Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Opini » Kritik atas Kapitalisme-Religius Muhammadiyah

Kritik atas Kapitalisme-Religius Muhammadiyah

  • account_circle Kabar Muhammadiyah
  • calendar_month Sabtu, 29 Nov 2025
  • visibility 36
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Agiel Laksamana Putra (Mahasiswa Pascasarjana Studi Agama dan Mistisisme di Iran dan Ketua Bidang Kader PCLN IMM Asia Barat)

Tulisan ini adalah kritik terhadap artikel yang dimuat pada media ibtimes.id berjudul “Ideologi Kesejahteraan Muhammadiyah”, terutama mengenai kontradiksi antara semangat religius dan kapitalisme yang diusung sebagai etos Muhammadiyah.

Penulis dalam artikel tersebut, secara jujur mengakui adanya dua tarikan teologis dalam tubuh Muhammadiyah. Pertama, teologi al-ma’un yang sosialis, nahi mungkar, anti kemapanan, dan mengkritik elit kaya (oligarki). Kedua, teologi al-ashr yang cenderung kapitalis religius, amar makruf, dan berambisi menjadi “Naga Kesepuluh”.

Ketika penulis menyimpulkan bahwa al-ma’un (orientasi sosial) dan al-‘ashr (metodologi kapitalis) adalah keniscayaan yang saling melengkapi, disinilah letak kontradiksinya yang fatal. Apalagi, baru-baru ini tulisan tersebut juga di muat di akun media sosial resmi Muhammadiyah, seakan-akan mendeklarasikan etos baru Muhammadiyah.

Berikut analisis dan kritik saya terhadap artikel tersebut, terutama mengenai upaya menjadikan kapitalisme religius sebagai etos Muhammadiyah kedepan.

Kontradiksi Kapitalisme dan Religius

Dari sejak awal kemunculannya pada abad pertengahan di eropa, jati diri kapitalisme ini didasarkan pada akumulasi modal tanpa batas, pasar bebas, persaingan, eksploitasi tenaga kerja (surplus value dalam definisi Marx), dan privatisasi sumber daya. Kapitalisme membawa dampak kemiskinan structural dan kesenjangan kelas yang melebar.

Berbeda dengan religious, terutama Islam tentang Tawhid (keesaan Tuhan). Konsekuensi dari percaya pada sifat Tawhid adalah menyetarakan manusia, dengan berbuat adil demi mencapai puncak spiritualitas. Kapitalisme dan religious sangat berbeda baik dalam tujuan, maupun penerapannya.

Bagaimana mungkin etos yang secara struktural melanggengkan penindasan (kapitalisme) dapat dijadikan metodologi untuk mencapai cita-cita agama yang paling hakiki, yaitu keadilan sosial?

Kapitalisme Religius Melegitimasi Ketimpangan

Artikel tersebut mengklaim bahwa teologi kesejahteraan Muhammadiyah dengan membawa etos kapitalisme religius bisa mendorong kemakmuran dan kesejahteraan bagi umat.

Namun, ketika kemakmuran dan kesejahteraan dipahami melalui mekanisme kapitalisme, ada potensi bahwa agama bisa dipakai legitimasinya agar tindakan ekonomi berupa akumulasi modal, pasar bebas dan persaingan dibenarkan secara religious.

Jika organisasi sebesar Muhammadiyah menjadi sangat kaya dan menggunakan pendekatan pasar, bisa timbul risiko eksploitasi, ketimpangan ekonomi dan social yang tinggi. Sebab praktik kapitalisme mengkonsentrasikan kekayaan dan sumberdaya itu terpusat dan menghilangkan nilai persaudaraan, keadilan, serta semangat gotong-royong.

Kekeliruan Logika Penulis dalam Memahami Al-‘Ashr

Logika Al-‘Ashr sebagaimana yang disebut penulis, diklaim mengajarkan “miskin agar jadi kaya” adalah narasi individualistik yang khas kapitalisme. Logika ini seakan-akan mengatakan bahwa kemiskinan adalah kegagalan individu karena kurangnya etos kerja atau kapasitas (meritokrasi).

Padahal, kebanyakan orang menjadi miskin karena tidak memperoleh kesempatan yang sama dengan orang lain untuk mendapatkan kekayaan. Ini justru mengabaikan fakta bahwa dalam system kapitalis, kekayaan segelintir orang selalu berdiri diatas kemiskinan mayoritas.

Miskin seharusnya dibebaskan dari kemiskinan oleh system yang adil, bukan miskin harus berjuang sendiri menjadi kaya. Inilah tugas utama amar ma’ruf, bukan sekadar memberikan peluang bagi individu naik kelas dalam system yang tetap menindas, tapi juga menciptakan system dimana tidak ada lagi kemiskinan.

Lebih lanjut, penulis menyebutkan bahwa dengan logika Al-‘Ashr, Muhammadiyah justru ingin menjadi “Naga Kesepuluh”. Logika ini, justru akan mereduksi semangat radikal Al-Maun menjadi sekedar gerakan amal atau sedekah (filantropi).

