Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Esai » Ketika Cara Belajar Berubah dan Al-Qur’an Tetap Menjadi Arah

Ketika Cara Belajar Berubah dan Al-Qur’an Tetap Menjadi Arah

  • account_circle Adi Kurnia
  • calendar_month Sabtu, 17 Jan 2026
  • visibility 16
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Muhammad Fikri Azka

Dunia belajar sedang berubah dengan sangat cepat. Saat ini orang dapat belajar apa saja kapan saja melalui layar ponsel, video singkat, atau aplikasi digital. Anak-anak, remaja, hingga orang dewasa tetap terlibat dalam proses belajar, baik disadari maupun tidak. Aktivitas belajar tidak lagi terikat ruang kelas dan waktu tertentu.

Di balik kemudahan tersebut, muncul pertanyaan penting tentang arah pembelajaran. Informasi semakin melimpah, tetapi makna justru sering terasa menipis. Banyak orang mengetahui banyak hal, namun kebingungan menentukan tujuan pengetahuan itu sendiri. Pada titik inilah Al-Qur’an kembali menemukan relevansinya sebagai penunjuk arah dalam perubahan cara manusia belajar.

Al-Qur’an sebagai Kompas di Tengah Perubahan Cara Belajar

Perubahan cara belajar pada dasarnya merupakan keniscayaan. Setiap zaman memiliki mediumnya sendiri, dan manusia selalu menyesuaikan diri dengan perkembangan tersebut. Namun, persoalan yang sering luput diperhatikan bukan terletak pada kecanggihan media belajar, melainkan pada arah yang dituju oleh proses belajar itu sendiri. Di tengah derasnya arus informasi dan percepatan teknologi, Al-Qur’an hadir sebagai kompas yang menjaga agar belajar tidak kehilangan orientasi.

Dalam perspektif pendidikan Islam, Al-Qur’an tidak hanya dipahami sebagai sumber ajaran keagamaan, tetapi juga sebagai landasan nilai dalam proses pendidikan. Ia memandang belajar sebagai aktivitas yang menyentuh seluruh dimensi manusia, mulai dari akal, hati, hingga perilaku. Karena itu, belajar tidak berhenti pada penguasaan informasi, melainkan diarahkan pada pembentukan kesadaran dan tanggung jawab moral.

Al-Qur’an juga memberikan gambaran yang jelas tentang cara manusia memperoleh ilmu. Manusia dibekali pendengaran, penglihatan, dan hati agar mampu memahami kehidupan secara utuh. Ketiga potensi ini menunjukkan bahwa belajar bukan hanya aktivitas intelektual, tetapi juga proses reflektif yang melibatkan pengalaman dan perenungan. Dalam konteks pembelajaran modern, pesan ini menjadi penting ketika teknologi sering mendorong proses belajar yang serba cepat dan minimal kedalaman.

Salah satu tantangan utama pembelajaran di era digital adalah kecenderungan memisahkan ilmu dari nilai. Pengetahuan disampaikan secara efisien, tetapi sering kehilangan makna. Di sinilah peran Al-Qur’an sebagai kompas menjadi sangat relevan. Ia tidak menolak kemajuan, tetapi memberi kerangka nilai agar ilmu tetap diarahkan pada kemaslahatan manusia. Tanpa arah nilai, ilmu berpotensi menjadi netral secara moral dan kehilangan tujuan kemanusiaannya.

Selain itu, Al-Qur’an memandang belajar sebagai proses sepanjang hayat. Belajar tidak berhenti pada usia tertentu atau ruang tertentu, melainkan berlangsung selama manusia hidup. Pandangan ini sejalan dengan realitas hari ini, ketika manusia terus belajar melalui berbagai media sepanjang kehidupannya. Namun, Al-Qur’an juga menegaskan bahwa semakin luas pengetahuan seseorang, seharusnya semakin besar kesadaran dan kerendahan hatinya.

Menjadikan Al-Qur’an sebagai kompas bukan berarti menutup diri terhadap perubahan. Justru sebaliknya, Al-Qur’an memberi arah agar perubahan tetap berpijak pada nilai kemanusiaan. Ia membantu manusia menimbang apa yang layak dipelajari, bagaimana cara mempelajarinya, dan untuk tujuan apa pengetahuan itu digunakan. Di tengah perubahan cara belajar yang terus berlangsung, fungsi inilah yang membuat Al-Qur’an tetap relevan dan dibutuhkan.

