Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Esai » Korban Kesalahan Sistem Pendidikan

Korban Kesalahan Sistem Pendidikan

  • account_circle Kabar Muhammadiyah
  • calendar_month Senin, 28 Mar 2022
  • visibility 518
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh : Anda Restu Nagiri (202110230311041)

Pendidikan merupakan salah satu kunci dalam meraih kesuksesan sebuah bangsa, jika dalam suatu negara memiliki metode pendidikan yang baik maka dapat dipastikan bahwa generasi penerusnya bisa menjadi lebih unggul dibandingkan negara – negara lain yang memiliki sistem pendidikan yang buruk. Berbicara mengenai Pendidikan tentunya nama Paulo Freire tidak terdengar asing di telinga sebagian orang yang tertarik dengan pemikiran Freire tentang pendidikan dan bidang – bidang lain nya seperti politik. Masyarakat Indonesia sendiri mulai bersahabat dengan karya serta pemikiran Paulo Freire, tepat nya setelah memudarnya masa orde baru pada tahun 1998. Paulo Freire adalah seorang ahli ilmu pendidikan  yang lahir di Receife, Brasil pada  tahun 1921, saat ia kecil terjadi krisis ekonomi yang melanda Brasil di tahun 1929, keluarganya mengalami kemerosotan finansial sehingga  Freire kecil dengan terpaksa belajar apa arti lapar untuk anak sekolah, meski demikian ia sukses menulis beberapa buku diantaranya Educaccao como pratica da liberdade (Pendidikan Sebagai Praktek Pembebasan,Gramedia, 1994), Cultural Action for Freedom (Penguin, 1970), dan karya nya yang paling lengkap adalah Pedadgogy of Opressed (Pendidikan Kaum Tertindas).

Dalam buku Pendidikan Kaum Tertindas tahun 2008 pada bagian prawacana dijelaskan bahwa Paulo Freire memiliki sikap yang sangat kritis terhadap sistem pendidikan tradisional di Brasil yang memiliki ciri – ciri menggurui dan hafalan. Paulo Freire berpikiran cara seperti itu dapat menggagalkan proses pendewasaan manusia dimana dari proses pendewasaan ini diharapkan individu dapat ikut serta menentukan nasib mereka sendiri

Setelah di amati lebih dalam, sistem pendidikan tradisional di Brasil saat itu memiliki sedikit kesamaan dengan sistem pendidikan di Indonesia beberapa dekade belakangan,  yaitu terkesan menggurui. Hal ini dapat kita jumpai di sekolah – sekolah dalam negeri dimana sebagian besar tenaga pendidik lebih memilih metode ‘ceramah’ dalam proses pembelajaran, karena metode ini dianggap membuat para siswa menjadi lebih cepat paham. Akan tetapi kenyataan yang ada di lapangan menunjukkan bahwa tidak semua siswa bisa paham dengan apa yang disampaikan oleh tenaga pendidik, selain itu masih ada tenaga pendidik yang menolak untuk di kritik jika melakukan kesalahan oleh anak didik nya sendiri dengan dalih bahwa mereka lebih tahu yang baik dan yang buruk di bandingkan dengan anak didik nya, hal ini terkesan dengan perilaku menggurui dan dapat membuat anak – anak takut untuk mengungkapkan apa yang ada di pikiran mereka. Paulo Freire menyebutkan bahwa sistem pendidikan di masa lampau sama dengan ‘sistem bank’ dimana tenaga pendidik adalah subjek yang mempunyai ilmu pengetahuan dimana ilmu pengetahuan ini diisikan kepada murid, dan murid merupakan tempat deposit saja. Terlihat jelas pada sistem tersebut tidak ada komunikasi yang sesungguhnya antara tenaga pendidik dan anak didik nya, Hal semacam inilah yang mencerminkan penindasan yang ada di lingkungan masyarakat dan juga menguatkan struktur – struktur yang menindas. Kritik siswa membangun komunikasi antara pendidik dan siswa nya, dan komunikasi merupakan elemen penting dari pendidikan. Tidak ada yang salah jika sesekali tenaga pendidik mendengarkan apa yang disampaikan oleh anak didik nya, bukan hanya murid saja yang yang belajar dari guru akan tetapi guru juga bisa belajar dari murid karena saat ini kita tidak bisa menampik fakta bahwa terkadang pengetahuan yang dimiliki oleh seorang murid lebih luas dibandingkan seorang guru, tidak ada salahnya jika seorang tenaga pendidik menjadi teman bagi anak didik nya dan ikut melibatkan diri serta merangsang daya pikir kritis para anak didik nya. Maka ke dua pihak bersama – sama mengembangkan kemampuan untuk mengerti dirinya sendiri secara kritis dan dunia mereka berada. Menurut penulis akan lebih efisien lagi jika sekolah – sekolah di Indonesia mulai dari Sekolah Dasar sampai ke perguruan tinggi sesekali menerapkan sistem diskusi, karena dari sinilah tenaga pendidik dan anak didik nya bisa saling mengetahui apa yang di inginkan satu sama lain dan hal ini dapat memudahkan ke dua belah pihak dalam mecapai tujuan pendidikan.

