Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Esai » Mahasiswa dan Kultur Ngopi: Antara Kafein, Idealisme, dan Spiritualitas yang Tak Boleh Ketinggalan

Mahasiswa dan Kultur Ngopi: Antara Kafein, Idealisme, dan Spiritualitas yang Tak Boleh Ketinggalan

  • account_circle Dwi Kurniadi
  • calendar_month Jumat, 27 Jun 2025
  • visibility 42
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Muhammad Al Hafidz, S.Ag (Kader IMM Pondok Shabran UMS)

Ngopi bagi mahasiswa bukan lagi sekadar menyeruput cairan pahit yang nendang di tenggorokan. Ini sudah jadi budaya. Gaya hidup. Ritual harian. Bahkan tempat pelarian. Entah dari tugas kuliah yang menumpuk, skripsi yang mandek, atau cuma pengen duduk sebentar tanpa mikirin apa-apa.

Dari kafe estetik ber AC yang penuh playlist indie dan colokan gratis, sampai angkringan pinggir jalan dengan suasana remang dan obrolan ngalor-ngidul. Bahkan di pojok kosan dengan kopi sachet rasa karamel atau tiramisu, ditemani suara suara yang sengaja diputar untuk bikin hati agak tenang “ngopi itu bukan cuma minum, tapi momen.”

Momen untuk jadi diri sendiri, untuk berdiskusi, bahkan kadang untuk merenung. Karena ngopi seringkali jadi ruang bebas dari formalitas kampus yang kadang terlalu tegang. Di situlah, idealisme mahasiswa justru hidup.

Diskusi soal politik kampus, wacana filsafat eksistensial, isu Palestina, teori ketimpangan sosial, sampai ide start up yang kadang cuma jadi konsep di tisu bekas gorengan. Tapi ya, disitulah indahnya. Kadang, gagasan besar memang lahir dari tempat tempat yang paling sederhana.

Namun, yang sering dilupakan, kultur ngopi juga bisa menjadi pintu spiritual. Karena dari sekian banyak obrolan yang berseliweran, sering ada satu momen diam. Saat mata menatap cangkir yang tinggal setengah, ketika kepala menoleh ke luar jendela dan hati bertanya “Hidup ini mau dibawa kemana yaa..”

Kedengarannya sederhana, bahkan klise juga. Tapi pertanyaan inilah yang kadang bikin hati mulai serius berpikir. Dalam Islam kita diajarkan untuk merenung (tafakkur), memikirkan (tadabbur), dan mencari makna hidup lewat akal yang jernih.

Sebagaimana firman Allah yang ada di surah Ali Imran ayat 190 sampai191:
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَٱلْأَرْضِ وَٱخْتِلَـٰفِ ٱلَّيْلِ وَٱلنَّهَارِ لَآيَاتٍۢ لِّأُو۟لِى ٱلْأَلْبَـٰبِ , ٱلَّذِينَ يَذْكُرُونَ ٱللَّهَ قِيَـٰمًۭا وَقُعُودًۭا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَـٰوَاتِ وَٱلْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَـٰذَا بَـٰطِلًۭا سُبْحَـٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang, terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi seraya berkata “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (Ali Imran: 190–191)

Ayat ini seolah olah menyentil kita untuk merenung, mikir, dan bertanya soal hidup itu bukan sia-sia asal niatnya untuk mencari Allah. Dan tempatnya? Bisa di masjid, bisa juga di warung kopi. Karena spiritualitas tidak harus di tempat ibadah. Tpi juga bisa hadir di mana saja, bahkan dalam momen sederhana.

Banyak mahasiswa yang menemukan makna hidup, merenungi panggilan jiwanya, justru bukan di ruang kelas melainkan di tempat-tempat biasa. Di sela obrolan ringan, di antara dua tegukan kopi, muncul kesadaran-kesadaran baru. Ada mahasiswa yang mulai sadar tentang pentingnya menjaga lingkungan, setelah diskusi panjang sambil menyeruput es kopi gula aren. Ada pula yang mulai tertarik mendalami ilmu agama setelah mendengar teman ngobrolnya menyitir hadist Rasulullah di tengah malam yang sepi.

Ini bukan soal mistifikasi kopi, tapi tentang bagaimana ruang-ruang santai bisa menjadi ladang refleksi yang dalam. Ada perkataan dari orang bijak, “hati yang tenang adalah tempat terbaik untuk menerima hidayah.” Dan kopi, entah kenapa, sering menjadi salah satu jembatan menuju ketenangan itu.

