Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Berita » Psikolog UMS Soroti Meningkatnya Kasus Perundungan: Lingkungan Pendidikan dan Keluarga Belum Jadi Tempat Aman

Psikolog UMS Soroti Meningkatnya Kasus Perundungan: Lingkungan Pendidikan dan Keluarga Belum Jadi Tempat Aman

  • account_circle Dwi Kurniadi
  • calendar_month Senin, 3 Nov 2025
  • visibility 64
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

KABARMUH.ID, SURAKARTA – Meningkatnya kasus perundungan (bullying) di Indonesia menjadi perhatian serius para akademisi dan praktisi psikologi, termasuk dari Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Dosen Fakultas Psikologi UMS, Prilya Shanty Andrianie, S.Psi., M.Psi., Psikolog., menilai fenomena ini harus disikapi secara menyeluruh, terutama karena telah menimbulkan dampak psikologis yang berat hingga berujung pada kasus bunuh diri di kalangan pelajar dan mahasiswa.

Prilya menyoroti beberapa kasus yang baru-baru ini mencuat di media, seperti tragedi yang menimpa almarhum Timothy dan mahasiswa di Solo. Menurutnya, perundungan bukan satu-satunya faktor penyebab tindakan ekstrim seperti bunuh diri, namun bisa menjadi pemicu gangguan mental yang sudah ada sebelumnya.

“Kasus di Solo itu setelah saya telusuri, ternyata memang mahasiswa tersebut ada indikasi bipolar, yakni gangguan emosi dan mood. Jadi bisa jadi bukan murni perundungan, tetapi ada gangguan psikologis yang menjadi pemicu,” jelasnya, Sabtu (1/11).

Dosen Fakultas Psikologi UMS, Prilya Shanty Andrianie, S.Psi., M.Psi., Psikolog

Data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dan Federasi Serikat Guru Indonesia menunjukkan bahwa tahun 2023 terdapat 3.800 kasus bullying, dan pada 2024 jumlahnya meningkat hampir 100 kasus. Jenis bullying yang paling dominan adalah fisik (sekitar 55–56%), disusul verbal (29,3%), dan psikologis (15,2%).

“Bullying psikologis sering kali tidak disadari. Misalnya, ketika seseorang diabaikan, dikucilkan, atau tidak dilibatkan dalam pertemanan. Itu termasuk bentuk perundungan,” ujar Prilya.

Lebih lanjut, ia menyebut bahwa ranah pendidikan dan keluarga kini menjadi dua lingkungan utama tempat perundungan terjadi. “Padahal seharusnya dua tempat itu menjadi ruang paling aman bagi anak dan remaja,” imbuhnya.

Menurut Prilya, fenomena perundungan di perguruan tinggi sering kali merupakan akumulasi dari pengalaman negatif di jenjang pendidikan sebelumnya.

“Bisa jadi pelaku atau korban pernah mengalami bullying sejak SD, SMP, atau SMA, dan tidak terselesaikan dengan baik. Akibatnya, saat kuliah, dampaknya muncul kembali dalam bentuk gangguan mental atau perilaku yang berulang,” terangnya.

Ia juga menyoroti adanya budaya senioritas dan balas dendam, yang memicu praktik perpeloncoan saat masa orientasi mahasiswa baru. “Budaya senior-junior ini harus diubah. Sistem orientasi seharusnya menumbuhkan rasa kekeluargaan, misalnya dengan konsep kakak asuh–adik asuh. Jadi mahasiswa baru merasa diterima dan aman,” sarannya.

Prilya menjelaskan, terdapat tiga pihak yang berperan dalam siklus bullying: pelaku, korban, dan bystander (penonton). Upaya pencegahan dapat dilakukan jika semua pihak memiliki sikap empati dan asertivitas.

“Empati membuat seseorang enggan membully karena bisa merasakan posisi korban. Sementara asertivitas berarti berani menyampaikan sesuatu secara positif, seperti menegur atau melapor saat melihat tindakan bullying,” jelasnya.

Selain itu, lingkungan sekitar perlu peka terhadap tanda-tanda korban bullying, seperti menarik diri, menjadi pendiam, mudah emosional, atau enggan masuk sekolah atau kuliah.

Dalam menangani korban, Prilya menekankan pentingnya PFA (Psychological First Aid) atau pertolongan pertama psikologis. Langkah ini meliputi kepekaan terhadap perubahan perilaku, kesediaan mendengarkan tanpa menghakimi, serta membantu korban mendapatkan rujukan profesional bila diperlukan.

“Kadang seseorang tidak butuh solusi langsung, tapi hanya ingin didengarkan. Kalau kita tidak mampu menanganinya, bantu dia untuk bertemu dengan psikolog atau psikiater,” tuturnya.

Sebagai langkah preventif di perguruan tinggi, Prilya mendorong adanya satuan tugas (Satgas) anti-bullying yang aktif melakukan sosialisasi dan kampanye tentang lingkungan kampus yang aman dan positif.

“Kampus perlu memiliki sistem yang jelas untuk pelaporan, peer counseling, dan sosialisasi keberanian bersikap. Dengan begitu, UMS maupun perguruan tinggi lain bisa menjadi rumah yang benar-benar aman bagi mahasiswa,” pungkasnya.

