Quranic Literacy 4.0: Mengemas Materi Al-Qur’an dengan Desain Media Interaktif untuk Generasi Z
- account_circle Naura Zulfah Salsabila
- calendar_month Jumat, 2 Okt 2026
- visibility 12
- comment 0 komentar
- print Cetak

gambar: gemini
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Coba perhatikan anak-anak muda zaman sekarang kelompok usia yang biasa kita sebut sebagai Gen Z. Mereka adalah generasi digital native yang hampir tidak pernah bisa lepas dari gawai (smartphone) di genggaman tangan mereka. Bangun tidur, hal pertama yang dicari bukan lagi koran atau buku catatan fisik, melainkan layar ponsel untuk mengecek notifikasi. Jari-jari mereka begitu lincah menggulir linimasa TikTok, menikmati estetika visual yang cepat di Instagram Reels, atau menyerap informasi padat dalam hitungan detik melalui YouTube Shorts. Bagi mereka, dunia digital adalah rumah kedua, tempat mereka bermain, mencari informasi, bersosialisasi, sekaligus mengekspresikan diri yang paling nyaman.
Namun, mari kita bandingkan pemandangan tersebut dengan suasana di ruang-ruang kelas ngaji, TPQ, atau madrasah. Sering kali, cara kita mengajarkan Al-Qur’an masih jalan di tempat.[1] Guru berceramah panjang lebar di depan kelas dengan metode satu arah, sementara murid mendengarkan sambil memandangi buku teks yang tulisannya padat, atau menghafal ayat secara repetitif.[2] Hal tersebut mengakibatkan tidak sedikit remaja kita yang merasa belajar Al-Qur’an itu membosankan, kaku, dan kurang relevan dengan keseharian mereka.[3]
Maka inilah letak masalah yang harus segera kita selesaikan. Al-Qur’an sebagai kitab suci pedoman hidup umat Islam tidak pernah ketinggalan zaman oleh kemajuan apapun. Masalahnya ada pada cara kita menyampaikan materinya dan media yang kita gunakan yang tertinggal dari laju zaman. Supaya anak-anak muda kembali jatuh cinta pada Al-Qur’an, kita perlu menggabungkan dua hal penting: materi pembelajaran Al-Qur’an yang pas dan desain media digital yang interaktif.[4] Supaya anak-anak muda kita kembali jatuh cinta pada Al-Qur’an, kita perlu melakukan revolusi kecil dengan menggabungkan dua pilar utama: materi pembelajaran Al-Qur’an yang tajam secara substansi dan desain media digital yang interaktif.
1.Memperbarui Materi Al-Qur’an Agar Lebih Dekat dengan Keseharian
Akhir – akhir ini materi Al-Qur’an sering kali dipersempit maknanya, sebatas belajar hukum tajwid atau menghafal ayat tanpa memahami konteks dan pesannya secara mendalam. Agar ramah bagi Generasi Z, materi ini wajib dikemas ulang secara lebih kontekstual dan dekat dengan realitas hidup mereka.[5]
Sebagai contoh nyata, ketika seorang guru mengajarkan ayat-ayat tentang kesabaran atau ujian hidup, materi tersebut tidak perlu dijelaskan secara abstrak atau kaku. Guru bisa membungkus pembahasannya dengan tema kekinian seperti “Mengatasi Overthinking dan Kecemasan ala Al-Qur’an: Menemukan Ketenangan di Tengah Badai Informasi”. Dengan pendekatan tematik yang menyentuh masalah psikologis remaja saat ini, mereka akan merasa bahwa Al-Qur’an benar-benar hadir sebagai solusi nyata atas problem hidup yang mereka hadapi sehari-hari.
