Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Esai » GURU: MEMAKNAI SANG PEMBANGUN NEGERI

GURU: MEMAKNAI SANG PEMBANGUN NEGERI

  • account_circle Kabar Muhammadiyah
  • calendar_month Sabtu, 25 Nov 2023
  • visibility 314
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh : Andi Rezti Maharani*

Seorang tentara akan lahir dari seorang guru. Seorang insinyur akan lahir dari seorang guru. Seorang dokter bahkan akan lahir dari seorang guru. Apapun profesinya, lahir dari guru dan pula suatu saat akan menjadi guru. Guru bagi istrinya, maupun guru untuk anak-anaknya. Mari kita membahas spesifikasi profesi seorang guru.

Guru merupakan pekerjaan tertua sebelum seluruh profesi hadir. Ketika manusia memiliki ilmu pengetahuan dan mampu berpikir, agar memudahkan manusia lain dalam menjalani hidup, maka ilmu itu akan terus mengalir. Manusia yang memiliki sifat curious atau ingin tahu dan bertahan hidup pun akan belajar. Belajar memahami suatu hal, meskipun datangnya tidak dari ucapan, manusia menjadi makhluk peniru yang ulung. Saat itulah guru digugu dan ditiru.

Ketika agama mulai masuk dan berkembang pada masa kenabian, rasul dan nabi akan mulai menyampaikan kebenaran wahyu kepada umatnya. Terjadi dalam sebuah halaqah di mana terdapat interaksi antar individu dengan kelompok. Kita kenal kegiatan ini dengan belajar-mengajar antar murid dan guru.

Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan, terdapat berbagai macam spesialisasi guru. Guru fikih, guru hadits, guru matematika, dan lainnya. Hal ini juga mendorong berkembangnya metode pembelajaran. Sehingga menuntut para guru untuk memberikan metode yang pas agar muridnya mampu menangkap segala informasi yang diberikan dengan mudah.

Salah satu role model guru adalah KH Ahmad Dahlan. Beliau merupakan guru sederhana yang nama dan ilmunya masih kian terdengar. Perjuangannya dalam membebaskan kebodohan kaum muslimin di Kauman merupakan bentuk perjuangan kemerdekaan. Merdeka dari kemiskinan, merdeka dari kebodohan. Beliau amat menyadari bahwa membangun negeri haruslah dimulai dari fondasinya terlebih dahulu. Pendidikan adalah akar penting dan genting pada masa itu.

Tepat tanggal 25 November 1945 di Kota Surakarta, PGRI didirikan. Tidak lain tidak bukan merupakan partisipasi aktif guru Indonesia dalam mengisi kemerdekaan. Lahirnya PGRI juga merupakan spirit kemanusiaan dan manifestasi akan keinsafan dalam rangka memenuhi tanggung jawabnya sebagai seorang guru.

Ada perkataan dari dua peneliti Michael Fullan dan Kim. Mereka mengatakan bahwa, “The  quality  of  education  can  not  exceed  the  quality  of  teachers”  and  “educational  change depends  on  what  teachers  do  and  think,” yang berarti kualitas pendidikan tidak akan mampu mengungguli kualitas para guru dan pendidikan berubah tergantung dari apa yang guru lakukan dan pikirkan.

Dapat kita bayangkan betapa mulianya tugas guru sebagai penentu generasi mendatang. Kualitas guru menjadi sangat penting dan sangat dibutuhkan kehadirannya.  Di pundaknya, ada beribu cita-cita anak bangsa. Di tiap peluhnya ada asa dan harap setiap orangtua agar kelak masa depan cerah menunggu anaknya.

Terimakasih untuk setiap guru yang mendedikasikan seluruh hidupnya, semoga rahmat Allah selalu menyertai dan berbuah manis pada akhirnya. Selamat hari guru!

Ed : ARM

*Penulis merupakan alumni pondok pesantren al-Mujahidin, mahasiswi Teknik Kimia, Universitas Muhammadiyah Surakarta

  • Penulis: Kabar Muhammadiyah

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Rektor UMS Berikan Tausiyah kepada Mahasiswa Baru: Ikhtiar, Doa, dan Pemanfaatan Ilmu

    Rektor UMS Berikan Tausiyah kepada Mahasiswa Baru: Ikhtiar, Doa, dan Pemanfaatan Ilmu

