BeritaJakartaPersyarikatan

Muhammadiyah dan NU Dipersoalkan sebagai Civil Islam

KABARMUH.ID, Jakarta – Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM) Jakarta menggelar diskusi yang mempertanyakan relevansi Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) sebagai civil Islam. Diskusi tersebut diadakan 23 Januari 2026 di Gerak Gerik Coffe & Bookstore, Ciputat, Tangerang Selaatan.

Turut diundang sebagai narasumber dalam kegiatan ini Andar Nubowo (Direktur Eksekutif Maarif Institute), Rifma Ghulam (Akademisi UHAMKA) dan Nurlia Dian Paramita (Dewan Pengarah JPPR).

Sebagai pembicara pertama, Andar Nubowo menyatakan dilema posisi Muhammadiyah hari ini yang menjadi anak emas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Ia menilai ada kekhawatiran untuk melayangkan kritik.

“Muhammadiyah mengalami dilema. Mau mengeritik tapi rata-rata isi kabinet adalah orang Muhammadiyah”, pungkasnya.

Sementara pembicara kedua Rifma Ghulam menambahkan bahwa civil Islam sudah tidak relevan dan hanya menjadi pemanis, mengingat melemahnya suara moral dari kampus-kampus Islam, termasuk Muhammadiyah.

“Suara-suara Muhammadiyah dan NU mulai melemah, bahkan mereka termasuk yang mendukung RDP tentang undang-undang kontroversial,” katanya.

Adapun pembicara terakhir Mita menilai bahwa Muhammadiyah telah lama menjadi uncivil Islam, karena mendukung hasil Pemilu 2024 meskipun ada tuduhan kecurangan. Karena itu, harap Mita, kehadiran JIMM harus seperti cita-cita awalnya yang mewadahi kader-kader muda non-politik dan membicarakan isu-isu kritis-strategis.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button