
Oleh: Irsyad Hakim Affandi (Mahasiswa Pendidikan Agama Islam UMS)
Perkembangan teknologi dan pengetahuan pada abad ke-21 telah mengubah cara manusia menjalani kehidupan. Kecerdasan buatan, big data, rekayasa genetika, serta kemampuan manusia dalam memprediksi dan memengaruhi alam menunjukkan bahwa manusia saat ini memiliki kemampuan yang jauh lebih besar dibandingkan sebelumnya. Manusia tidak lagi sekadar memanfaatkan alam untuk memenuhi kebutuhan hidup, tetapi mulai mampu mengolah, memodifikasi, bahkan mengendalikan berbagai aspek kehidupan.
Dalam bukunya yang berjudul Homo Deus, Yuval Noah Harari menggambarkan perubahan posisi manusia dalam perkembangan peradaban. Jika dahulu manusia lebih banyak berjuang untuk bertahan hidup dan menghadapi berbagai keterbatasan, kini manusia mulai berusaha mengatasi keterbatasan tersebut melalui penguasaan teknologi dan pengetahuan. Penyakit berusaha ditaklukkan, usia manusia terus diupayakan untuk diperpanjang, kemampuan manusia ingin ditingkatkan, bahkan kehidupan itu sendiri mulai dipelajari dan dimodifikasi.
Di titik ini, manusia seperti sedang memasuki babak baru. Jika dahulu teknologi hanya membantu manusia melakukan sesuatu yang tidak mampu ia lakukan sendiri, sekarang teknologi mulai memperluas kemampuan dan kekuasaan manusia atas kehidupannya. Manusia bukan hanya ingin hidup lebih nyaman, tetapi juga ingin mengetahui lebih banyak, mengendalikan lebih banyak, dan menentukan lebih banyak hal.
Inilah yang membuat gagasan Homo Deus menarik untuk direnungkan. Bukan karena manusia benar-benar dapat menjadi Tuhan, melainkan karena perkembangan teknologi menunjukkan bahwa manusia kini mampu melakukan berbagai hal yang dahulu berada di luar jangkauan akal dan pikirannya. Apa yang sebelumnya mungkin dianggap mustahil, perlahan mulai dapat dilakukan melalui perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Lalu, di tengah semua perkembangan tersebut, muncul satu pertanyaan penting untuk kita renungkan: ketika manusia semakin mampu melakukan banyak hal, apakah ia masih menyadari bahwa dirinya tetap memiliki batas?
Pertanyaan ini penting karena persoalan teknologi sebenarnya bukan hanya soal kecanggihan. Kita sering kali terlalu sibuk membicarakan apa yang dapat dilakukan oleh teknologi, tetapi jarang berhenti sejenak untuk memikirkan apa yang terjadi pada manusia ketika ia memiliki kemampuan yang semakin besar.
Pada awalnya, teknologi lahir dari keterbatasan manusia. Manusia tidak dapat berpindah dengan cepat, kemudian ia menciptakan kendaraan. Manusia tidak dapat berkomunikasi dalam jarak jauh, kemudian ia menciptakan berbagai alat komunikasi. Manusia tidak mampu melihat benda yang sangat kecil, kemudian ia menciptakan mikroskop, dan sebagainya. Dalam hal ini, dapat dipahami bahwa manusia menggunakan akal dan pikirannya untuk menjawab keterbatasan yang ia miliki.
Namun, semakin jauh teknologi berkembang, hubungan manusia dengan keterbatasannya pun ikut berubah. Hari ini, teknologi tidak lagi hanya digunakan untuk membantu manusia menyelesaikan pekerjaan sehari-hari, tetapi juga untuk memahami, memengaruhi, bahkan mengubah berbagai aspek kehidupan dalam skala yang jauh lebih besar.
Melalui big data, misalnya, manusia dapat membaca pola perilaku jutaan orang dan memperkirakan kecenderungan tindakan mereka. Data dari riwayat pencarian, kebiasaan berbelanja, hingga aktivitas di media sosial dapat digunakan untuk memahami apa yang diminati atau kemungkinan pilihan seseorang. Di sisi lain, kecerdasan buatan memungkinkan manusia menciptakan sistem yang mampu mengolah informasi dalam jumlah besar dalam waktu yang sangat singkat. Sementara itu, melalui rekayasa genetika, manusia mulai memasuki wilayah kehidupan biologis yang sebelumnya sulit dijangkau.