Tentu saja, ngopi pun ada adabnya. Jangan sampai ngopi bikin lalai dari shalat, jadi alasan males malesan belajar, atau malah jadi tempat ghibah yang berkedok diskusi. Islam itu tidak kaku, tapi juga tidak membiarkan waktu dihambur dengan sia-sia. Rasulullah sendiri dikenal hangat dalam berdialog, tidak saklek atau formal. Beliau berdiskusi dengan sahabat di banyak tempat baik itu di jalan, di rumah, di pasar. Bahkan, minuman hangat seperti susu dan air madu juga menjadi bagian dari sunnah beliau.

Maka, kopi pun bisa jadi wasilah selama dijalani dengan adab dan tujuan yang baik. Jangan sampai “ngopi” lebih sering dari “ngaji”. Jangan sampai banyak tahu harga kopi, tapi lupa mengeja arti hidup. Ngopi itu soal rasa, tapi juga bisa soal arah. Ia bisa mengantarmu ke arah yang lebih dalam yang menuju pengenalan diri.

Dari Imam Al Ghazali pernah berkata,
مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّهُ
“Barangsiapa mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya.”

Dan sering kali, untuk mengenal diri, kita butuh jeda. Butuh waktu. Butuh ruang. Butuh momen di mana kita tak sedang mengejar apa pun, hanya duduk, diam, dan merenung. Kadang momen itu datang di tengah aroma kopi yang menyapa pagi.

Di titik ini, mahasiswa bukan sekadar pencari IPK, tapi pencari makna. Mereka bukan cuma sibuk mencatat di kelas perkuliahan, tapi juga mencatat kehidupan. Dan kopi, dengan segala kesederhanaannya, telah membantu banyak dari mereka menjaga kewarasan di tengah tekanan.

Zaman sekarang, mahasiswa adalah calon pemimpin. Tapi sebelum memimpin orang lain, ia harus bisa memimpin dirinya. Di sinilah kopi berperan menjadi jendela refleksi, ruang jeda untuk berpikir lebih jernih, dan tempat kecil yang menyimpan harapan besar.

Ngopi boleh, asal jangan lupa ngaji. Nongkrong boleh, asal jangan lupa pulang. Idealisme itu penting, tapi adab dan akhlak tetap utama.

Maka, mari kita ubah sudut pandang ngopi bukan hanya gaya hidup, tapi bisa jadi sarana pendekatan diri pada ilmu, pada sesama, dan pada Allah. Karena kadang, satu cangkir kopi lebih jujur dalam menuntun hati dibanding satu kuliah online yang biasanya kita skip karena sinyal jelek atau bahkan malas.

Jangan remehkan mereka yang terlihat cuma duduk diam sambil pegang gelas. Siapa tahu, ia sedang menyusun masa depan. Siapa tahu, ia sedang memikirkan perubahan. Siapa tahu, di tengah suara sendok yang memutar kopi, ia sedang berdzikir dalam hati.

Akhir Kata

Pada akhirnya, ngopi hanyalah medium seperti halnya buku, perjalanan, atau pertemuan. Nilai sejatinya bukan pada objeknya, tapi pada makna yang tumbuh dari prosesnya. Ketika mahasiswa mampu mengubah secangkir kopi menjadi bahan bakar berpikir, menjadi jembatan silaturahmi, dan bahkan menjadi ruang hening untuk mendekat kepada Allah, maka di situlah kopi naik derajatnya dari yang awalnya rutinitas biasa menjadi pengalaman spiritual.

Jangan malu jadi mahasiswa yang senang ngopi asal kita juga harus terus belajar, menjaga adab, dan tetap mencari cahaya ilmu serta iman. Karena di zaman yang serba cepat ini, barangkali kita memang butuh jeda sejenak. Bukan untuk berhenti, tapi untuk meluruskan arah.

Dan jika secangkir kopi bisa menuntunmu ke arah yang benar, maka tidak ada yang sia-sia darinya. Sebab semua yang mendekatkanmu kepada kebaikan, selama diniatkan karena Allah, insya Allah.. bernilai ibadah.

