Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Featured » Kader Kintilan VS Kader Ideologis: Siapa yang paling baik?

Kader Kintilan VS Kader Ideologis: Siapa yang paling baik?

  • account_circle Adi Kurnia
  • calendar_month Rabu, 24 Des 2025
  • visibility 100
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh Ahmad Fauzi Almubarok, Ketua Bidang Kader PD IPM Lampung Tengah, Mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam FAI UM Metro

Istilah kader merujuk pada sesosok individu yang terlibat, terbina,dan disiapkan untuk melanjutkan estafet kepemimpinan didalam Organisasi. Kader menjadi kunci utama pergerakan, dimana Kader inilah yang menggerakkan dan menginisiasi sebuah kegiatan. Maka dari itu, biasanya organisasi mempunyai forum khusus dalam meng-kader, bisa berupa pelatihan berhari-hari atau sampai ber-bulan-bulan tergantung dengan kebutuhan.

Muhammadiyah dikenal dengan organisasi kader, karena didalam Muhammadiyah itu sendiri terdapat banyak organisasi dibawahnya, Yaitu pengklasifikasian atau pengelompokkan individu sesuai dengan usia atau tingkatannya. Seperti contohnya Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM),yang bergerak diranah pelajar, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), yang bergerak diranah Kemahasiswaan, Nasyiyatul Aisyiyah (NA), yang bergerak pada pemberdayaan perempuan muda, Pemuda Muhammadiyah (PM) yang bergerak pada pemuda, dan Aisyiyah, yang bergerak pada pemberdayaan perempuan. Ada juga Organisasi kepelatihan seperti, Hizbul Wathan (gerakan kepanduan) dan Tapak Suci (Perguruan Pencak Silat milik Muhammadiyah). Masing-masing Organisasi ini, diberikan oleh Muhammadiyah kewenangan untuk mengurus rumah tangganya sendiri, maka dibuatlah AD (Anggaran Dasar) dan ART (Anggaran Rumah Tangga).

Dalam membentuk kadernya-pun punya cara tersendiri. Ambil contoh Ikatan Pelajar Muhammadiyah, IPM dalam mengkader secara ideologis memiliki 4 tingkatan, yaitu Pelatihan Kader Dasar Taruna Melati 1, Pelatihan Kader Muda Taruna Melati 2, Pelatihan Kader Madya Taruna Melati 3, dan Pelatihan Kader Paripurna Taruna Melati Utama. Namun, walaupun IPM masif dalam pelaksanaan perkaderan tersebut, ternyata banyak juga kader IPM yang mengawali karier ber- IPM nya karena menjadi kader kintilan dan malah bertahan lebih lama, kok bisa? Lalu apa sih kader kintilan itu?

Kader kintilan adalah sebuah istilah, Kintilian sendiri diambil dari bahasa jawa “kintil” yang memiliki arti mengikuti atau membuntuti. Jadi, kader kintilan adalah orang yang selalu mengikuti, hadir dalam kegiatan organisasi, biasanya kader seperti ini mengikuti kegiatan karena diajak pimpinan organisasi, misalnya diajak ketua atau anggota lainnya, meskipun dia sendiri belum tahu makna dari organisasi. Namun kekuatan ternyata juga tumbuh pada kader kintilan, dari seorang individu yang polos tak tahu apa-apa berubah menjadi kader yang loyalis dan berdiri digarda terdepan organisasi. Lalu, apa sih bedanya kader kintilan dengan kader ideologis?.

Bedanya hanya pada cara memulai didalam organisasi tersebut. Kader kintilan memulai kariernya dengan ikut-ikutan tanpa punya tujuan dan rutin selalu ia lakukan, senantiasa mengindahkan ajakan para pimpinan organisasi. Sedangkan kader ideologis memulai dari pemikiran dan tujuan pasti yang ia dapat dari hasil proses pelatihan kader. Ia memahami mengapa organisasi itu ada, apa visi ideologinya, dan ke mana arah gerakannya. Kader ideologis biasanya lahir dari proses perkaderan formal: pelatihan, diskusi ideologi, penguatan nilai, dan pembiasaan sikap.

Ia tidak hanya hadir secara fisik, tetapi juga hadir secara gagasan dan sikap. Kader tipe ini mampu menjelaskan identitas organisasi, membela nilai-nilainya, serta menjaga arah gerak organisasi agar tidak keluar dari rel ideologisnya. Dalam IPM, kader ideologis umumnya lahir dari proses Taruna Melati yang berjenjang. Kader diperkenalkan pada nilai keislaman, kemuhammadiyahan, ke-IPM-an, serta dilatih untuk berpikir kritis dan reflektif. Mereka memahami bahwa IPM bukan sekadar organisasi kegiatan, tetapi ruang perjuangan pelajar untuk membangun peradaban. Maka tidak heran, kader ideologis sering kali tampil sebagai konseptor, perumus gagasan, atau penjaga marwah organisasi.