Di dalam bukunya, Paulo Freire juga mengkritrik sistem pendidikan tradisional di Brasil yaitu menghafal, dimana metode hafalan ini masih sering sekali di gunakan olek banyak tenaga pendidik di Indonesia. Ketika masih di Sekolah Dasar kita sudah akrab dengan hafalan, tujuan dari tenaga pendidik memang tidak sepenuh nya salah mungkin kata ‘kurang tepat’ lebih sesuai untuk menggambar kan situasi ini. Jika kita lihat lebih jauh, apakah sistem pendidikan dengan cara menghafal ini cukup efektif ? Mungkin bagi sebagian besar orang cara ini cukup efektif tapi tidak menutup kemungkinan juga  bahwa sebagian orang lainnya merasa cara ini tidak efektif untuk mereka. Menghafal dapat diartikan memberikan tempat untuk memori pada otak, jika seseorang berhenti menghafalkan maka perlahan memori itu akan hilang dari otak. Dapat dibayangkan seorang murid harus menghafal beberapa materi dari sebuah mata pelajaran, sedangkan mata pelajaran yang mereka terima tidak hanya satu bahkan untuk ukuran anak di Sekolah Dasar saja sudah mendapatkan kurang lebih 6 sampai 7 mata pelajaran sesuai dengan kurikulum yang berlaku di Indonesia saat ini, dan hal seperti  ini sudah di anggap lumrah oleh sebagain besar tenaga pendidik. Tentu saja perilaku seperti ini dapat dikategorikan dalam perilaku dehumanisasi, dimana menurut KBBI dehumanisasi adalah hilangnya harkat pada manusia. Lebih mudahnya dehumanisasi merupakan kemampuan untuk menghilangkan rasa kemanusiaan. Pada hakikat nya anak didik juga manusia biasa, mereka juga memiliki batas pada diri mereka, jika melihat situasi pada sistem pendidikan di Indonesia saat ini dapat dikatakan bahwa mereka adalah korban. Mengapa demikian ? karena mereka lah yang harus menanggung kesalahan – kesalahan yang di anggap lumrah di masa lampau, jika saja metode pendidikan yang melenceng pada waktu itu segera di perbaiki, maka para murid tidak perlu lagi menjadi korban ‘salah metode’ di era saat ini. Menurut penulis dibandingkan ‘hafalan’ akan lebih efisien lagi jika metode tersebut diganti dengan pemahaman. Jika kita benar – benar paham dengan materi yang diberikan, maka memori tentang materi itu akan terus melekat pada otak kita. Berbeda dengan menghafal, jika sudah berhenti menghafal maka memori tentang materi itu juga akan berhenti di ingat oleh otak.

Yang di harapkan penulis untuk sistem pendidikan di Indonesia ke depan nya adalah adanya pembenaran untuk sistem – sistem  di masa lampau yang melenceng dan di buat nya metode – metode pembelajaran yang lebih efisien di era saat ini, sehingga tujuan pendidikan dapat tercapai dengan lebih maksimal maka akan lahir generasi penerus bangsa yang berkualitas.

Sumber:

Freire, P. (2008). Pendidikan Kaum Tertindas. Jakarta: Pustaka LP3SES

  • Penulis: Kabar Muhammadiyah

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • MDMC Lampung Berikan Materi Penanggulangan Bencana pada Mastama Universitas Muhammadiyah Kotabumi

    MDMC Lampung Berikan Materi Penanggulangan Bencana pada Mastama Universitas Muhammadiyah Kotabumi

    • calendar_month Rabu, 11 Sep 2024
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 276
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Lampung Utara – MDMC Wilayah Lampung hadir menjadi pemateri dalam kegiatan Masa Ta’aruf Mahasiswa (Mastama) Universitas Muhammadiyah Kotabumi (UMKO) Tahun Akademik 2024/2025. Materi yang diberikan MDMC Wilayah Lampung dalam kegiatan tersebut mengenai penanggulangan bencana yang dibawakan oleh Widodo Rahayu dan Edy Kurniawan pada Senin, 9 September 2024 di Universitas Muhammadiyah Kotabumi, Jalan Hasan Kepala […]

