LDK PWM Kalimantan Timur Paparkan Progres dan Tantangan Dakwah Komunitas di Rakornas II LDK PP Muhammadiyah
- account_circle Kabar Muhammadiyah
- calendar_month Jumat, 30 Jan 2026
- visibility 15
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
KABARMUH.ID, Semarang – Kegiatan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) II Lembaga Dakwah Komunitas Pimpinan Pusat Muhammadiyah diselenggarakan pada 29–31 Januari 2026 di BBPMP Provinsi Jawa Tengah. Rakornas ini menjadi forum strategis untuk mengevaluasi capaian dakwah komunitas sekaligus merumuskan langkah penguatan dakwah berbasis komunitas di berbagai wilayah Indonesia.
Dalam forum tersebut, Ketua LDK PWM Kalimantan Timur, Arif Rahmatullah, M.Pd., menyampaikan laporan progres kegiatan dakwah komunitas yang telah dan sedang dijalankan di wilayah Kalimantan Timur. Ia memaparkan bahwa dakwah komunitas di daerahnya menghadapi tantangan yang cukup kompleks, terutama yang berkaitan dengan persoalan ekologis dan sosial.
Menurutnya, aktivitas pertambangan yang masif di sejumlah wilayah Kalimantan Timur turut berdampak pada kondisi lingkungan dan kehidupan sosial masyarakat. “Realitas pertambangan bukan hanya soal kerusakan ekologis, tetapi juga memunculkan persoalan sosial baru yang membutuhkan pendekatan dakwah yang lebih membumi dan berkelanjutan,” ujar Arif dalam laporannya.
Selain tantangan ekologis, Arif juga menyoroti persoalan moral dan sosial di kalangan generasi muda. Ia menyebut adanya fenomena anak-anak muda yang terpapar perilaku menyimpang, termasuk hubungan sesama jenis, sebagai tantangan serius dakwah komunitas saat ini. “Ini menjadi alarm bagi kita semua bahwa dakwah harus hadir lebih dekat, lebih ramah, dan mampu menjadi ruang aman pembinaan akhlak bagi generasi muda,” tegasnya.
Lebih lanjut, LDK PWM Kalimantan Timur juga telah melakukan pembinaan terhadap berbagai komunitas rentan. Salah satu program yang mendapat perhatian khusus adalah pendampingan dan pembinaan anak-anak yang lahir di luar hubungan pernikahan. Program ini tidak hanya menekankan aspek keagamaan, tetapi juga pendampingan psikososial dan penguatan kepercayaan diri anak.
“Kami berupaya memastikan bahwa dakwah komunitas benar-benar menjadi solusi, bukan stigma. Anak-anak ini harus dirangkul, dibina, dan diberi harapan masa depan yang lebih baik,” tutup Arif.
- Penulis: Kabar Muhammadiyah
Saat ini belum ada komentar