Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Esai » Belajar Seni Hidup Bersosial dari Penyair Jahiliyah

Belajar Seni Hidup Bersosial dari Penyair Jahiliyah

  • account_circle Kabar Muhammadiyah
  • calendar_month Senin, 22 Mar 2021
  • visibility 1.353
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

|Oleh: M. Andhim|

Manusia merupakan makhluk sosial. Di mana komunikasi dan interaksi antar sesamanya menjadi kebutuhan yang mendasar. Menjalani sesuatu sendirian akan terasa berat. Tentu akan lebih mudah jika mau melibatkan banyak pihak. Maka tak salah ungkapan pepatah, “Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing.” Nasehat mulia untuk saling terus bekerja sama.

Jika air di lautan saja bisa pasang juga surut. Demikian halnya hubungan di antara kita. Tidak menetap dan mudah berubah-ubah juga. Seringkali kerenggangan mewarnai hubungan di antara kita bukan? Ahh jujur saja! Wajar kan ya, kita kan manusia yang mustahil luput dari salah dan dosa. Oleh karenanya diperlukan formula untuk menstabilkan hubungan di antara manusia. Dalam hal ini penulis teringat sebuah materi pelajaran sastra arab saat dulu di Ma’had. Kala itu dijelaskan sebuah kisah penyair jahiliyah yang mengajarkan seni bersosial di tengah hidup bermasyarakat.

Dzul Isba’ al-‘Adwani adalah julukannya. Sedang nama aslinya adalah Khursan  bin Haris. Mendapat julukan Dzul Isba’ karena ada riwayat yang mengkisahkan salah satu jempol kakinya dipotong sebab dipatuk ular. Ia merupakan seorang penyair arab pra-Islam yang wafat 22 tahun sebelum tahun Hijriyah. Bapaknya Usaid ini populer dengan kefasihan bahasa dan sya’ir-sya’ir bijaknya. Hingga pada suatu ketika menjelang detik-detik wafatnya, ia mewasiatkan nasehat pada Usaid putra yang disayanginya itu.

            “Alin jaanibaka liqaumika yuhibbuuka. Wa tawadho’ lahum yarfa’uuka. Wabsuth lahum wajhaka yuti’uuka….”

Artinya, “berlemah lembutlah terhadap masyarakatmu, maka mereka akan mencintaimu. Rendahkanlah hatimu, niscaya mereka akan mengangkatmu. Senyumlah di wajahmu, niscaya mereka akan mematuhimu.”

Dari petikan mutiara di atas ada beberapa pesan yang dapat kita jadikan bahan pembelajaran. Pertama, nasehat ini menyadarkan kita bahwa untuk meraih kasih sayang manusia itu tidaklah mahal. Tidak perlu mengeluarkan banyak biaya. Layaknya Raja-Diraja yang memberikan hadiah emas-permata untuk orang yang disukainya. Atau juga prestasi mentereng yang dipersembahkan si jenius pada orang yang diharapkan cinta darinya. Cukup lembutkan hati, dan marilah kita gunakan hati ini untuk menyentuh saudara-saudara kita. Bukankah sesuatu yang datang dari hati ke hati memang lebih bermakna?

Dosa pertama kali sepanjang sejarah yang disebutkan adalah takabur. Takabur atau sikap sombong ini dijelaskan oleh Rasulullah bahwa ada dua kriterianya. ”Batharul haqqi wa ghamtunnasi.” Artinya, menolak kebenaran dan merendahkan manusia. Aktor pertama kalinya tak lain adalah Iblis, makhluk Allah yang bahkan pernah dipercaya menjadi imam di Surga. Kisah ini ternyata mengajarkan pada kita bahwa untuk memperoleh pengakuan, tidaklah dibutuhkan kesombongan. Kita juga tidak perlu meninggi di hadapan manusia, hanya untuk meraih ridho mereka. Justru konsepnya adalah sebaliknya! Bersikaplah rendah hati, karena kerendahan hati itu sebenarnya tidak merendahkan diri sendiri. Apalagi merendahkan harga diri di antara sesama manusia.

Selanjutnya senyum adalah bagian dari ajaran yang mulia. Ada banyak hikmah di baliknya. Sederhana perwujudannya, namun istimewa nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Senyum merupakan lambang kedamaian. Siapa yang melakukannya, tidaklah berlebihan jika dikatakan telah turut menyebarkan perdamaian. Betapa banyak kebencian telah dihilangkan oleh senyum penuh ketulusan. Jika dengan hal sesederhana ini kita mampu meluluhkan hati orang. Patutkah kita  marah-marah untuk meraih apa yang kita inginkan?

“Every action has an equal reaction.” Setiap aksi selalu memiliki reaksi yang setara. Siapa yang tak kenal ungkapan ini? Sebuah teori fisika yang sangat familiar di telinga. Yah, itu adalah bunyi penggalan hukum gaya newton tiga. Di dalamnya menerangkan suatu kaedah bahwa setiap gerakan (aksi) selalu memiliki timbal baliknya tersendiri (reaksi). Bahasa gampangnya sih, gak ada sesuatu yang percuma  gitu ya. Intinya setiap pergerakan akan memicu terjadinya pergerakan baru.

