Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Opini » Pemikiran Reformis Pendidikan KH. Mas Mansur

Pemikiran Reformis Pendidikan KH. Mas Mansur

  • account_circle Kabar Muhammadiyah
  • calendar_month Senin, 1 Des 2025
  • visibility 11
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Ade Irpansyah, Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surabaya

Muhammadiyah, yang jadi organisasi Islam terbesar di Indonesia, udah duluan banget dalam nggabungin ajaran Islam sama kebutuhan zaman sekarang, terutama lewat perubahan di bidang pendidikan. Di masa penjajahan Belanda yang penuh tantangan, KH. Mas Mansur (1896-1946) muncul sebagai pemikir keren yang ngepimpin Muhammadiyah hampir dua puluh tahun (1923-1942). Lahir dari keluarga ulama tradisional, dia bikin gagasan tajdid atau pembaruan yang fokusnya pendidikan sebagai kunci maju buat umat Islam.

Pikirannya nggak cuma bikin sistem pendidikan Muhammadiyah lebih hidup, tapi juga jadi dasar pendidikan Islam modern di Indonesia yang ngombinasikan nilai agama sama ilmu pengetahuan yang masuk akal. Essay ini bakal bahas biografi intelektual KH. Mas Mansur, fokusnya perjalanan pendidikannya, latar belakang sejarah yang bikin visinya tentang reformasi pendidikan, plus ide-ide utamanya dalam bangun sistem pendidikan Muhammadiyah. Lewat analisis ini, semoga bisa dipahami betapa relevan pikiran KH. Mas Mansur buat hadapi masalah pendidikan sekarang, kayak inklusivitas dan adaptasi sama globalisasi.

Biografi Intelektual KH. Mas Mansur

Mas Mansur, atau Kiai Haji Mas Mansyur, lahir tanggal 18 Maret 1896 di Mojoagung, Jombang, Jawa Timur, dari keluarga ulama pesantren yang tradisional banget. Ayahnya, KH. Mansyur, adalah kiai yang ngajarin ilmu fiqih dan tasawuf pake metode klasik, jadi pendidikan awal KH. Mas Mansur di pesantren fokus belajar kitab-kitab kuning kayak Fathul Qarib dan Safinatun Najah. Tapi, biografi intelektualnya nunjukin perubahan dari tradisi ke modern; sejak kecil, dia udah penasaran banget dan belajar sendiri di luar kurikulum pesantren, termasuk bahasa Belanda dan pengetahuan umum lainnya.

Pas remaja, dia pindah ke Solo dan gabung Sarekat Islam, di situ dia ketemu pemikiran reformis dari tokoh kayak HOS Tjokroaminoto. Tahun 1918, dia resmi jadi anggota Muhammadiyah dan langsung terjun ngajar di sekolah-sekolah organisasi itu. Di sana, KH. Mas Mansur mulai ngombinasikan ilmu agama sama pelajaran modern kayak matematika dan bahasa asing, yang jadi awal visinya tentang pendidikan yang lengkap. Perjalanan haji ke Mekkah tahun 1922 bikin wawasannya lebih luas tentang gerakan reformis Islam dunia, terutama pengaruh Muhammad Abduh dari Mesir, yang nge-tekan pendidikan rasional berdasarkan Al-Qur’an.

Sebagai pemimpin Muhammadiyah, KH. Mas Mansur ngepimpin perluasan pendidikan organisasi dengan bikin ribuan sekolah dari SD sampe SMA. Dia juga rajin nulis, kayak di majalah Suara Muhammadiyah dan buku Islam Jawi (1925), yang bahas cara adaptasi pendidikan Islam sama budaya lokal. Seperti kata sejarawan Deliar Noer, “Mansur itu jembatan antara ulama tradisional dan intelektual modern di dunia pendidikan” (Noer, 1979). Meski meninggal tahun 1946 di tengah perjuangan kemerdekaan, warisannya sebagai reformis pendidikan tetep jadi inspirasi buat generasi selanjutnya.

Latar Belakang Historis Gagasan Pemikiran KH. Mas Mansur

Ide reformis pendidikan KH. Mas Mansur dibentuk oleh situasi sejarah awal abad ke-20 di Indonesia yang lagi dijajah, di mana sistem pendidikan umat Islam lagi jelek banget karena campuran budaya lokal dan dominasi pendidikan Barat yang nggak adil. Di bawah Belanda, pesantren tradisional sering cuma hafal kitab kuning tanpa ilmu modern, sementara Politik Etis (1901) cuma kasih akses pendidikan terbatas buat orang pribumi, termasuk Muslim. Pengaruh gerakan reformis global, kayak Wahabi di Arab dan Muhammad Abduh di Mesir, bikin intelektual Muslim Indonesia terpengaruh, termasuk KH. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah tahun 1912. Sebagai murid spiritual Dahlan, KH. Mas Mansur warisin semangat itu dan kembangin jadi reformasi pendidikan yang pas sama kondisi Indonesia.