Sementara itu, kader kintilan sering kali dipandang sebelah mata. Ia hadir tanpa proses ideologisasi yang matang di awal. Datang karena diajak, ikut karena dekat dengan pimpinan, atau sekadar ingin meramaikan kegiatan. Dalam banyak forum, kader kintilan kerap dicap sebagai “tidak paham ideologi”, “tidak tahu sejarah”, bahkan dianggap beban organisasi. Namun, realitas di lapangan tidak sesederhana itu.

Kader kintilan justru sering menjadi tulang punggung keberlangsungan kegiatan. Mereka hadir konsisten, membantu teknis lapangan, mengisi kekosongan peran, dan menjaga ritme organisasi tetap hidup. Tanpa banyak wacana, mereka bekerja. Tanpa banyak klaim, mereka setia. Menariknya, tidak sedikit kader kintilan yang justru bertahan lebih lama dibanding kader ideologis yang secara teori lebih siap. Di sinilah kita perlu jujur: organisasi tidak hanya hidup dari gagasan, tetapi juga dari kehadiran dan kesetiaan. Ideologi tanpa kader yang mau bergerak hanya akan menjadi teks mati. Sebaliknya, gerakan tanpa arah ideologis akan kehilangan makna dan tujuan. Maka memperhadapkan kader kintilan dan kader ideologis sebagai dua kutub yang saling meniadakan adalah kekeliruan.

Dalam praktiknya, banyak kader ideologis yang gugur di tengah jalan karena terlalu sibuk pada tataran wacana, sementara kader kintilan perlahan tumbuh kesadarannya seiring proses berorganisasi. Dari sering ikut kegiatan, mendengar diskusi, melihat teladan pimpinan, hingga akhirnya memahami nilai dan tujuan organisasi. Tidak sedikit kader ideologis yang sejatinya berangkat dari kader kintilan.Masalahnya bukan pada titik awal kader masuk organisasi, melainkan apakah organisasi mampu mengelola dan menumbuhkan kesadaran kader tersebut.

Kader kintilan yang dibiarkan tanpa pendampingan akan stagnan. Namun kader kintilan yang dirangkul, diajak berpikir, dan diberi ruang bertumbuh justru berpotensi menjadi kader ideologis yang militan. Sebaliknya, kader ideologis yang tidak diberi ruang aktualisasi juga bisa menjauh dan kehilangan semangat.

Maka, peran organisasi sangat menentukan. Perkaderan tidak boleh berhenti pada forum formal semata, tetapi harus hidup dalam keseharian organisasi. Ideologi tidak cukup diajarkan, tetapi harus dicontohkan. Kader tidak hanya diuji pada pemahaman konsep, tetapi juga pada konsistensi sikap dan keberpihakan.
Jadi, siapa yang paling baik?

Tidak ada yang paling baik secara mutlak. Kader kintilan dan kader ideologis adalah sama-sama kader yang semestinya dijaga. Karena kembali lagi, siapa yang paling mau dan siapa yang paling bertahan. Kader ideologis menjaga arah, kader kintilan menjaga gerak. Kader ideologis memberi makna, kader kintilan memberi tenaga.

Keduanya saling membutuhkan.Pada akhirnya, yang paling penting bukan bagaimana seseorang memulai langkahnya di organisasi, tetapi sejauh mana ia mau bertahan, belajar, dan bertumbuh. Organisasi besar bukan hanya melahirkan kader yang pintar berbicara tentang ideologi, tetapi juga kader yang setia membersamai perjuangan, dari tahap paling sederhana hingga tanggung jawab paling besar.

Dan bisa jadi, kader terbaik adalah mereka yang pernah menjadi kader kintilan, lalu memilih untuk berproses menjadi kader ideologis—tanpa kehilangan kerendahan hati dan kesediaan untuk terus bergerak.