  • Guna Wujudkan Dakwah yang Berdampak di Kampus, LDM-PM UMS Gelar Rapat Pleno 2 dan Musyawarah Akbar

    Guna Wujudkan Dakwah yang Berdampak di Kampus, LDM-PM UMS Gelar Rapat Pleno 2 dan Musyawarah Akbar

    • calendar_month Kamis, 25 Des 2025
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 81
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, SURAKARTA – LDM – PM UMS sukses menggelar Rapat Pleno  2 dan Musyawarah Akbar 2025. Bertempat di Ruang Seminar Pondok Hajjah Nuriyah Shabran, acara ini mengusung tema “Rekontruksi Gerakan Dakwah Kampus Guna Mewujudkan Dakwah Yang Berkontribusi.” Pada Jum’at dan Sabtu, 20 – 21 Desember 2025. Ketua Panitia berharap agar penyelenggaraan acara ini dapat dijadikan […]

  • Arsjad Rasjid: Kelahiran Muhammadiyah Jadi Awal Gerakan Kewirausahaan Sosial di Indonesia

    Arsjad Rasjid: Kelahiran Muhammadiyah Jadi Awal Gerakan Kewirausahaan Sosial di Indonesia

    • calendar_month Jumat, 24 Jan 2025
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 115
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Yogyakarta – Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia, Arsjad Rasyid sekaligus penulis buku mengatakan, kelahiran Muhammadiyah adalah awal dari gerakan kewirausahaan sosial di Indonesia. Hal ini disampaikan oleh Arsjad Rasjid dalam acara “Launching Buku dan Talkshow Bangkitnya Kewirausahaan Sosial: Kisah Muhammadiyah” yang diselenggarakan oleh Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia bekerja sama dengan […]

  • 79 Jamaah Haji Muhammadiyah Brebes Diberangkatkan, Dua Titik Jadi Pusat Keberangkatan

    79 Jamaah Haji Muhammadiyah Brebes Diberangkatkan, Dua Titik Jadi Pusat Keberangkatan

    • calendar_month Jumat, 10 Apr 2026
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 71
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID || BREBES ~ Tangis haru dan doa mengiringi langkah 79 calon jamaah Haji Muhammadiyah dari Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umroh (KBIHU) Arofah resmi dilepas menuju Tanah Suci. Di Gedung PDM Brebes, momen sakral itu menjadi awal perjalanan spiritual para tamu Allah yang tergabung dalam Kloter 09 SOC tahun 2026. Dengan bekal manasik dan […]

  • Program Kosabangsa: Kolaborasi Universitas AISKA dan UMS dalam Pelatihan Pembuatan Teh Kelor di Wonogiri

    Program Kosabangsa: Kolaborasi Universitas AISKA dan UMS dalam Pelatihan Pembuatan Teh Kelor di Wonogiri

    • calendar_month Minggu, 1 Des 2024
    • account_circle Najihus Salam
    • visibility 175
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Surakarta – Kolaborasi antara Universitas ‘Aisyiyah Surakarta dengan Universitas Muhammadiyah Surakarta melalui program Kosabangsa telah sukses melakukan pelatihan pembuatan teh daun kelor pada 2 mitra, yaitu KWT Sari Makmur dan Kader Posyandu Mawar di Desa Manjung, Wonogiri. Program Kosabangsa merupakan salah satu skim Pengabdian kepada Masyarakat yang didanai oleh Direktorat Riset, Teknologi dan Pengabdian […]

  • Lazismu Kaltim Gelar Rakerwil 2026, Perkuat Inovasi Sosial dan Tata Kelola

    Lazismu Kaltim Gelar Rakerwil 2026, Perkuat Inovasi Sosial dan Tata Kelola

    • calendar_month Sabtu, 18 Apr 2026
    • account_circle Redaksi Kabarmuh
    • visibility 50
    • 0Komentar

    Lembaga Amil Zakat, Infaq dan Shadaqah Muhammadiyah (Lazismu) Kalimantan Timur menggelar Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) selama tiga hari, Jumat hingga Ahad, 17–19 April 2026, di SM Tower Hotel & Convention Hall, Kabupaten Berau. Kegiatan ini mengusung tema “Penguatan Inovasi Sosial dan Tata Kelola Lazismu yang Terintegrasi, Berdampak dan Berkelanjutan di Kalimantan Timur.” Rakerwil ini dihadiri […]

expand_less