BeritaInspirasiJatengkabar muhammadiyahPersyarikatanPrestasi

Mahasiswa PG PAUD UMS Hadirkan Ruang Tumbuh Anak di Educare Muktamar ke-15 Nasyiatul ‘Aisyiyah

KABARMUH.ID, SURAKARTA – Prodi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PG-PAUD) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id turut andil dalam menyukseskan agenda nasional Muktamar ke-15 Nasyiatul ‘Aisyiyah. Prodi PG-PAUD UMS melihat, di balik kesibukan ribuan kader Nasyiatul ‘Aisyiyah yang berkumpul di Solo, 6–8 Agustus 2026, ada kebutuhan yang tak kalah penting: memastikan anak-anak yang ikut bersama orang tuanya tetap mendapatkan ruang yang aman, nyaman, menyenangkan, dan edukatif.

Kebutuhan itulah yang dijawab melalui layanan Educare atau Taman Asuh Anak Nasyiatul ‘Aisyiyah, dengan melibatkan mahasiswa PG PAUD UMS sebagai pendamping anak.

Ketua Program Studi PG PAUD UMS, Dr. Junita Dwi Wardhani, M.Ed., bertindak sebagai penanggung jawab kerja sama antara PG PAUD UMS dengan Panitia Tanwir dan Muktamar Nasional Nasyiatul ‘Aisyiyah ke-15, khususnya seksi Educare. Dalam dokumen persiapan, Kaprodi juga tercatat terlibat dalam koordinasi pendampingan Educare.

Sementara itu, Dr. Sri Slamet, M.Hum., M.Pd. menjadi koordinator pelaksana dan pendamping dari PG PAUD UMS selama kegiatan 6–8 Agustus 2026. Pendampingan dilakukan di beberapa titik kegiatan, menyesuaikan berlangsungnya Tanwir dan Muktamar, antara lain kawasan Hotel Dwangsa dan Lorin serta Edutorium UMS. Dokumen teknis memang menunjukkan layanan Educare berlangsung mengikuti pergerakan agenda utama dari Tanwir pada 6 Agustus hingga Muktamar pada 7–8 Agustus.

Menurut Sri Slamet, keterlibatan 17 mahasiswa PG PAUD UMS dalam Educare memiliki makna lebih dari sekadar membantu orang tua menjaga anak. Mereka hadir membawa kompetensi calon pendidik anak usia dini dengan memahami kebutuhan anak, membangun komunikasi yang hangat, mendampingi bermain, serta memberikan stimulasi sesuai tahap perkembangannya.

“Karena itu, taman asuh hadir sebagai mitra keluarga agar anak tetap memperoleh rasa aman dan perhatian ketika orang tua mengikuti kegiatan organisasi,” ujar Sri Slamet, Sabtu (8/8/2026).

Momentum tersebut semakin penting karena Muktamar ke-15 Nasyiatul ‘Aisyiyah merupakan agenda nasional. Muktamar Berlangsung di Surakarta pada 7–8 Agustus 2026 setelah Tanwir III pada 6 Agustus. Tema yang diusung adalah“Perempuan Muda Berkemajuan untuk Peradaban Berkelanjutan.” Pembukaan Muktamar berlangsung di Edutorium UMS pada Jumat (7/8/2026). Informasi terkini dari penyelenggaraan menyebut lebih dari 6.700 peserta dan penggembira hadir di Surakarta, sementara fasilitas Educare disiapkan untuk 65 anak, baik di hotel maupun Edutorium.

“Educare sejalan dengan konsep Taman Asuh Anak Nasyiatul Aisyiyah yang tidak semata-mata berorientasi pada aspek kognitif, tetapi menempatkan martabat dan kesejahteraan anak secara holistik sebagai perhatian utama. Anak dipandang sebagai subjek yang mempunyai hak untuk diasuh secara aman serta memperoleh kesempatan tumbuh, berkembang, dan bermain sesuai usianya,” tutur Sri Slamet.

Meskipun demikian, tambah Sri Slamet, taman asuh temporer memang tidak dimaksudkan menggantikan keluarga. Fungsinya adalah menyediakan layanan pengasuhan yang sementara dan fleksibel agar orang tua dapat berpartisipasi dalam rapat, pelatihan, musyawarah, atau kegiatan organisasi, sementara anak memperoleh perlindungan dan stimulasi pendidikan dasar yang berkualitas.

Dokumen persiapan Educare mencatat mahasiswa PG PAUD UMS dipersiapkan sebagai tenaga pendamping dan dibagi sesuai kebutuhan layanan. Dalam rapat virtual pada 25 Juli 2026, dirancang rasio pendampingan sekitar dua hingga tiga anak untuk setiap mahasiswa. Mahasiswa juga diarahkan mengikuti jadwal dan panduan yang telah disusun oleh panitia Educare.

Persiapan dilakukan secara serius. Sebelum pelaksanaan, para pendamping memperoleh pembekalan mengenai kurikulum taman asuh, aktivitas anak, standar operasional prosedur (SOP), serta teknis pelaksanaan.

Suasana Educare dirancang jauh dari kesan “tempat penitipan” yang pasif. Anak-anak memperoleh kesempatan menjalani aktivitas yang terstruktur sekaligus menyenangkan.

Rangkaian kegiatan mencakup perkenalan melalui permainan, snack time, free play, storytelling, senam, kegiatan seni, hingga bermain bebas. Pada Sabtu, 8 Agustus, misalnya, kegiatan memasukkan aktivitas seni menggambar sebelum dilanjutkan dengan free play.

Dalam rancangan aktivitas Taman Asuh Anak Nasyiatul Aisyiyah juga terlihat pendekatan yang beragam, mulai dari circle time, music and movement, hingga outside play. Artinya, pengasuhan diarahkan agar anak tetap memiliki pengalaman bermain dan belajar yang kaya ketika orang tua menjalankan agenda organisasi.

Model tersebut sesuai dengan prinsip taman asuh yang fleksibel, responsif, dan terstruktur. Aktivitas perlu menyesuaikan waktu kegiatan organisasi dan perkembangan usia anak, tetapi tetap berpijak pada lingkungan belajar yang terencana. Pendamping juga ditempatkan sebagai mitrasementara keluarga, bukan pengganti peran orang tua.

Kegiatan ini sekaligus memperlihatkan bentuk nyata kolaborasi perguruan tinggi dengan organisasi masyarakat. Menurut Sri Slamet, bagi mahasiswa, pengalaman ini merupakan laboratorium pembelajaran nyata.

“Pengetahuan tentang tumbuh kembang, bermain, komunikasi dengan anak, manajemen kelas, keamanan, dan pengasuhan yang selama ini dipelajari di bangku kuliah diuji langsung dalam situasi autentik. Mahasiswa berhadapan dengan anak yang berbeda usia, karakter, kebiasaan, dan kebutuhan,” tuturnya.

Menurut pandangannya, kolaborasi Nasyiatul ‘Aisyiyah dan PG PAUD UMS berhasil menemukan maknanya. Muktamar tetap menjadi ruang besar untuk membicarakan masa depan perempuan muda berkemajuan, tetapi pada saat bersamaan kebutuhan anak tidak diletakkan di pinggir agenda.

“Di ruang-ruang Educare, mahasiswa PG PAUD UMS menemani anak bermain, bercerita, bergerak, menggambar, makan, dan beradaptasi dengan lingkungan baru. Sementara beberapa meter atau kilometer dari mereka, para ibu mengikuti persidangan dan merumuskan masa depan organisasi,” pungkas Sri Slamet. (Maysali/Humas)

Editor : Amtsal Ajhar

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button