Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Berita » Dari Desa ke Kota, Haruskah Anak Muda Selalu Merantau?

Dari Desa ke Kota, Haruskah Anak Muda Selalu Merantau?

  • account_circle Dwi Kurniadi
  • calendar_month Selasa, 7 Okt 2025
  • visibility 40
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh Muhammad Rofiqul Anam, Ketua Bidang Perkaderan PW IPM Lampung dan Penggerak Bumiloka Indonesia

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), mulai dari tahun 2010, 49,8 persen masyarakat Indonesia pergi dari desa untuk merantau ke kota, persentase tersebut meningkat hingga 56,7 persen di tahun 2020 dan diprediksi akan terus meningkat menjadi 66,6 persen pada tahun 2035, tren perantauan di Indonesia meningkat dengan rata-rata pertumbuhan 5 persen setiap lima tahun. Meski terlihat mengesankan, fenomena ini justru menyiratkan ironi yang cukup mendalam, mengingat desa yang dulu menjadi pusat pertumbuhan perlahan merasakan mulai kehilangan sumber daya ekonomi, budaya, juga manusia. Stereotip masyarakat Indonesia yang meyakini sepenuhnya bahwa perkotaan memiliki peluang dan kesempatan yang lebih menjanjikan menjadi alasan utama dibalik perantauan, terutama terhadap pendidikan dan pekerjaan.

Data menunjukkan bahwa banyak perantau yang justru terjebak dalam kemiskinan akibat tingginya biaya hidup dan ketidakmampuan untuk bersaing di dunia yang semakin dinamis dan kompetitif. Selain itu, populasi yang meningkat akibat banyaknya perantau menjadikan perkotaan harus menyediakan infrastruktur dan layanan yang memadai.Jika tidak, kemacetan, kurangnya fasilitas, dan ketimpangan sosial akan semakin meningkatkan kualitas hidup para perantau diperkotaan. Oleh karena itu, meskipun kehidupan di kota menawarkan banyak peluang, kota acapkali menjadi tempat pertemuan antara impian dan realita yang kurang mengenakan. Lalu, bagaimana dengan anak muda, kenapa kita lebih memilih pergi daripada membangun desa sendiri?.

Mengapa Anak Muda Lebih Memilih Merantau ke Kota?

Ketimpangan antara desa dan kota jadi penyebab utama anak muda lebih memilih merantau ke kota. Dalam segmen pendidikan misalnya, data BPS tahun 2023 menunjukkan 5,11 persen anak muda di desa tidak sekolah dan 12,39 persen diantaranya putus sekolah (SD), sementara di kota, hanya 1,93 persen anak muda yang tidak sekolah dan 6,62 persen yang putus sekolah. Selain itu, terdapat 49,16 persen pelajar di kota yang lulus SMA, sementara di desa hanya 27,98 persen. Data ini menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk desa menyelesaikan pendidikan hanya pada jenjang SD, yaitu sebesar 31,13 persen.

Ketimpangan pendidikan dapat ditandai dengan adanya kesenjangan kualitas dan kuantitas pada sarana, fasilitas, guru, serta akses transportasi dan komunikasi antara pendidikan di desa dan kota. Tentu saja hal ini memiliki efek domino yang cukup berpengaruh pada kondisi sosial dan ekonomi masyarakat di desa, karena peluang dan kesempatan kerja semakin besar seiring tingginya tingkat pendidikan. Diversifikasi ekonomi membuat pedesaan sulit berkembang sehingga tidak mengherankan jika anak muda lebih memilih pergi ke kota. Stigma bahwa “Sukses Itu di Kota” seakan semakin dapat diterima, anggapan bahwa bekerja di kota lebih prestisius daripada di desa menjadi satu keyakinan bagi mayoritas anak muda desa. Kurangnya sosok inspiratif yang sukses dengan tetap tinggal di desa menjadi satu penyebab hal ini dapat terjadi. Selain itu, tekanan sosial membuat anak muda merasa harus meninggalkan desa agar bisa berkembang.

