Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Esai » Ketika Eksistensi Lebih Penting dari Esensi: Refleksi Anak Muda Hari ini

Ketika Eksistensi Lebih Penting dari Esensi: Refleksi Anak Muda Hari ini

  • account_circle Dwi Kurniadi
  • calendar_month Sabtu, 27 Sep 2025
  • visibility 66
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Ahmad Hermanto, Mahasiswa Pendidikan Agama Islam FAI UM Metro dan Ketua Bidang Pengembangan Prestasi Keolahragaan PD IPM Lampung Timur

Di zaman serba digital seperti sekarang, ketika segalanya diukur lewat angka like, views, followers, eksistensi manusia perlahan-lahan tak lagi dibentuk oleh nilai, kejujuran, atau kontribusi nyata, tapi oleh seberapa sering ia muncul di layar orang lain. Kita, sadar atau tidak, mulai lebih sibuk membangun citra daripada memperdalam makna. Kita lebih peduli dengan bagaimana orang melihat kita, dibanding siapa sebenarnya diri kita. Media sosial menjelma jadi semacam etalase hidup, tempat kita menampilkan versi paling menarik dari diri sendiri: yang estetik, yang tersenyum bahagia, yang berprestasi, yang sukses. Padahal, sering kali semua itu hanya permukaan. Di baliknya, tersembunyi kegelisahan, kekosongan, kelelahan, bahkan krisis identitas yang tak pernah muncul di feed.

Kita jadi terbiasa mengedit realita agar tampak ideal. Menghias kekurangan dengan filter. Menyembunyikan kegagalan di balik caption bijak. Kita menjadi sangat piawai membentuk kesan, tapi sering kali kehilangan keaslian. Ketika kita terlalu fokus pada “tampilan”, kita mulai lupa pada “substansi”. Ketika kita hanya mengejar yang viral, kita mengabaikan yang bernilai. Ketika kita hanya ingin cepat terlihat, kita rela memangkas proses yang seharusnya kita jalani.

Kita jadi takut terlihat biasa. Takut tidak dikenal. Takut tenggelam dalam keramaian. Ketakutan itu mendorong kita untuk terus muncul, terus eksis, terus tampil. Bahkan jika itu berarti menjadi orang lain. Bahkan jika itu berarti menggadaikan prinsip, integritas, dan jati diri. Kita mulai mengejar eksistensi dengan cara-cara instan seperti sensasi, drama, kontroversi. Kita rela menciptakan persona palsu demi validasi dari orang-orang yang bahkan tak benar-benar mengenal kita.

Padahal, pertanyaannya sederhana: siapa kita ketika tak ada yang menonton? Ketika semua layar mati, ketika tidak ada yang menyorot, ketika tidak ada yang memuji atau memberi komentar? Apakah kita masih bisa merasa cukup? Masih bisa merasa berharga? Itulah esensi sejati dari keberadaan kita. Sebab yang benar-benar membentuk manusia bukanlah sorotan, bukan popularitas, tapi proses yang dilalui dalam diam, dalam senyap, dalam perjuangan panjang yang tak selalu disukai algoritma.

Sayangnya, dalam budaya hari ini, yang pelan dianggap tertinggal. Yang mendalam dianggap membosankan. Yang tulus dianggap kurang menarik. Kita seperti hidup dalam kompetisi terus-menerus untuk menjadi pusat perhatian. Padahal, perhatian itu mudah datang dan mudah pula hilang. Hari ini kita bisa viral, besok kita bisa dilupakan. Jika kita hanya hidup demi sorotan, maka hidup kita akan cepat habis ditelan ekspektasi dan tekanan yang tak pernah selesai.

Tapi, apakah kita harus terus begitu? Terus mengikuti arus? Terus membentuk diri demi disukai, daripada memahami diri agar bisa hidup bermakna? Saya percaya, masih banyak anak muda yang tidak terjebak dalam kegilaan ini. Mereka yang tidak sibuk mengejar eksistensi palsu, tapi fokus membangun esensi sejati. Mereka yang diam-diam membaca, belajar, mencipta, mengabdi. Mereka yang lebih memilih kualitas daripada popularitas. Mereka yang membangun sesuatu yang bernilai walau tidak banyak diketahui orang.

Justru mereka inilah yang bangsa butuhkan. Bukan mereka yang paling sering ada, tapi mereka yang paling punya pengaruh nyata. Bukan yang paling viral, tapi yang paling konsisten. Bukan yang paling mencolok, tapi yang paling berdampak. Karena eksistensi sejati hanya bisa tumbuh dari esensi yang kuat. Tanpa esensi, eksistensi hanyalah panggung kosong. Cepat dikenal, tapi juga cepat terlupakan.

Menjadi seseorang yang benar-benar hidup bukan berarti harus selalu terlihat. Terkadang, justru di balik layar itulah proses paling penting sedang terjadi. Saat kita berjuang dalam kesunyian, bertumbuh tanpa disorot, bekerja tanpa banyak pujian, itulah momen yang membentuk karakter kita. Menjadi kuat tanpa pamer. Menjadi bijak tanpa disanjung. Menjadi terkenal tanpa validasi digital.

Hari ini, kita dihadapkan pada pilihan: ingin dikenal banyak orang tapi kehilangan diri sendiri, atau ingin mengenal diri sendiri meski tak banyak dikenal orang? Ingin terus hidup dalam pencitraan, atau ingin hidup dalam ketulusan? Ingin memburu perhatian cepat, atau membangun dampak jangka panjang? Hidup yang bermakna tak diukur dari banyaknya sorakan, tapi dari nilai-nilai yang kita pegang, dari kebaikan yang kita tebarkan, dari dampak nyata yang kita lakukan.

