Opini

SOCIOPRENEUR DIGITAL UNTUK AKSELERASI PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN : PENDEKATAN PERSPEKTIF INTEGRATIF-INTERKONEKTIF

Oleh : Andi Rezti Maharani

Bonus demografi yang dimiliki Indonesia menjelang tahun 2045 menghadirkan peluang strategis sekaligus tantangan besar. Bonus demografi sendiri adalah peningkatan penduduk dengan rasio ketergantungan kelompok usia kerja (usia produktif) yang dengan peningkatan tersebut akan menambah jumlah penduduk total, dipandang sebagai sebuah keuntungan yang tidak terelakkan (Huda, Karsudjono and Darmawan, 2021). Sebagian besar penduduk Indonesia berada pada usia produktif, yang berarti potensi sumber daya manusia sangat melimpah untuk mendorong kemajuan bangsa.

Gambar 1. Proyeksi Jumlah Penduduk di Indonesia Menurut Kelompok Usia

Data di atas merupakan data proyeksi penduduk Indonesia yang diklasifikasikan berdasarkan umur. Dalam konteks ini, visi Indonesia Emas 2045 yang menargetkan Indonesia sebagai negara maju dan sejahtera tidak lagi dapat dilepaskan dari kualitas kontribusi generasi mudanya dilihat dari tingginya angka usia produktif yaitu sebesar 185,34 juta jiwa pada Gambar 1 (Huda, Karsudjono and Darmawan, 2021). Namun, di sisi lain, tantangan global seperti kemiskinan, ketimpangan, degradasi lingkungan, dan disrupsi teknologi menuntut pendekatan baru dalam pembangunan berkelanjutan. Adapun tantangan tersebut bersifat kompleks dan multidimensi sehingga tidak mampu diselesaikan melalui pendekatan sektoral dan konvensional semata. Maka, dibutuhkan pendekatan sosial yang mampu menjembatani berbagai kepentingan dan aktor lintas sektor.

Di tengah lanskap sosial-teknologis yang semakin dinamis, generasi muda yang dikenal sebagai digital native memainkan peran utama dalam mendorong upaya transformasi. Dengan kreativitas tinggi dan keterhubungan digital yang kuat, generasi ini mampu melahirkan bentuk baru kewirausahaan sosial berbasis teknologi yang dikenal istilah sociopreneur digital. Model ini tidak hanya menjawab kebutuhan sosial, tetapi juga mengintegrasikan nilai-nilai keberlanjutan melalui solusi inovatif dan terukur. Dalam upaya mengoptimalkan peran ini, perlu digunakan pendekatan atau perspektif integratif–interkonektif, yakni suatu cara pandang yang memadukan berbagai disiplin ilmu dan pendekatan. Di antaranya mencakup dimensi agama, sosial, ekonomi, teknologi, dan budaya, sekaligus membangun konektivitas lintas sektor, komunitas, dan platform digital. Pendekatan ini diyakini dapat mempercepat pencapaian pembangunan berkelanjutan dengan melibatkan generasi muda sebagai aktor utama perubahan.

PEMBAHASAN

Terdapat dua golongan masyarakat yang memanfaatkan Information and Communication Technologies (ICT) dalam perkembangannya. Kedua golongan tersebut ialah digital immigrant dan digital native. Digital immigrant adalah istilah yang digunakan untuk orang yang lahir sebelum internet berkembang dengan pesat (Nurhadryani et al., 2017). Digital native dalam pandangan seorang tokoh inovasi  pendidikan, Prensky menyatakan  bahwa golongan  ini  tumbuh  dan  dibesarkan  di  tengah  dunia  teknologi  digital. Istilah ini digunakan untuk generasi  yang  sedari  lahir  sudah  terbiasa  hidup  dan dikelilingi  oleh  teknologi  sebagai  alat  bantu  dalam  aktivitas  kehidupannya  sehari-hari (Yani, S.R. & Siwi, M.K. 2020).  Perbedaan dua golongan di atas otomatis akan melahirkan cara berpikir dan mengolah informasi dengan berbeda pula. Sedikitnya, generasi digital native ini memiliki 10 karakteristik unik yaitu pada tabel di bawah ini,

