Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Berita » Mengubah Cara Pandang: Dari Bumi sebagai Objek Menjadi Ruang Kehidupan Bersama

Mengubah Cara Pandang: Dari Bumi sebagai Objek Menjadi Ruang Kehidupan Bersama

  • account_circle Kabar Muhammadiyah
  • calendar_month Rabu, 6 Mei 2026
  • visibility 95
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

KABARMUH.ID, Jakarta – Krisis lingkungan yang semakin nyata hari ini tidak bisa lagi dilihat semata sebagai persoalan teknis. Di balik kerusakan alam, konflik sosial, hingga ketimpangan ekonomi, terdapat akar persoalan yang lebih mendasar: cara pandang manusia terhadap bumi.
Hal inilah yang menjadi benang merah dalam sesi pembuka Akademi Eco Bhinneka Muhammadiyah bertajuk Akar Krisis Lingkungan, Ketimpangan Sosial, dan Tantangan Pluralisme di Indonesia, pada 1 Mei 2026, yang berlangsung di Aula Asrama Mahasiswa FKIP Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (UHAMKA), Jakarta.
Sesi ini menghadirkan Direktur Eco Bhinneka Muhammadiyah, Hening Parlan, sebagai narasumber. Diskusi dimoderatori oleh Syahrul Ramadhan, dari GreenAbility Eco Bhinneka Muhammadiyah.
Dalam pemaparannya, Hening mengajak peserta untuk melihat bahwa akar krisis lingkungan berangkat dari cara manusia memandang bumi sebagai objek yang bisa dimanfaatkan sesuka hati.
Cara pandang ini tidak hanya datang dari sistem ekonomi yang mengejar keuntungan, tetapi juga dari pemahaman keagamaan yang belum utuh.
“Cara pandang kita terhadap bumi itu yang keliru. Kita menganggapnya sebagai objek yang bisa dieksploitasi,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa konsep khalifah fil ardh sering dipahami sebagai izin untuk menguasai alam, padahal seharusnya diiringi dengan tanggung jawab, keadilan, dan keseimbangan.
Diskusi kemudian diperdalam oleh Syahrul Ramadhan yang mengajak peserta melihat persoalan ini dari sisi spiritual. Ia mengingatkan bahwa dalam banyak tradisi, alam bukanlah sesuatu yang mati atau sekadar benda.
“Kalau kita melihat alam hanya sebagai objek atau komoditas, di situlah masalahnya dimulai. Padahal dalam banyak ajaran, alam itu punya nilai dan kehidupan,” jelasnya.
Ia juga mengaitkan hal ini dengan kisah tentang sifat iblis, yang memandang manusia—yang berasal dari tanah—sebagai sesuatu yang lebih rendah dan tidak bernilai. Cara pandang yang merendahkan dan menganggap “yang lain” sebagai objek inilah yang kemudian menjadi akar dari sikap eksploitatif.
Ketika manusia melihat alam hanya sebagai benda tanpa nilai, di situlah pola pikir yang sama terus berulang—mengambil, menguasai, dan mengeksploitasi tanpa mempertimbangkan dampaknya.
Akibatnya, krisis lingkungan tidak bisa dilepaskan dari ketimpangan sosial. Kekayaan dari sumber daya alam sering kali hanya dinikmati oleh segelintir pihak, sementara masyarakat luas harus menanggung dampaknya. Dari sini, konflik sosial pun muncul.
Lebih lanjut, Hening Parlan memaparkan dampak nyata dari cara pandang yang keliru tersebut.
“Kita sedang menghadapi tiga krisis besar sekaligus: krisis iklim, polusi, dan hilangnya keanekaragaman hayati,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa kerusakan ini tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga pada kehidupan sosial masyarakat.
“Dampaknya bukan hanya ke alam, tapi juga memperbesar konflik sosial dan melemahkan kehidupan bersama,” tegasnya.
Menjawab pertanyaan peserta, Hening menekankan bahwa batas antara pemanfaatan dan eksploitasi adalah pada prinsip sederhana: tidak merusak dan tidak berlebihan. Namun, ia juga mengakui bahwa dalam kenyataan, banyak orang dihadapkan pada pilihan yang tidak mudah, terutama karena tekanan ekonomi.
Karena itu, perubahan bisa dimulai dari hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-hari, sambil tetap mendorong perubahan yang lebih besar melalui advokasi dan kolaborasi.
Sebagai penutup, sesi ini mengajak peserta untuk membawa tiga hal penting. Pertama, menyadari bahwa akar krisis ada pada cara pandang kita, sehingga perubahan harus dimulai dari cara berpikir. Kedua, memahami bahwa krisis lingkungan adalah persoalan keadilan, bukan sekadar isu alam. Dan ketiga, menyadari bahwa setiap orang punya peran—sekecil apa pun—untuk ikut merawat bumi dan kehidupan bersama.
  • Penulis: Kabar Muhammadiyah