Perkembangan arus modernisasi memiliki pengaruh yang signifikan terhadap sikap, perilaku serta struktur sosial dimasyarakat, hal ini menjadikan kebanyakan anak muda mulai meninggalkan nilai-nilai kedaerahanya. Anak muda saat ini atau yang lebih familiar dengan istilah Gen Z cenderung menilai bahwa segala sesuatu yang berbau kedaerahan adalah sesuatu yang terkesan terbelakang atau sebut saja ”ndeso”, terutama terhadap masalah budaya. Tidak jarang kita menemukan anak muda yang enggan bahkan malu untuk menggunakan bahasa daerahnya masing-masing hanya karna agar tidak dianggap ndeso sehingga perlahan tutur bahasa daerah ini mulai ditinggalkan, padahal bahasa daerah adalah warisan budaya dari bangsa Indonesia yang harus tetap terjaga. Hal ini mengakibatkan desa kehilangan sumber daya, anak-anak muda yang seharusnya menciptakan perubahan di desa lebih memilih pergi ke kota untuk memenuhi gaya hidup dan kebebasanya.

Peluang dan Tantangan Generasi Muda Dalam Membangun Desa

Jika hal ini terus terjadi, lambat laun desa akan mengalami “missing generation”, dimana ia akan kehilangan generasi produktif sebagai sumber daya yang seharusnya dapat menciptakan perubahan di desa, dalam hal ini generasi muda. Sejalan dengan Sofyan Sjaf sosiolog IPB, 70 persen generasi muda yang hadir dalam bingkai bonus demografi kedepan diprediksi akan mengalami kemiskinan ekstrem, terutama yang tinggal dipedesaan. Fakta ini menunjukkan bahwa Indonesia akan mengalami keadaan dimana desa sebagai sumber kehidupan bangsa akan ditinggalkan oleh kebanyakan anak muda, tentu ini menjadi tantangan yang besar.

Selain itu, desa ini memiliki banyak sekali potensi yang sebenarnya bisa dikembangkan. Namun, acapkali pembangunan desa cenderung hanya berfokus pada aspek fisik seperti jalan tol, waduk, bandara, hingga mega proyek yang memiliki investasi asing besar-besaran. Saya pikir hal ini hanya akan memaksa desa seolah harus menjadi kota yang justru berakibat pada corak sosial-budaya anak muda desa yang menjadi ciri khas akan memudar.

Selain sektor pertanian, peternakan, atau budaya, bagi saya satu hal yang dapat dikembangkan untuk dapat meningkatkan kualitas desa adalah perihal sumber daya manusia, dalam hal ini anak-anak muda. Anak muda harus membangun narasi baru tentang desa, bagaimana menciptakan ruang dan kesempatan untuk sukses di desa dan memberikan dampak yang besar untuk mendobrak stigma yang ada.

Saat ini, banyak sekali program dari pemerintah yang dapat mendorong anak-anak muda desa agar dapat memiliki daya saing dan tidak kalah dengan anak-anak muda yang ada di kota. Kementrian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal meluncurkan beberapa program yang masuk dalam dua belas Rencana Aksi Kemendes tahun 2025. Mulai dari program pembangunan ekonomi, budaya hingga wisata, hampir semuanya melibatkan peran anak-anak muda. Oleh karena itu, perihal pembangunan desa memerlukan kolaborasi dan sinergi antara pemerintah bersama masyarakat muda untuk dapat mewujudkan astacita keenam yang menjadi misi bangsa indonesia lima tahun ke depan.

Redaksi : Al Fadhlil Raihan Yunan

  • Penulis: Dwi Kurniadi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • 5 Sesi Darul Arqom Nasyiatul Aisyiyah 1 Digelar PDNA Sukoharjo

    5 Sesi Darul Arqom Nasyiatul Aisyiyah 1 Digelar PDNA Sukoharjo

    • calendar_month Minggu, 21 Sep 2025
    • account_circle Dwi Kurniadi
    • visibility 11
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Sukoharjo – Perkaderan merupakan proses penting dalam organisasi untuk memperkuat pemahaman ideologi Muhammadiyah serta menanamkan nilai-nilai Islam berkemajuan. Sadar akan pentingnya membentuk kader yang unggul tersebut, Pimpinan Daerah Nasyiatul Aisyiyah (PDNA) Kabupaten Sukoharjo menyelenggarakan Darul Arqam Nasyiatul Aisyiyah (DANA) Tingkat I dengan tema “Membumikan Ideologi dan Melangitkan Gerakan, Dari Nasyiatul Aisyiyah Sukoharjo untuk Semesta” […]

