Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Featured » Kader Kintilan VS Kader Ideologis: Siapa yang paling baik?

Kader Kintilan VS Kader Ideologis: Siapa yang paling baik?

  • account_circle Adi Kurnia
  • calendar_month Rabu, 24 Des 2025
  • visibility 14
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh Ahmad Fauzi Almubarok, Ketua Bidang Kader PD IPM Lampung Tengah, Mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam FAI UM Metro

Istilah kader merujuk pada sesosok individu yang terlibat, terbina,dan disiapkan untuk melanjutkan estafet kepemimpinan didalam Organisasi. Kader menjadi kunci utama pergerakan, dimana Kader inilah yang menggerakkan dan menginisiasi sebuah kegiatan. Maka dari itu, biasanya organisasi mempunyai forum khusus dalam meng-kader, bisa berupa pelatihan berhari-hari atau sampai ber-bulan-bulan tergantung dengan kebutuhan.

Muhammadiyah dikenal dengan organisasi kader, karena didalam Muhammadiyah itu sendiri terdapat banyak organisasi dibawahnya, Yaitu pengklasifikasian atau pengelompokkan individu sesuai dengan usia atau tingkatannya. Seperti contohnya Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM),yang bergerak diranah pelajar, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), yang bergerak diranah Kemahasiswaan, Nasyiyatul Aisyiyah (NA), yang bergerak pada pemberdayaan perempuan muda, Pemuda Muhammadiyah (PM) yang bergerak pada pemuda, dan Aisyiyah, yang bergerak pada pemberdayaan perempuan. Ada juga Organisasi kepelatihan seperti, Hizbul Wathan (gerakan kepanduan) dan Tapak Suci (Perguruan Pencak Silat milik Muhammadiyah). Masing-masing Organisasi ini, diberikan oleh Muhammadiyah kewenangan untuk mengurus rumah tangganya sendiri, maka dibuatlah AD (Anggaran Dasar) dan ART (Anggaran Rumah Tangga).

Dalam membentuk kadernya-pun punya cara tersendiri. Ambil contoh Ikatan Pelajar Muhammadiyah, IPM dalam mengkader secara ideologis memiliki 4 tingkatan, yaitu Pelatihan Kader Dasar Taruna Melati 1, Pelatihan Kader Muda Taruna Melati 2, Pelatihan Kader Madya Taruna Melati 3, dan Pelatihan Kader Paripurna Taruna Melati Utama. Namun, walaupun IPM masif dalam pelaksanaan perkaderan tersebut, ternyata banyak juga kader IPM yang mengawali karier ber- IPM nya karena menjadi kader kintilan dan malah bertahan lebih lama, kok bisa? Lalu apa sih kader kintilan itu?

Kader kintilan adalah sebuah istilah, Kintilian sendiri diambil dari bahasa jawa “kintil” yang memiliki arti mengikuti atau membuntuti. Jadi, kader kintilan adalah orang yang selalu mengikuti, hadir dalam kegiatan organisasi, biasanya kader seperti ini mengikuti kegiatan karena diajak pimpinan organisasi, misalnya diajak ketua atau anggota lainnya, meskipun dia sendiri belum tahu makna dari organisasi. Namun kekuatan ternyata juga tumbuh pada kader kintilan, dari seorang individu yang polos tak tahu apa-apa berubah menjadi kader yang loyalis dan berdiri digarda terdepan organisasi. Lalu, apa sih bedanya kader kintilan dengan kader ideologis?.

Bedanya hanya pada cara memulai didalam organisasi tersebut. Kader kintilan memulai kariernya dengan ikut-ikutan tanpa punya tujuan dan rutin selalu ia lakukan, senantiasa mengindahkan ajakan para pimpinan organisasi. Sedangkan kader ideologis memulai dari pemikiran dan tujuan pasti yang ia dapat dari hasil proses pelatihan kader. Ia memahami mengapa organisasi itu ada, apa visi ideologinya, dan ke mana arah gerakannya. Kader ideologis biasanya lahir dari proses perkaderan formal: pelatihan, diskusi ideologi, penguatan nilai, dan pembiasaan sikap.

