Tak Sekedar Dakwah, Alumni Pondok Shabran UMS Buktikan Eksistensi di Berbagai Sektor Strategis

KABARMUH.ID, SURAKARTA – Gemericik air hujan mengarungi lingkungan Pondok Hajjah Nuriyah Shabran Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) dalam pagelaran Talkshow dan Ramah Tamah Alumni Mahasantri Pondok Hajjah Nuriah Shabran UMS. Forum ini merupakan rangkaian kegiatan Semarak Milad ke-43 Pondok Hajjah Nuriyah Shabran UMS pada Sabtu, (10/1).
Talkshow kali ini dipandu langsung oleh Dr. Farkhani, S.H., S.HI., M.H., sebagai moderator, serta menghadirkan 3 narasumber spektakuler, diantaranya, yaitu: Fajar Riza Ul Haq, S.Hi., M.A., selaku Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Prof. Dr. Drs. H. Waharjani, M.Ag., Guru Besar Universitas Ahmad Dahlan (UAD), dan Guru Besar Universitas Islam Negeri Lampung, Prof. Dr. H. Sudarman, M.Ag. Menariknya ketiga narasumber tersebut merupakan jebolan Mahasantri Pondok Hajjah Nuriah Shabran UMS.
Sesi pemaparan materi pertama disampaikan oleh Fajar Riza Ul Haq, S.Hi., M.A., ia mengungkapkan syukur bisa hadir dalam momen istimewa ini untuk bernostalgia dinamika perjalanan beliau selama menempuh masa pendidikan di UMS, khususnya Pondok Hajjah Nuriyah Shabran UMS.
“Alhamdulillah bisa kembali pulang ke tempat awal saya meniti perjuangan saya. Ini merupakan momen spesial bisa hadir dalam kesempatan ini, karena saya rasa jarang sekali bisa hadir atau mampir di Pondok Shabran”, ungkapnya
Dalam ceritanya, Fajar merupakan mahasiswa aktivis tulen selama menempuh masa studi di UMS. Ia menggeluti beberapa organisasi internal kampus, diantaranya, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Komisariat Pondok Shabran, dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Agama Islam (FAI). Tak hanya itu, ia juga sempat bergabung di Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial (PSB-PS) UMS, hingga bekerja di Maarif Institute yang merupakan lembaga manifestasi pemikiran Buya Syafii Maarif.
“Selama perjalanan menggeluti aktivis dan belajar menjadi pemimpin di Muhammadiyah, terdapat dua kunci untuk meniti kesuksesan. Pertama: Cepat beradaptasi, dan Kedua: Cepat dalam belajar”, Paparnya.
Semenjak menjadi Wamen, Fajar menuturkan mempunyai hobi baru, ia sering datang ke tempat-tempat 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar). Uniknya, hampir di seluruh penghujung nusantara yang telah ia kunjungi, bahkan di daerah terpencil pun ia bertemu dengan alumni-alumni Shabran. Hal ini menunjukkan diaspora kader-kader Shabran telah tersebar di berbagai daerah nusantara.
Fajar menambahkan bahwa banyak alumni Shabran berdiaspora di berbagai tempat. Hal ini merupakan modal sosial yang sangat besar bagi UMS. Ia juga berpesan jaringan alumni harus dimobilisasi dengan baik.
“Amat sayang jaringan besar ini tidak dimobilisasi dengan baik. Meskipun diaspora alumni Shabran dari segi kuantitas tidak begitu fantastis, namun dampaknya begitu dirasakan oleh masyarakat”, tambahnya.
Pemaparan materi dilanjutkan oleh Prof. Dr. Drs. H. Waharjani, M.Ag., ia mengawali pemaparan materi dibungkus dengan pendekatan historis. Ia menceritakan bahwa Pondok Shabran pernah mengalami peningkatan drastis, dalam segi kuantitas mahasantri dengan latar belakang bervariasi. Namun, kata Waharjin menimbulkan keresahan bagi beberapa mahasantri, hingga akhirnya mereka meminta rektor untuk menjeda pendaftaran Shabran.
“Dulu kami sempat mengajukan pada Rektor untuk menjeda pendaftaran mahasantri Shabran, karena kuantitas yang semakin banyak, namun kualitasnya semakin merosot”
Fenomena tersebut menimbulkan jawaban dari Prof Djazman Al-Kindi selaku Rektor pertama UMS yang hingga sekarang dikenang oleh Waharjin. “Pendidikan kader tidak boleh berhenti”. Jawaban itulah yang menginspirasi Waharjin terus berkiprah di Muhammadiyah.
Waharjani menyampaikan 2 faktor yang melatarbelakangi kesuksesannya. Faktor Pertama: Menyebarkan keilmuan melalui modal dakwah ke berbagai tempat, Kedua: Bemuhammadiyah selama hidupnya. Ia juga menyoroti kiprah alumni shabran yang memiliki keunggulan ketika lulus, mereka bisa berdiaspora di berbagai sektor, mulai dari pendidikan ,dakwah, pemerintahan, dan persyarikatan. Hal ini yang membedakan dengan tempat perkaderan yang lain.
“Keistimewaan kader Shabran, bisa berdiaspora di berbagai lini/sektor, tak hanya terpaku pada satu bidang”, tegasnya.
Prof. Dr. H. Sudarman, M.Ag., Sebagai narasumber ketiga menegaskan bahwa ketika ada panggilan almamater, maka harus segera didatangi. Dengan gaya pendekatan harmonis, ia mengutarakan melalui lantunan pantun bahwa rasa cinta terhadap almamater menjadi faktor utama kehadirannya di forum ini.
“Kecintaan terhadap almamater yang menjadikan saya dari seberang pulau untuk hadir di forum momentum ini”, ungkapnya dengan penuh humoris
Sudarman juga menegaskan pada seluruh audiens untuk terus menanamkan sifat ikhlas dalam berjuang di Muhammadiyah dan Aisyiyah. Ia menyoroti beberapa fenomena kader yang menyembunyikan identitas demi bertahan pada suatu zona nyaman
“Dengan kita menampakkan identitas (Muhammadiyah) kita, tidak akan menghilangkan jatah kita dalam menggapai rezeki tuhan” tegasnya.
Mengakhiri sesi pemaparan materi. Ia mengutip cerita Prof Fattah Santoso bahwa perjalanan Prof Fatah menjadi seorang Profesor atas bantuan dan dukungan dua kader Shabran. Maka, Sudarman mengajak seluruh keluarga besar Pondok Shabran untuk bersinergi dan berkolaborasi di segala bidang.
“Dua orang membantu Prof Fatah bisa menghantarkan beliau menjadi profesor. Maka, jika kita (Keluarga Pondok Shabran) saling bersinergi dan berkolaborasi di segala bidang akan memanifestasikan produk yang luar biasa“ terangnya. (Affiq/Humas)
Editor: Hammam Alghazy