Dengan pendekatan tematik yang menyentuh problem psikologis remaja seperti tekanan sosial, pencarian jati diri, hingga rasa insecure mereka akan merasa bahwa Al-Qur’an bukan sekadar teks kuno di atas kertas, melainkan sebuah panduan hidup nyata yang benar-benar menjawab persoalan hidup mereka hari ini. Materi yang membumi seperti inilah yang akan mengubah cara pandang mereka terhadap kitab suci.[6]
2.Menggunakan Desain Media Interaktif yang Seru
Materi yang sudah bagus pun akan terasa hambar jika disampaikan dengan cara yang membosankan. Mengingat Gen Z adalah tipe pembelajar visual yang menyukai kecepatan dan keindahan visual, kita wajib memanfaatkan teknologi desain media pembelajaran yang menarik[7]:
- Infografis Estetik dan Video Animasi: Penjelasan hukum tajwid yang rumit (seperti perbedaan Idgham Bi Ghunnah dan Bila Ghunnah) atau sejarah turunnya ayat bisa diubah menjadi infografis penuh warna di Instagram atau video animasi pendek berdurasi semenit yang mudah dicerna.[8]
- Belajar Sambil Bermain (Gamification): Proses evaluasi hafalan (tahfiz) atau kuis pemahaman isi Al-Qur’an kini bisa disulap menjadi permainan yang kompetitif dan menyenangkan menggunakan aplikasi gratis seperti Quizizz, Wordwall, atau Kahoot.[9] Belajar mengaji dan mendalami ayat suci pun rasanya seperti sedang bermain game seru bersama teman-teman.
3.Tantangan Kita Bersama: Guru Harus Melek Teknologi
Transformasi pembelajaran Al-Qur’an hari ini tidak bisa dilepaskan dari pergeseran kultur masyarakat kita yang semakin cepat mengadopsi budaya digital. Orang tua di rumah dan para guru di lembaga pendidikan formal sering kali dihadapkan pada dilema kultural: di satu sisi anak-anak sangat mahir mengoperasikan teknologi hiburan di gawai mereka, namun di sisi lain penguasaan terhadap literasi keagamaan terasa semakin menjauh dari keseharian mereka. Jika ekosistem belajar Al-Qur’an tidak segera diadaptasikan dengan atmosfer digital yang akrab bagi mereka, dikhawatirkan akan terjadi jurang pemisah antargenerasi dalam memahami nilai-nilai spiritual.
Transformasi besar ini tidak akan pernah terwujud jika para pengajar Al-Qur’an sendiri enggan belajar dan keluar dari zona nyaman. Seorang guru ngaji, guru TPQ, atau pendidik agama di sekolah masa kini dituntut untuk jauh lebih kreatif dan adaptif.[10] Guru bukan lagi sekadar penasihat satu arah, melainkan fasilitator belajar yang andal dalam merancang media pembelajaran yang asyik.[11]
Maka ada satu prinsip dasar yang tidak boleh ditawar: menjaga kesakralan teks Al-Qur’an. Sekeren atau seinteraktif apa pun media digital yang kita buat, kehormatan kalam Ilahi harus tetap dijaga dengan sangat hati-hati agar tidak melenceng dari adab Islam.[12]
4.Urgensi Kolaborasi antara Pendidik, Orang Tua, dan Kreator Konten
Keberhasilan penerapan Quranic Literacy 4.0 juga sangat bergantung pada seberapa kuat kolaborasi yang terjalin antara tiga pilar utama: guru di sekolah, orang tua di rumah, dan para kreator konten muslim. Pendidik tidak bisa lagi berjalan sendiri tanpa dukungan lingkungan keluarga yang kondusif dalam mengontrol penggunaan gawai anak. Di sinilah pentingnya peran komunitas kreatif untuk merancang alternatif konten positif berupa aplikasi interaktif, gim edukasi bernuansa Islami, serta video animasi inspiratif yang ramah anak. Ketika ketiga elemen ini bergerak secara selaras, gawai yang selama ini sering dianggap sebagai ancaman terbesar bagi konsentrasi belajar anak justru bisa disulap menjadi jembatan emas yang mendekatkan mereka pada kecintaan yang mendalam terhadap Al-Qur’an.[13]
5.Tantangan Kita Bersama: Mengubah Pendidik Menjadi Fasilitator Kreatif
Wacana besar tentang Quranic Literacy 4.0 ini tidak akan pernah bisa terwujud di dunia nyata jika para pengajar Al-Qur’an sendiri enggan belajar, merasa cukup dengan metode lama, dan takut keluar dari zona nyaman. Realitas di lapangan menunjukkan bahwa banyak guru ngaji atau pendidik agama yang masih gagap menghadapi arus digitalisasi.
