Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Opini » Pemikiran Reformis Pendidikan KH. Mas Mansur

Pemikiran Reformis Pendidikan KH. Mas Mansur

  • account_circle Kabar Muhammadiyah
  • calendar_month Senin, 1 Des 2025
  • visibility 13
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Ade Irpansyah, Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surabaya

Muhammadiyah, yang jadi organisasi Islam terbesar di Indonesia, udah duluan banget dalam nggabungin ajaran Islam sama kebutuhan zaman sekarang, terutama lewat perubahan di bidang pendidikan. Di masa penjajahan Belanda yang penuh tantangan, KH. Mas Mansur (1896-1946) muncul sebagai pemikir keren yang ngepimpin Muhammadiyah hampir dua puluh tahun (1923-1942). Lahir dari keluarga ulama tradisional, dia bikin gagasan tajdid atau pembaruan yang fokusnya pendidikan sebagai kunci maju buat umat Islam.

Pikirannya nggak cuma bikin sistem pendidikan Muhammadiyah lebih hidup, tapi juga jadi dasar pendidikan Islam modern di Indonesia yang ngombinasikan nilai agama sama ilmu pengetahuan yang masuk akal. Essay ini bakal bahas biografi intelektual KH. Mas Mansur, fokusnya perjalanan pendidikannya, latar belakang sejarah yang bikin visinya tentang reformasi pendidikan, plus ide-ide utamanya dalam bangun sistem pendidikan Muhammadiyah. Lewat analisis ini, semoga bisa dipahami betapa relevan pikiran KH. Mas Mansur buat hadapi masalah pendidikan sekarang, kayak inklusivitas dan adaptasi sama globalisasi.

Biografi Intelektual KH. Mas Mansur

Mas Mansur, atau Kiai Haji Mas Mansyur, lahir tanggal 18 Maret 1896 di Mojoagung, Jombang, Jawa Timur, dari keluarga ulama pesantren yang tradisional banget. Ayahnya, KH. Mansyur, adalah kiai yang ngajarin ilmu fiqih dan tasawuf pake metode klasik, jadi pendidikan awal KH. Mas Mansur di pesantren fokus belajar kitab-kitab kuning kayak Fathul Qarib dan Safinatun Najah. Tapi, biografi intelektualnya nunjukin perubahan dari tradisi ke modern; sejak kecil, dia udah penasaran banget dan belajar sendiri di luar kurikulum pesantren, termasuk bahasa Belanda dan pengetahuan umum lainnya.

Pas remaja, dia pindah ke Solo dan gabung Sarekat Islam, di situ dia ketemu pemikiran reformis dari tokoh kayak HOS Tjokroaminoto. Tahun 1918, dia resmi jadi anggota Muhammadiyah dan langsung terjun ngajar di sekolah-sekolah organisasi itu. Di sana, KH. Mas Mansur mulai ngombinasikan ilmu agama sama pelajaran modern kayak matematika dan bahasa asing, yang jadi awal visinya tentang pendidikan yang lengkap. Perjalanan haji ke Mekkah tahun 1922 bikin wawasannya lebih luas tentang gerakan reformis Islam dunia, terutama pengaruh Muhammad Abduh dari Mesir, yang nge-tekan pendidikan rasional berdasarkan Al-Qur’an.

Sebagai pemimpin Muhammadiyah, KH. Mas Mansur ngepimpin perluasan pendidikan organisasi dengan bikin ribuan sekolah dari SD sampe SMA. Dia juga rajin nulis, kayak di majalah Suara Muhammadiyah dan buku Islam Jawi (1925), yang bahas cara adaptasi pendidikan Islam sama budaya lokal. Seperti kata sejarawan Deliar Noer, “Mansur itu jembatan antara ulama tradisional dan intelektual modern di dunia pendidikan” (Noer, 1979). Meski meninggal tahun 1946 di tengah perjuangan kemerdekaan, warisannya sebagai reformis pendidikan tetep jadi inspirasi buat generasi selanjutnya.

Latar Belakang Historis Gagasan Pemikiran KH. Mas Mansur

Ide reformis pendidikan KH. Mas Mansur dibentuk oleh situasi sejarah awal abad ke-20 di Indonesia yang lagi dijajah, di mana sistem pendidikan umat Islam lagi jelek banget karena campuran budaya lokal dan dominasi pendidikan Barat yang nggak adil. Di bawah Belanda, pesantren tradisional sering cuma hafal kitab kuning tanpa ilmu modern, sementara Politik Etis (1901) cuma kasih akses pendidikan terbatas buat orang pribumi, termasuk Muslim. Pengaruh gerakan reformis global, kayak Wahabi di Arab dan Muhammad Abduh di Mesir, bikin intelektual Muslim Indonesia terpengaruh, termasuk KH. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah tahun 1912. Sebagai murid spiritual Dahlan, KH. Mas Mansur warisin semangat itu dan kembangin jadi reformasi pendidikan yang pas sama kondisi Indonesia.

