Mahasiswa Psikologi UMS Bersama MDMC Jateng Terjun Dampingi Penyintas Gempa NTT
- account_circle Muhammad Faisal Dwi Rifqi
- calendar_month 6 jam yang lalu
- visibility 18
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
KABARMUH.ID.,SURAKARTA – Mahasiswa Program Studi Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id, Bramantyo Wijaya Kusuma, terlibat aktif dalam misi kemanusiaan penanganan darurat bencana gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT). Bergabung sebagai relawan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Jawa Tengah, Bramantyo beserta rombongan bertolak menuju lokasi bencana pada 8 September 2026 menggunakan armada mobil.
Bramantyo mengungkapkan bahwa perjalanan darat dan laut tersebut membutuhkan waktu hingga 39 jam sebelum akhirnya berlabuh di Pelabuhan Bung Karno, Ende. “Setibanya di pelabuhan, kami para relawan masih harus menempuh perjalanan darat selama 12 jam menuju titik posko layanan di Desa Mbay 1, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo,” kata Bramantyo, Kamis (22/10/2026).
Ia menceritakan, rombongan secara resmi tiba di lokasi posko yang berpusat di Klinik Utama Muhammadiyah Ende pada 10 September 2026. Keesokan harinya, 11 September 2026, relawan menggelar proses asesmen dan observasi lapangan untuk menentukan bentuk layanan darurat yang dibutuhkan masyarakat. Langkah awal ini diperkuat melalui koordinasi bersama tim MDMC Flores Timur dan Ketua Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Nagekeo guna memetakan berbagai kendala serta meninjau layanan yang telah berjalan di wilayah Mbay 1.
Pada 12 September 2026, tim mendirikan hunian sementara dan membagikan bahan pangan pokok kepada warga terdampak. “Pendirian hunian darurat merupakan kegiatan awal yang kami lakukan sebagai tempat singgah sementara bagi para penyintas,” ujar Bramantyo.
Selain pemenuhan kebutuhan fisik, relawan turut mendampingi anak-anak secara intensif sebagai upaya pemulihan kondisi psikologis mereka. Tidak luput dari perhatian, relawan juga memberikan layanan kesehatan gratis yang diselenggarakan pada 13 September 2026, dirangkai dengan perancangan program edukasi keselamatan gempa dan pembagian bantuan peralatan sekolah. Tim kemudian melakukan koordinasi intensif dengan pihak pengelola sekolah pada 14 September 2026.
Puncak aksi psikososial berlangsung pada Jumat, 18 September 2026, di MTsN Nagekeo. Dalam kegiatan tersebut, tim memberikan penyuluhan cara menyelamatkan diri saat gempa serta menyalurkan bantuan sekitar 500 paket alat tulis (school kit) dari MDMC Jawa Tengah. Bramantyo menjelaskan bahwa sarana pendidikan di lokasi tersebut dalam kondisi memprihatinkan.
“Gedung sekolah belum bisa dipakai untuk kegiatan belajar karena banyak bagian tembok yang retak dan plafon ambruk,” tutur Bramantyo.
Rangkaian misi ditutup pada Minggu, 20 September 2026, melalui kegiatan edukasi gempa dan lomba mewarnai bertema keindahan alam yang diikuti 16 anak berusia 4-12 tahun. Lomba ini digelar untuk menghibur anak-anak sekaligus menggantikan perayaan Kemerdekaan Republik Indonesia yang terhenti akibat bencana. (Maysali/Humas)
Editor : Milka Andar Mafrinda
- Penulis: Muhammad Faisal Dwi Rifqi