    • calendar_month Senin, 15 Sep 2025
    • account_circle Dwi Kurniadi
    • visibility 45
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, SURAKARTA – Rektor Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum., memberikan tausiyah kepada mahasiswa baru dalam kegiatan Baitul Arqam kloter 4 yang berlangsung di Masjid Sudalmiyah Rais UMS, Senin (15/9). Kegiatan tersebut diikuti kurang lebih 350 peserta yang antusias menyimak pesan-pesan Rektor. Dalam tausiyahnya, Harun menekankan pentingnya keseimbangan antara ikhtiar dan […]

  • Amien Rais: Intelektual Muslim, Reformis, dan Penjaga Moral Politik Indonesia

    Amien Rais: Intelektual Muslim, Reformis, dan Penjaga Moral Politik Indonesia

    • calendar_month Kamis, 30 Okt 2025
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 142
    • 0Komentar

    Oleh: Lisa Amelia Putri, Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Bengkulu Siapa yang tidak mengenal nama Amien Rais, dalam sejarah politik Indonesia, nama Amien Rais menempati posisi penting sebagai tokoh intelektual Muslim yang berperan besar dalam proses reformasi nasional. Ia dikenal sebagai “Bapak Reformasi”, karena peran aktifnya dalam menggagas perubahan sistem politik Indonesia dari otoritarianisme menuju demokrasi. Sebagai akademisi, […]

  • LDK PWM Kalimantan Timur Paparkan Progres dan Tantangan Dakwah Komunitas di Rakornas II LDK PP Muhammadiyah

    LDK PWM Kalimantan Timur Paparkan Progres dan Tantangan Dakwah Komunitas di Rakornas II LDK PP Muhammadiyah

    • calendar_month Jumat, 30 Jan 2026
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 35
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Semarang – Kegiatan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) II Lembaga Dakwah Komunitas Pimpinan Pusat Muhammadiyah diselenggarakan pada 29–31 Januari 2026 di BBPMP Provinsi Jawa Tengah. Rakornas ini menjadi forum strategis untuk mengevaluasi capaian dakwah komunitas sekaligus merumuskan langkah penguatan dakwah berbasis komunitas di berbagai wilayah Indonesia. Dalam forum tersebut, Ketua LDK PWM Kalimantan Timur, Arif […]

  • Sabet 2 Juara Sekaligus, Siswa/Siswi MTs Muhammadiyah Seri Kembang Torehkan Prestasi

    Sabet 2 Juara Sekaligus, Siswa/Siswi MTs Muhammadiyah Seri Kembang Torehkan Prestasi

    • calendar_month Kamis, 2 Okt 2025
    • account_circle Dwi Kurniadi
    • visibility 25
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, OGAN ILIR – MTs Muhammadiyah Seri Kembang berhasil meraih Juara 2 cabang Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) dan Juara 2 cabang beregu lomba Asah Terampil dalam event SMANSAGEL Jilid 10. Ajang ini diselenggarakan oleh SMA Negeri 1 Gelumbang (SMANSAGEL) pada tanggal 24 hingga 27 September 2025, bertempat di Kompleks SMANSAGEL, Sumatera Selatan. Dalam kompetisi ini, […]

  • BEM FAI UMS Sukses Laksanakan Program Pengabdian Masyarakat, Wujudkan Generasi Islam Kaffah Sejak Dini

    BEM FAI UMS Sukses Laksanakan Program Pengabdian Masyarakat, Wujudkan Generasi Islam Kaffah Sejak Dini

    • calendar_month Minggu, 22 Des 2024
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 200
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Surakarta – Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Agama Islam (BEM FAI) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) telah berhasil menyelesaikan program pengabdian masyarakat yang berlangsung selama satu tahun, mulai dari Maret hingga November 2024. Program ini fokus pada penguatan nilai-nilai keagamaan, kebersamaan, dan pembentukan generasi Islam yang kaffa sejak dini. Selama satu tahun, BEM FAI melaksanakan berbagai […]

  • Kader IMM DIY Serukan Keadilan dan Amanah Hadapi Main Hakim Sendiri, Kemiskinan, dan Korupsi

    Kader IMM DIY Serukan Keadilan dan Amanah Hadapi Main Hakim Sendiri, Kemiskinan, dan Korupsi

    • calendar_month Sabtu, 1 Agt 2026
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 31
    • 0Komentar