  • Penulis: Dwi Kurniadi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PMB UMS 2026 Sukses Lampaui Target 8 Ribu Mahasiswa Baru

    PMB UMS 2026 Sukses Lampaui Target 8 Ribu Mahasiswa Baru

    • calendar_month Sabtu, 29 Agt 2026
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 53
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, SURAKARTA – Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id tahun 2026 resmi ditutup pada Sabtu (29/8/2026) pukul 15.00 WIB. Target 8 ribu mahasiswa baru telah terpenuhi. Direktur Direktorat Akademik dan Admisi Dr. Triyono, S.E., M.Si., menjelaskan sebanyak 8.098 calon mahasiswa telah melakukan registrasi per Sabtu sore. Sementara jumlah pendaftar per Sabtu siang ini […]

  • Psikospiritualitas Digital: Paradigma Baru Desain Media Pembelajaran Al-Qur’an

    Psikospiritualitas Digital: Paradigma Baru Desain Media Pembelajaran Al-Qur’an

    • calendar_month Jumat, 31 Okt 2025
    • account_circle Dwi Kurniadi
    • visibility 22
    • 0Komentar

    Oleh: Rizky Aldiansyah Ketika Teknologi Tak Lagi Cukup Di era digital seperti sekarang, belajar Al-Qur’an tidak lagi terbatas di masjid, madrasah, atau majelis taklim. Kita bisa membaca mushaf digital di ponsel, mendengarkan murattal lewat aplikasi, atau menonton video tafsir interaktif kapan saja dan di mana saja. Teknologi memang memudahkan akses, membuat proses belajar menjadi cepat […]

  • Bupati Sukoharjo Apresiasi Peran Strategis Muhammadiyah dalam Pembangunan Daerah

    Bupati Sukoharjo Apresiasi Peran Strategis Muhammadiyah dalam Pembangunan Daerah

    • calendar_month Sabtu, 3 Mei 2025
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 29
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Sukoharjo – Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Sukoharjo menggelar Silaturahmi Akbar pada Sabtu, 3 Mei 2025, di Gedung IPHI Kabupaten Sukoharjo. Lebih dari 6.000 warga Muhammadiyah hadir memadati lokasi acara yang berlangsung penuh semangat kebersamaan dan kekeluargaan. Dalam sambutannya, Ketua PDM Sukoharjo, Jumari, menyampaikan bahwa Silaturahmi Akbar ini bertujuan untuk mempererat tali ukhuwah serta membangun […]

  • HMP IQT UMS Gelar Tasmi’ Asghor dan Bukber, Mahasiswa Antusias Sambut Ramadan dengan Al-Qur’an

    HMP IQT UMS Gelar Tasmi’ Asghor dan Bukber, Mahasiswa Antusias Sambut Ramadan dengan Al-Qur’an

    • calendar_month Kamis, 6 Mar 2025
    • account_circle Najihus Salam
    • visibility 87
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Surakarta – Memasuki hari ke-5 Ramadan, Himpunan Mahasiswa Prodi Ilmu Al-Qur’an & Tafsir (HMP IQT) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar acara Tasmi’ Asghor Bil Ghaib 1 Juz dan buka bersama pada hari Rabu, 5 Maret 2025 bertempat di Masjid Fadlurrahman, Kampus 1 UMS. Tasmi’ Asghor adalah kegiatan mendengarkan hafalan Al-Qur’an secara bergantian, di mana […]

  • HARSA 7: Menebar Kebahagiaan, Ciptakan Senyuman dan Manfaat

    HARSA 7: Menebar Kebahagiaan, Ciptakan Senyuman dan Manfaat

    • calendar_month Kamis, 20 Nov 2025
    • account_circle Dwi Kurniadi
    • visibility 91
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Sukoharjo – Sabtu – Minggu, 18-19 Oktober 2025. Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Haji Muhammad Misbach kembali menggelar kegiatan tahunan bertajuk Harsa 7 yang dilaksanakan di Masjid Ar-Rohman Rejosari, Lorog, Tawangsari, Sukoharjo. Kegiatan ini menjadi bukti nyata semangat pengabdian mahasiswa terhadap masyarakat melalui berbagai agenda sosial dan edukatif, dengan salah satu kegiatannya yakni […]

  • Aisyiyah Jepara dorong efisiensi energi dan pengurangan risiko bencana, teguhkan peran perempuan sebagai penjaga bumi di tengah krisis iklim.

    Aisyiyah Jepara dorong efisiensi energi dan pengurangan risiko bencana, teguhkan peran perempuan sebagai penjaga bumi di tengah krisis iklim.

    • calendar_month Selasa, 7 Okt 2025
    • account_circle Dwi Kurniadi
    • visibility 37
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, JEPARA — Upaya memperkuat peran perempuan dalam menjaga bumi dan menumbuhkan kesadaran mitigasi bencana menjadi sorotan dalam kegiatan Triwulan Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (PDA) Jepara yang digelar Ahad (5/10/2025), bertepatan dengan 13 Rabi’ul Akhir 1447 H. Acara berlangsung di SMA Muhammadiyah Mayong dan diikuti sekitar 100 peserta yang terdiri atas pimpinan cabang ‘Aisyiyah (PCA), unsur […]

expand_less