  • Pendaftar PMB UMS 2026 dari Sabang sampai Merauke

    Pendaftar PMB UMS 2026 dari Sabang sampai Merauke

    • calendar_month Senin, 6 Jul 2026
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 8
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID; SURAKARTA – Minat masyarakat untuk melanjutkan studi di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) terus meningkat pada Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) UMS 2026. Hingga Jumat 4 Juli 2026, tercatat 23.843 calon mahasiswa telah mendaftar, dengan 5.417 di antaranya telah menyelesaikan registrasi. Menariknya, pendaftar tidak hanya berasal dari Pulau Jawa, tetapi juga datang dari Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, […]

  • LDK PP Muhammadiyah Audiensi ke Kemendikdasmen, Buka Peluang Kolaborasi Pendidikan

    LDK PP Muhammadiyah Audiensi ke Kemendikdasmen, Buka Peluang Kolaborasi Pendidikan

    • calendar_month Kamis, 31 Jul 2025
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 15
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Jakarta – Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah melakukan audiensi dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia (Kemendikdasmen RI) pada Kamis, 30 Juli 2025, bertempat di kantor Kemendikdasmen, Jakarta. Dalam pertemuan tersebut, LDK PP Muhammadiyah diwakili oleh Drs. Agus Tri Sundani, M.Si. selaku Wakil Ketua, Mufid Habib Musthofa, M.Si. selaku Bendahara, […]

  • Puluhan Tahun Konsisten, Pengajian PRM Sidomulyo Terus Hidupkan Dakwah

    Puluhan Tahun Konsisten, Pengajian PRM Sidomulyo Terus Hidupkan Dakwah

    • calendar_month Selasa, 13 Jan 2026
    • account_circle Redaksi Kabarmuh
    • visibility 21
    • 0Komentar

    Pengajian pekanan Pimpinan Ranting Muhammadiyah Sidomulyo kembali dilaksanakan pada Selasa malam (13/1/2026) di Masjid Mujahiddin, Desa Sidomulyo, Kecamatan Anggana, Kutai Kartanegara. Kegiatan ini merupakan bagian dari tradisi dakwah Muhammadiyah yang telah berlangsung secara konsisten selama puluhan tahun. Pengajian diikuti jamaah Muhammadiyah Anggana dan masyarakat sekitar, serta dilaksanakan rutin setiap malam Rabu antara waktu Maghrib dan […]

  • MPM PWM Lampung bersama KPO Berkemajuan Selenggarakan Temu Raya Petani Organik

    MPM PWM Lampung bersama KPO Berkemajuan Selenggarakan Temu Raya Petani Organik

    • calendar_month Jumat, 13 Sep 2024
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 188
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Lampung – Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Lampung bersama Komunitas Petani Organik (KPO) Berkemajuan selenggarakan Temu Raya Petani Organik sebagai gerakan massal pertanian organik wujudkan revolusi mental di bidang pertanian menuju kemandirian pangan dengan tema Membumikan Organik Selamatkan Bumi pada 12 September 2024 di Desa Sriwedari, Kecamatan Tegineneng, Kabupaten Pesawaran, Provinsi […]

  • Milad ke-24 Lazismu: Usung Tema “Integrasi Menguatkan Dampak” Guna Wujudkan Ekosistem ZISKA yang Berkelanjutan

    Milad ke-24 Lazismu: Usung Tema “Integrasi Menguatkan Dampak” Guna Wujudkan Ekosistem ZISKA yang Berkelanjutan

    • calendar_month Selasa, 7 Jul 2026
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 17
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, JAKARTA – Tepat pada hari ini, 4 Juli 2026, Lembaga Amil Zakat, Infaq, dan Sadaqah Muhammadiyah (Lazismu) memperingati hari jadinya yang ke-24. Sejak didirikan pada 4 Juli 2002, Lazismu terus berupaya mengokohkan komitmennya dalam pemberdayaan umat. Pada milad tahun ini, Lazismu mengusung tema “Integrasi Menguatkan Dampak”, sebuah langkah strategis untuk menyatukan gerak langkah kelembagaan […]

expand_less