Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Berita » Mengubah Cara Pandang: Dari Bumi sebagai Objek Menjadi Ruang Kehidupan Bersama

Mengubah Cara Pandang: Dari Bumi sebagai Objek Menjadi Ruang Kehidupan Bersama

  • account_circle Kabar Muhammadiyah
  • calendar_month Rabu, 6 Mei 2026
  • visibility 84
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

KABARMUH.ID, Jakarta – Krisis lingkungan yang semakin nyata hari ini tidak bisa lagi dilihat semata sebagai persoalan teknis. Di balik kerusakan alam, konflik sosial, hingga ketimpangan ekonomi, terdapat akar persoalan yang lebih mendasar: cara pandang manusia terhadap bumi.
Hal inilah yang menjadi benang merah dalam sesi pembuka Akademi Eco Bhinneka Muhammadiyah bertajuk Akar Krisis Lingkungan, Ketimpangan Sosial, dan Tantangan Pluralisme di Indonesia, pada 1 Mei 2026, yang berlangsung di Aula Asrama Mahasiswa FKIP Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (UHAMKA), Jakarta.
Sesi ini menghadirkan Direktur Eco Bhinneka Muhammadiyah, Hening Parlan, sebagai narasumber. Diskusi dimoderatori oleh Syahrul Ramadhan, dari GreenAbility Eco Bhinneka Muhammadiyah.
Dalam pemaparannya, Hening mengajak peserta untuk melihat bahwa akar krisis lingkungan berangkat dari cara manusia memandang bumi sebagai objek yang bisa dimanfaatkan sesuka hati.
Cara pandang ini tidak hanya datang dari sistem ekonomi yang mengejar keuntungan, tetapi juga dari pemahaman keagamaan yang belum utuh.
“Cara pandang kita terhadap bumi itu yang keliru. Kita menganggapnya sebagai objek yang bisa dieksploitasi,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa konsep khalifah fil ardh sering dipahami sebagai izin untuk menguasai alam, padahal seharusnya diiringi dengan tanggung jawab, keadilan, dan keseimbangan.
Diskusi kemudian diperdalam oleh Syahrul Ramadhan yang mengajak peserta melihat persoalan ini dari sisi spiritual. Ia mengingatkan bahwa dalam banyak tradisi, alam bukanlah sesuatu yang mati atau sekadar benda.
“Kalau kita melihat alam hanya sebagai objek atau komoditas, di situlah masalahnya dimulai. Padahal dalam banyak ajaran, alam itu punya nilai dan kehidupan,” jelasnya.
Ia juga mengaitkan hal ini dengan kisah tentang sifat iblis, yang memandang manusia—yang berasal dari tanah—sebagai sesuatu yang lebih rendah dan tidak bernilai. Cara pandang yang merendahkan dan menganggap “yang lain” sebagai objek inilah yang kemudian menjadi akar dari sikap eksploitatif.
Ketika manusia melihat alam hanya sebagai benda tanpa nilai, di situlah pola pikir yang sama terus berulang—mengambil, menguasai, dan mengeksploitasi tanpa mempertimbangkan dampaknya.
Akibatnya, krisis lingkungan tidak bisa dilepaskan dari ketimpangan sosial. Kekayaan dari sumber daya alam sering kali hanya dinikmati oleh segelintir pihak, sementara masyarakat luas harus menanggung dampaknya. Dari sini, konflik sosial pun muncul.
Lebih lanjut, Hening Parlan memaparkan dampak nyata dari cara pandang yang keliru tersebut.
“Kita sedang menghadapi tiga krisis besar sekaligus: krisis iklim, polusi, dan hilangnya keanekaragaman hayati,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa kerusakan ini tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga pada kehidupan sosial masyarakat.
“Dampaknya bukan hanya ke alam, tapi juga memperbesar konflik sosial dan melemahkan kehidupan bersama,” tegasnya.
Menjawab pertanyaan peserta, Hening menekankan bahwa batas antara pemanfaatan dan eksploitasi adalah pada prinsip sederhana: tidak merusak dan tidak berlebihan. Namun, ia juga mengakui bahwa dalam kenyataan, banyak orang dihadapkan pada pilihan yang tidak mudah, terutama karena tekanan ekonomi.
Karena itu, perubahan bisa dimulai dari hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-hari, sambil tetap mendorong perubahan yang lebih besar melalui advokasi dan kolaborasi.
Sebagai penutup, sesi ini mengajak peserta untuk membawa tiga hal penting. Pertama, menyadari bahwa akar krisis ada pada cara pandang kita, sehingga perubahan harus dimulai dari cara berpikir. Kedua, memahami bahwa krisis lingkungan adalah persoalan keadilan, bukan sekadar isu alam. Dan ketiga, menyadari bahwa setiap orang punya peran—sekecil apa pun—untuk ikut merawat bumi dan kehidupan bersama.
  • Penulis: Kabar Muhammadiyah

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ekstrakurikuler Karawitan SMK Muhammadiyah 1 Wonosobo Latih Ibu-Ibu Sekolah Lansia, Perkuat Pelestarian Budaya dan Kepedulian Antargenerasi