Tabel 1. Karakteristik Generasi Digital Native

No. Karakteristik
1. Melek digital (digitally literate),
2. Terhubung (connected)
3. Bekerja secara paralel (multitasking)
4. Pembelajaran berdasarkan pengalaman (experiential learning)
5. Struktur (structure)
6 Bekerja kelompok (group/collaborative work)
7 Sosial (social)
8. Beroerientasi pada tujuan (goal-oriented)
9. Preferensi untuk teks (preference for text)
10. Berwawasan masyarakat (community-minded)

Sumber : (Hadjaratie et al., 2023)

Keunggulan ini menjadi modal penting dalam menciptakan inovasi sosial yang cepat, relevan, dan berdampak luas. Dalam konteks Indonesia Emas 2045, mereka bukan hanya penerus estafet pembangunan, tetapi juga pencipta solusi masa depan melalui model kewirausahaan yang responsif dan inklusif yakni dengan sociopreneur digital.

Sociopreneur digital adalah bentuk inovasi kewirausahaan yang berorientasi pada keuntungan ekonomi, memadukan potensi generasi muda yang dengan kemajuan teknologi informasi yang pesat, memunculkan berbagai model bisnis baru yang ramah sosial  dan juga menjawab persoalan sosial dengan cara-cara baru berbasis teknologi berkelanjutan (Winedar, Mulyaningtyas and Suprijati, 2022). Berbeda dari enterpreneur yang hanya fokus pada peningkatan ekonomi pelaku usaha, sociopreneur lebih melibatkan lingkungan sosial disekitarnya untuk menciptakan kesejahteraan ekonomi secara bersama-sama (Arianto, Handayani and Marwati, 2024). Turut menghadirkan produk, layanan, dan sistem yang menggabungkan keberdayaan masyarakat, kelestarian lingkungan, dan kecanggihan digital. Di sinilah kekuatan pendekatan integratif–interkonektif memainkan peran kunci.

Pendekatan integratif–interkonektif dalam sociopreneur digital membuka ruang untuk menyatukan nilai-nilai agama (hadarah an-nas), filsafat (hadarah al-falsafah) dan ilmu pengetahuan (hadarah al-‘ilm) sebagai dasar gerak pembangunan yang utuh (Muk Andhim, 2019). Dari sudut pandang agama, aktivitas sociopreneurship dapat dimaknai sebagai bentuk ibadah sosial, yaitu upaya mewujudkan kemaslahatan umat dan keadilan sosial melalui inovasi yang berdampak. Agama memberikan orientasi moral dan etis, yang menjaga agar inovasi digital tidak semata berorientasi pasar, tetapi juga membawa keberkahan dan keseimbangan hidup. Hal ini sangat relate dengan kondisi di Indonesia yang mana pancasila sebagai dasar negara menekankan masyarakat untuk mengedepankan nilai-nilai agama. Sementara itu, filsafat berperan sebagai fondasi reflektif-kritis yang memungkinkan generasi muda mempertanyakan struktur ketimpangan, makna pembangunan, serta arah tujuan teknologi. Filsafat menuntun sociopreneur untuk tidak terjebak dalam pragmatisme dangkal, melainkan berani membangun solusi yang berakar pada kesadaran kemanusiaan dan kebaikan bersama.

Di sisi lain, ilmu pengetahuan hadir sebagai perangkat rasional dan metodologis yang memungkinkan gagasan menjadi nyata dan terukur. Melalui pemanfaatan data, teknologi digital, dan pendekatan ilmiah, sociopreneur mampu menciptakan model bisnis sosial yang inovatif, efisien, dan berdampak luas. Dengan mengintegrasikan ketiganya yakni agama sebagai nilai, filsafat sebagai arah, dan ilmu sebagai alat lahirlah model pembangunan yang bukan hanya modern secara teknis, tetapi juga mendalam secara makna. Dalam konteks interkonektivitas, nilai-nilai ini tidak hidup sendiri-sendiri, melainkan saling terhubung melalui platform digital, kolaborasi lintas budaya, serta jejaring keilmuan dan spiritualitas. Inilah yang menjadikan sociopreneur digital bukan hanya sebagai penggerak ekonomi baru, tetapi juga sebagai pionir peradaban berkelanjutan.