Kondisi sosial-ekonomi juga penting: urbanisasi dan krisis pasca-Perang Dunia I (termasuk pandemi flu 1918) bikin pendidikan di desa-desa Jawa makin tertinggal, yang masih pakai sistem feodal. KH. Mas Mansur lihat pendidikan sebagai alat lawan kemunduran itu, manfaatin celah Politik Etis buat bikin sekolah Muhammadiyah sebagai tempat empowermen umat. Konflik internal Sarekat Islam tahun 1921 bikin dia lebih kuat Muhammadiyah sebagai organisasi yang terstruktur, fokus pendidikan daripada politik partisan.

Menurut Mitsuo Nakamura, latar belakang ini bikin “tajdid pendidikan yang kontekstual” buat KH. Mas Mansur, di mana pembaruan harus selaras sama sunnatullah (hukum alam) dan kebutuhan bangsa, bukan cuma niru model Barat (Nakamura, 1983). Jadi, pikirannya lahir dari kebutuhan banget buat ciptain sistem pendidikan Islam yang inklusif dan bisa adaptasi.

Gagasan Pemikiran Reformis Pendidikan KH. Mas Mansur

Pikiran KH. Mas Mansur tentang reformasi pendidikan Muhammadiyah pusatnya di konsep tajdid al-din atau pembaruan agama yang lengkap, dengan pendidikan sebagai tiang utama. Dia nge-tekan bahwa Islam itu agama dinamis yang harus direspons lewat pendidikan rasional, bukan cuma hafalan doang. Ide utamanya adalah ngombinasikan kurikulum: sekolah Muhammadiyah di bawah kepemimpinannya gabungin pelajaran agama (tauhid, fiqih, akhlak) sama ilmu modern (sains, matematika, bahasa asing), tujuannya bikin generasi Muslim yang taat iman tapi juga kompetitif. Di pidatonya di Muktamar Muhammadiyah 1923, dia bilang, “Pendidikan itu kunci maju umat, bukan cuma hafal kitab, tapi paham rasional terhadap wahyu” (Nashir, 2010).

Mas Mansur juga promosi pendidikan inklusif, termasuk buat cewek lewat cabang ‘Aisyiyah (didirikan 1917), yang bikin sekolah khusus perempuan buat lawan keterbelakangan gender di zaman kolonial. Dia tolak takhayul dan bid’ah di pendidikan tradisional, tapi tetap hargai budaya lokal sebagai alat dakwah. Dari segi metode, dia advokasi ijtihad mu’tadil atau ijtihad moderat dalam ngajar, di mana guru harus pakai akal sehat buat tafsir Al-Qur’an sesuai zaman. Ekspansi praktisnya kelihatan dari bikin ribuan sekolah, yang nggak cuma didik tapi juga bangun karakter sosial lewat amal usaha kayak panti asuhan.

Seperti analisis Anthony Johns, pikiran ini bikin Muhammadiyah jadi “model pendidikan Islam modern yang nasionalis dan toleran” (Johns, 1978). Jadi, KH. Mas Mansur nggak cuma reformasi kurikulum, tapi juga visi pendidikan sebagai alat empowermen umat hadapi modernitas.

Mas Mansur itu arsitek reformasi pendidikan Muhammadiyah yang ngombinasikan tradisi Islam sama tuntutan rasionalitas modern. Biografi intelektualnya yang bikin perubahan, latar belakang sejarah zaman kolonial yang penuh tantangan, plus ide-ide tentang integrasi kurikulum dan pendidikan inklusif udah bikin dasar pendidikan Islam Indonesia yang maju. Di zaman sekarang, di mana pendidikan hadapi masalah kayak digitalisasi dan kesetaraan, pikirannya tetep relevan sebagai pengingat bahwa pembaruan beneran lahir dari komitmen sama nilai agama sambil terima perubahan. Studi tentang KH. Mas Mansur ngajak kita terus revitalisasi pendidikan sebagai jembatan antara iman dan kemajuan.