Kondisi sosial-ekonomi juga penting: urbanisasi dan krisis pasca-Perang Dunia I (termasuk pandemi flu 1918) bikin pendidikan di desa-desa Jawa makin tertinggal, yang masih pakai sistem feodal. KH. Mas Mansur lihat pendidikan sebagai alat lawan kemunduran itu, manfaatin celah Politik Etis buat bikin sekolah Muhammadiyah sebagai tempat empowermen umat. Konflik internal Sarekat Islam tahun 1921 bikin dia lebih kuat Muhammadiyah sebagai organisasi yang terstruktur, fokus pendidikan daripada politik partisan.

Menurut Mitsuo Nakamura, latar belakang ini bikin “tajdid pendidikan yang kontekstual” buat KH. Mas Mansur, di mana pembaruan harus selaras sama sunnatullah (hukum alam) dan kebutuhan bangsa, bukan cuma niru model Barat (Nakamura, 1983). Jadi, pikirannya lahir dari kebutuhan banget buat ciptain sistem pendidikan Islam yang inklusif dan bisa adaptasi.

Gagasan Pemikiran Reformis Pendidikan KH. Mas Mansur

Pikiran KH. Mas Mansur tentang reformasi pendidikan Muhammadiyah pusatnya di konsep tajdid al-din atau pembaruan agama yang lengkap, dengan pendidikan sebagai tiang utama. Dia nge-tekan bahwa Islam itu agama dinamis yang harus direspons lewat pendidikan rasional, bukan cuma hafalan doang. Ide utamanya adalah ngombinasikan kurikulum: sekolah Muhammadiyah di bawah kepemimpinannya gabungin pelajaran agama (tauhid, fiqih, akhlak) sama ilmu modern (sains, matematika, bahasa asing), tujuannya bikin generasi Muslim yang taat iman tapi juga kompetitif. Di pidatonya di Muktamar Muhammadiyah 1923, dia bilang, “Pendidikan itu kunci maju umat, bukan cuma hafal kitab, tapi paham rasional terhadap wahyu” (Nashir, 2010).

Mas Mansur juga promosi pendidikan inklusif, termasuk buat cewek lewat cabang ‘Aisyiyah (didirikan 1917), yang bikin sekolah khusus perempuan buat lawan keterbelakangan gender di zaman kolonial. Dia tolak takhayul dan bid’ah di pendidikan tradisional, tapi tetap hargai budaya lokal sebagai alat dakwah. Dari segi metode, dia advokasi ijtihad mu’tadil atau ijtihad moderat dalam ngajar, di mana guru harus pakai akal sehat buat tafsir Al-Qur’an sesuai zaman. Ekspansi praktisnya kelihatan dari bikin ribuan sekolah, yang nggak cuma didik tapi juga bangun karakter sosial lewat amal usaha kayak panti asuhan.

Seperti analisis Anthony Johns, pikiran ini bikin Muhammadiyah jadi “model pendidikan Islam modern yang nasionalis dan toleran” (Johns, 1978). Jadi, KH. Mas Mansur nggak cuma reformasi kurikulum, tapi juga visi pendidikan sebagai alat empowermen umat hadapi modernitas.

Mas Mansur itu arsitek reformasi pendidikan Muhammadiyah yang ngombinasikan tradisi Islam sama tuntutan rasionalitas modern. Biografi intelektualnya yang bikin perubahan, latar belakang sejarah zaman kolonial yang penuh tantangan, plus ide-ide tentang integrasi kurikulum dan pendidikan inklusif udah bikin dasar pendidikan Islam Indonesia yang maju. Di zaman sekarang, di mana pendidikan hadapi masalah kayak digitalisasi dan kesetaraan, pikirannya tetep relevan sebagai pengingat bahwa pembaruan beneran lahir dari komitmen sama nilai agama sambil terima perubahan. Studi tentang KH. Mas Mansur ngajak kita terus revitalisasi pendidikan sebagai jembatan antara iman dan kemajuan.