KESIMPULAN DAN SARAN

Dengan segala potensi dan kapasitas yang dimiliki, sociopreneur digital bukan hanya menjadi alternatif, melainkan strategi utama dalam menjawab tantangan pembangunan berkelanjutan di era bonus demografi. Pendekatan integratif–interkonektif menjadikan digital native tidak sekadar pelaku usaha, tetapi juga arsitek sosial yang mampu menyatukan nilai agama sebagai moral kompas, filsafat sebagai landasan reflektif, dan ilmu pengetahuan sebagai alat rekayasa perubahan. Di tengah kompleksitas global yang tak dapat diselesaikan secara sektoral, kehadiran generasi muda yang berpikir lintas disiplin dan terkoneksi lintas batas menjadi kekuatan utama transformasi bangsa.

Oleh karena itu, jika Indonesia ingin mewujudkan visi Indonesia Emas 2045 yang berkeadilan, berdaya saing, dan berkelanjutan, maka penguatan ekosistem sociopreneur digital berbasis nilai, inovasi, dan kolaborasi harus menjadi bagian dari agenda utama pembangunan nasional hari ini.

DAFTAR PUSTAKA

Andhim, M., Ali, M. 2019. Rekonstruksi Keilmuan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan dalam Pandangan M. Amin Abdullah. ISEEDU. 3(2).

Arianto, B., Handayani, B. and Marwati, M. 2024. Pengembangan Bisnis Pondok Pesantren Berbasis Sociopreneur Dalam Mewujudkan Semangat Santripreneur. PRAXIS: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat, 2(3) : 66–77.

Carolina, D.Y.2023. Augmented Realitysebagai Media Pembelajaran Interaktif 3D untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Digital Native. Ideguru:Jurnal Karya Ilmiah Guru. 8(1).

Hadjaratie, L., Hasdiana., Masaong, A.K., Panai, A.H. 2023. Tingkat Kesiapan Generasi Emas Indonesia di Era Disrupsi berdasarkan Karakteristik Digital Native. Radial : Jurnal Peradaban Sains, Rekayasa, dan Teknologi, 11(1) : 103–112.

Huda, I.U., Karsudjono, A.J., Darmawan, R. 2021. Analisis Bonus Demografi Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Di Provinsi Kalimantan Selatan. Al-Kalam Jurnal Komunikasi, Bisnis Dan Manajemen, 8(2) : 1.

Manap, A., Zainuddin, Idris, N., Djauhari, M., Nugroho, M.R.A., Chandra, B.K.K. 2023. Pelatihan Program Pemasara N Dan Socio Preneur Era Digital Di Tangerang. Community Development Journal.4(2): 5460-5464.

Multinovic, V. 2022. Examining The Influence Of Pre-Service Teachers’ Digital Native Traits On Their Technology Acceptance: A Serbian Perspective. Education and Information Technologies. 27

Nurhadryani, Y., Hutomo, Y.S., Kurnia, A., Anisa, R., Ramadhan, D.A. 2017. Karakteristik Digital Native Dan Digital Immigrant Masyarakat Bogor Menuju E-Government. Seminar Nasional Sistem Informasi Indonesia. 30 November 2011, Surabaya, Indonesia. Hal. 138.

Winedar, M., Mulyaningtyas, A., Suprijati, J. 2022. Digital Marketing Sebagai Pendukung Sociopreneur Umkm Kuliner Di Surabaya. Jurnal Karya Abadi Masyarakat Universitas Jambi. 6(2).

Yani, S.R., Siwi, M.K. 2020. Analisis Penggunaan Media Sosial Dan Sumber Belajar Digital Dalam Pembelajaran Bagi Siswa Digital NativeDi SMAN 2 Painan. Jurnal Pendidikan Ekonomi.13(1): 1-7.

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button