Ia tidak hanya hadir secara fisik, tetapi juga hadir secara gagasan dan sikap. Kader tipe ini mampu menjelaskan identitas organisasi, membela nilai-nilainya, serta menjaga arah gerak organisasi agar tidak keluar dari rel ideologisnya. Dalam IPM, kader ideologis umumnya lahir dari proses Taruna Melati yang berjenjang. Kader diperkenalkan pada nilai keislaman, kemuhammadiyahan, ke-IPM-an, serta dilatih untuk berpikir kritis dan reflektif. Mereka memahami bahwa IPM bukan sekadar organisasi kegiatan, tetapi ruang perjuangan pelajar untuk membangun peradaban. Maka tidak heran, kader ideologis sering kali tampil sebagai konseptor, perumus gagasan, atau penjaga marwah organisasi.

Sementara itu, kader kintilan sering kali dipandang sebelah mata. Ia hadir tanpa proses ideologisasi yang matang di awal. Datang karena diajak, ikut karena dekat dengan pimpinan, atau sekadar ingin meramaikan kegiatan. Dalam banyak forum, kader kintilan kerap dicap sebagai “tidak paham ideologi”, “tidak tahu sejarah”, bahkan dianggap beban organisasi. Namun, realitas di lapangan tidak sesederhana itu.

Kader kintilan justru sering menjadi tulang punggung keberlangsungan kegiatan. Mereka hadir konsisten, membantu teknis lapangan, mengisi kekosongan peran, dan menjaga ritme organisasi tetap hidup. Tanpa banyak wacana, mereka bekerja. Tanpa banyak klaim, mereka setia. Menariknya, tidak sedikit kader kintilan yang justru bertahan lebih lama dibanding kader ideologis yang secara teori lebih siap. Di sinilah kita perlu jujur: organisasi tidak hanya hidup dari gagasan, tetapi juga dari kehadiran dan kesetiaan. Ideologi tanpa kader yang mau bergerak hanya akan menjadi teks mati. Sebaliknya, gerakan tanpa arah ideologis akan kehilangan makna dan tujuan. Maka memperhadapkan kader kintilan dan kader ideologis sebagai dua kutub yang saling meniadakan adalah kekeliruan.

Dalam praktiknya, banyak kader ideologis yang gugur di tengah jalan karena terlalu sibuk pada tataran wacana, sementara kader kintilan perlahan tumbuh kesadarannya seiring proses berorganisasi. Dari sering ikut kegiatan, mendengar diskusi, melihat teladan pimpinan, hingga akhirnya memahami nilai dan tujuan organisasi. Tidak sedikit kader ideologis yang sejatinya berangkat dari kader kintilan.Masalahnya bukan pada titik awal kader masuk organisasi, melainkan apakah organisasi mampu mengelola dan menumbuhkan kesadaran kader tersebut.

Kader kintilan yang dibiarkan tanpa pendampingan akan stagnan. Namun kader kintilan yang dirangkul, diajak berpikir, dan diberi ruang bertumbuh justru berpotensi menjadi kader ideologis yang militan. Sebaliknya, kader ideologis yang tidak diberi ruang aktualisasi juga bisa menjauh dan kehilangan semangat.

Maka, peran organisasi sangat menentukan. Perkaderan tidak boleh berhenti pada forum formal semata, tetapi harus hidup dalam keseharian organisasi. Ideologi tidak cukup diajarkan, tetapi harus dicontohkan. Kader tidak hanya diuji pada pemahaman konsep, tetapi juga pada konsistensi sikap dan keberpihakan.
Jadi, siapa yang paling baik?

Tidak ada yang paling baik secara mutlak. Kader kintilan dan kader ideologis adalah sama-sama kader yang semestinya dijaga. Karena kembali lagi, siapa yang paling mau dan siapa yang paling bertahan. Kader ideologis menjaga arah, kader kintilan menjaga gerak. Kader ideologis memberi makna, kader kintilan memberi tenaga.

Keduanya saling membutuhkan.Pada akhirnya, yang paling penting bukan bagaimana seseorang memulai langkahnya di organisasi, tetapi sejauh mana ia mau bertahan, belajar, dan bertumbuh. Organisasi besar bukan hanya melahirkan kader yang pintar berbicara tentang ideologi, tetapi juga kader yang setia membersamai perjuangan, dari tahap paling sederhana hingga tanggung jawab paling besar.

Dan bisa jadi, kader terbaik adalah mereka yang pernah menjadi kader kintilan, lalu memilih untuk berproses menjadi kader ideologis—tanpa kehilangan kerendahan hati dan kesediaan untuk terus bergerak.

