyebar sangat cepat ke seluruh penjuru, diperparah oleh efek filter bubble dan echo chamber di media sosial. Algoritma yang menyesuaikan konten dengan preferensi pengguna membuat masyarakat cenderung hanya mengonsumsi informasi yang sesuai pandangan mereka. Akibatnya, terbentuk ketidakseimbangan paradigma dalam menilai persoalan, mendorong fanatisme, dan memperkuat polarisasi.

Pada sesi berikutnya, Dr. Amir Mahmud, S.Sos., M.Ag., Direktur Amir Mahmud Center, menguraikan pengaruh radikalisme yang muncul akibat polarisasi yang tidak terkontrol. Ia menekankan bahwa dinamika politik yang cepat dapat langsung memengaruhi stabilitas keamanan, sosial, dan politik, sehingga polarisasi pun mudah muncul dan berkembang.

Foto pemaparan materi oleh bapak Dr. Amir Mahmud, S.Sos., M.Ag

Dr. Amir menambahkan bahwa polarisasi saat ini sering dipengaruhi oleh figur-figur berkuasa, di mana loyalitas politik cenderung cair; dukungan yang dulu diberikan bisa berubah menjadi oposisi, dan sebaliknya. Kondisi ini membuat polarisasi sulit dihindari dalam praktik sosial dan politik modern.

Lebih jauh, ia menyoroti bahaya polarisasi ideologi yang berpotensi menimbulkan disintegrasi struktural. Ketika kelompok-kelompok ideologis terpolarisasi secara tajam, hubungan sosial melemah, kerentanan konflik meningkat, dan stabilitas nasional dapat terganggu. Oleh karena itu, deteksi dini dan upaya pencegahan polarisasi menjadi kunci dalam menjaga keharmonisan sosial dan politik.

Acara kemudian berlanjut ke sesi tanya jawab yang interaktif dan dinamis. Peserta tampak antusias mengajukan berbagai pertanyaan, dan para pembicara menjawab dengan lugas serta komprehensif, sehingga diskusi berjalan hidup dan memberikan pemahaman lebih mendalam bagi peserta.

Menutup dialog publik, moderator menekankan pentingnya deteksi dini terhadap polarisasi sebagai langkah strategis untuk mencegah berbagai masalah sosial dan konflik yang mungkin timbul. Ia juga mengingatkan bahwa kesadaran masyarakat, peran media yang bertanggung jawab, serta keterlibatan semua pihak dalam dialog konstruktif sangat diperlukan untuk menjaga stabilitas sosial dan politik.

Kontributor: M. Faozan Syifaurrahman

Editor: Muhammad Farhan

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button