Maka, mari kita bertanya lagi pada diri sendiri, untuk apa kita hidup: untuk terlihat, atau untuk benar-benar menjadi? Untuk dikenang karena popularitas, atau dihormati karena integritas? Untuk tampil, atau untuk tumbuh? Dunia hari ini mungkin sedang ramai dengan keterlihatan, tapi justru karena itulah kita butuh lebih banyak orang yang memilih kedalaman. Yang memilih untuk tidak hanya tampil mengesankan, tapi hidup dengan makna. Yang memilih membangun pondasi kuat meski tak tampak, karena mereka tahu, saat badai datang, yang akan bertahan bukanlah yang paling viral, tapi yang paling berakar.

Jadi, jika hari ini kamu merasa tertinggal karena tak banyak dilihat orang, ingatlah bahwa yang hebat tak selalu terlihat. Dan yang terlihat, belum tentu hebat.

  • Penulis: Dwi Kurniadi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Songsong Ramadhan 1445 H, UAD mengadakan Pengajian dan Launching logo “Ramadhan Di Kampus (RDK)”

    Songsong Ramadhan 1445 H, UAD mengadakan Pengajian dan Launching logo “Ramadhan Di Kampus (RDK)”

    • calendar_month Jumat, 8 Mar 2024
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 276
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Yogyakarta – Bulan Ramadhan 1445 H. tinggal beberapa hari lagi. Umat Islam bersiap-siap menyambut bulan yang penuh berkah ini. Di mana bulan Ramadhan merupakan bulan yang dimuliakan oleh Allah SWT. Salah satunya dengan mengadakan pengajian dalam songsong Ramadhan pada tahun ini. Lembaga Pengembangan Studi Islam (LPSI) Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta, pada Jum’at (08/03) mengadakan […]

  • Bikersmu Chapter Batam Rihlah Dakwah ke Tanjungpinang

    Bikersmu Chapter Batam Rihlah Dakwah ke Tanjungpinang

    • calendar_month Selasa, 4 Nov 2025
    • account_circle Dwi Kurniadi
    • visibility 59
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, TANJUNG PINANG – Bikersmu Chapter Batam Korwil Kepulauan Riau dan Korps Muballigh Muhammadiyah (KMM) Kota Batam menyelenggarakan kegiatan Rihlah Dakwah dari Batam ke Tanjungpinang via Tanjunguban, Bintan, dengan menaiki kapal Roro pada 1-2 November 2025. Kegiatan ini mendapat dukungan dari Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Batam, Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Kota Batam, dan LazisMu […]

  • Bendum DPP IMM Singgung FOMO-preneur saat Jadi Pembicara di Kopdarnas SUMU

    Bendum DPP IMM Singgung FOMO-preneur saat Jadi Pembicara di Kopdarnas SUMU

    • calendar_month Sabtu, 21 Sep 2024
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 151
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Yogyakarta – Bendahara Umum (Bendum) Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), M. M. Firdaus Su’udi menyinggung terkait fenomena FOMO-preneur yaitu istilah bagi para pengusaha yang ikut-ikutan. “Kadang beratnya kita di IMM itu FOMO, FOMO-preneur gitu. Jadi misal ada teman-teman bikin kaos, semua cabang itu bikin kaos, nanti kalau sudah tidak ada Mastama, […]

  • Launching Program BEM Berdampak UMS: Sinergi Mitigasi Bencana dan Edukasi Stunting di Kelurahan Sewu

    Launching Program BEM Berdampak UMS: Sinergi Mitigasi Bencana dan Edukasi Stunting di Kelurahan Sewu

    • calendar_month Selasa, 7 Okt 2025
    • account_circle Dwi Kurniadi
    • visibility 70
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) melalui Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) resmi meluncurkan program Mahasiswa Berdampak di Kelurahan Sewu, Jebres, Kota Surakarta. Linggar Ardi Prakoso, salah satu perwakilan mahasiswa BEM Berdampak UMS mengungkapkan program yang diberi nama “Transformasi Komunitas Tangguh melalui Edukasi Bencana dan Warisan Kuliner” ini menjadi bagian dari implementasi Program Mahasiswa Berdampak: […]

  • Muhammadiyah Kaltim Bangun 4 Unit Bantuan Hunian Tetap

    Muhammadiyah Kaltim Bangun 4 Unit Bantuan Hunian Tetap

    • calendar_month Rabu, 7 Apr 2021
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 673
    • 0Komentar

    KABARMUH.COM – HST – Pasca pengiriman relawan untuk tanggap bencana di Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan, Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Kaltim masih melanjutkan program pemulihan. Salah satu proyek yang sedang digarap yakni pembangunan hunian tetap bagi korban banjir di desa Patikalain Kecamatan Hantakan. Penanggung jawab program Iwan Sulistyo mengatakan saat ini ada empat hunian […]

  • Sejumlah Amil Zakat Lazismu Ikuti Pelatihan Program Kampung Berkemajuan

    Sejumlah Amil Zakat Lazismu Ikuti Pelatihan Program Kampung Berkemajuan

    • calendar_month Minggu, 4 Agt 2024
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 184
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Jakarta – Menindaklanjuti hasil rekomendasi rakernas tentang pemberdayaan masyarakat (community development) gelar Workshop Panduan, Pelatihan, LFA, dan Asesmen Program Kampung Berkemajuan Inovasi Sosial Berbasis dari tanggal 25 Juli hingga 2 Agustus 2024 di Jakarta. Kegiatan ini diikuti oleh Lazismu Wilayah Jateng, Jatim, Jabar, DIY, dan Lampung. Ketua Badan Pengurus Lazismu, Ahmad Imam Mujadid Rais […]

expand_less