  • Penulis: Adi Kurnia

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Dua Buku Kader IPM Lampung Diluncurkan, Warnai Tanwir Pra-Muktamar XXIV

    Dua Buku Kader IPM Lampung Diluncurkan, Warnai Tanwir Pra-Muktamar XXIV

    • calendar_month Minggu, 8 Feb 2026
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 9
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Makassar — Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PP IPM) menggelar Tanwir Pra-Muktamar XXIV IPM pada Kamis (5/2/2026) di Aula Arafah Asrama Haji Embarkasi Makassar. Kegiatan ini menjadi bagian penting dari rangkaian Muktamar XXIV IPM, khususnya dalam merumuskan dan memutuskan berbagai hal teknis jelang pelaksanaan muktamar. Kegiatan Tanwir dihadiri oleh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan […]

  • HighFly Casino : des innovations qui font la différence

    HighFly Casino : des innovations qui font la différence

    • calendar_month Kamis, 19 Mar 2026
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 17
    • 0Komentar

    HighFly Casino se positionne comme une plateforme innovante dans le monde des jeux en ligne, offrant une expérience unique et captivante. Accessible via https://highfly-bet.fr, cette maison de jeux se distingue par son approche centrée sur l’utilisateur, alliant sécurité, diversité de jeux et une interface conviviale. Un catalogue de jeux varié Le catalogue de jeux d’HighFly […]

  • Haedar Nashir: Kalender Islam Global Bukan Hanya Milik Muhammadiyah, Tetapi Umat Islam di Seluruh Dunia

    Haedar Nashir: Kalender Islam Global Bukan Hanya Milik Muhammadiyah, Tetapi Umat Islam di Seluruh Dunia

    • calendar_month Sabtu, 24 Feb 2024
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 277
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Pekalongan — Salah satu agenda Musyawarah Nasional (Munas) Tarjih ke-32 ialah persiapan mengesahkan Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT). Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir mengatakan bahwa pengesahan ini bagian dari melunasi utang peradaban karena umat Islam selama 14 abad lamanya belum memiliki kalender terpadu yang unikatif. “Kami dari Pimpinan Pusat Muhammadiyah menyambut baik […]

  • Jadi Pembicara di Kopdarnas SUMU, Ketum PP IPM Beberkan Fakta Saudagar Pelajar Nasional

    Jadi Pembicara di Kopdarnas SUMU, Ketum PP IPM Beberkan Fakta Saudagar Pelajar Nasional

    • calendar_month Sabtu, 21 Sep 2024
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 140
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Yogyakarta – Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), Riandy Prawita membeberkan beberapa fakta terkait Saudagar Pelajar Nasional yang merupakan sebutan bagi para pelajar ataupun kader IPM yang menjadi pengusaha. “Ini berbicara kader, dari sekitar 100 ribu orang pengurus IPM di seluruh Indonesia. Itu total pengusaha hanya 70 orang,” kata Riandy saat […]

  • UMS Dinobatkan sebagai PTS Terbaik di SBBI Awards 2025, Tegaskan Komitmen pada Mutu dan Inovasi Pendidikan

    UMS Dinobatkan sebagai PTS Terbaik di SBBI Awards 2025, Tegaskan Komitmen pada Mutu dan Inovasi Pendidikan

    • calendar_month Minggu, 20 Jul 2025
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 11
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali membuktikan kualitasnya sebagai perguruan tinggi unggulan. UMS meraih penghargaan sebagai Perguruan Tinggi Swasta Terbaik dalam ajang Solopos Best Brand and Innovation (SBBI) Awards 2025, yang diselenggarakan pada Jum’at malam (18/7) bertempat di Hotel Alila. Ajang bergengsi ini mengangkat tema “Sustain and Bold, Legacy Unfold”, yang menekankan pentingnya […]

  • Kurangi Risiko Kegawatdaruratan, KKN FIK UMS Edukasi Penanganan Tersedak dan Gigitan Ular

    Kurangi Risiko Kegawatdaruratan, KKN FIK UMS Edukasi Penanganan Tersedak dan Gigitan Ular

    • calendar_month Selasa, 7 Jul 2026
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 19
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, SURAKARTA – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Kelompok 28 menggelar sosialisasi dan demonstrasi penanganan kegawatdaruratan pada kasus tersedak dan gigitan ular bagi kader kesehatan Desa Purbayan, Kecamatan Baki, Kabupaten Sukoharjo, Rabu (24/6/2026). Kegiatan yang berlangsung di Balai Desa Purbayan tersebut diikuti 36 peserta, terdiri atas […]

expand_less