Semarak Milad Shabran ke-43, IMM Shabran UMS Ajak Kader Ikuti Kiprah Alumni Lewat Sarasehan Kader

KABARMUH.ID, SURAKARTA – Pondok Hajjah Nuriyah Shabran Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) melalui Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PK IMM) Shabran menyelenggarakan Sarasehan Kader. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Semarak Milad ke-43 Pondok Hajjah Nuriyah Shabran UMS. Bertempat Masjid Al-Munajat Pondok Shabran UMS, Ahad (11/1).
Diselenggarakan kegiatan ini sebagai bentuk ikhtiar IMM Shabran UMS untuk menumbuhkan motivasi belajar dan kaderisasi pada diri kader IMM Shabran, serta memperteguh hubungan silaturahmi dengan alumni-alumni Pondok Shabran UMS.
Sarasehan kali ini, dipandu oleh Gandi Teguh Ardiansyah, merupakan Kader IMM Shabran UMS, dengan menghadirkan dua Alumni Pondok Shabran, Is Rahayu merupakan alumni perempuan pertama dan Prof. Dr. Zakiyuddin Baidhawy, M.A., Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Salatiga sekaligus alumni Pondok Shabran UMS.
Is Rahayu selaku narasumber pertama memaparkan materi dengan mengutip pesan dari Ibu-ibu Pimpinan Wilayah Aisyiyah (PWA) Jawa Tengah, ketika ia hendak izin untuk berdiaspora ke Jogja.
“Dimanapun is Rahayu tinggal, carilah Aisyiyah. Begitulah pesan ibu-ibu PWA Jawa Tengah yang menginspirasi saya untuk ber-Aisyiyah sampai saat ini”, paparnya.
Dalam momen ini, ia juga mengenang masa-masa ketika menjalani kehidupan mahasantri di Pondok Shabran UMS. Menurutnya, hal yang paling menarik pada dirinya, yaitu bisa mendapatkan pasangan hidup dari Pondok Shabran UMS, notabenenya seorang kader aktivis Muhammadiyah, kompatibel dengan arah hidup yang ia jalani saat ini.
Lebih dari itu, Is Rahayu pernah keluar dari Pimpinan Pusat (PP) Nasyiatul Aisyiyah untuk meniti perjuangan akar rumput di Pimpinan Ranting Aisyiyah yang ia rasa masih butuh perjuangan lebih.
Melalui pengalamannya selama menekuni praktisi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang membuahkan capaian-capaian yang memuaskan. Ia berpesan pada kader-kader mahasantri Pondok Shabran untuk konsisten dalam bidang yang ditekuni.
“Apapun pilihan kalian harus ditekuni dan konsisten, jangan tergiur dengan hal lain yang bisa menghambat jalan kesuksesanmu”, tegasnya.
Pemaparan materi Sarasehan Kader dilanjut oleh Prof. Dr. Zakiyuddin Baidhawy, M.A., ia mengawali pembahasan dengan mengutip pesan pak Djazman Al-Kindi.
“Menjadi kader harus menjalankan proses individuasi”, tuturnya.
Zakiyuddin mengungkapkan bahwa kolaborasi merupakan hal penting, namun proses individuasi jauh lebih penting sebagai bentuk peneguhan jati diri kader Shabran.
Dalam kesempatan itu, Zakiyuddin membahas tentang filsafat proklamasi, yang menekan jika mempunyai niat serius itu harus dideklarasikan terlebih dahulu. Karena proses dan progres akan berjalan seksama. Hal itu juga mengacu pada individuasi kader, terutama kita, kader Shabran. Manifestasi filsafat proklamasi yang ia terapkan yaitu jurnal yang terindeks internasional pertama di Indonesia.
Menutup pemaparan materi, Zakiyuddin menyoroti Privilege atau kelebihan hidup di Shabran. Lingkungan intelektualitas dan lingkungan organisatoris merupakan kelebihan yang mewarnai Pondok Shabran UMS. Ia juga berpesan pada diri kader Shabran untuk menikmati proses pendidikan di Shabran.
“Nikmatilah proses menjadi seorang mahasantri di Shabran, karena lingkungan seperti ini belum tentu didapatkan di tempat lain”, tutupnya.
Sarasehan kader ini diharapkan dapat menumbuhkan kembali motivasi belajar dan kaderisasi mahasantri Shabran, serta bisa mengikuti jejak kiprah para alumni Pondok Shabran.
Kontributor: Ahmad Muwaffiqul Choir



