Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Berita » UMS Insight Bahas Hujan Ekstrem dan Banjir Bandang, Pakar Geografi UMS Soroti Rapuhnya Tata Ruang

UMS Insight Bahas Hujan Ekstrem dan Banjir Bandang, Pakar Geografi UMS Soroti Rapuhnya Tata Ruang

  • account_circle Adi Kurnia
  • calendar_month Selasa, 30 Des 2025
  • visibility 12
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

KABARMUH.ID, SURAKARTA – Anomali iklim yang belakangan terjadi di sejumlah wilayah Indonesia menjadi perhatian serius berbagai pihak. Fenomena hujan ekstrem, banjir bandang, dan potensi bencana hidrometeorologis dinilai bukan sekadar peristiwa musiman, tetapi berkaitan erat dengan kondisi geografis, perubahan iklim global, serta perilaku manusia dalam mengelola lingkungan.

Guru Besar Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Prof. Dr. Kuswaji Dwi Priyono, M.Si., menjelaskan bahwa anomali iklim sejatinya bukan fenomena baru. Namun, intensitas dan skalanya kini semakin besar.

Ia menyinggung peringatan dini dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terkait potensi siklon tropis yang jarang berdampak langsung ke wilayah Indonesia.

“Anomali iklim ini sebenarnya sudah terjadi dari tahun ke tahun, hanya saja kemarin intensitasnya sangat besar dan jarang terjadi, serta arah geraknya yang tak dapat diperkirajan” ujarnya. Selasa, (30/12).

Guru Besar Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Prof. Dr. Kuswaji Dwi Priyono, M.Si.

Menurut Kuswaji, hujan dengan intensitas tinggi yang seolah terjadi dalam waktu singkat menjadi indikasi adanya gangguan sistem iklim. Namun, ia menegaskan bahwa bencana tidak sepenuhnya disebabkan oleh perubahan iklim. Faktor geografis dan aktivitas manusia turut memperparah dampaknya.

“Bencana tidak murni perubahan iklim, karena secara geografis Indonesia adalah negara kepulauan dengan pegunungan vulkanik yang rapuh dan diperparah oleh aktivitas antropogenik,” katanya.

Ia menambahkan, alih fungsi lahan dan pengelolaan lingkungan yang kurang bijaksana menjadi pemicu utama meningkatnya risiko bencana. Evaluasi tata ruang wilayah, menurutnya, harus berbasis pada aspek kebencanaan dan dilakukan secara konsisten.

“Tata ruang wilayah itu seharusnya dievaluasi terus-menerus, bukan hanya lima tahunan, karena kondisi lingkungan kita sangat dinamis,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa hampir seluruh wilayah Indonesia rentan terhadap bencana. Sebagai negara tropis dengan intensitas hujan tinggi dan kondisi geologis yang tua, potensi banjir dan longsor dapat terjadi di Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua.

“Indonesia ini seperti laboratorium kebencanaan dunia, sehingga kewaspadaan harus merata di semua wilayah,” ungkapnya.

Dalam konteks penanggulangan bencana, ia menilai fokus penanganan masih terlalu berat pada saat tanggap darurat. Padahal, upaya prabencana seperti mitigasi dan kesiapsiagaan masyarakat jauh lebih penting.

“Yang perlu diperkuat adalah kesiapan dan mitigasi, bukan hanya mengirim bantuan saat bencana sudah terjadi,” tegasnya.

Ia mencontohkan negara Jepang yang berhasil membangun budaya tangguh bencana melalui pendidikan dan latihan berkelanjutan. Di Indonesia sendiri, upaya serupa telah dilakukan melalui program desa tangguh bencana dan sekolah siaga bencana, termasuk yang didampingi oleh Fakultas Geografi UMS.

Terkait sistem peringatan dini, Kuswaji menjelaskan bahwa untuk bencana geologi seperti gempa bumi dan gunung api, Indonesia sudah memiliki instrumen yang memadai. Namun, untuk bencana hidrometeorologis seperti banjir bandang, sistemnya masih bersifat prediktif.

“Untuk banjir bandang memang belum ada peringatan dini yang pasti, karena sifatnya sangat dinamis dan dipengaruhi banyak faktor,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya mitigasi berbasis komunitas yang dimulai dari kebiasaan sederhana, seperti pengelolaan sampah dan penghijauan. Menurutnya, pohon memiliki peran vital dalam menyerap air hujan dan mencegah limpasan permukaan.

“Hujan itu seharusnya kita panen, disimpan menjadi air tanah, bukan dibiarkan menjadi banjir yang merusak,” tuturnya.

Sejalan dengan penjelasan tersebut, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam Pedoman Penetapan Status Keadaan Darurat Bencana menegaskan bahwa peningkatan intensitas hujan dan bencana hidrometeorologis perlu disikapi dengan kesiapsiagaan yang matang.

BNPB menyebut bahwa penetapan status keadaan darurat didasarkan pada dampak nyata bencana, seperti luas wilayah terdampak, jumlah korban, kerusakan lingkungan, serta terganggunya aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat.

“Pedoman BNPB juga menekankan bahwa penanganan bencana tidak boleh berhenti pada fase tanggap darurat semata. Upaya mitigasi dan pengurangan risiko harus menjadi bagian penting dalam pengelolaan wilayah, terutama di daerah rawan banjir dan longsor,” paparnya.

Evaluasi tata ruang, pengendalian pemanfaatan lahan, serta peningkatan kapasitas masyarakat menjadi faktor kunci untuk menekan dampak bencana yang berulang.

Dengan karakter Indonesia sebagai wilayah yang rawan bencana hidrometeorologis, BNPB menggarisbawahi pentingnya sinergi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat dalam membangun ketangguhan bencana.

