
KABRMUH.ID, SURAKARTA – Komitmen Pemerintah Indonesia dalam mendorong penguatan hilirisasi industri sebagai langkah strategis untuk meningkatkan nilai tambah dan daya saing nasional. Hilirisasi ini menjadi fondasi dalam mendongkrak ekonomi nasional melalui peningkatan nilai tambah sumber daya alam (SDA), diversifikasi industri, terciptanya lapangan kerja berkualitas, dan penguatan daya saing global dengan mengolah bahan mentah menjadi produk jadi.
Upaya dalam melepaskan ketergantungan pada ekspor bahan mentah ini menjadi kunci ketahanan ekonomi Indonesia di masa depan. Pakar Ekonomi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Prof. Dr. Anton Agus Setyawan, S.E., M.Si. menyoroti pentingnya akselerasi hilirisasi industri yang didukung oleh pendanaan strategis melalui lembaga seperti BPI Danantara (Daya Anagata Nusantara).
Berdasarkan laporan Bank Dunia, tantangan ketenagakerjaan di Indonesia cukup nyata, di mana satu dari tujuh anak muda masih menganggur. Untuk mengatasi hal ini, Ekonom UMS mendorong pemerintah agar fokus pada industri manufaktur berbasis digital dan IoT (Internet of Things), serta penguasaan hak cipta untuk menciptakan nilai tambah di dalam negeri.
“Tema utamanya sampai akhir pemerintahan Pak Prabowo harusnya ke situ (hilirisasi). Kita tidak bisa lagi sekadar ekspor komoditas mentah seperti kelapa sawit ke Malaysia. Kita harus bisa manfaatkan sampai jadi biodiesel di sini, sehingga mata rantai industrinya ada di dalam negeri dan menyerap tenaga kerja kita,” jelas Pakar Ekonomi UMS tersebut, Selasa (27/1).

Ia menambahkan bahwa peran lembaga pengelola investasi seperti Danantara sangat krusial dalam menjembatani kebutuhan pendanaan proyek strategis hilirisasi. Danantara dinilai mampu memberikan sinyal positif (signaling) kepada investor global bahwa proyek-proyek di Indonesia feasible dan menguntungkan.
Menurutnya, ratusan hasil riset di perguruan tinggi sebenarnya siap untuk masuk ke industri high-tech, namun seringkali terkendala pembiayaan. Dengan hadirnya Danantara yang berorientasi pada keuntungan komersial yang berbeda dengan APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara), diharapkan dapat menjalankan proyek hilirisasi hasil riset.
“Ketika saya jadi reviewer untuk penelitian-penelitian yang ujungnya hilirisasi, ratusan loh hasil riset kita itu yang bisa jadi masuk ke industri yang high tech, kemudian PR-nya siapa yang mau membiayai. Kalau Danantara masuk membiayai proyek hilirisasi dan berhasil, investor asing pasti akan ikut masuk. Investor itu logis, kalau lihat ada proyek menguntungkan, mereka akan datang. Ini akan menciptakan pekerjaan berkualitas yang menjamin keberlanjutan ekonomi kita,” paparnya optimis.
Selain itu, ia juga menyinggung pentingnya kemandirian pangan dan energi. Indonesia dinilai memiliki sumber daya alam yang melimpah untuk menopang kebutuhan dalam negeri jika dikelola dengan tata kelola yang tepat, meskipun tantangan rantai pasok dan geopolitik masih menjadi pekerjaan rumah bersama.
“Sebenarnya kita punya potensi besar. Asal hilirisasi jalan, kita tidak lagi bergantung pada sektor ekstraktif mentah. Ini langkah progresif untuk memastikan ekonomi kita tumbuh berkualitas,” tegasnya. (Alvian/Humas)
Editor: Choiril Amirah Farida