Padahal, perjuangan Ahmad Dahlan adalah perjuangan struktural untuk menghancurkan kemapanan dan ketidakpedulian elit. Dengan mendirikan Muhammadiyah, ia menciptakan system baru yang lebih adil dengan harapan semua orang dapat kesempatan yang sama untuk naik kelas.

Lagipula, kenapa Muhammadiyah harus berambisi menjadi “Naga Kesepuluh?” ini menghianati kaum yang lemah. Muhammadiyah seharusnya berjuang untuk membubarkan sistem yang menciptakan “Sembilan Naga”, alih-alih bergabung di dalamnya.

Kekuatan ekonomi organisasi seharusnya diarahkan untuk membangun basis ekonomi alternatif yang sepenuhnya non-kapitalis (berbasis koperasi, ekonomi gotong royong, dan kepemilikan komunal), bukan sekadar menjadi entitas kaya raya yang baru.

Sosialisme dan Ekonomi Islam lebih Konsisten ke Religiustias

Sebenarnya, sosialisme sebagaimana logika Al-Maun yang disebut penulis, sudah terlalu dekat dengan konsep religius yaitu keadilan distribusi. Tapi mungkin, penulis lebih enggan hanya memakai sosialisme sebagai etos karena berlandaskan filosofis marxisme yang materialistic dan ateistik.

Oleh karena itu, penulis mendeklarasikan kapitalisme dengan bubuhan religius sebagai etos tambahan Muhammadiyah. Padahal, sesuai apa yang saya jabarkan diatas, etos ini sangat problematik. Meskipun, saya juga sependapat jika tidak semua sosialisme cocok di terapkan Muhammadiyah, terutama ditengah masyarakat agamis di Indonesia.

Maka dari itu, ekonomi Islam menawarkan paradigma yang berbeda dengan Sosialisme dan Kapitalisme (sekalipun religius). Ekonomi Islam ala Baqir al-Sadr misalnya, dalam bukunya yang berjudul Iqtishaduna (ekonomi kami).

Al-Sadr menawarkan jalan ketiga yang murni Islam, fokus utamanya pada keadilan distribusi dan keseimbangan sosial. Doktrin ekonomi Islam bersumber pada Alquran dan Hadis yang bertujuan untuk membangun system ekonomi yang adil dan sesuai syariah.

Al-Sadr secara keras menentang riba (bunga) dalam pilar utama kapitalisme. Sebagai gantinya, Ia menawarkan sistem bagi hasil (mudharabah). Ia juga mengkritik teori kepemilikan bersama penuh ala Sosialisme.

Menurutnya, kepemilikan pribadi diperbolehkan, asal dibatasi dan dikendalikan oleh hak-hak orang lain serta kepentingan masyarakat. Kepemilikan Negara juga dibutuhkan, terutama terhadap sumber daya yang memerlukan manajemen sentral untuk kepentingan umum. Terakhir, kepemilikan bersama (Publik) terhadap sumber daya alam vital seperti air yang tidak boleh di privatisasi.

Al-Sadr menyimpulkan bahwa Islam menawarkan model ekonomi yang unik dan mampu menjawab tantangan modern tanpa mengorbankan prinsip-prinsip ketuhanan, keadilan , dan keseimbangan sosial.

Penulis menyebutkan dalam kalimat penutupnya bahwa “sosialis al-maun dan kapitalis al-‘ashr bukan pilihan, keduanya dapat menjadi etos Muhammadiyah yang saling melengkapi.” Jujur saya cenderung skeptis tentang ini.

Mencoba menggunakan etos kapitalis untuk mencapai tujuan sosialis sama saja dengan menggunakan racun untuk menyembuhkan penyakit. Keduanya memiliki orientasi yang berbeda, sekaligus bisa menyebabkan tegangan dalam implementasinya:

Kapan solidaritas dimajukan, kapan orientasi pasar diutamakan? Siapa yang memutuskan? Dan bagaimana memastikan bahwa orientasi pasar tidak menyebabkan pengabaian terhadap tanggung jawab sosial?

Kedua, dalam praktiknya Kapitalisme Muhammadiyah sebenarnya sudah berjalan lama. Sebut saja misalnya pemberian upah yang tidak layak bagi para pekerja di Amal Usaha Muhammadiyah (AUM). Dari informasi yang saya dapat, masih banyak tenaga kerja di AUM yang gajinya dibawah UMR. Apalagi, guru-guru di sekolah Muhammadiyah, masih ada yang belum sejahtera.

Maka kita masih punya PR besar dalam hal menyejahterakan ekonomi warga Muhammadiyah dan pekerja di AUM. Jangan sampai, kapitalisme religious ala Muhammadiyah justru melegitimasi eksploitasi pekerja, dan membenarkan ketimpangan di Lingkungan Muhammadiyah sendiri.