    Ekstrakurikuler Karawitan SMK Muhammadiyah 1 Wonosobo Latih Ibu-Ibu Sekolah Lansia, Perkuat Pelestarian Budaya dan Kepedulian Antargenerasi

    • calendar_month Minggu, 11 Okt 2026
    • account_circle M Nur Isholattudin
    • visibility 70
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, WONOSOBO – Upaya pelestarian budaya Jawa tidak cukup hanya dilakukan melalui pembelajaran di ruang kelas atau pementasan seni dalam berbagai acara seremonial. Pelestarian budaya membutuhkan keterlibatan nyata dari berbagai lapisan masyarakat, termasuk generasi muda sebagai penerus tradisi. Semangat inilah yang tercermin dalam kegiatan Ekstrakurikuler Karawitan Jayawindra Kalijaga SMK Muhammadiyah 1 Wonosobo yang melatih ibu-ibu […]

  • Muhammadiyah Hadir Perkuat Advokasi dan Perlindungan PMI di Malaysia, dari Legalitas hingga Peran Komunitas

    Muhammadiyah Hadir Perkuat Advokasi dan Perlindungan PMI di Malaysia, dari Legalitas hingga Peran Komunitas

    • calendar_month Minggu, 9 Agt 2026
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 88
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, KUALA LUMPUR – Persoalan Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Malaysia, khususnya mereka yang tidak memiliki dokumen resmi masih menjadi tantangan tersendiri. Posisi pekerja migran tanpa status yang sah masih menjadi salah satu tantangan dalam upaya advokasi dan perlindungan. Kondisi tersebut mendorong Muhammadiyah melalui Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKI) PP Muhammadiyah memperkuat advokasi PMI […]

  • Potongan Biaya Hingga 10%! Ini Alasan Kenapa Daftar Awal ke UMS Lebih Untung

    Potongan Biaya Hingga 10%! Ini Alasan Kenapa Daftar Awal ke UMS Lebih Untung

    • calendar_month Senin, 24 Nov 2025
    • account_circle Dwi Kurniadi
    • visibility 67
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) mencatat perkembangan positif dalam penerimaan mahasiswa baru (PMB) Tahun Akademik 2026/2027. Sejak soft launching PMB pada 1 November disusul grand launching pada 8 November 2025 di Gedung Edutorium UMS, jumlah pendaftar menunjukkan peningkatan signifikan dibanding tahun sebelumnya. Direktur Direktorat Akademik dan Admisi UMS, Dr. Triyono, S.E., M.Si., menyampaikan […]

  • UKMK Tapak Suci UIN Raden Fatah Palembang priode 2024-2025 Sah dilantik

    UKMK Tapak Suci UIN Raden Fatah Palembang priode 2024-2025 Sah dilantik

    • calendar_month Minggu, 24 Mar 2024
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 305
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Palembang – Pengurus Baru Unit Kegiatan Mahasiswa Khusus (UKMK) Tapak Suci UIN Raden Fatah Palembang telah resmi dilantik dengan tema “Mempertajam Kebersamaan dan Menumbuhkan Semangat Berorganisasi Tapak Suci UIN Raden Fatah Palembang yang Berprestasi dan Berkualitas,” di selenggarakan di Gedung Munaqosyah Fak.Ushuluddin UIN Raden Fatah Palembang tutur Topan Andri Mahendra.(22/03/2024) Topan menekankan bahwa kepemimpinan […]

  • Adakan Pelatihan Jurnalistik, IPM Jembrana Gandeng Sekolah Tingkat SMP-SMA di Jembrana

    Adakan Pelatihan Jurnalistik, IPM Jembrana Gandeng Sekolah Tingkat SMP-SMA di Jembrana

    • calendar_month Senin, 22 Jan 2024
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 190
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Jembrana – “Menulis adalah bekerja untuk keabadian,” begitu kata Pramudya Anantatoer. Merespon statement Pram, Pimpinan Daerah (PD) Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Kabupaten Jembrana mengadakan pelatihan jurnalistik pada Ahad, (21/01/24) di Gedung Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kab. Jembrana. Kegiatan ini dilaksanakan menggandeng beberapa sekolah tingkat SMP dan SMA di Kabupaten Jembrana, diantaranya, MTS Negeri 4 Jembrana, […]

  • Berjuang Seharian, Tim Futsal SMP Muhmmadiyah 3 Al Mujahidin Raih Juara 3

    Berjuang Seharian, Tim Futsal SMP Muhmmadiyah 3 Al Mujahidin Raih Juara 3

    • calendar_month Senin, 22 Jan 2024
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 314
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Balikpapan – Tim Futsal SMP Muhammadiyah 3 Al Mujahidin berhasil meraih Juara 3 pada Kompetisi All Stars Cup 2024 Tingkat SMP/MTs se Balikpapan yang digelar oleh Universitas Mulia di Balikpapan Sports Center (BSC) pada Ahad (21/01/24). Kompetisi All Stars Cup 2024 kali ini diikiti oleh 17 Tim yang dibagi menjadi 5 grub. Tim Futsal […]

expand_less