Pendekatan berbasis risiko dan lingkungan ini, lanjutnya, dinilai menjadi langkah strategis agar kejadian hujan ekstrem dan banjir bandang tidak selalu berujung pada kondisi darurat yang merugikan banyak pihak.

Menutup pemaparannya, Kuswaji mengajak generasi muda untuk tidak mudah lupa terhadap pelajaran bencana. Ia menilai perubahan iklim sudah nyata dan menuntut tanggung jawab bersama.

“Perubahan iklim itu nyata, dan tugas kita bersama adalah mengelola alam dengan lebih bijak agar bencana tidak terus berulang,” tutupnya. (Adi/Humas)

Editor: Choiril Amirah Farida

  • Penulis: Adi Kurnia

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • UMS Kuatkan Resiliensi Kaum Muda melalui Spiritualitas Islam

    UMS Kuatkan Resiliensi Kaum Muda melalui Spiritualitas Islam

    • calendar_month Jumat, 9 Mei 2025
    • account_circle Zulfan Falakhi
    • visibility 11
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menunjukkan komitmennya dalam pembinaan karakter dan spiritual mahasiswa melalui kegiatan Qiyamul Lail Series ke-30, yang diselenggarakan oleh Biro Kemahasiswaan UMS. Kegiatan yang digelar secara daring melalui platform Zoom Meeting ini diikuti oleh fungsionaris Organisasi Mahasiswa (Ormawa) serta mahasiswa penerima Beasiswa Unggulan Mahasiswa Berprestasi (BUMITA). Acara ini dimulai […]

  • Nilai Bagus Tujuanku, Menyontek Jalan Ninjaku

    Nilai Bagus Tujuanku, Menyontek Jalan Ninjaku

    • calendar_month Selasa, 13 Okt 2020
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 1.449
    • 0Komentar

    Oleh: Andi Rezti Maharani*   ”Eh, ba’daki nah!” “Yang sudah jangan pelit, bagi-bagi dulu” “Eh, nomor 3 apa?” Pernah gak sih? Dengar kalimat semacam itu keluar dari mulut teman sekelasmu atau bahkan kamu sendiri pernah berkata seperti itu? Well, kalau kamu yang berkata demikian. Mungkin ini pas untukmu yang suka minta contekan saat ujian. Jika […]

  • Amir Hady: Sinergi Muballigh dan Penggiat Pengajian, Kunci Dakwah Berkemajuan

    Amir Hady: Sinergi Muballigh dan Penggiat Pengajian, Kunci Dakwah Berkemajuan

    • calendar_month Senin, 27 Okt 2025
    • account_circle Redaksi Kabarmuh
    • visibility 11
    • 0Komentar

    Babulu, PPU – Dalam suasana hangat dan penuh semangat, kegiatan Silaturahim Temu Muballigh dan Penggiat Pengajian Muhammadiyah Regional Paser–PPU yang digelar di SMK Muhammadiyah Babulu, Ahad (26/10/2025), menjadi momentum penting konsolidasi dakwah. Acara dibuka secara resmi oleh Sekretaris PWM Kalimantan Timur, H. Amir Hady, yang menekankan perlunya sinergi antara muballigh dan penggiat pengajian sebagai dua […]

  • Inilah Titik Lokasi Sholat Idul Fitri 1446 H Muhammadiyah Lebong

    Inilah Titik Lokasi Sholat Idul Fitri 1446 H Muhammadiyah Lebong

    • calendar_month Jumat, 28 Mar 2025
    • account_circle Najihus Salam
    • visibility 15
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Lebong – Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Lebong, Bengkulu, telah mengumumkan lokasi dan petugas yang akan memimpin pelaksanaan Sholat Idul Fitri 1 Syawal 1446 H pada hari Senin, 31 Maret 2025. Sesuai dengan Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah, hari Senin, tanggal 1 Syawal 1446 H tersebut jatuh pada 31 Maret 2025. Sebagai bagian dari tradisi Muhammadiyah, […]

  • KECENDERUNGAN SESAT MENUMPUK KEKAYAAN KARNA NISTA KEPADA ORANGTUA

    KECENDERUNGAN SESAT MENUMPUK KEKAYAAN KARNA NISTA KEPADA ORANGTUA

    • calendar_month Kamis, 15 Feb 2024
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 425
    • 0Komentar

    Oleh : Annisa Putri Gita Cahyani* Harta saat ini telah menjadi faktor utama dalam menilai keberhasilan seseorang. Masyarakat saat ini bisa dikatakan buta karna tidak mempertimbangkan prinsip moral dan spiritual dalam meraih kekayaan yang bersifat duniawi. Ketika dihubungkan dengan kecenderungan manusia untuk menumpuk kekayaan kosong sebagai akibat dari nista terhadap orang tua, fenomena ini menjadi […]

  • UMS Perkuat Jejaring Riset Asia melalui Pemaparan Konsep Agrowisata Berkelanjutan

    UMS Perkuat Jejaring Riset Asia melalui Pemaparan Konsep Agrowisata Berkelanjutan

    • calendar_month Senin, 24 Nov 2025
    • account_circle Dwi Kurniadi
    • visibility 11
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, SURAKARTA – Gagasan agrowisata berkelanjutan mencuat dalam gelaran Marketing in Asia Group (MAG) Scholar Conference 2025, di Edutorium KH Ahmad Dahlan, Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Sabtu (22/11). Konsep ini dikemukakan oleh Wakil Rektor I UMS Prof. Ihwan Susila, S.E., M.Si., Ph.D., yang memaparkan hasil risetnya mengenai agrowisata berkelanjutan. Ihwan mengatakan agrowisata berkelanjutan sangat potensial […]

expand_less