Media Boleh Modern, Nilai Tidak Boleh Hilang

Perkembangan media pembelajaran berbasis teknologi sering dipandang sebagai solusi atas berbagai persoalan pendidikan. Media visual, aplikasi interaktif, dan platform digital dianggap mampu membuat proses belajar lebih menarik, efektif, dan relevan dengan kehidupan masa kini. Dalam banyak hal, pandangan ini memang benar. Media yang tepat dapat membuka akses belajar lebih luas dan membantu pemahaman, termasuk dalam pembelajaran Al-Qur’an.

Namun, saya berpendapat bahwa persoalan utama bukan terletak pada seberapa modern media yang digunakan, melainkan pada nilai apa yang dibawa oleh media tersebut. Media yang canggih tidak otomatis menghadirkan pembelajaran yang bermakna. Tanpa kerangka nilai yang jelas, teknologi justru berpotensi mengubah Al-Qur’an menjadi sekadar objek visual atau konten digital yang dikonsumsi cepat, lalu ditinggalkan.

Beberapa ahli pendidikan telah lama mengingatkan bahwa media hanyalah alat bantu, bukan inti pembelajaran. Marshall McLuhan, misalnya, menegaskan bahwa media bukan sekadar saluran pesan, tetapi turut membentuk cara manusia berpikir. Artinya, ketika Al-Qur’an disajikan melalui media yang serba cepat dan instan, ada risiko pesan Qur’ani ikut dipahami secara dangkal. Bukan karena Al-Qur’annya, tetapi karena cara penyajiannya.

Pandangan serupa juga disampaikan oleh para pemikir pendidikan Islam. Al-Attas menekankan bahwa pendidikan tidak boleh berhenti pada transfer ilmu, tetapi harus berorientasi pada pembentukan adab. Dalam konteks ini, media pembelajaran Al-Qur’an seharusnya tidak hanya memudahkan orang membaca atau menghafal, tetapi juga membantu menumbuhkan sikap hormat, kesadaran, dan tanggung jawab terhadap nilai-nilai yang diajarkan Al-Qur’an.

Masalah yang sering muncul dalam pembelajaran digital adalah kecenderungan menjadikan kecepatan dan ketertarikan visual sebagai ukuran utama keberhasilan. Padahal, memahami Al-Qur’an membutuhkan waktu, pengulangan, dan perenungan. Ketika media terlalu menekankan aspek hiburan, nilai kedalaman berisiko tergeser. Inilah sebabnya mengapa media modern perlu dirancang dengan kesadaran pedagogis dan etis, bukan hanya teknologis.

Saya melihat bahwa media pembelajaran Al-Qur’an yang ideal adalah media yang mampu menyeimbangkan daya tarik visual dengan ruang refleksi. Media tersebut tidak hanya membuat orang betah belajar, tetapi juga mendorong mereka untuk berpikir, bertanya, dan merenung. Teknologi seharusnya membantu manusia mendekat pada makna, bukan menjauh darinya.

Pada akhirnya, modernitas media tidak boleh mengorbankan ruh pembelajaran. Media boleh berubah mengikuti zaman, tetapi nilai Qur’ani harus tetap menjadi fondasi. Tanpa nilai, media hanya menjadi alat yang kosong. Dengan nilai, teknologi justru bisa menjadi jembatan yang menghubungkan manusia modern dengan pesan Al-Qur’an secara lebih hidup dan bermakna.

Belajar Bukan Sekadar Tahu, tapi Menjadi

Dalam pandangan Al-Qur’an, belajar tidak pernah dimaksudkan hanya untuk menambah pengetahuan, tetapi untuk membentuk manusia secara utuh. Ilmu seharusnya mempengaruhi cara seseorang berpikir, bersikap, dan bertindak dalam kehidupan nyata. Pembelajaran Qur’ani yang ideal justru menuntut keseimbangan antara pemahaman intelektual, kepekaan batin, dan kesadaran spiritual, sehingga ilmu tidak berhenti sebagai konsep, tetapi hadir sebagai nilai yang hidup.

Di tengah budaya belajar yang sering menekankan kecepatan dan hasil, Al-Qur’an mengingatkan pentingnya proses. Belajar bukan hanya untuk mengetahui, tetapi untuk menjadi manusia yang lebih sadar, bijak, dan berakhlak. Inilah alasan mengapa Al-Qur’an tetap relevan meskipun cara belajar terus berubah.

Ketika media dan teknologi berkembang semakin maju, Al-Qur’an tetap menjadi arah. Ia tidak menolak perubahan, tetapi memberi batas agar perubahan tersebut tetap bermakna. Di tengah dunia yang bergerak cepat, Al-Qur’an hadir sebagai penuntun agar belajar tidak kehilangan tujuan kemanusiaannya.

