Tiga Dosen UMS Meraih Predikat Top 2% Scientist Dunia 2026
- account_circle Kabar Muhammadiyah
- calendar_month 13 jam yang lalu
- visibility 28
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
KABARMUH.ID, SURAKARTA – Tiga dosen Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) masuk dalam daftar Top 2% Scientists dunia tahun 2026 berdasarkan TopSciNet. Ketiganya ialah Associate Professor Dr. Md. Sanower Hossain dari bidang farmasi, Naufal Ishartono, S.Pd., M.Pd., Ph.D., dari pendidikan matematika, serta Dr. Arief Budiono, S.H., M.H., dari ilmu hukum. Penelitian mereka berkontribusi pada pengembangan produk ramah lingkungan, inovasi pembelajaran digital, dan penguatan regulasi kesehatan.
Associate Professor Dr. Md. Sanower Hossain, dosen Farmasi UMS, kembali masuk dalam daftar tersebut setelah tercatat pada 2025 di bidang Biomedical Research, subbidang mikrobiologi. Ia menilai pencapaian ini sebagai motivasi untuk menjaga konsistensi dan integritas penelitian serta menghasilkan riset yang bermanfaat bagi masyarakat.
“Yang utama adalah kualitas dan dampak nyata dari penelitian pada masyarakat,” ungkap Sanower, Sabtu (17/10/2026).
Daftar Top 2% Scientists disusun berdasarkan data publikasi dan sitasi Scopus yang disediakan Elsevier. Penilaiannya menggunakan sejumlah indikator, antara lain jumlah sitasi, indeks-h, serta kontribusi penulis dalam publikasi ilmiah.
Penelitian Sanower berfokus pada pengembangan nanomaterial ramah lingkungan dari limbah pertanian. Salah satunya ialah sintesis nanopartikel seng oksida (zinc oxide nanoparticles) menggunakan ekstrak cangkang inti kelapa sawit untuk melawan infeksi bakteri. Penelitian tersebut dipimpinnya sebagai Principal Investigator melalui hibah internasional yang melibatkan UMS, Universiti Teknologi MARA (UiTM), dan Universiti Malaya (UM), Malaysia.
Ia juga mengembangkan pemanfaatan lignin dari limbah pertanian, seperti cangkang inti kelapa sawit dan ampas tebu, sebagai bahan formulasi lipstik. Lignin memiliki sifat antioksidan dan berpotensi melindungi kulit dari sinar ultraviolet (UV). Meski demikian, efektivitas dan keamanannya masih perlu diteliti lebih lanjut sebelum produk dapat dikomersialkan. Sanower juga berencana mengeksplorasi pemanfaatan daun mangga untuk sintesis nanopartikel sebagai bagian dari pengembangan material yang bermanfaat bagi kesehatan dan lingkungan.
Dari bidang pendidikan matematika, Naufal Ishartono, S.Pd., M.Pd., Ph.D., dosen Pendidikan Matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMS, mengembangkan media pembelajaran digital untuk membantu siswa memahami konsep matematika yang abstrak dan sulit.
Penelitiannya berfokus pada model Flip Learning yang dikembangkan menjadi Flip Flop. Media tersebut menggabungkan video tutorial dengan fitur interaktif dan manipulatif agar siswa terlibat aktif dalam pembelajaran.
“Matematika sering dianggap kompleks, membingungkan, dan sulit. Untuk memahaminya, siswa perlu belajar secara aktif,” jelas Naufal.
Media yang sebelumnya berbentuk aplikasi Android kini dikembangkan menjadi situs web terintegrasi dengan kecerdasan buatan (AI), sehingga dapat diakses melalui ponsel Android, iOS, maupun komputer.
Salah satu penerapannya ialah media berbasis Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa SMP pada materi bilangan bulat. Melalui simulasi bendungan, siswa mempelajari bilangan positif dan negatif secara visual. Media ini juga menyediakan latihan untuk mengukur kemampuan berpikir kritis, hasil yang dapat dimanfaatkan guru untuk menganalisis pembelajaran dan dilaporkan kepada orang tua dalam format PDF. Guru juga dapat memodifikasi soal melalui fitur yang tersedia.
Naufal menjelaskan bahwa media tersebut masih dalam tahap validasi. Uji coba lapangan direncanakan pada tahun berikutnya untuk memperoleh masukan dari ahli dan siswa. Menurutnya, pembelajaran matematika perlu dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari agar siswa tidak sekadar menghafal rumus, tetapi juga memahami penerapannya. Ia turut memandang AI sebagai peluang untuk memperkuat peran guru sebagai fasilitator pembelajaran.
Sementara itu, Dr. Arief Budiono, S.H., M.H., dosen Ilmu Hukum UMS, berfokus pada penelitian hukum kesehatan, khususnya perlindungan pasien, perlindungan dokter, dan kebijakan rumah sakit. Ia menjelaskan bahwa pencapaian dalam daftar Top 2% Scientists didasarkan pada rekam jejak penelitian dan indikator ilmiah, bukan kompetisi yang mengharuskan peneliti mendaftar.
Arief menyoroti penggunaan AI dalam layanan medis dan telemedisin yang menghadirkan tantangan terkait perlindungan pasien dan pertanggungjawaban hukum atas kesalahan diagnosis. Menurutnya, perkembangan teknologi kesehatan perlu diimbangi dengan regulasi yang memadai agar memberikan kepastian hukum bagi pasien dan tenaga medis.
Selain itu, ia menaruh perhatian pada sistem jaminan kesehatan dan tantangan regulasi di sektor kesehatan. Arief berharap dapat terus mengembangkan penelitian hukum kesehatan, terutama pada persoalan aktual yang membutuhkan kajian dari perspektif hukum dan kebijakan publik.
Pencapaian ketiga dosen tersebut menunjukkan kontribusi akademisi UMS dalam pengembangan ilmu pengetahuan di tingkat internasional melalui penelitian di bidang farmasi, pendidikan matematika, dan ilmu hukum.
Penulis : (Fika/Humas)
Editor : Irsyad Hakim Affandi
- Penulis: Kabar Muhammadiyah