  • Penulis: Kabar Muhammadiyah

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Perkuat Bonding Orang Tua dan Anak, MIM Digdaya Bolon Sukses Gelar Program “GEMAR”

    Perkuat Bonding Orang Tua dan Anak, MIM Digdaya Bolon Sukses Gelar Program “GEMAR”

    • calendar_month Sabtu, 20 Des 2025
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 9
    • 0Komentar

    KABARMUH,ID. COLOMADU – Ada pemandangan yang berbeda di lingkungan Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah (MIM) Digdaya Bolon pada Sabtu pagi (20/12/2025). Sekolah yang biasanya didominasi oleh kehadiran para ibu saat pengambilan rapor, kini dipenuhi oleh kehadiran para ayah. Hal ini merupakan bagian dari pelaksanaan program inovatif bertajuk GEMAR (Gerakan Ayah Mengambil Rapor). Program GEMAR ini bertujuan untuk meningkatkan […]

  • Dari Sampah Jadi Karya, Eco Bhinneka Dorong Gerakan Pengelolaan Sampah Berbasis Rumah Tangga di Sabatang

    Dari Sampah Jadi Karya, Eco Bhinneka Dorong Gerakan Pengelolaan Sampah Berbasis Rumah Tangga di Sabatang

    • calendar_month Jumat, 21 Agt 2026
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 14
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Halmahera Selatan — Eco Bhinneka Muhammadiyah Maluku Utara menggelar Training of Trainers (ToT) “Eco-Literasi dan Aksi Komunitas melalui Pengelolaan Sampah Berbasis Rumah Tangga” di Desa Sabatang, Kecamatan Bacan Timur, Kabupaten Halmahera Selatan, Rabu (19/8/2026). Kegiatan ini diikuti oleh peserta dari kelompok PKK Wayamiga, Nyoyifi, Babang, Sayoang, dan Sabatang. Kegiatan tersebut bertujuan meningkatkan pengetahuan dan […]

  • Milad ‘Aisyiyah ke-104 M : Menebar Kebaikan di Masa Pandemi

    Milad ‘Aisyiyah ke-104 M : Menebar Kebaikan di Masa Pandemi

    • calendar_month Senin, 24 Mei 2021
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 1.019
    • 0Komentar

    |Oleh : Hj. Maya Meysi Susanti, S.Pd (Ketua ‘Aisyiyah Kutai Timur)| ‘Aisyiyah kini berusia 107 tahun menurut hitungan Hijriyah atau 104 tahun dalam hitungan Miladiyah. Peringatan tasyakuran dan refleksi milad sebagai forum mengekspresikan rasa syukur atas karunia Allah SWT dalam perjalanan panjang ‘Aisyiyah sebagai organisasi perempuan tertua di Indonesia. Hingga detik ini bisa menapaki abad […]

  • Menggali Makna Pandu dan Prestasi dalam Ngopi Bang Bersama Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan UMS

    Menggali Makna Pandu dan Prestasi dalam Ngopi Bang Bersama Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan UMS

    • calendar_month Minggu, 22 Des 2024
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 123
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Surakarta – Agenda Ngopi Bang (Ngobrol Tipis Bareng Litbang) ke-5 yang diselenggarakan oleh Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan Kafilah Penuntun Moh. Djazman Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) berhasil menarik perhatian para kader dan mahasiswa dengan tema “Pandu dan Prestasi”. Agenda yang dilaksanakan pada Kamis, 5 Desember 2024, ini bertujuan untuk memperdalam pemahaman mengenai hubungan antara nilai-nilai […]

  • Guru Muhammadiyah Lebong Ikuti Workshop Pembelajaran Inovatif Berbasis Deep Learning dan AI

    Guru Muhammadiyah Lebong Ikuti Workshop Pembelajaran Inovatif Berbasis Deep Learning dan AI

    • calendar_month Senin, 20 Okt 2025
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 12
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Lebong – Dalam upaya meningkatkan kualitas guru di era digital, Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Lebong menyelenggarakan Workshop Pembelajaran Inovatif dengan Deep Learning dan Coding AI pada Sabtu (18/10/2025). Kegiatan ini berlangsung di aula SMK Muhammadiyah 6 Lebong Utara dengan mengusung tema “Meningkatkan Kompetensi Guru Muhammadiyah Era Digital.” Ketua panitia pelaksana, Drs. Jufri, M.Pd, dalam sambutannya […]

  • Dari Keresahan Menjadi Kekuatan: Dua Kader Muda Muhammadiyah Tulis Buku yang Menyentuh Hati

    Dari Keresahan Menjadi Kekuatan: Dua Kader Muda Muhammadiyah Tulis Buku yang Menyentuh Hati

    • calendar_month Jumat, 9 Mei 2025
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 9
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Lamongan – Dua kader muda Muhammadiyah, Alifatus Zahroh dan Fathan Faris Saputro, menerbitkan sebuah buku berjudul “Bagaimana Jika Aku Tidak Berhasil?”. Buku inspiratif ini diterbitkan oleh Kaneomedia dan menjadi wujud nyata semangat generasi muda dalam mengolah kegelisahan menjadi kekuatan melalui tulisan. Alifatus Zahroh, yang lahir pada 16 September 2003, merupakan mahasiswi aktif Program Studi […]

expand_less