Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Berita » Ingatkan Bahaya Krisis Kepercayaan di Tengah Rupiah Melemah

Ingatkan Bahaya Krisis Kepercayaan di Tengah Rupiah Melemah

  • account_circle Adi Kurnia
  • calendar_month Senin, 25 Mei 2026
  • visibility 95
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

KABARMUH.ID; SURAKARTA – Pelemahan rupiah yang terus menembus level psikologis terhadap dolar Amerika Serikat dinilai bukan sekadar persoalan ekonomi, melainkan juga ujian besar terhadap komunikasi publik pemerintah. Di tengah tekanan global dan meningkatnya biaya hidup masyarakat, akademisi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menilai negara perlu menjaga stabilitas ekonomi sekaligus menjaga kepercayaan publik agar situasi tidak berkembang menjadi krisis persepsi.

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UMS, Prof. Dr. Anton Agus Setyawan, S.E., M.Si., menyebut pelemahan rupiah saat ini dipengaruhi kombinasi sentimen global dan persoalan domestik yang belum terselesaikan. Menurutnya, konflik geopolitik dunia, tingginya suku bunga Amerika Serikat, hingga ketergantungan industri nasional terhadap impor membuat ekonomi Indonesia rentan terhadap tekanan eksternal.

“Masalah kita bukan hanya dolar naik. Masalah utamanya adalah industri kita belum mandiri. Ketika bahan baku, pangan, sampai kebutuhan produksi masih impor, maka pelemahan rupiah pasti berdampak sampai ke masyarakat bawah,” ujarnya, Senin, (25/5).

Anton menjelaskan ketergantungan impor membuat dampak pelemahan rupiah merembet hingga desa. Ia mencontohkan kedelai untuk tempe, jagung pakan ternak, hingga sejumlah bahan pendukung industri pangan masih bergantung pada pasar luar negeri. Kondisi itu menyebabkan kenaikan dolar ikut mendorong harga kebutuhan masyarakat.

Menurutnya, persoalan tersebut menunjukkan Indonesia belum serius membangun industri substitusi impor sejak krisis ekonomi 1998. Ia bahkan mengkritik orientasi industri nasional yang dinilai lebih nyaman menjadi pasar bagi produk luar dibanding membangun inovasi sendiri.

“Kita ini sebenarnya tidak punya pengusaha, tapi lebih banyak pedagang. Mereka lebih memilih impor barang jadi dibanding membangun industri sendiri karena dianggap lebih cepat untung,” tegasnya.

Anton juga menyoroti ruang fiskal pemerintah yang semakin sempit di tengah besarnya kebutuhan anggaran negara. Menurutnya, program prioritas nasional tetap memiliki tujuan baik, namun perlu diiringi perhitungan fiskal yang realistis agar tidak menimbulkan kekhawatiran pasar.

Ia mengingatkan kelompok kelas menengah menjadi pihak yang paling rentan menghadapi tekanan ekonomi saat ini. Di satu sisi, mereka menghadapi kenaikan biaya hidup dan ketidakpastian pekerjaan, tetapi di sisi lain tidak banyak menikmati bantuan sosial dari negara.

“Yang paling berat nanti kelas menengah. Mereka tidak mendapat banyak subsidi, tetapi tekanan hidupnya naik. Di sisi lain pekerjaan formal makin berkurang dan bergeser ke sektor informal,” ungkapnya.

Sementara itu, dosen Ilmu Komunikasi UMS bidang komunikasi politik, Dr. Andika Sanjaya, S.I.Kom., M.Si., menilai situasi ekonomi yang sensitif membutuhkan komunikasi publik yang lebih empatik dan adaptif. Menurutnya, pemerintah tidak cukup hanya fokus pada substansi kebijakan, tetapi juga harus memahami bagaimana pesan diterima masyarakat.

“Sekarang satu gestur kecil saja bisa viral dan memunculkan gejolak publik. Pemerintah harus sadar bahwa komunikasi bukan sekadar menyampaikan program, tetapi membangun kesamaan dengan masyarakat,” ujarnya.

Andika menjelaskan era media sosial membuat pola komunikasi politik berubah total. Publik kini lebih aktif, kritis, dan cepat membentuk opini terhadap kebijakan pemerintah. Karena itu, menurutnya, pernyataan pejabat publik harus mampu menangkap sensitivitas masyarakat yang sedang menghadapi tekanan ekonomi.

Ia menilai keberhasilan program seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) maupun Koperasi Desa Merah Putih tidak hanya bergantung pada besarnya program, tetapi juga kemampuan pemerintah menjelaskan urgensi dan manfaatnya secara tepat kepada publik.

“Pemerintah harus memahami apa yang benar-benar dibutuhkan masyarakat. Jangan sampai terlalu fokus pada simbol atau pencitraan program, tetapi melupakan kebutuhan yang paling mendesak di bawah,” katanya.

Andika juga menyinggung kesulitan pemimpin di era digital dalam menjaga dukungan publik akibat derasnya arus informasi dan opini media sosial. Menurutnya, tantangan terbesar pemerintah hari ini bukan hanya mengelola ekonomi, tetapi juga mengelola kepercayaan publik.

