
KABARMUH.ID, Nganjuk — Praktik perundungan (bullying) di kalangan anak-anak masih marak terjadi dan tidak boleh dinormalisasi. Mengambil peran aktif dalam merespons persoalan tersebut, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Surabaya Kelompok 3 menggelar kelas edukasi anti-perundungan bagi siswa kelas 3 dan 4 di SDN 2 Kedungsoko pada Jumat (24/7) pagi.
Inisiatif program ini tidak lahir dari ruang hampa. Selama kurang lebih 19 hari berinteraksi dan mengabdi di desa, tim KKN mengobservasi adanya bibit-bibit perilaku perundungan di lingkungan bermain anak-anak. Menyadari risiko jangka panjang yang dapat ditimbulkan, pendekatan edukatif di bangku sekolah dipilih sebagai solusi konkret.
Niat baik tersebut disambut dengan tangan terbuka oleh pihak SDN 2 Kedungsoko. Sekolah memberikan dukungan penuh dengan memfasilitasi ruang kelas, perangkat proyektor, hingga mengalokasikan jam belajar resmi bagi tim KKN dari pukul 08.00 hingga 10.30 WIB.
Dari Tahu Menjadi Paham
Proses edukasi dirancang secara bertahap agar mudah dipahami oleh anak-anak. Pada sesi awal yang berlangsung secara satu arah, mahasiswa memaparkan materi dasar untuk membangun pemahaman mengenai perundungan. Siswa dikenalkan pada definisi bullying, jenis-jenisnya dalam kehidupan sehari-hari, hingga dampak psikologis yang dapat dialami baik oleh pelaku maupun korban.
Mahasiswa juga menjelaskan berbagai faktor yang dapat mendorong seseorang menjadi pelaku perundungan, serta pentingnya peran individu dan lingkungan dalam mencegah terjadinya tindakan tersebut.
Menyadari bahwa sekadar “tahu” tidaklah cukup, alur pembelajaran kemudian diubah menjadi komunikasi dua arah. Memanfaatkan media ajar interaktif berupa papan pop-up yang merangkum seluruh materi, anak-anak ditantang untuk menjelaskan kembali makna perundungan menggunakan bahasa dan sudut pandang mereka sendiri.
Pendekatan ini mendorong siswa untuk tidak hanya menghafal materi, tetapi juga memahami pentingnya empati dan saling menghargai dalam kehidupan sehari-hari.
Ruang Kontemplasi dan Curahan Hati
Titik emosional kegiatan terjadi ketika mahasiswa mengubah suasana kelas menjadi lebih kontemplatif melalui sesi refleksi dan apresiasi diri. Momen tersebut berhasil menyentuh hati para siswa. Beberapa anak tampak meneteskan air mata, sementara yang lain mulai berani mengungkapkan pengalaman dan perasaan mereka.
Setelah suasana kembali dicairkan melalui sesi ice breaking yang diiringi gerakan dan lagu ceria, tim KKN mengajak para siswa menggali pengalaman mereka lebih dalam. Anak-anak diminta menuliskan pengalaman atau perasaan terkait perundungan pada secarik kertas post-it.
Kertas-kertas berisi curahan hati tersebut kemudian ditempelkan bersama di papan tulis dan dibaca secara bergantian. Aktivitas ini membangun kesadaran bahwa setiap anak memiliki pengalaman dan perasaan yang patut dihargai serta tidak harus menghadapi persoalan tersebut sendirian.
Rangkaian kegiatan yang berlangsung padat namun menggugah ini ditutup dengan sesi dokumentasi yang menyenangkan. Membawa semangat kebersamaan, tim KKN menyediakan fasilitas semi-photobooth lengkap dengan bingkai bertema anti-perundungan sebagai kenang-kenangan.
Melalui intervensi edukatif di ruang kelas ini, diharapkan siswa SDN 2 Kedungsoko dapat membangun lingkungan bermain yang aman, saling menghargai, saling melindungi, serta terbebas dari praktik perundungan.
Editor: Muhammad Farhan



