Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Featured » Kader Kintilan VS Kader Ideologis: Siapa yang paling baik?

Kader Kintilan VS Kader Ideologis: Siapa yang paling baik?

  • account_circle Adi Kurnia
  • calendar_month Rabu, 24 Des 2025
  • visibility 16
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh Ahmad Fauzi Almubarok, Ketua Bidang Kader PD IPM Lampung Tengah, Mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam FAI UM Metro

Istilah kader merujuk pada sesosok individu yang terlibat, terbina,dan disiapkan untuk melanjutkan estafet kepemimpinan didalam Organisasi. Kader menjadi kunci utama pergerakan, dimana Kader inilah yang menggerakkan dan menginisiasi sebuah kegiatan. Maka dari itu, biasanya organisasi mempunyai forum khusus dalam meng-kader, bisa berupa pelatihan berhari-hari atau sampai ber-bulan-bulan tergantung dengan kebutuhan.

Muhammadiyah dikenal dengan organisasi kader, karena didalam Muhammadiyah itu sendiri terdapat banyak organisasi dibawahnya, Yaitu pengklasifikasian atau pengelompokkan individu sesuai dengan usia atau tingkatannya. Seperti contohnya Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM),yang bergerak diranah pelajar, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), yang bergerak diranah Kemahasiswaan, Nasyiyatul Aisyiyah (NA), yang bergerak pada pemberdayaan perempuan muda, Pemuda Muhammadiyah (PM) yang bergerak pada pemuda, dan Aisyiyah, yang bergerak pada pemberdayaan perempuan. Ada juga Organisasi kepelatihan seperti, Hizbul Wathan (gerakan kepanduan) dan Tapak Suci (Perguruan Pencak Silat milik Muhammadiyah). Masing-masing Organisasi ini, diberikan oleh Muhammadiyah kewenangan untuk mengurus rumah tangganya sendiri, maka dibuatlah AD (Anggaran Dasar) dan ART (Anggaran Rumah Tangga).

Dalam membentuk kadernya-pun punya cara tersendiri. Ambil contoh Ikatan Pelajar Muhammadiyah, IPM dalam mengkader secara ideologis memiliki 4 tingkatan, yaitu Pelatihan Kader Dasar Taruna Melati 1, Pelatihan Kader Muda Taruna Melati 2, Pelatihan Kader Madya Taruna Melati 3, dan Pelatihan Kader Paripurna Taruna Melati Utama. Namun, walaupun IPM masif dalam pelaksanaan perkaderan tersebut, ternyata banyak juga kader IPM yang mengawali karier ber- IPM nya karena menjadi kader kintilan dan malah bertahan lebih lama, kok bisa? Lalu apa sih kader kintilan itu?

Kader kintilan adalah sebuah istilah, Kintilian sendiri diambil dari bahasa jawa “kintil” yang memiliki arti mengikuti atau membuntuti. Jadi, kader kintilan adalah orang yang selalu mengikuti, hadir dalam kegiatan organisasi, biasanya kader seperti ini mengikuti kegiatan karena diajak pimpinan organisasi, misalnya diajak ketua atau anggota lainnya, meskipun dia sendiri belum tahu makna dari organisasi. Namun kekuatan ternyata juga tumbuh pada kader kintilan, dari seorang individu yang polos tak tahu apa-apa berubah menjadi kader yang loyalis dan berdiri digarda terdepan organisasi. Lalu, apa sih bedanya kader kintilan dengan kader ideologis?.

Bedanya hanya pada cara memulai didalam organisasi tersebut. Kader kintilan memulai kariernya dengan ikut-ikutan tanpa punya tujuan dan rutin selalu ia lakukan, senantiasa mengindahkan ajakan para pimpinan organisasi. Sedangkan kader ideologis memulai dari pemikiran dan tujuan pasti yang ia dapat dari hasil proses pelatihan kader. Ia memahami mengapa organisasi itu ada, apa visi ideologinya, dan ke mana arah gerakannya. Kader ideologis biasanya lahir dari proses perkaderan formal: pelatihan, diskusi ideologi, penguatan nilai, dan pembiasaan sikap.

