BeritaInspirasi

Ujian Hidup Bukan Tanda Kebencian Tuhan, Dosen FAI UMS Kupas Tafsir Q.S. Al-Baqarah 155-157

KABARMUH.ID, SURAKARTA – Dalam perjalanan kehidupan manusia terdapat serpihan kecil berupa ujian atau cobaan yang seringkali dikeluhkan oleh manusia. Terkadang Allah memberikan ujian dari segi ekonomi, kesehatan, kekeluargaan, maupun jabatan. Namun, seringkali manusia beranggapan bahwa ujian merupakan bentuk ketidaksukaan Allah terhadap hambanya, padahal dibalik ujian yang diberikan Allah terdapat kasih sayang yang terselipkan.

Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Dr. Ainur Rha’in, S.Th.I., M.Th.I., menjelaskan konsep ujian atau musibah sebagai bentuk kasih sayang Allah melalui Q.S. Al-Baqarah ayat 155-157.

Rhain menjelaskan bahwa ayat 155 secara garis besar membahas tentang ujian yang diberikan Allah kepada hambanya. Menurutnya, pada ayat ini perlu dipahami bahwa ujian sebagai bentuk kecintaan Allah terhadap hambanya.

“Jika Allah cinta pada hambanya, maka seorang hamba akan diberikan ujian olehnya,” jelasnya, Jumat (19/6/2026).

Dosen FAI UMS, Dr. Ainur Rha’in, S.Th.I., M.Th.I

Ujian akan selalu terjadi dalam perjalanan hidup manusia, sesuai dengan kadar keimanan manusia, seperti kalangan Nabi dengan kadar keimanan yang lebih tinggi, mendapat ujian yang cukup berat ketika menyebarkan dakwah Islam. Ia Menganalogikan dengan perbedaan tingkat ujian siswa SMP dan siswa SMA yang berbeda tingkat bobot kesusahan bentuk soal ujiannya.

“Semakin tinggi derajat seseorang, semakin banyak juga orang yang membenci. Dan kebencian merupakan bentuk dari sebuah ujian,” tambahnya.

Rha’in mengulas dari segi kaidah nahwu bahwa diksi بِشَيْءٍ (dengan sedikit) yang ditulis dalam bentuk nakirah dengan tanwin di akhir menunjukan kesan at-taqlil (sedikit), artinya bahwa ujian yang diberikan Allah kepada hambanya lebih sedikit daripada kenikmatan yang ada dalam hidup seseorang.

“Maka, tak pantas kita mengeluh bahwa kehidupan sering dipenuhi dengan ujian, padahal ujian dari Allah adalah bagian yang paling sedikit dalam dimensi kehidupan manusia,” tegasnya.

Penyebutan urutan ujian dalam ayat ini, mengandung unsur signifikansi retoris. Pertama, penyebutan kata takut merupakan bentuk ujian batin. Kedua, penyebutan kelaparan bentuk dari ujian kebutuhan biologis. Ketiga, penyebutan kalimat kekurangan harta menunjukan ujian dari segi ekonomi. Keempat, penyebutan kehilangan jiwa, bentuk dari ujian yang menyentuh kejiwaan. Dan kelima, penyebutan berkurangnya buah-buahan, merupakan bentuk ujian dari keberlanjutan hidup yang tergantung dari segi pangan.

Selanjutnya, di penghujung ayat 155, Allah memerintahkan kepada Rasulullah untuk memberikan kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. Menurut Rha’in terdapat tawaran penenang dari Allah atas penyebutan berbagai jenis ujian, yang dapat menggoncangkan jiwa seorang hamba.

“Artinya, Allah menyuruh hambanya untuk bersabar dan bergembira dalam menghadapi ujian. Karena dibalik adanya ujian, terdapat balasan surga sebagai tempat hidup yang abadi,” ujarnya.

Rhain juga menyinggung kesalahan paradigma masyarakat tentang konsep sabar. Sabar bukan berarti diam atau pasif dan pasrah secara total. Namun, menurut Rhain, Islam memaknai sabar yaitu dengan aktif berbuat atau berikhtiyar selalu untuk menyelesaikan masalah atau menghilangkan musibah, tanpa menunggu bantuan dari Allah dengan diam.

Kesabaran bukan sekedar menahan emosi, tapi kesabaran itu mengelola jiwa atau keimanan. Pada ayat 156, dijelaskan bahwa orang sabar akan menyadari dua hal. Pertama, segala sesuatu yang ada di muka bumi merupakan milik Allah SWT. Kedua, manusia merupakan makhluk kerdil yang tidak bisa berbuat apapun tanpa pertolongan Allah.

“Dua hal tersebut akan menghasilkan sikap mukmin yang tangguh dan tidak larut dalam kesedihan,” tutur Rhain saat mengutip ayat tersebut.

Kemudian, Kalimat إِنَّا لِلَّٰهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ merupakan kalimat istirja, yang dijadikan sebagai bentuk deklarasi ketauhidan dan pengakuan eksistensi Allah dalam kehidupan seorang hamba. Menurutnya, kalimat istirja dijadikan sebagai respon utama dalam menghadapi sebuah musibah atau ujian, bukan merespon dengan keluhan.

Pada ayat 157, Rhain menjelaskan tentang balasan untuk orang-orang yang sabar, berupa kemuliaan dan rahmat dari Allah. Menurut Rhain, rahmat merupakan manifestasi kasih sayang Allah berupa perlindungan dan kenaikan dalam kehidupan.

Ia menegaskan bahwa kemuliaan sejati dalam kehidupan bukan dilihat dari indikator duniawi, seperti jabatan, harta, atau kekuasaan. Tapi, kemuliaan sejati itu diperoleh dari tingkat kesabaran seorang hamba dalam menghadapi ujian yang diberikan oleh Tuhannya.

“Ujian akan menghasilkan orang yang tangguh, jika dilewati dengan keimanan. Tapi sebaliknya, akan menghasilkan orang yang mengeluh, jika dilakukan tanpa dasar keimanan, ” pungkasnya. (Affiq/Humas)

Editor: unaise albunayya

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button