Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Featured » Kader Kintilan VS Kader Ideologis: Siapa yang paling baik?

Kader Kintilan VS Kader Ideologis: Siapa yang paling baik?

  • account_circle Adi Kurnia
  • calendar_month Rabu, 24 Des 2025
  • visibility 97
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh Ahmad Fauzi Almubarok, Ketua Bidang Kader PD IPM Lampung Tengah, Mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam FAI UM Metro

Istilah kader merujuk pada sesosok individu yang terlibat, terbina,dan disiapkan untuk melanjutkan estafet kepemimpinan didalam Organisasi. Kader menjadi kunci utama pergerakan, dimana Kader inilah yang menggerakkan dan menginisiasi sebuah kegiatan. Maka dari itu, biasanya organisasi mempunyai forum khusus dalam meng-kader, bisa berupa pelatihan berhari-hari atau sampai ber-bulan-bulan tergantung dengan kebutuhan.

Muhammadiyah dikenal dengan organisasi kader, karena didalam Muhammadiyah itu sendiri terdapat banyak organisasi dibawahnya, Yaitu pengklasifikasian atau pengelompokkan individu sesuai dengan usia atau tingkatannya. Seperti contohnya Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM),yang bergerak diranah pelajar, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), yang bergerak diranah Kemahasiswaan, Nasyiyatul Aisyiyah (NA), yang bergerak pada pemberdayaan perempuan muda, Pemuda Muhammadiyah (PM) yang bergerak pada pemuda, dan Aisyiyah, yang bergerak pada pemberdayaan perempuan. Ada juga Organisasi kepelatihan seperti, Hizbul Wathan (gerakan kepanduan) dan Tapak Suci (Perguruan Pencak Silat milik Muhammadiyah). Masing-masing Organisasi ini, diberikan oleh Muhammadiyah kewenangan untuk mengurus rumah tangganya sendiri, maka dibuatlah AD (Anggaran Dasar) dan ART (Anggaran Rumah Tangga).

Dalam membentuk kadernya-pun punya cara tersendiri. Ambil contoh Ikatan Pelajar Muhammadiyah, IPM dalam mengkader secara ideologis memiliki 4 tingkatan, yaitu Pelatihan Kader Dasar Taruna Melati 1, Pelatihan Kader Muda Taruna Melati 2, Pelatihan Kader Madya Taruna Melati 3, dan Pelatihan Kader Paripurna Taruna Melati Utama. Namun, walaupun IPM masif dalam pelaksanaan perkaderan tersebut, ternyata banyak juga kader IPM yang mengawali karier ber- IPM nya karena menjadi kader kintilan dan malah bertahan lebih lama, kok bisa? Lalu apa sih kader kintilan itu?

Kader kintilan adalah sebuah istilah, Kintilian sendiri diambil dari bahasa jawa “kintil” yang memiliki arti mengikuti atau membuntuti. Jadi, kader kintilan adalah orang yang selalu mengikuti, hadir dalam kegiatan organisasi, biasanya kader seperti ini mengikuti kegiatan karena diajak pimpinan organisasi, misalnya diajak ketua atau anggota lainnya, meskipun dia sendiri belum tahu makna dari organisasi. Namun kekuatan ternyata juga tumbuh pada kader kintilan, dari seorang individu yang polos tak tahu apa-apa berubah menjadi kader yang loyalis dan berdiri digarda terdepan organisasi. Lalu, apa sih bedanya kader kintilan dengan kader ideologis?.

Bedanya hanya pada cara memulai didalam organisasi tersebut. Kader kintilan memulai kariernya dengan ikut-ikutan tanpa punya tujuan dan rutin selalu ia lakukan, senantiasa mengindahkan ajakan para pimpinan organisasi. Sedangkan kader ideologis memulai dari pemikiran dan tujuan pasti yang ia dapat dari hasil proses pelatihan kader. Ia memahami mengapa organisasi itu ada, apa visi ideologinya, dan ke mana arah gerakannya. Kader ideologis biasanya lahir dari proses perkaderan formal: pelatihan, diskusi ideologi, penguatan nilai, dan pembiasaan sikap.

Ia tidak hanya hadir secara fisik, tetapi juga hadir secara gagasan dan sikap. Kader tipe ini mampu menjelaskan identitas organisasi, membela nilai-nilainya, serta menjaga arah gerak organisasi agar tidak keluar dari rel ideologisnya. Dalam IPM, kader ideologis umumnya lahir dari proses Taruna Melati yang berjenjang. Kader diperkenalkan pada nilai keislaman, kemuhammadiyahan, ke-IPM-an, serta dilatih untuk berpikir kritis dan reflektif. Mereka memahami bahwa IPM bukan sekadar organisasi kegiatan, tetapi ruang perjuangan pelajar untuk membangun peradaban. Maka tidak heran, kader ideologis sering kali tampil sebagai konseptor, perumus gagasan, atau penjaga marwah organisasi.