Ia tidak hanya hadir secara fisik, tetapi juga hadir secara gagasan dan sikap. Kader tipe ini mampu menjelaskan identitas organisasi, membela nilai-nilainya, serta menjaga arah gerak organisasi agar tidak keluar dari rel ideologisnya. Dalam IPM, kader ideologis umumnya lahir dari proses Taruna Melati yang berjenjang. Kader diperkenalkan pada nilai keislaman, kemuhammadiyahan, ke-IPM-an, serta dilatih untuk berpikir kritis dan reflektif. Mereka memahami bahwa IPM bukan sekadar organisasi kegiatan, tetapi ruang perjuangan pelajar untuk membangun peradaban. Maka tidak heran, kader ideologis sering kali tampil sebagai konseptor, perumus gagasan, atau penjaga marwah organisasi.

Sementara itu, kader kintilan sering kali dipandang sebelah mata. Ia hadir tanpa proses ideologisasi yang matang di awal. Datang karena diajak, ikut karena dekat dengan pimpinan, atau sekadar ingin meramaikan kegiatan. Dalam banyak forum, kader kintilan kerap dicap sebagai “tidak paham ideologi”, “tidak tahu sejarah”, bahkan dianggap beban organisasi. Namun, realitas di lapangan tidak sesederhana itu.

Kader kintilan justru sering menjadi tulang punggung keberlangsungan kegiatan. Mereka hadir konsisten, membantu teknis lapangan, mengisi kekosongan peran, dan menjaga ritme organisasi tetap hidup. Tanpa banyak wacana, mereka bekerja. Tanpa banyak klaim, mereka setia. Menariknya, tidak sedikit kader kintilan yang justru bertahan lebih lama dibanding kader ideologis yang secara teori lebih siap. Di sinilah kita perlu jujur: organisasi tidak hanya hidup dari gagasan, tetapi juga dari kehadiran dan kesetiaan. Ideologi tanpa kader yang mau bergerak hanya akan menjadi teks mati. Sebaliknya, gerakan tanpa arah ideologis akan kehilangan makna dan tujuan. Maka memperhadapkan kader kintilan dan kader ideologis sebagai dua kutub yang saling meniadakan adalah kekeliruan.

Dalam praktiknya, banyak kader ideologis yang gugur di tengah jalan karena terlalu sibuk pada tataran wacana, sementara kader kintilan perlahan tumbuh kesadarannya seiring proses berorganisasi. Dari sering ikut kegiatan, mendengar diskusi, melihat teladan pimpinan, hingga akhirnya memahami nilai dan tujuan organisasi. Tidak sedikit kader ideologis yang sejatinya berangkat dari kader kintilan.Masalahnya bukan pada titik awal kader masuk organisasi, melainkan apakah organisasi mampu mengelola dan menumbuhkan kesadaran kader tersebut.

Kader kintilan yang dibiarkan tanpa pendampingan akan stagnan. Namun kader kintilan yang dirangkul, diajak berpikir, dan diberi ruang bertumbuh justru berpotensi menjadi kader ideologis yang militan. Sebaliknya, kader ideologis yang tidak diberi ruang aktualisasi juga bisa menjauh dan kehilangan semangat.

Maka, peran organisasi sangat menentukan. Perkaderan tidak boleh berhenti pada forum formal semata, tetapi harus hidup dalam keseharian organisasi. Ideologi tidak cukup diajarkan, tetapi harus dicontohkan. Kader tidak hanya diuji pada pemahaman konsep, tetapi juga pada konsistensi sikap dan keberpihakan.
Jadi, siapa yang paling baik?

Tidak ada yang paling baik secara mutlak. Kader kintilan dan kader ideologis adalah sama-sama kader yang semestinya dijaga. Karena kembali lagi, siapa yang paling mau dan siapa yang paling bertahan. Kader ideologis menjaga arah, kader kintilan menjaga gerak. Kader ideologis memberi makna, kader kintilan memberi tenaga.

Keduanya saling membutuhkan.Pada akhirnya, yang paling penting bukan bagaimana seseorang memulai langkahnya di organisasi, tetapi sejauh mana ia mau bertahan, belajar, dan bertumbuh. Organisasi besar bukan hanya melahirkan kader yang pintar berbicara tentang ideologi, tetapi juga kader yang setia membersamai perjuangan, dari tahap paling sederhana hingga tanggung jawab paling besar.

Dan bisa jadi, kader terbaik adalah mereka yang pernah menjadi kader kintilan, lalu memilih untuk berproses menjadi kader ideologis—tanpa kehilangan kerendahan hati dan kesediaan untuk terus bergerak.

