Hadirkan Solusi Infrastruktur, DPM DRPPS UMS Terjunkan Tim Pakar Rancang Jembatan Pengganti di NTT
- account_circle Maysali
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 4
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
KABARMUH.ID, SURAKARTA – Deputi Pengabdian Masyarakat dan Hilirisasi pada Direktorat Riset, Pengabdian kepada Masyarakat, Publikasi dan Sentra KI (DPM DRPPS) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali mewujudkan komitmen nyatanya dalam menyelesaikan persoalan infrastruktur di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Bersinergi dengan Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, DPM DRPPS UMS menugaskan dua pakar dari Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Teknik (FT) UMS, yakni Ir. Muhammad Ujianto, M.T. dan Furqaan Harjanto, S.T., M.Eng. Keduanya diterjunkan untuk memimpin pelaksanaan survei lapangan awal (reconnaissance survey) dan investigasi forensik geoteknik atas runtuhnya jembatan utama di Desa Tliu, Kecamatan Amanuban Timur, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur (NTT) beberapa waktu yang lalu.
Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan selama empat hari, mulai Jumat hingga Senin, 23–26 Oktober 2026. Agenda krusial berupa survei geoteknik dan pengukuran fisik langsung di lokasi jembatan dilakukan pada Sabtu, 24 Oktober 2026. Tim DPM DRPPS UMS ini bekerja sama erat dengan perangkat desa setempat dan bahu-membahu bersama warga Desa Tliu.
Kondisi geografis lokasi jembatan ini terbilang cukup menantang. Berjarak sekitar empat jam perjalanan darat dari ibu kota Kupang, lokasi spesifiknya berada pada alur sungai musiman (ephemeral river) yang diapit oleh tebing ngarai batu gamping terumbu atau kalkarenit. Setibanya di lokasi, tim mendapati jembatan eksisting dengan bentang tujuh meter tersebut telah runtuh total. Akibatnya, warga terpaksa memutar melewati dasar sungai berbatu yang terjal.
Menanggapi temuan di lapangan, Ir. Muhammad Ujianto, M.T., menegaskan perlunya analisis yang presisi.
“Berdasarkan hasil investigasi forensik di lapangan, keruntuhan ini sama sekali bukan karena faktor usia bangunan. Insiden ini dipicu oleh erosi kavitas atau basal undercutting akibat gerusan arus banjir pada kaki tebing batuan kapur yang berpori (vuggy limestone). Hal inilah yang menyebabkan fondasi pasangan batu pada jembatan lama kehilangan tumpuan (undermining) dan akhirnya patah,” ungkapnya, Sabtu (31/10/2026).
Berbekal pemeriksaan visual geoteknik dan pengukuran geometri ngarai, tim langsung menyusun dokumen perencanaan teknis (engineering design) untuk jembatan pengganti. Terkait solusi tersebut, Furqaan Harjanto, S.T., M.Eng., memaparkan strategi perancangannya.
“Solusi rekayasa yang kami rancang meliputi pembangunan abutment beton bertulang yang ditanam sedalam dua meter ke lantai batuan dasar di bawah sungai. Selain itu, kami mewajibkan pengisian rongga gerusan tebing (cavity infill) dengan beton siklop, serta pengikatan struktur secara kuat ke dinding tebing batuan kapur agar tahan terhadap terjangan banjir bandang di masa mendatang,” papar Furqaan.
Penyusunan dokumen perencanaan teknis jembatan Desa Tliu ini merupakan wujud nyata kontribusi kepakaran akademisi Teknik Sipil dan DPM DRPPS UMS dalam menghadirkan solusi infrastruktur berbasis riset. Dokumen komprehensif hasil kunjungan ini akan diserahkan sebagai acuan teknis utama bagi pemerintah daerah maupun pemangku kepentingan terkait. Harapannya, konstruksi fisik jembatan pengganti dapat segera direalisasikan secara aman, ekonomis, dan berkelanjutan demi pemulihan akses vital masyarakat setempat.
Kontributor: Maysali
Editor: Anqiya Zaki Mushoddiq
- Penulis: Maysali
- Editor: Anqiya Zaki Mushoddiq