Karena itu, ia mendorong pemerintah membangun komunikasi yang lebih partisipatif dengan membuka ruang aspirasi masyarakat secara cepat dan responsif. Menurutnya, komunikasi yang tepat dapat menjadi penyangga penting untuk menjaga stabilitas sosial di tengah tekanan ekonomi global.

Kontributor: Alvian/Humas

Editor: Nurul Fahri

  • Penulis: Adi Kurnia

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Muhammadiyah Telah Melayani 7.225 Penyintas Gempa Bumi NTT

    Muhammadiyah Telah Melayani 7.225 Penyintas Gempa Bumi NTT

    • calendar_month Senin, 7 Sep 2026
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 124
    • 2Komentar

    KABARMUH.ID, JAKARTA (4/9/26) – Pasca gempa bumi berkekuatan 7,7 magnitudo melanda 7 kabupaten di NTT, Muhammadiyah langsung bergerak melalui pilar kemanusiaan yang digawangi MDMC dan Lazismu. Tahap awal respons dilakukan dengan berkoordinasi pihak setempat dan mendirikan Pos Koordinasi Wilayah yang berlokasi di Klinik Muhammadiyah Ende, Jalan Mahoni, Kelurahan Kota Ratu, Kecamatan Ende Utara, kabupaten Ende. Pos […]

  • Ketika Eksistensi Lebih Penting dari Esensi: Refleksi Anak Muda Hari ini

    Ketika Eksistensi Lebih Penting dari Esensi: Refleksi Anak Muda Hari ini

    • calendar_month Sabtu, 27 Sep 2025
    • account_circle Dwi Kurniadi
    • visibility 66
    • 0Komentar

    Oleh: Ahmad Hermanto, Mahasiswa Pendidikan Agama Islam FAI UM Metro dan Ketua Bidang Pengembangan Prestasi Keolahragaan PD IPM Lampung Timur Di zaman serba digital seperti sekarang, ketika segalanya diukur lewat angka like, views, followers, eksistensi manusia perlahan-lahan tak lagi dibentuk oleh nilai, kejujuran, atau kontribusi nyata, tapi oleh seberapa sering ia muncul di layar orang […]

  • Ketua DPP IMM Tekankan Pentingnya Kontekstualisasi dalam Pemahaman Agama

    Ketua DPP IMM Tekankan Pentingnya Kontekstualisasi dalam Pemahaman Agama

    • calendar_month Senin, 14 Apr 2025
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 75
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Surakarta – Peluncuran buku Manifestasi Islam Progresif karya Najihus Salam, Ketua Divisi Kajian KM3Nas DPP IMM, digelar dengan khidmat di Gedung Induk Siti Walidah Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) pada Ahad, 13 April 2025. Kegiatan ini menjadi panggung penting bagi diskursus Islam progresif, khususnya melalui sorotan tajam dari Muhammad Hasnan Nahar, S.Thi., M.Ag., Ketua DPP […]

  • FKIP UMS Gelar Konferensi Internasional, Bahas Inovasi Pendidikan Berbasis Teknologi

    FKIP UMS Gelar Konferensi Internasional, Bahas Inovasi Pendidikan Berbasis Teknologi

    • calendar_month Sabtu, 7 Des 2024
    • account_circle Najihus Salam
    • visibility 202
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, SURAKARTA – Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menyelenggarakan International Conference on Learning and Advanced Education (ICOLAE) 2024, konferensi pendidikan berskala internasional. Acara ini digelar pada Sabtu, (7/12) yang dilakukan secara hybrid yaitu secara luring bertempat di Auditorium Mohamad Djazman, Kampus I UMS dan melalui Zoom Meeting. Pada tahun […]

  • Rocky Gerung: Krisis Etos Republikan dan Urgensi Menempatkan Polisi dalam Bingkai Demokrasi

    Rocky Gerung: Krisis Etos Republikan dan Urgensi Menempatkan Polisi dalam Bingkai Demokrasi

    • calendar_month Rabu, 4 Feb 2026
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 88
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Yogyakarta – Filsuf sekaligus akademisi Rocky Gerung menilai demokrasi Indonesia tengah mengalami krisis etos republikanisme. Demokrasi, menurutnya, kian direduksi menjadi sekadar prosedur kekuasaan dan kemenangan elektoral, tanpa pijakan nilai yang berpihak pada kepentingan publik. Pandangan tersebut disampaikan Rocky saat menjadi pembicara kunci dalam Konferensi Akademik “Masa Depan Demokrasi: Polisi, Militer, dan Gerakan Sosial” yang […]

  • PFA Jadi Bekal Penting Relawan di Tengah Situasi Krisis?

    PFA Jadi Bekal Penting Relawan di Tengah Situasi Krisis?

    • calendar_month Rabu, 27 Mei 2026
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 97
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, MAGELANG – Setelah sesi materi umum mengenai psikologi sosial dan dinamika politik, kegiatan dilanjutkan dengan materi bertajuk “Urgensi dan Pengantar Psychological First Aid (PFA)” yang disampaikan oleh Wanodya Kusumastuti. (23/5/26) Materi ini memberikan pemahaman praktis mengenai pentingnya pertolongan pertama psikologis bagi penyintas bencana maupun situasi krisis. Kegiatan yang berlangsung di Magelang ini diawali dengan […]

expand_less