  • Penulis: Adi Kurnia

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • J’ai testé l’accessibilité de Stake Casino en utilisant un lecteur d’écran pour la Belgique

    J’ai testé l’accessibilité de Stake Casino en utilisant un lecteur d’écran pour la Belgique

    • calendar_month Rabu, 15 Jul 2026
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 0
    • 0Komentar

    L’accessibilité numérique constitue un critère primordial, fréquemment négligé sur les sites de jeux en ligne https://sstake.org/fr-be. À l’attention des les joueurs belges qui sont confrontés avec un handicap visuel, se déplacer et participer de façon autonome n’est point un luxe, voilà une nécessité. Stake Casino, une plateforme estimée du public belge pour son approche centrée […]

  • Dosen FAI UMS Terlibat dalam Kunjungan Lazismu ke Islamic Relief Pakistan

    Dosen FAI UMS Terlibat dalam Kunjungan Lazismu ke Islamic Relief Pakistan

    • calendar_month Senin, 10 Agt 2026
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 13
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID; SURAKARTA – Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS)⁠, Fauzul Hanif Noor Athief, L.c., M.Sc., turut terlibat dalam kunjungan resmi Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sedekah Muhammadiyah (Lazismu) ke Islamic Relief Pakistan di Islamabad, Pakistan. Kunjungan tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas jejaring kemanusiaan global sekaligus membuka peluang kolaborasi lintas lembaga filantropi. […]

  • Pengukuhan Serentak 49 PRM-PRA se-Cabang Bumiayu, Bukti Dakwah Muhammadiyah Berkemajuan

    Pengukuhan Serentak 49 PRM-PRA se-Cabang Bumiayu, Bukti Dakwah Muhammadiyah Berkemajuan

    • calendar_month Senin, 20 Nov 2023
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 377
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Brebes – Halaman Parkir RSU Siti Aminah Muhammadiyah Bumiayu menjadi Saksi Sejarah terselenggaranya pengukuhan 49 PRM-PRA se-Cabang Bumiayu Daerah Brebes, Ahad, 19 November 2023/5 Jumadil Awal 1445 H. Drs. H. Sukmono selaku Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Bumiayu menghimbau agar setiap ranting harus senantiasa menjadi mitra yang baik bagi pemerintahan desa dalam rangka membantu menyelesaikan […]

  • Terus Maksimalkan Dakwah Komunitas! LDK PWM Kalbar Gelar Bimtek Dai Komunitas

    Terus Maksimalkan Dakwah Komunitas! LDK PWM Kalbar Gelar Bimtek Dai Komunitas

    • calendar_month Sabtu, 21 Sep 2024
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 193
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Pontianak – Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Kalimantan Barat melaksanakan opening ceremony kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Dai Komunitas di SD Muhammadiyah 2 Pontianak, Jl. A. Yani Pontianak Kalimantan Barat. Kegiatan yang diikuti oleh 30 peserta ini dibuka langsung oleh Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Dr. Saad Ibrahim MA. Ketua LDK PWM […]

  • Langkah Konkret, PDPM Kabupaten Pekalongan Adakan Raker dan Dialog Politik

    Langkah Konkret, PDPM Kabupaten Pekalongan Adakan Raker dan Dialog Politik

    • calendar_month Sabtu, 9 Agt 2025
    • account_circle Dwi Kurniadi
    • visibility 13
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, PEKALONGAN – Momentum dibulan kemerdekaan Republik Indonesia ke-80, Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah Kab. Pekalongan melaksanakan Raker Internal PDPM dan Dialog Politik dengan tema “Meneguhkan Peran, Menguatkan Barisan” di Gedung Dakwah Muhammadiyah Wiradesa, Kab Pekalongan. Agung Dwi Hanggoro, A.Md mengatakan bahwa pemuda terus berkarya dalam membangun sumber daya manusia. “yang terbaru kita melakukan gerakan KOKAM […]

  • Workshop Penguatan Kelembagaan Desa Wisata oleh Tim PPK Ormawa IMM FISIPOL UMY

    Workshop Penguatan Kelembagaan Desa Wisata oleh Tim PPK Ormawa IMM FISIPOL UMY

    • calendar_month Selasa, 27 Agt 2024
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 206
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Yogyakarta – Tim PPK Ormawa IMM FISIPOL UMY mengadakan Workshop Penguatan Kelembagaan Desa Wisata Kalurahan Guwosari yang berlangsung di Wisata Banjaran Kalurahan Gowasari. Latar belakang Workshop ini dilaksanakan guna meningkatkan kapasitas pengelolaan desa wisata di Kalurahan Guwosari. Oleh karena itu, dapat memastikan adanya keberlanjutan dalam mengimplementasikan rencana pengembangan pariwisata. Tujuan ini juga mencakup pencapaian […]

expand_less