  • Penulis: Adi Kurnia

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Terampil dan Kreatif! LKSA Panti Asuhan Aisyiyah Grogol Sukses Selenggarakan Workshop

    Terampil dan Kreatif! LKSA Panti Asuhan Aisyiyah Grogol Sukses Selenggarakan Workshop

    • calendar_month Rabu, 20 Des 2023
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 232
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, SUKOHARJO – LKSA Panti Asuhan Puteri Aisyiyah Grogol telah sukses menyelenggarakan Workshop Membangun Keterampilan Berpikir Kreatif pada Senin-Rabu, 18-20 Desember 2023 bertempat di Aula LKSA Panti Asuhan Puteri Aisyiyah Grogol. Acara yang dihadiri oleh 60 peserta yang terdiri dari seluruh anak panti asuhan puteri, pengurus dan pengelola panti asuhan, Pimpinan Cabang Muhammadiyah, Pimpinan Cabang […]

  • Forum Muda Bicara Pendidikan Dorong Pemahaman Publik tentang TKA

    Forum Muda Bicara Pendidikan Dorong Pemahaman Publik tentang TKA

    • calendar_month Rabu, 3 Sep 2025
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 50
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Tangerang Selatan – Tes Kemampuan Akademik (TKA) menjadi tema utama dalam forum Muda Bicara Pendidikan yang digelar di Serambi Temu, Ciputat, Tangerang Selatan, Rabu (3/9/2025). Acara ini mempertemukan tokoh pendidikan, praktisi, guru, hingga perwakilan pelajar untuk mendiskusikan peran TKA dalam meningkatkan kualitas pendidikan nasional. Kepala PSKP UAD sekaligus Tenaga Ahli Kementerian Pendidikan Dasar dan […]

  • Jelang Idul adha, Bank Jateng Syariah Serahkan Sapi Kurban ke UMS

    Jelang Idul adha, Bank Jateng Syariah Serahkan Sapi Kurban ke UMS

    • calendar_month Kamis, 5 Jun 2025
    • account_circle Zulfan Falakhi
    • visibility 104
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, SURAKARTA – Menjelang Iduladha 1446 H, Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menerima amanah dari mitra strategis. Bank Jateng Syariah menyerahkan satu ekor sapi kurban berbobot hampir 1 ton sebagai bentuk kepedulian sosial dan wujud kemitraan berkelanjutan antara sektor keuangan dan dunia pendidikan. Rektor UMS, Prof Harun sambut hangat Dirut Bank Jateng Penyerahan dilakukan secara […]

  • Resmi Dilantik, MES Surakarta Tancap Gaskan Jalankan Program Kerja Unggulan

    Resmi Dilantik, MES Surakarta Tancap Gaskan Jalankan Program Kerja Unggulan

    • calendar_month Minggu, 11 Mei 2025
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 74
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Surakarta – Pengurus Daerah Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Surakarta periode 2024-2029 segera tancap gas setelah resmi dilantik. Sejumlah program kerja unggulan secepatnya akan dikerjakan. Ketua Umum Badan Pengurus Harian MES Surakarta, Ibrahim Fatwa Wijaya, SE, MSc, PhD mengatakan, terdapat lima bidang di MES Surakarta, yakni bidang organisasi, bidang usaha, bidang keuangan, bidang ziswaf, serta bidang […]

  • Mahasiswa FEB UMS Jadi Fasilitator Duta Inspirasi Indonesia, Raih Best Program Nasional

    Mahasiswa FEB UMS Jadi Fasilitator Duta Inspirasi Indonesia, Raih Best Program Nasional

    • calendar_month Sabtu, 27 Des 2025
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 108
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, SURAKARTA – Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Syaban Al Musyaffa Ibnu Ahmad, mencatatkan prestasi membanggakan di tingkat nasional melalui keterlibatannya dalam ajang Duta Inspirasi Indonesia pada Jumat, (9/12). Syaban terpilih sebagai salah satu fasilitator terbaik setelah melalui proses seleksi ketat yang diikuti ratusan peserta dari seluruh Indonesia. Duta Inspirasi […]

  • Pelatihan Pelatih Fisik Nasional Level 1, Komitmen Prodi Penjas FKIP UMS Tingkatkan Prestasi Olahraga

    Pelatihan Pelatih Fisik Nasional Level 1, Komitmen Prodi Penjas FKIP UMS Tingkatkan Prestasi Olahraga

    • calendar_month Kamis, 22 Jan 2026
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 101
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, SURAKARTA – Program Studi (Prodi) Pendidikan Jasmani (Penjas), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kompetensi sumber daya manusia olahraga nasional melalui kegiatan Pelatihan Pelatih Fisik Nasional Level 1. Kegiatan prestisius ini dilaksanakan pada (17-20/1) dan diikuti oleh 20 peserta dari berbagai cabang olahraga, di antaranya […]

expand_less