Editor: Muhammad Farhan

 

  • Penulis: Adi Kurnia

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Semnas Perkaderan, Tingkatkan Peran IMM di UMS

    Semnas Perkaderan, Tingkatkan Peran IMM di UMS

    • calendar_month Senin, 14 Agt 2023
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 185
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, PABELAN – Generasi muda saat ini dipercaya dapat menjadi pendobrak bagi kemajuan bangsa, Maka Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) sebagai bagian dari generasi muda perlu melakukan regenerasi dan perkaderan supaya dapat memberikan kontribusi kepada bangsa dan negara. Guna meningkatkan pemahaman tentang peran IMM di PTMA (Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiah) serta mencari solusi dari persoalan […]

  • Lazismu KL Gunung Meriah–Aceh Singkil Salurkan Bantuan Kemanusiaan ke Aceh Tamiang

    Lazismu KL Gunung Meriah–Aceh Singkil Salurkan Bantuan Kemanusiaan ke Aceh Tamiang

    • calendar_month Senin, 15 Des 2025
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 6
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Aceh Singkil – Lembaga Amil Zakat, Infaq, dan Sedekah Muhammadiyah (Lazismu Kantor Layanan Gunung Meriah–Aceh Singkil) menunjukkan kepedulian dan solidaritas kemanusiaan dengan menyalurkan bantuan bagi masyarakat terdampak banjir bandang di Kabupaten Aceh Tamiang, Sabtu (13/12/2025). Aksi kemanusiaan ini merupakan respons cepat Lazismu KL Gunung Meriah atas musibah banjir yang melanda sejumlah kecamatan di Aceh […]

  • Pemuda Muhammadiyah Lampung Selatan Gelar Diksar KOKAM

    Pemuda Muhammadiyah Lampung Selatan Gelar Diksar KOKAM

    • calendar_month Selasa, 5 Agt 2025
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 14
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Lampung Selatan – Dalam upaya membangun kader militan dan tangguh, Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Lampung Selatan sukses menyelenggarakan kegiatan Pendidikan Dasar (Diksar) Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (KOKAM) di Ranting Muhammadiyah Bedeng, Desa Sinar Pasemah, Kecamatan Candipuro, Lampung Selatan pada 22-23 juli 2025. Acara ini dibuka secara resmi oleh Ketua PDPM Lampung Selatan, […]

  • Touring Kemerdekaan: Wakil Bupati Klaten dan 231 Bikersmu Chapter Klaten Ramaikan Perjalanan ke Pantai Klotok Wonogiri

    Touring Kemerdekaan: Wakil Bupati Klaten dan 231 Bikersmu Chapter Klaten Ramaikan Perjalanan ke Pantai Klotok Wonogiri

    • calendar_month Kamis, 4 Sep 2025
    • account_circle Dwi Kurniadi
    • visibility 16
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Klaten – Ahad 31 Agustus 2025 Bikersmu Chapter Klaten bekerjasama dengan LDK dan LSBQ PDM Klaten menyelenggarakan agenda spektakuler special di penghujung bulan Agustus ini dalam rangka memperingati HUT RI ke-80 dengan tema “Semarak Touring Kemerdekaan”. Kegiatan tersebut diikuti Sebanyak 231 peserta yang meliputi masyarakat umum, AUM Muhammadiyah dan Aisyiyah di kabupaten Klaten. Titik […]

  • Optimalkan Pemberdayaan Mualaf, Mualaf Learning Center Muhammadiyah Hadir di Kalimantan

    Optimalkan Pemberdayaan Mualaf, Mualaf Learning Center Muhammadiyah Hadir di Kalimantan

    • calendar_month Selasa, 17 Des 2024
    • account_circle Najihus Salam
    • visibility 101
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Kalimantan Selatan, Hulu Sungai Tengah – Pada Sabtu, 14 Desember 2024 M / 12 Jumadil Akhir 1446 H, Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, bersama dengan LDK Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Kalimantan Selatan, meresmikan Mualaf Learning Center di Kabupaten Hulu Sungai Tengah, yang terletak di Desa Mualaf Patikalain. Acara peresmian ini mendapat […]

  • Penerapan Sistem Pendidikan Paulo Freire

    Penerapan Sistem Pendidikan Paulo Freire

    • calendar_month Selasa, 5 Apr 2022
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 1.007
    • 0Komentar

    Oleh : Bunga Chantia Paradisa (202110230311024) Paulo Freire merupakan salah satu tokoh pendidikan yang berasal dari Brazil. Paulo Freire terkenal dengan seseorang yang mampu mengubah atau mengembalikan manusia sebagai makhluk yang bebas. Pemikiran pendidikan yang Paulo Freire tawarkan yaitu sebuah model pendidikan yang dinilai dapat mempersiapkan siswa yang kreatif seperti yang termuat dalam tujuan. Paulo berpendapat […]

expand_less