Semua itu tentu merupakan pencapaian besar. Tidak ada alasan untuk menolak ilmu pengetahuan hanya karena takut terhadap perubahan. Islam menempatkan ilmu sebagai sesuatu yang penting dalam kehidupan manusia. Persoalannya muncul bukan ketika manusia berilmu atau mampu menciptakan teknologi, melainkan ketika kemampuan tersebut mulai mengubah cara manusia melihat dirinya sendiri. Sebab, kemampuan yang besar dapat melahirkan perasaan berkuasa.
Ketika manusia mulai mampu memprediksi berbagai hal, mengendalikan informasi, memengaruhi perilaku manusia lain, bahkan melakukan perubahan terhadap kehidupan, bukan tidak mungkin muncul anggapan bahwa manusia pada akhirnya dapat menyelesaikan segala persoalannya dengan kekuatannya sendiri. Pada titik inilah, kita perlu berhenti sejenak dan melakukan muhasabah.
Apakah semakin besar kemampuan dan pengetahuan manusia membuatnya semakin bijaksana? Ataukah justru sebaliknya, kemampuan tersebut membuat manusia semakin yakin bahwa dirinya tidak lagi membutuhkan batas?
Di sinilah pentingnya melihat persoalan tersebut melalui perspektif Islam. Manusia memang diberi akal dan kemampuan untuk belajar. Manusia diperintahkan untuk membaca, berpikir, dan memperhatikan alam. Artinya, berkembangnya ilmu pengetahuan bukanlah sesuatu yang bertentangan dengan posisi manusia sebagai makhluk. Justru masalah muncul ketika manusia mulai lupa bahwa kemampuan yang dimilikinya tetap memiliki sumber dan batas.
Manusia dapat menciptakan pesawat, tetapi ia tidak menciptakan hukum yang membuat pesawat dapat terbang. Ia hanya mempelajari hukum tersebut, kemudian memanfaatkannya. Manusia dapat mengembangkan kecerdasan buatan, tetapi ia tidak menciptakan akal, logika, materi, dan hukum yang memungkinkan teknologi tersebut bekerja. Manusia dapat melakukan rekayasa genetika, tetapi ia tetap bekerja dengan kehidupan yang telah ada.
Dengan kata lain, manusia memang dapat menciptakan, tetapi penciptaannya selalu berangkat dari sesuatu yang sudah tersedia. Manusia mengolah, mengembangkan, menggabungkan, dan memanfaatkan. Kemampuan inilah yang menunjukkan keistimewaan manusia sebagai makhluk yang berakal. Namun, kemampuan tersebut tetap berbeda dengan kekuasaan Tuhan.
Dalam konteks ini, pemikiran Al-Farabi dapat membantu kita memahami kembali posisi manusia. Melalui akalnya, manusia mampu memahami realitas, mengembangkan pengetahuan, dan membangun peradaban. Akan tetapi, sebesar apa pun perkembangan yang berhasil dicapai, manusia tetap tidak keluar dari posisinya sebagai makhluk. Manusia dapat memanfaatkan dan mengembangkan apa yang telah ada, tetapi tidak menciptakan keberadaan dari ketiadaan.
Karena itu, semakin besar kemampuan manusia, seharusnya semakin besar pula kesadaran akan tanggung jawab dan keterbatasannya. Kemajuan teknologi tidak seharusnya membuat manusia merasa menjadi penguasa atas segala sesuatu. Sebaliknya, kemajuan tersebut seharusnya menjadi pengingat bahwa di balik setiap penemuan terdapat begitu banyak hal yang masih belum sepenuhnya dipahami manusia.
Pada akhirnya, persoalannya bukanlah seberapa jauh teknologi dapat berkembang. Yang lebih penting adalah bagaimana perkembangan tersebut memengaruhi cara manusia memahami dirinya sendiri. Sebab, masalah terbesar bukan ketika manusia memiliki kemampuan yang semakin besar, melainkan ketika kemampuan tersebut membuatnya lupa bahwa, sebesar apa pun kekuasaannya, ia tetaplah seorang makhluk.
Editor : Amtsal Ajhar