Seorang guru TPQ, guru madrasah, atau dosen pendidik agama Islam di era modern dituntut untuk jauh lebih kreatif, adaptif, dan terbuka terhadap perkembangan teknologi. Guru masa kini tidak lagi diposisikan sebagai figur otoriter yang hanya duduk di depan kelas untuk menyuruh dan menyimak hafalan satu arah. Sebaliknya, guru harus bertransformasi menjadi fasilitator belajar yang andal, yaitu seseorang yang mampu merancang pengalaman belajar yang menyenangkan, menguasai aplikasi digital, dan mengemas materi keislaman dengan daya tarik estetika yang tinggi.[14]
Dalam kebebasan berekspresi dan mendesain media digital, ada satu prinsip fundamental yang sama sekali tidak boleh ditawar: menjaga kesakralan dan kehormatan teks Al-Qur’an. Seberapa modern, keren, atau interaktif pun media digital yang kita ciptakan, adab terhadap kalam Ilahi harus tetap dijaga dengan sangat ketat. Kreatif boleh, tetapi jangan sampai kebablasan hingga membuat konten atau animasi yang justru merendahkan marwah ayat-ayat suci Al-Qur’an.[15]
Kesimpulan
Mewujudkan gerakan Quranic Literacy 4.0 bukanlah sebuah upaya lancang untuk mengubah isi, hukum, atau substansi murni dari Al-Qur’an. Sebaliknya, ini adalah ikhtiar kultural dan pedagogis untuk mencari jembatan yang kokoh agar mutiara hikmah di dalam Al-Qur’an bisa sampai dengan mulus ke lubuk hati anak-anak muda kita.
Ketika materi pembelajaran diracik secara kontekstual menyentuh realitas hidup dan dipadukan secara harmonis dengan desain media digital yang interaktif, stigma bahwa Al-Qur’an itu kaku akan runtuh dengan sendirinya. Al-Qur’an tidak lagi dilihat sebagai kitab asing yang hanya tersimpan rapi di rak buku tertinggi, melainkan akan benar-benar hidup di tengah genggaman generasi digital, terpancar indah lewat layar gawai mereka, serta menuntun setiap langkah hari-hari mereka dengan penuh makna, ketenangan, dan kecintaan yang mendalam.
[1] Karnada Nasution dan Hamdan Hasibuan, Pengembangan Media Pembelajaran Al-Qur’an Hadis Berbasis Google Sites di MTsN 4 Mandailing Natal, 5, no. 1 (2025).
[2] Siti Waaqiah Khofidhotur Rofiah dkk., “Pemanfaatan Media Pembelajaran Interaktif dalam Meningkatkan Minat Belajar Siswa pada Mata Pelajaran Al-Qur’an Hadis di Madrasah Ibtidaiyah,” Jurnal Manajemen dan Pendidikan Agama Islam 4, no. 2 (2026): 126–35, https://doi.org/10.61132/jmpai.v4i2.1941.
[3] Novia Ulfa dkk., “Analisis Efektivitas Media Interaktif dalam Meningkatkan Partisipasi Belajar Siswa pada Pembelajaran Agama Islam di Era Digital,” CARONG: Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora 2, no. 2 (2025): 649–59, https://doi.org/10.62710/7ngxap43.