    KABARMUH. ID, BANTUL — Khutbah Salat Jumat di Masjid Al- Musannif, 50 Tabligh Institute, Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Jumat (31/7), mengangkat keresahan atas maraknya aksi main hakim sendiri, himpitan ekonomi yang menghimpit masyarakat, dan praktik korupsi yang dinilai tak kunjung surut.  Bertajuk “Antara Keadilan, Kesabaran, dan Amanah: Menyikapi Main Hakim Sendiri, Himpitan Ekonomi, dan Korupsi”, khutbah disampaikan oleh Dafa Isandi Ananto, S.Hum., Sekretaris DPD IMM DIY Bidang Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat yang juga mahasiswa Magister Antropologi Universitas Gadjah Mada menegaskan tiga persoalan tersebut yang saling berkelindan dan berakar pada dua nilai dasar Islam, yakni keadilan dan amanah. Ia mengawali dengan menyoroti bahaya tindakan main hakim sendiri atau vigilantisme yang belakangan terjadi di tengah masyarakat, seperti kasus pengeroyokan terhadap terduga pencuri hingga tindak kekerasan massa lainnya. “Perbuatan main hakim sendiri, betapapun kemarahan yang mendasarinya bisa dipahami, tentu tidak dibenarkan dalam Islam. Penegakan hukum adalah hak dan kewajiban otoritas yang berwenang, bukan hak perorangan atau kerumunan,” ujarnya mengutip QS. An-Nisa ayat 58 tentang kewajiban menetapkan hukum secara adil. Meski demikian, Dafa mengajak jamaah untuk jujur melihat akar persoalan. Menurutnya, tidak sedikit kasus pencurian kecil di masyarakat berawal dari desakan kebutuhan hidup, bukan semata niat jahat. “Ini bukan pembenaran atas perbuatan mencuri, karena mencuri tetap haram dan harus dipertanggungjawabkan. Namun memahami sebabnya, penting agar penyelesaiannya menyentuh akar permasalahan, bukan berhenti pada amarah sesaat,” katanya, mencontohkan kebijakan Khalifah Umar bin Khattab r.a. yang menangguhkan hukuman potong tangan bagi pencuri saat terjadi paceklik. Ia mengingatkan kaidah fikih dar’ul mafasid muqaddamun ‘ala jalbil mashalih, yang artinya “mencegah kerusakan lebih diutamakan daripada mendatangkan kemaslahatan.” Hal tersebut sebagai dasar pentingnya peran pemerintah, ulama, dan masyarakat untuk membuka lapangan kerja layak serta menghadirkan jaring pengaman sosial, bukan sekadar menghukum gejala di permukaan. Kedua, Dafa membahas himpitan ekonomi yang dihadapi banyak keluarga akibat kenaikan harga kebutuhan pokok dan terbatasnya lapangan kerja. Ia mengajak jamaah untuk menguatkan ikhtiar yang halal sekaligus tawakal, mengutip QS. At-Talaq ayat 2-3 tentang jalan keluar dan rezeki tak terduga bagi siapa saja yang bertakwa. “Himpitan ekonomi tidak boleh dijadikan alasan untuk menempuh jalan haram, baik itu mencuri, menipu, berutang riba, apalagi terlibat korupsi. Justru dalam kesempitan itulah keimanan seseorang diuji,” tegasnya. Ketiga, Dafa menyoroti praktik korupsi yang menurutnya justru memperparah kesulitan ekonomi rakyat kecil karena dana yang seharusnya sampai kepada yang membutuhkan diselewengkan oleh pihak yang mengkhianati amanah. “Korupsi bukan hanya pelanggaran hukum negara, tetapi juga dosa besar di hadapan Allah karena merupakan bentuk pengkhianatan terhadap amanah dan penzaliman terhadap hak-hak rakyat,” tegasnya. Ia membedakan akar dua persoalan tersebut. Jika pencurian kecil oleh rakyat kerap lahir dari desakan kebutuhan hidup, korupsi oleh sebagian pejabat atau pemegang amanah umumnya lahir dari keserakahan dan rasa tidak pernah cukup. “Memutus mata rantai kemiskinan struktural, pencurian kecil, hingga aksi main hakim sendiri harus dimulai dari akar paling atas, yakni memberantas korupsi serta menegakkan amanah,” ujarnya. Di penghujung khutbah, Dafa mengajak jamaah untuk menahan diri dari tindakan main hakim sendiri dan menyerahkan permasalahan hukum kepada pihak berwenang, sembari mendesak aparat keamanan meningkatkan kesiapsiagaan 24 jam. Ia juga mengajak untuk menguatkan ikhtiar halal di tengah kesulitan ekonomi, menjauhi dan melawan praktik korupsi sekecil apa pun mulai dari diri sendiri. Selain itu, selalu memperbanyak doa kepada Allah SWT agar hadirnya pemimpin yang amanah, serta memperkuat ta’awun atau saling membantu antar sesama, khususnya di masa-masa sulit seperti sekarang. Kontributor: Faisal Editor: Muhammad Farhan

expand_less