Lazismu Luncurkan Buku Fikih Gen Z, Bedah Bukunya Semarakkan Muhammadiyah Zakat Summit 2026
- account_circle Muhammad Faisal Dwi Rifqi
- calendar_month 39 menit yang lalu
- visibility 4
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
KABARMUH.ID.,SEMARANG – Para mahasiswa menyimak penjelasan Ayi Yunus Rusyana, dalam acara peluncuran dan bedah buku Fikih Gen Z. Selama dua jam, Ayi Yunus mengisahkan latar belakang menulis karya ini kepada mahasiswa di Masjid At-Taqwa Universitas Muhammadiyah Semarang (UNIMUS), Kamis 5 November 2026.
Ia mengungkapkan terbitnya buku ini berangkat dari fenomena persoalan yang dihadapi generasi muda, terutama ketika menyikapi persoalan ibadah dan pergaulan sosial dalam keseharian Gen Z. Ia menghadapi dan menemukan generasi ini selalu cepat dalam merespons.
“Topik yang ditemukan banyak, lalu disaring ke dalam beberapa isu. Yang banyak dan ramai dibicarakan seperti soal mendengarkan musik halal atau haram, jilbab dan cadar, lukisan dan video yang berisi makhluk bernyawa, dan persoalan kepekaan sosial, khususnya berbagi terhadap sesama”, paparnya.
Menurutnya, Gen Z ini anti ribet. Gayanya simple dan keren (josjis). Pertanyaannya, kata Ayi Yunus, apakah pengetahuan tentang Fikih Islam itu berat tidak untuk generasi zoomers. Mereka tumbuh, bergaul dalam algoritma media sosial. Gaya bahasa nyentrik, akrab dengan media online.
Oleh karena itu, dalam kesempatan bedah buku itu, dia mengatakan pentingnya pemahaman tentang fikih islam kepada Gen Z. Jika dulu generasi sebelumnya fikih dipelajari dengan mengkaji buku-buku tebal dan menghafal. Sekarang cara itu tidak mungkin diterapkan pada Gen Z.
“Perlu pendekatan dengan story telling yang ringan disertai contoh-contoh nyata yang juga mereka rasakan dalam kesehariannya”, ujar Sekeretaris Dewan Pengawas Lazismu Pusat ini. Dalam bedah buku ini, Ayi Yunus mengulas dengan apik soal bersuci (thaharah) dan filantropi Islam.
Dipandu oleh host Eddy Aqdhiwijaya dari redaksi Gerakan Islam Cinta, diskusi buku berjalan meriah. Ketika merespons persoalan filantropi, kata dia, sering juga kita mendengar istilah gaul Gen Z seperti “orang kaya” diganti dengan “orang have”. Ini menarik, karena selama ini dikenal awam adalah muzaki, dermawan, dan filantropis.
Bahkan dalam suatu kegiatan filantropi yang dilakukan Gen Z, sering diselingi dengan doorprize, giveway dan lainnya. Apakah ini juga bagian dari filantropi Islam? Ayi Yunus mengatakan, hebatnya jika ada sesuatu yang menggerakan sisi kemanusiaan, Gen Z cepat bergerak menghimpun dana.
Ayi Yunus menilai dalam kreativitas filantopi islam hal itu menjadi sesuatu yang baik untuk menarik perhatian. Bahkan mereka mengundang influencer atau tokoh. Tetapi lebih jauh lagi, Ia berharap Gen juga harus bisa mencari mitra kolaborasi seperti lembaga filantropi yang terpercaya untuk menggalang dana.
“Gen Z harus bisa membedakan infak yang sukarela, sedekah yang tidak hanya uang dan zakat yang memiliki ketentuan”, pungkasnya. Lalu Ayi Yunus menyarankan untuk melihat siapa yang mengorganisir. Ada sponsor, individu atau entitas lain sebagai bagian dari kegiatan itu. Mereka mengeluarkan uang zakat atau kegiatan sosial, jelas dosen yang mengajar di UIN Sunan Gunung Djati Bandung tersebut.
Dalam bedah buku itu, Gavin dari SMA 1 Muhammadiyah Semarang, merespons, bagaimana dengan Gen Z yang ketika berwudhu yang penting basah. Ratih seorang mahasiswa keperwatan Unimus, tak ketinggalan. Ia bertanya bagaimana dengan fikih dalam menyikapi orang yang sibuk dan meninggalkan solat.
Dari pertanyaan tersebut, kata Ayi Yunus, inilah pentingnya buku Fikih Gen Z. Jika kita terlalu sibuk itu mudah mengundang stress. Makanya kita ada solat 5 waktu, Jeda dalam waktu solat ini sebagai bentuk mengurangi beban dan agar jiwa tenang dan berwudhu itu tertib sesuai tata caranya.
“Jika tidak ada jeda dalam hidup, kapan punya waktu untuk mengosongkan hidup dari dunia sejenak. Kita harus bisa melepaskan beban itu, dengan solat secara medis hati dan otak kita tenang. Tetapi bila meninggalkannya tentu ada konsekuensi secara hukum Islam”, bebernya.
Pada kesempatan bedah buku tersebut, Ketua Badan Pengurus Lazismu Pusat, Ahmad Imam Mujadid Rais mengatakan nilai penting membaca buku bagi Gen Z. “Memperbanyak pengetahuan tentang fikih islam merupakan salah satu cara untuk menumbuhkan kesadaran dan pemahaman melalui kebiasaan membaca”, katanya.
Senada dengan hal itu, Wakil Rektor III Unimus Eny Wanaryati, menyambut baik peluncuran dan bedah buku ini. “Judulnya sangat bagus. Ada banyak khazanah pengetahuan yang perlu ditimba oleh Gen-Z”, ujarnya seraya mengajak untuk membacanya lebih lanjut.
Peluncuran buku Fikih Gen Z merupakan bagian dari rangkaian agenda nasional Lazismu dalam Muhammadiyah Zakat Summit (MZS) 2026 yang berlangsung di Semarang, Jawa Tengah. Pembukaan MZS akan berlangsung pada Jum’at, 6 November 2026 untuk terus menggelorakan Gerakan zakat di Indonesia.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat]
Editor : Milka Andar Mafrinda
- Penulis: Muhammad Faisal Dwi Rifqi