[4] Andri Nirwana An dkk., “PELATIHAN METODE TAJDIED UNTUK PENINGKATAN MEMBACA AL-QUR’AN SISWA SD MUHAMMADIYAH PROGRAM KHUSUS KOTTABARAT,” Jurnal Pema Tarbiyah 2, no. 1 (2023): 50, https://doi.org/10.30829/pema.v2i1.2361.
[5] Anisa Nur Izzati Sukmaningtyas dkk., “Etika Komunikasi Al-Qur’an dan Relevansinya dengan Komunikasi di Zaman Modern,” Jurnal Semiotika-Q: Kajian Ilmu al-Quran dan Tafsir 4, no. 2 (2024): 556–76, https://doi.org/10.19109/jsq.v4i2.23981.
[6] Tafsir Al-Mizān, HIKMAH DALAM AL-QUR’AN: STUDI TEMATIK TERHADAP, 20, no. 2 (t.t.).
[7] Amna Ali dkk., “Efektivitas Media Pembelajaran Interaktif dalam Meningkatkan Minat dan Motivasi Belajar Siswa Sekolah Dasar,” Journal of Information System and Education Development 3, no. 1 (2025): 1–6, https://doi.org/10.62386/jised.v3i1.115.
[8] Rahma Fatmona, Penggunaan Teknologi Informasi dalam Pembelajaran Al-Qur’an Hadits Studi Kasus di Kelas IXA MTsN 1 Kepulauan Sula, t.t.
[9] Wasito Wasito, “Pengembangan media pembelajaran al-Qur’an berbasis multimedia interaktif untuk meningkatkan hafalan siswa,” Journal of Islamic Education and Innovation, 30 Juni 2022, 11–22, https://doi.org/10.26555/jiei.v3i1.6109.
[10] Wasito, “Pengembangan media pembelajaran al-Qur’an berbasis multimedia interaktif untuk meningkatkan hafalan siswa”; Abdul Hakim, “Integrasi Media Digital Interaktif Dalam Pengajaran Materi Qur’an dan Hadist,” Jurnal IHSAN : Jurnal Pendidikan Islam 3, no. 3 (2025): 497–504, https://doi.org/10.61104/ihsan.v3i3.1122.
[11] Abdul Hakim, “Integrasi Media Digital Interaktif Dalam Pengajaran Materi Qur’an dan Hadist”; Salami Mahmud dkk., “Penguatan Peran Guru Mengaji melalui Inovasi Teknologi Pembelajaran Al-Qur’an Digital di Komunitas Perkotaan,” JKA 2, no. 2 (2025): 148–61, https://doi.org/10.26811/y43ttx72.
[12] Deni Azhari dan Muhammad Saleh, “Penggunaan Aplikasi Al-Quran Digital Dalam Memperbaiki Bacaan Al-Quran Di Kelas VIII MTS Babussalam Besilam Kecamatan Padang Tualang Kabupaten Langkat,” Jurnal Ilmiah Dan Karya Mahasiswa 1, no. 3 (2023): 01–09, https://doi.org/10.54066/jikma-itb.v1i3.272.
[13] Ari Ismail dkk., “TAHSIN LEARNING STRATEGY AND METHOD TO IMPROVE THE AL-QUR’AN READING QUALITY FOR THE MAJLIS TAFSIR AL-QUR’AN COMMUNITY IN SURAKARTA,” Profetika: Jurnal Studi Islam 24, no. 02 (2023): 393–420, https://doi.org/10.23917/profetika.v24i02.2844.
[14] Salami Mahmud dkk., “Penguatan Peran Guru Mengaji melalui Inovasi Teknologi Pembelajaran Al-Qur’an Digital di Komunitas Perkotaan.”
[15] Eka Selvi Handayani dkk., Urgensi Pemanfaatan Media Pembelajaran Interaktif Pada Pendidikan Tingkat Sekolah Dasar di Era Cybernetics, t.t.
- Penulis: Naura Zulfah Salsabila
- Editor: M. Nur Isholattudin