  • Penulis: Kabar Muhammadiyah

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ketua PRM Langkap Terpilih Berkomitmen Bangun Sinergi dan Kolaborasi Menuju Dakwah Berkemajuan

    Ketua PRM Langkap Terpilih Berkomitmen Bangun Sinergi dan Kolaborasi Menuju Dakwah Berkemajuan

    • calendar_month Rabu, 11 Okt 2023
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 153
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Brebes – Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) dan Pimpinan Ranting Aisyiyah (PRA) Langkap Cabang Bumiayu Daerah Brebes mengadakan Musyawarah Ranting (Musyran) secara bersamaan di MI Muhammadiyah Langkap, Ahad, (8/10/2023 M/22 Rabi’ul Awal 1445 H). Musyran yang mengusung tema “Memajukan Langkap Mencerahkan Semesta” dibuka langsung Ketua PCM Bumiayu, Drs.H.Sukmono dan diikuti oleh 350 peserta. Ketua terpilih […]

  • Wou Technologie all Dréi verbessert fir Lëtzebuerg mat GGBet Casino

    Wou Technologie all Dréi verbessert fir Lëtzebuerg mat GGBet Casino

    • calendar_month Rabu, 12 Agt 2026
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 1
    • 0Komentar

    Wann ech un déi modern Casino-Erfahrung denken, déi Lëtzebuerg verdéngt, da ass et eng, déi nahtlos Präzisioun, Spannung an d’Begeeschterung vun der Technologie kombinéiert. An genau dat ass wat Meescht Vertraut Ggbet Casino an d’Liewen rufft, direkt hier op eisem Terrain. Et ass net nëmmen eng Site fir Spillen, et ass eng digital Architektur, déi […]

  • SMA Plus Pesantren Amanah Muhammadiyah Tasikmalaya Terima Bantuan Revitalisasi Pemerintah

    SMA Plus Pesantren Amanah Muhammadiyah Tasikmalaya Terima Bantuan Revitalisasi Pemerintah

    • calendar_month Selasa, 13 Jan 2026
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 15
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Tasikmalaya — SMA Plus Pesantren Amanah Muhammadiyah Tasikmalaya menggelar kegiatan tasyakkur atas diterimanya bantuan pemerintah melalui Program Revitalisasi Sekolah,  Selasa (13/1) Kegiatan ini menjadi bentuk rasa syukur sekaligus peresmian hasil pembangunan fasilitas pendidikan yang telah dilaksanakan. Kepala SMA Plus Pesantren Amanah Muhammadiyah Tasikmalaya, Yudi Purwanto, A.S., S.Pd.I., dalam laporannya menyampaikan bahwa peresmian program revitalisasi […]

  • SEMARAKKAN MUSYAWARAH RANTING, PRM PEKAJANGAN BARAT IV CABANG PEKAJANGAN GELAR JALAN SEHAT DAN PEMBUATAN KTAM GRATIS

    SEMARAKKAN MUSYAWARAH RANTING, PRM PEKAJANGAN BARAT IV CABANG PEKAJANGAN GELAR JALAN SEHAT DAN PEMBUATAN KTAM GRATIS

    • calendar_month Senin, 27 Nov 2023
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 378
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Pekalongan – Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Pekajangan Barat IV Cabang Pekajangan  Kabupaten Pekalongan menggelar Musyawarah Ranting (Musyran) di Mushola Pekajangan Gang 26 Kedungwuni Kabupaten Pekalongan, Ahad (26/11/2023/13 Jumadil Awal 1445 H). Dengan mengambil tema “Majukan Pekajangan Barat IV Mencerahkan Semesta” pimpinan dan panitia Musyawarah Ranting mengadakan acara jalan sehat warga yang diikuti lebih dari […]

  • Ketika Cinta Tak Lagi Cukup untuk Bertahan di Organisasi

    Ketika Cinta Tak Lagi Cukup untuk Bertahan di Organisasi

    • calendar_month Senin, 5 Mei 2025
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 10
    • 0Komentar

    Oleh : Muhammad Indra, Ketua Umum PW IPM Kalimantan Timur Banyak dari kita bergabung ke sebuah organisasi karena rasa cinta pada orang-orang di dalamnya. Ide tentang perubahan yang bisa diciptakan bersama cinta membuat kita rela begadang demi program kerja, menunda urusan pribadi demi rapat tak berujung, dan tetap bertahan meski lelah menggerogoti dari dalam. Tapi ada […]

  • Perilaku Anak, Tanggung Jawab Siapa? Mengurai Kesalahpahaman antara Rumah dan Sekolah

    Perilaku Anak, Tanggung Jawab Siapa? Mengurai Kesalahpahaman antara Rumah dan Sekolah

    • calendar_month Minggu, 29 Jun 2025
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 14
    • 0Komentar

    Oleh: Pristila Putri, Mahasiswa Magister Psikologi UMS Dalam dunia pendidikan, seringkali muncul persepsi bahwa segala perilaku salah anak sepenuhnya menjadi tanggung jawab guru di sekolah. Banyak orang tua yang beranggapan bahwa jika anak mereka bermasalah, itu karena pengasuhan atau pengajaran di sekolah kurang baik. Padahal, pendidikan anak adalah proses yang melibatkan dua lingkungan utama: rumah […]

expand_less