Seminar Gender IMM Shabran Soroti Misogini dalam Pemahaman Teks Agama
- account_circle Kabar Muhammadiyah
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 13
- comment 0 komentar
- print Cetak

Foto Bersama
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Foto Bersamafo plotKABARMUH.ID, SURAKARTA – Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Pimpinan Komisariat (PK) Pondok Shabran Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menyelenggarakan Seminar Gender dengan mengangkat tema “Misogini dalam Tafsir atau dalam Teks? Kajian Kritis atas Dalil-Dalil Gender” pada Sabtu, (31/10/2026). Kegiatan tersebut berlangsung di Ruang Seminar Fakultas Hukum dan Ilmu Politik (FHIP) UMS I.3.7 dan I.3.8.
Seminar ini menghadirkan Alfiyatul Azizah, Lc., M.Ud., selaku Wakil Dekan Bidang I Fakultas Agama Islam (FAI) juga dosen Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IQT) UMS, sekaligus anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah, sebagai narasumber.
Ketua Panitia Seminar Gender, I Yuki Jasmine, menyampaikan bahwa kegiatan ini mendapat antusiasme tinggi baik dari perempuan maupun laki-laki. Panitia awalnya hanya menyediakan kuota sebanyak 80 peserta. Namun, tingginya minat membuat sejumlah peserta masih menghubungi panitia untuk menanyakan kesempatan mengikuti seminar meskipun pendaftaran telah ditutup.
“Awalnya kami membuka pendaftaran dengan kuota 80 orang. Namun, di luar dugaan, antusiasme immawan dan immawati sangat besar. Bahkan, setelah pendaftaran ditutup, masih banyak peserta yang menghubungi kami untuk menanyakan kesempatan mengikuti seminar ini,” ungkapnya, Sabtu (31/10/2026).
Yuki menjelaskan bahwa tema seminar tersebut diangkat karena masih terdapat sejumlah dalil keagamaan yang kerap dianggap menunjukkan adanya misogini atau sikap merendahkan perempuan.
“Salah satunya adalah dalil yang menyebutkan bahwa mayoritas penghuni neraka adalah perempuan. Menurut kami selaku panitia, persoalan tersebut perlu dikaji lebih mendalam agar umat Islam dapat memahami makna sebenarnya dari dalil-dalil tersebut,” tambahnya.
Dalam sambutannya, Ketua Umum IMM Shabran, Nashiruddin Amin, turut menyoroti pentingnya memahami teks keagamaan secara tepat, khususnya dalil Al-Qur’an yang berkaitan dengan perempuan. Menurutnya, kesalahpahaman dalam memahami teks dapat menimbulkan kesan bahwa perempuan berada pada posisi yang tersudutkan. Kondisi tersebut juga kerap dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang mengkritik Islam.
“Banyak orang salah paham dalam memahami teks, terutama mengenai dalil Al-Qur’an tentang perempuan. Hal tersebut membuat perempuan terkesan tersudut. Di banyak pihak, orang yang tidak menyukai Islam menjadikan hal ini sebagai serangan terhadap teks Islam itu sendiri. Jadi, mampukah kita menjawab?,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Pondok Shabran UMS, KH. Yayuli, S.Ag., M.P.I., dalam sambutannya menegaskan peran wanita muslimah dalam berkehidupan dan berperadaban.

Sambutan Kepala Pondok Shabran UMS, KH. Yayuli, S.Ag., M.P.I.
“Menjadi wanita muslimah dan wanita sejati bukan sekadar tentang sumur, dapur, dan kasur. Perempuan juga memiliki ruang untuk berpikir, berpendidikan, berkarya, berdaya, dan memberikan kontribusi bagi peradaban. Sebab, kemuliaan seorang perempuan tidak hanya diukur dari perannya di dalam rumah, tetapi juga dari ilmu, akhlak, dan kebermanfaatannya bagi sesama. Perempuan bukan hanya tentang menjalankan peran, tetapi juga tentang mengenali potensi dan memaksimalkan kontribusi,” katanya.
Memasuki sesi pemaparan materi, Alfiyatul Azizah, Lc., M.Ud., menegaskan bahwa laki-laki dan perempuan memiliki kedudukan yang setara dengan tetap memperhatikan fitrah masing-masing.

Sesi pemaparan materi oleh Alfiyatul Azizah, Lc., M.Ud.
“Laki-laki dan perempuan adalah setara, adalah sama. Namun, ada satu hal yang tidak akan bisa dilampaui manusia, yaitu laki-laki menjadi perempuan atau perempuan menjadi laki-laki, yakni fitrah,” ungkapnya.
Melalui seminar ini, peserta diajak untuk mengkaji persoalan gender secara kritis, khususnya dalam memahami hubungan antara teks keagamaan dan penafsirannya. Kegiatan ini diharapkan dapat memperluas wawasan keislaman serta membangun tradisi intelektual mahasiswa dalam memahami dalil-dalil keagamaan secara lebih komprehensif. (Hammam/Adi/Humas)
- Penulis: Kabar Muhammadiyah