Sementara itu, kader kintilan sering kali dipandang sebelah mata. Ia hadir tanpa proses ideologisasi yang matang di awal. Datang karena diajak, ikut karena dekat dengan pimpinan, atau sekadar ingin meramaikan kegiatan. Dalam banyak forum, kader kintilan kerap dicap sebagai “tidak paham ideologi”, “tidak tahu sejarah”, bahkan dianggap beban organisasi. Namun, realitas di lapangan tidak sesederhana itu.

Kader kintilan justru sering menjadi tulang punggung keberlangsungan kegiatan. Mereka hadir konsisten, membantu teknis lapangan, mengisi kekosongan peran, dan menjaga ritme organisasi tetap hidup. Tanpa banyak wacana, mereka bekerja. Tanpa banyak klaim, mereka setia. Menariknya, tidak sedikit kader kintilan yang justru bertahan lebih lama dibanding kader ideologis yang secara teori lebih siap. Di sinilah kita perlu jujur: organisasi tidak hanya hidup dari gagasan, tetapi juga dari kehadiran dan kesetiaan. Ideologi tanpa kader yang mau bergerak hanya akan menjadi teks mati. Sebaliknya, gerakan tanpa arah ideologis akan kehilangan makna dan tujuan. Maka memperhadapkan kader kintilan dan kader ideologis sebagai dua kutub yang saling meniadakan adalah kekeliruan.

Dalam praktiknya, banyak kader ideologis yang gugur di tengah jalan karena terlalu sibuk pada tataran wacana, sementara kader kintilan perlahan tumbuh kesadarannya seiring proses berorganisasi. Dari sering ikut kegiatan, mendengar diskusi, melihat teladan pimpinan, hingga akhirnya memahami nilai dan tujuan organisasi. Tidak sedikit kader ideologis yang sejatinya berangkat dari kader kintilan.Masalahnya bukan pada titik awal kader masuk organisasi, melainkan apakah organisasi mampu mengelola dan menumbuhkan kesadaran kader tersebut.

Kader kintilan yang dibiarkan tanpa pendampingan akan stagnan. Namun kader kintilan yang dirangkul, diajak berpikir, dan diberi ruang bertumbuh justru berpotensi menjadi kader ideologis yang militan. Sebaliknya, kader ideologis yang tidak diberi ruang aktualisasi juga bisa menjauh dan kehilangan semangat.

Maka, peran organisasi sangat menentukan. Perkaderan tidak boleh berhenti pada forum formal semata, tetapi harus hidup dalam keseharian organisasi. Ideologi tidak cukup diajarkan, tetapi harus dicontohkan. Kader tidak hanya diuji pada pemahaman konsep, tetapi juga pada konsistensi sikap dan keberpihakan.
Jadi, siapa yang paling baik?

Tidak ada yang paling baik secara mutlak. Kader kintilan dan kader ideologis adalah sama-sama kader yang semestinya dijaga. Karena kembali lagi, siapa yang paling mau dan siapa yang paling bertahan. Kader ideologis menjaga arah, kader kintilan menjaga gerak. Kader ideologis memberi makna, kader kintilan memberi tenaga.

Keduanya saling membutuhkan.Pada akhirnya, yang paling penting bukan bagaimana seseorang memulai langkahnya di organisasi, tetapi sejauh mana ia mau bertahan, belajar, dan bertumbuh. Organisasi besar bukan hanya melahirkan kader yang pintar berbicara tentang ideologi, tetapi juga kader yang setia membersamai perjuangan, dari tahap paling sederhana hingga tanggung jawab paling besar.

Dan bisa jadi, kader terbaik adalah mereka yang pernah menjadi kader kintilan, lalu memilih untuk berproses menjadi kader ideologis—tanpa kehilangan kerendahan hati dan kesediaan untuk terus bergerak.

  • Penulis: Adi Kurnia

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Tingkatkan Kapasitas Perempuan, PC IMM Malang Raya Gelar Diksuswati Nasional!

    Tingkatkan Kapasitas Perempuan, PC IMM Malang Raya Gelar Diksuswati Nasional!