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Gelar Halal Bihalal, Pondok Shabran UMS Rajut Tali Silaturahmi Bersama Warga Sekitar

    Gelar Halal Bihalal, Pondok Shabran UMS Rajut Tali Silaturahmi Bersama Warga Sekitar

    • calendar_month Sabtu, 11 Apr 2026
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 72
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, SURAKARTA – Pondok Hajjah Nuriyah Shabran Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) sukses menyelenggarakan kegiatan halal bihalal pada Sabtu (11/4) di Masjid Al Munajat Komplek Pondok Shabran Timur. Kegiatan ini berlangsung hangat dengan melibatkan masyarakat sekitar pondok. Kepala Pondok Shobron UMS, Yayuli, S.Ag., M.P.I., menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan halal bihalal pertama Pondok Shabran UMS dengan […]

  • Atasi Minimnya Monitoring Pascastroke, Mahasiswa UMS Sabet Silver Award di MTE 2026

    Atasi Minimnya Monitoring Pascastroke, Mahasiswa UMS Sabet Silver Award di MTE 2026

    • calendar_month Kamis, 30 Apr 2026
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 91
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, SURAKARTA – Minimnya sistem pemantauan berkelanjutan bagi pasien pascastroke masih menjadi tantangan serius dalam dunia kesehatan. Keterbatasan kontrol terapi di luar fasilitas medis kerap berdampak pada lambatnya pemulihan, rendahnya kepatuhan minum obat, hingga tingginya risiko kondisi darurat yang tidak tertangani dengan cepat. Menjawab persoalan tersebut, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id menghadirkan inovasi digital […]

  • AI Semakin Pintar, Apakah Kita Semakin Lalai?

    AI Semakin Pintar, Apakah Kita Semakin Lalai?

    • calendar_month Rabu, 8 Okt 2025
    • account_circle Dwi Kurniadi
    • visibility 67
    • 0Komentar

    Oleh: Fathan Faris Saputro (Koordinator Divisi Pustaka dan Informasi MPID PDM Lamongan) Di tengah derasnya arus revolusi teknologi, dunia kini memasuki era baru yang ditandai dengan kehadiran Meta AI atau kecerdasan buatan lanjutan. Teknologi ini mampu memproses data dalam jumlah besar dan menghasilkan solusi secara cepat serta kompleks. Meta AI menjanjikan efisiensi dan inovasi di […]

  • ‘Celengan Tuhan’

    ‘Celengan Tuhan’

    • calendar_month Selasa, 14 Sep 2021
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 800
    • 0Komentar

    Oleh : Naufal Febrian   Sebuah mobil-mobilan kayu berderik-derik melintasi setiap jamaah yang sedang duduk tepekur. “Berisik!” aku mengumpat dalam hati. “Kenapa rodanya harus terbuat dari besi sih? Kenapa juga gak dilumuri oli biar gak sakit ke telinga?” Sejurus sebelum tertunduk kembali kuperhatikan seorang pria yang duduk di shaf depanku merogoh saku kokonya. Serius ia […]

  • Irwan Akib dalam Pengajian Milad ke-64 UAD, Menekankan Daya Saing Butuh Kolaborasi

    Irwan Akib dalam Pengajian Milad ke-64 UAD, Menekankan Daya Saing Butuh Kolaborasi

    • calendar_month Kamis, 19 Des 2024
    • account_circle Najihus Salam
    • visibility 126
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Yogyakarta – Dalam rangka memperingati Milad ke-64 Universitas Ahmad Dahlan (UAD), pada hari Rabu (18/12) Lembaga Pengembangan Studi Islam (LPSI) UAD menyelenggarakan Pengajian Refleksi Akhir Tahun 2024 untuk para civitas akademika mulai dari dosen, tenaga pendidikan, karyawan dan lainnya. Pengajian ini disiarkan secara langsung di Masjid Islamic Center UAD Kampus 4 dan live streaming […]

  • Eksperimen Es Krim, Langkah Kreatif Mahasiswa UMS Tumbuhkan Minat Sains

    Eksperimen Es Krim, Langkah Kreatif Mahasiswa UMS Tumbuhkan Minat Sains

    • calendar_month Minggu, 28 Jun 2026
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 97
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, SURAKARTA – Belajar sains tak selalu harus dilakukan di ruang kelas. Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id membuktikannya dengan mengajak anak-anak Sanggar Bimbingan (SB) Banting, Malaysia, membuat es krim dari tangan sendiri dalam program KKN Internasional Mangunsari Goes Abroad 2026. Kegiatan tersebut berlangsung pada Senin (16/6/2026) dan diikuti oleh 18 anak yang tampak antusias […]

expand_less