Kontributor: Fika

Editor: Alfarabi

  • Penulis: Dwi Kurniadi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Panggung Enterpreneur AMM Grogol Season 2 : Motivasi dan Inspirasi untuk Pemuda

    Panggung Enterpreneur AMM Grogol Season 2 : Motivasi dan Inspirasi untuk Pemuda

    • calendar_month Selasa, 15 Jul 2025
    • account_circle Dwi Kurniadi
    • visibility 93
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Grogol, 13 Juli 2025 – Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) PCPM Grogol kembali mengadakan kegiatan Panggung Enterpreneur yang kedua setelah launching pada tanggal 22 Juni 2025. Kegiatan ini diadakan satu tahun 24 kali, yaitu satu bulan 2 kali, dengan tujuan memotivasi dan menginspirasi pemuda-pemudi Grogol untuk menjadi enterpreneur sukses. Pada kegiatan kedua ini, AMM Grogol […]

  • Rombongan UMSU dan PDM Kota Medan Kunjungi PCIM Malaysia, Perkuat Silaturahmi dan Ukhuwah Muhammadiyah

    Rombongan UMSU dan PDM Kota Medan Kunjungi PCIM Malaysia, Perkuat Silaturahmi dan Ukhuwah Muhammadiyah

    • calendar_month Senin, 7 Sep 2026
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 109
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, KUALA LUMPUR, 5 September 2026 – Silaturahmi antara warga Muhammadiyah lintas negara kembali terjalin. Rombongan dosen Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) bersama Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Medan mengunjungi Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Malaysia dalam rangka memperkuat ukhuwah, membangun jejaring, sekaligus mempererat hubungan antarkader Muhammadiyah di Indonesia dan Malaysia. Rangkaian silaturahmi tersebut berlangsung […]

  • Mahasiswa KKN UIN Syekh Wasil Kediri Kunjungi Klenteng Tjoe Hwie Kiong, Perkuat Literasi Sejarah dan Toleransi Beragama

    Mahasiswa KKN UIN Syekh Wasil Kediri Kunjungi Klenteng Tjoe Hwie Kiong, Perkuat Literasi Sejarah dan Toleransi Beragama

    • calendar_month Rabu, 21 Jan 2026
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 60
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Kediri — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 4 UIN Syekh Wasil Kediri yang tengah melaksanakan KKN di Kelurahan Pakelan melakukan kunjungan edukatif ke Klenteng Tjoe Hwie Kiong, Kota Kediri, pada hari ini. Kunjungan tersebut bertujuan untuk mengenal lebih dekat sejarah, nilai-nilai keagamaan, serta praktik toleransi yang hidup dan terjaga di tengah masyarakat multikultural. […]

  • Mahasiswi PGSD UMS : Menyemai Semangat Literasi lewat Narasi Tour IPM Jateng

    Mahasiswi PGSD UMS : Menyemai Semangat Literasi lewat Narasi Tour IPM Jateng

    • calendar_month Sabtu, 12 Jul 2025
    • account_circle Dwi Kurniadi
    • visibility 83
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Sukoharjo – Di tengah geliat gerakan literasi pelajar yang terus digelorakan Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), nama Agita Asri Kusumawardani mencuat sebagai representasi intelektual muda yang menginspirasi. Mahasiswi Program Studi PGSD Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ini tampil memikat dalam agenda Narasi Tour yang digelar Pimpinan Wilayah IPM Jawa Tengah pada (7/7/ 2025) di Wedangan TS, […]

  • Merefleksikan Disrupsi Dalam Perjalanan Masa Remaja Menuju Kedewasaan

    Merefleksikan Disrupsi Dalam Perjalanan Masa Remaja Menuju Kedewasaan

    • calendar_month Senin, 18 Mei 2026
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 104
    • 0Komentar

    Oleh: Aulia Azzahra, Mahasiswa Sarjana Pendidikan Agama Islam UM Metro Umumnya, manusia pada masa peralihan dari remaja menuju kedewasaan adalah masa di mana kita mengalami perubahan dalam berbagai aspek kehidupan, terutama dalam cara berpikir. Di masa inilah kita mulai terombang-ambing oleh pikiran kita sendiri. Pada masa ini pula, lingkungan dan keluarga memiliki pengaruh yang sangat […]

  • Ketua LDK PP Muhammadiyah: Muktamar NU ke-35, Momentum Menjaga Marwah dan Memperluas Khidmat untuk Bangsa

    Ketua LDK PP Muhammadiyah: Muktamar NU ke-35, Momentum Menjaga Marwah dan Memperluas Khidmat untuk Bangsa

    • calendar_month Rabu, 26 Agt 2026
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 94
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Jakarta — Ketua Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Ust. Muchamad Arifin, menyampaikan ucapan selamat, harapan, dan doa untuk pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang akan berlangsung pada 27–31 Agustus 2026 di Jombang, Jawa Timur. Muktamar yang mengusung tema “Menjaga Marwah, Memperkaya Khidmat untuk Kemaslahatan Bangsa” dinilai memiliki makna yang sangat dalam. […]

expand_less