    • calendar_month Sabtu, 3 Mei 2025
    • account_circle Andi Rezti Maharani
    • visibility 79
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Malang – Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PC IMM) Malang Raya menyelenggarakan Pendidikan Khusus Immawati (Diksuswati) Nasional pada Jumat – Minggu (2-4/5/2025) di Pusdiklat Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Dalam sambutannya, Ketua PC IMM Malang Raya Kelvin Argo Beni menjelaskan bahwa Diksuswati Nasional tahun ini mengangkat tema, “Revitalisasi Peran Immawati Menuju IMM Inklusif dan Berkemajuan”. […]

  • Dorong Publikasi di Scopus, MPAI UMS Gelar Workshop Praktis Systematic Literature Review

    Dorong Publikasi di Scopus, MPAI UMS Gelar Workshop Praktis Systematic Literature Review

    • calendar_month Selasa, 28 Jul 2026
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 98
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, SURAKARTA – Program Studi Magister Pendidikan Agama Islam (MPAI) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id menyelenggarakan Workshop Praktis Systematic Literature Review pada 24-25 Juli 2026 di Gedung Fakultas Agama Islam UMS. Mengangkat tema “Dari Literatur Menjadi Naskah”, kegiatan ini bertujuan meningkatkan kemampuan riset akademik mahasiswa pascasarjana, khususnya dalam mengolah berbagai sumber ilmiah menjadi draf artikel […]

  • PG PAUD UMS Hadirkan ToT Inovatif, Mahasiswa Rancang Game Edukatif untuk Anak TK

    PG PAUD UMS Hadirkan ToT Inovatif, Mahasiswa Rancang Game Edukatif untuk Anak TK

    • calendar_month Jumat, 24 Apr 2026
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 80
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, SURAKARTA – Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PG PAUD) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar kegiatan Training of Trainer (ToT) sebagai upaya meningkatkan keterampilan mahasiswa melalui pembelajaran berbasis praktik. Kegiatan ini menjadi bagian dari program laboratorium PG PAUD yang dirancang untuk mengintegrasikan teori dengan pengalaman lapangan. […]

  • DPP IMM SEBUT TAMBANG EMAS DI LATIMOJONG DI KUASAI OLIGARKI

    DPP IMM SEBUT TAMBANG EMAS DI LATIMOJONG DI KUASAI OLIGARKI

    • calendar_month Rabu, 2 Jul 2025
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 105
    • 0Komentar

    Oleh: Muh Idil, Ketua Bidang ESDM DPP IMM Kawasan pegunungan Latimojong, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, kian menjadi medan kontestasi kepentingan segelintir elite ekonomi. Di balik tambang emas yang menjanjikan kemakmuran itu, tersingkap praktik lama kapitalisme ekstraktif yang bertahan dalam rupa baru: kemitraan antarperusahaan tambang yang disokong oligarki, difasilitasi negara, dan dibungkam melalui bahasa pembangunan. PT […]

  • Prestasi Tiada Henti, PONTRENMU Darussalam Seri Kembang Ukir Pencapaian Baru

    Prestasi Tiada Henti, PONTRENMU Darussalam Seri Kembang Ukir Pencapaian Baru

    • calendar_month Senin, 6 Okt 2025
    • account_circle Dwi Kurniadi
    • visibility 77
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, PALEMBANG – Tim Tapak Suci Pondok Pesantren Darussalam Muhammadiyah Seri Kembang (PPDMS) menorehkan prestasi gemilang dalam Kejuaraan Pencak Silat Wali Kota Cup Palembang 2025. Sejumlah medali berhasil diraih dalam kompetisi yang digelar di Bima Sakti Convention, Kota Palembang, pada 28 September hingga 2 Oktober 2025. Berdasarkan informasi yang dihimpun, Tim Tapak Suci PPDMS berhasil […]

  • Ikhtiar Dakwah IMM Saat Awal Mahasiswa Baru

    Ikhtiar Dakwah IMM Saat Awal Mahasiswa Baru

    • calendar_month Selasa, 1 Sep 2026
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 132
    • 0Komentar

    Oleh: Moch. Muzaki, TKK DPD IMM Jatim Masa awal menjadi mahasiswa adalah sebuah fase peralihan yang tidak sederhana. Seseorang yang sebelumnya berada dalam dunia sekolah, dengan pola kehidupan yang relatif terarah, tiba-tiba memasuki ruang baru bernama kampus. Ia bertemu dengan lingkungan yang lebih luas, karakter manusia yang lebih beragam, kebebasan yang lebih besar, tuntutan akademik […]

expand_less