Kader Ulama Adaptif di Era Society 5.0, Pondok Shabran UMS Perkuat Budaya Literasi
- account_circle Adi Kurnia
- calendar_month Senin, 7 Sep 2026
- visibility 37
- comment 0 komentar
- print Cetak

Dr. Bachtiar Dwi Kurniawan, S.Fil.I., M.P.A. (tengah kiri) bersama jajaran pimpinan Pondok Shabran UMS
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
KABARMUH.ID; SURAKARTA – Pondok Hajjah Nuriyah Shabran Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) resmi mengawali perkuliahan Semester Gasal T.A. 2026/2027 melalui agenda Stadium General Pondok Shabran UMS. Digelar di Aula Gedung Baru Pondok Shabran UMS, pada Minggu (6/9/2026).
Stadium General menjadi agenda tahunan yang wajib diikuti oleh seluruh mahasantri Pondok Shabran UMS. Pada tahun ini sebanyak 186 mahasantri Pondok Shabran UMS dari jenjang I’dad, Sarjana (S1), hingga Magister (S2). Forum ilmiah tahunan ini menjadi momentum krusial untuk memperkuat arah perkaderan era Society 5.0 bagi seluruh mahasantri.
Mengusung tema “Perkaderan di Era Society 5.0: Melahirkan Kader Ulama yang Adaptif, Inovatif, dan Berorientasi pada Transformasi Sosial”, kuliah umum Pondok Shabran UMS ini menghadirkan Ketua Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Dr. Bachtiar Dwi Kurniawan, S.Fil.I., M.P.A., sebagai narasumber utama.
Dalam sambutannya, Direktur Pondok Shabran UMS, Yayuli, S.Ag., M.P.I., menegaskan pentingnya kesiapan kader ulama Muhammadiyah dalam merespons arus kecerdasan buatan (AI) dan disrupsi teknologi. Dalam laporan akademiknya, ia mengapresiasi capaian luar biasa para mahasantri program I’dad yang menempuh masa persiapan bahasa Arab dan Al-Qur’an.
“Alhamdulillah, keberhasilan program I’dad mencapai 99 persen, di mana mahasantri mampu menyelesaikan hafalan 10 juz Al-Qur’an selama satu tahun. Capaian ini menjadi bekal kuat sebelum mereka melanjutkan studi S1 di Fakultas Agama Islam UMS,” terang Yayuli, Senin (7/9/2026).
Ia mengatakan pentingnya penguasaan bahasa asing sebagai respon perkembangan teknologi dan untuk menyongsong visi gerakan internasionalisasi Muhammadiyah. Dengan penguasaan bahasa yang kuat, kader-kader Muhammadiyah dapat mengekspansi arah gerak Muhammadiyah yang lebih luas.
“Di Pondok Shabran ini memiliki dua program bahasa, yakni bahasa Arab yang difokuskan selama satu tahun pertama mahasantri dan bahasa Inggris yang diberikan selama masa dauroh dan bersifat sunnah. Sehingga ini menjadi bentuk ikhtiar mencetak wajah masa depan generasi persyarikatan dan bangsa,”
Yayuli juga berpesan agar mahasantri Pondok Shabran dapat menanamkan inklusivitas dalam pergaulan, tidak menutup diri dengan membatasi pergaulan. Menjalin hubungan dengan berbagai komunitas atau agama lain menjadi ciri khas karakter mahasantri Pondok Shabran.
Dalam sesi pemaparan materi, Dr. Bachtiar Dwi Kurniawan, S.Fil.I., M.PA., memaparkan bahwa kader ulama Muhammadiyah masa depan tidak boleh gagap menghadapi teknologi modern seperti big data dan otomatisasi.
Menurutnya, kader Pondok Shabran UMS wajib memadukan tiga pilar epistemologi, yaitu, Bayani, Burhani, dan Irfani, agar mampu menghadirkan solusi peradaban yang mencerahkan.
“Kader ulama Muhammadiyah harus memiliki kedalaman spiritual sekaligus keberanian dalam memimpin transformasi sosial di era Society 5.0,” jelasnya.
Bachtiar juga menerangkan bahwa membaca menjadi aktivitas yang tidak pernah ditinggalkan selama masa studinya dulu. Menurutnya, membaca dapat menumbuhkan inklusivitas terhadap keberagaman karakter dan ideologi masyarakat.
Terutama di era Society 5.0, lanjutnya, kegiatan membaca semakin penting, sebagai bentuk sintesis generasi yang kuat secara intelektual dan tidak gagap pada teknologi.
“Jangan puas dengan membatasi diri dengan bacaan tertentu, semua genre buku dapat kalian baca untuk memperluas wawasan keilmuan,” pungkasnya.
Kontributor: Hamam/Affiq/Humas
Editor: Nurul Fahri
- Penulis: Adi Kurnia
Saat ini belum ada komentar