Sama halnya dengan sunatullah di dalam kehidupan bermasyarakat. Setiap kali kita bertindak, tentu akan memicu tindakan baru sebagai respon dari tindakan yang kita lakukan. Pepatah mengatakan, “Man yazro’ yahshud”. Apa yang kita tanam hari ini, itulah yang akan kita panen esok nanti. Sepenggal kisah penyair jahiliyah di atas, setidaknya memberikan banyak ibrah bagi kita. Bahwa apa yang kita lakukan kepada sesama manusia, itulah yang akan mempengaruhi sikap mereka kepada kita.

Barangkali selama ini ada perlakuan buruk yang dialamatkan pada kita. Entah itu dari keluarga, saudara, teman, guru atau siapapun itu. Tidak ada salahnya jika kita mau bermuhasabah. Perlahan memperbaiki diri dan terus berbenah. Jangan-jangan sikap buruk mereka kepada kita, disebabkan oleh perlakuan kita sendiri yang kurang berkenan di hati mereka. Dan tidak ada salahnya jika kita mencoba resep yang telah diwasiatkan oleh Dzul Isba’ kepada putranya. Karena hakekatnya nilai-nilai yang terkandung darinya sama dengan ajaran agama kita. Anjuran untuk menjadi penyayang, rendah hati dan murah senyum. Mari bersama mencoba!

  • Penulis: Kabar Muhammadiyah

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Rakornas II LDK: Muhammadiyah Perkuat Dakwah Al-Ma’un yang Inklusif dan Membumi

    Rakornas II LDK: Muhammadiyah Perkuat Dakwah Al-Ma’un yang Inklusif dan Membumi

    • calendar_month Jumat, 30 Jan 2026
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 6
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Semarang – Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menggelar Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) II. Dalam kesempatan tersebut, Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si., menegaskan kembali fondasi ideologis Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah dan tajdid yang kokoh sejak berdiri pada 1912. Menurut Haedar, nilai, orientasi, dan karakter Muhammadiyah hari ini merupakan kelanjutan […]

  • Haedar Nashir: Apresiasi Seluruh Petugas KPS

    Haedar Nashir: Apresiasi Seluruh Petugas KPS

    • calendar_month Sabtu, 17 Feb 2024
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 367
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, – Hari ini Rabu (14/2) bersama keluarga menggunakan hak pilih sebagai Warga Negara Indonesia bertempat di TPS 12 Jalan Sunan Kudus, Kampung Rukeman, Peleman. Saya sampaikan apresiasi dan penghargaan yang tinggi terhadap para petugas TPS di seluruh Indonesia dan mancanegara bersama perangkatnya. Khususnya kepada Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) […]

  • UNILA Libatkan MDMC Wilayah Lampung dalam Mitigasi Pasca-Bencana di Desa Kunjir

    UNILA Libatkan MDMC Wilayah Lampung dalam Mitigasi Pasca-Bencana di Desa Kunjir

    • calendar_month Kamis, 24 Okt 2024
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 86
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Lampung Selatan – Lembaga Resiliensi Bencana (LRB) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Lampung atau dikenal dengan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Wilayah Lampung terlibat pada keegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat Institusi Universitas Lampung. Pada Sabtu, 19 Oktober 2024 di Desa Kunjir, Kecamatan Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung. Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Fakultas Ilmu Sosial dan […]

  • Lazismu Himpun Dana Bantuan Rp 6 Miliar untuk Korban Gempa NTT

    Lazismu Himpun Dana Bantuan Rp 6 Miliar untuk Korban Gempa NTT

    • calendar_month 16 jam yang lalu
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 23
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, JAKARTA (4/9/26) – Pasca gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT), 15 Agustus 2026 Muhammadiyah langsung memobilisasi sumber daya dari semua unsur yang tergabung di Lembaga Resiliensi Bencana (LRB) atau biasa dikenal Muhammadiyah Disaster Management Centre (MDMC) dari berbagai daerah. Pimpinan Pusat Muhammadiyah melalui Surat Edaran nomor 18/EDR/I.0/H/2026 tanggal 20 Agustus 2026, juga telah […]

  • PWM Kaltim: Lulusan UMKT Harus Jadi Kader Berilmu, Beriman, dan Berkemajuan

    PWM Kaltim: Lulusan UMKT Harus Jadi Kader Berilmu, Beriman, dan Berkemajuan

    • calendar_month Selasa, 14 Okt 2025
    • account_circle Redaksi Kabarmuh
    • visibility 6
    • 0Komentar

    Samarinda – Wisuda ke-13 Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (UMKT) yang digelar pada Selasa (14 Oktober 2025) di Convention Hall Sempaja Samarinda bukan hanya seremoni akademik, melainkan juga peristiwa dakwah yang penuh makna bagi Persyarikatan Muhammadiyah Kalimantan Timur. Suasana khidmat wisuda ke-13 UMKT menjadi saksi kolaborasi antara dunia akademik dan semangat dakwah Muhammadiyah dalam membangun manusia […]

  • Duel Panas Warnai Final Badminton MSC 2025

    Duel Panas Warnai Final Badminton MSC 2025

    • calendar_month Selasa, 5 Agt 2025
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 9
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, SURAKARTA – Duel panas terjadi dalam laga pamungkas cabang olahraga badminton Muhammadiyah Sports Competition 2025, Kamis (31/7). Bertempat di GOR Bolon, Colomadu, Karanganyar, laga tersebut mempertandingkan kategori tunggal putra dan tunggal putri. Pertandingan tunggal putra mempertemukan Kenzie Ivander Vegard dari SD Negeri Tiaran 03 melawan Alvaro Mahardika dari SD Muhammadiyah 1 Ketelan. Di awal […]

expand_less