  • Penulis: Kabar Muhammadiyah

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Mubaligh Hijrah Internasional: Mahasiswa FAI UMS Mengabdi di Luar Negeri

    Mubaligh Hijrah Internasional: Mahasiswa FAI UMS Mengabdi di Luar Negeri

    • calendar_month Rabu, 9 Agt 2023
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 217
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Surakarta – Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) terus berkomitmen dalam memberikan dampak positif di tingkat internasional. Pada tahun 2023, FAI UMS mengutus dua mahasiswa dalam program Mubaligh Hijrah Internasional ke Kamboja. Kedua mahasiswa tersebut, Wahyu Bagus Sadewa dan Ahmad Nur Shodiq, melaksanakan pengabdian di Musa-Asiah Integrate School, Krouch Chhmar, Kamboja, sebagai […]

  • Kesiapsiagaan Menghadapi Bencana Hidrometeorologi: Belajar dari Valencia, Bersiap di Lampung

    Kesiapsiagaan Menghadapi Bencana Hidrometeorologi: Belajar dari Valencia, Bersiap di Lampung

    • calendar_month Minggu, 22 Des 2024
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 291
    • 0Komentar

    Oleh : Dr. Satrio Budi Wibowo, M.A, Ketua MDMC Wilayah Lampung Kita semua terkejut, khawatir, dan bahkan merasa miris. Cuaca kini tak lagi bisa diprediksi, dan musim seolah berubah tanpa aturan. Ini bukan sekadar perubahan yang kita alami, melainkan fenomena nyata yang menggambarkan betapa tak terduganya bencana hidrometeorologi yang semakin sering terjadi di seluruh dunia. […]

  • Pesantren Berkemajuan Dimulai dari Kepengasuhan Tanpa Perundungan: Refleksi Diklat Kepengasuhan Zero Bullying

    Pesantren Berkemajuan Dimulai dari Kepengasuhan Tanpa Perundungan: Refleksi Diklat Kepengasuhan Zero Bullying

    • calendar_month Selasa, 27 Jan 2026
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 28
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Kebumen – Lembaga Pengembangan Pesantren (LPP) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah menyelenggarakan Pelatihan Kepengasuhan Pesantren Zero Bullying di Pesantren Modern Wiriosoedarmo Muhammadiyah (TrenMu) Gombong, Kebumen, melalui Korwil Karesidenan Banyumas. Selasa (27/01/26) Kegiatan ini diikuti oleh 90 peserta yang merupakan perwakilan Pesantren Muhammadiyah se-Korwil Karesidenan Banyumas meliputi Banyumas, Cilacap, Purbalingga, Banjarnegara, dan Kebumen. Setiap […]

  • Jejak Si Kembar Nova-Novi: Jadi Kader Ortom, Hingga Berpasangan Suami Kader Muhammadiyah

    Jejak Si Kembar Nova-Novi: Jadi Kader Ortom, Hingga Berpasangan Suami Kader Muhammadiyah

    • calendar_month Senin, 12 Apr 2021
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 1.849
    • 0Komentar

    KABARMUH.COM, Samarinda -Tak menunggu waktu lama lagi. Beberapa jam kedepan, 1 Ramadhan akan segera tiba. Seperti biasanya, setiap anak organisasi dari Muhammadiyah, organisasi otonom (ortom), bersiap dalam mempersiapkan kegiatan pada bulan Ramadan. Dari Ikatan Pelajar Muhammiyah hingga Pemuda Muhammadiyah kesemuanya saling berlomba dalam mencari berkah di bulan yang suci. Namun, berbeda dengan ortom Angkatan Muda […]

  • FORDIGIMU, Jawaban Muhammadiyah atas Kebutuhan Mendesak Dakwah Digital

    FORDIGIMU, Jawaban Muhammadiyah atas Kebutuhan Mendesak Dakwah Digital

    • calendar_month Selasa, 22 Jul 2025
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 40
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Jakarta — Perubahan lanskap dakwah di era digital menuntut kehadiran aktor-aktor baru yang tak hanya menguasai ilmu agama, tetapi juga piawai dalam menjangkau audiens melalui platform digital. Dalam konteks inilah, Forum Dai Digital Muhammadiyah (FORDIGIMU) lahir sebagai jawaban atas urgensi dakwah yang adaptif, terstruktur, dan berkelanjutan di era teknologi informasi. Transformasi digital telah menggeser […]

  • Tunjukkan Komitmen, UAD bersama LRB PWM DIY Gelar Simulasi Kesiapsiagaan Bencana

    Tunjukkan Komitmen, UAD bersama LRB PWM DIY Gelar Simulasi Kesiapsiagaan Bencana

    • calendar_month Senin, 23 Sep 2024
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 104
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Yogyakarta – Universitas Ahmad Dahlan (UAD) bersama Lembaga Resiliensi Bencana PWM DI. Yogyakarta kembali menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kesadaran dan kesiapsiagaan bencana. Setelah sebelumnya menggelar geladi lapang penanganan krisis kesehatan dampak bencana gempa, kali ini UAD melaksanakan kegiatan Simulasi Kesiapsiagaan Bencana yang dilaksanakan pada hari Ahad, 22 September 2024 di Kampus IV Universitas Ahmad […]

expand_less