Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Berita » Dari Desa ke Kota, Haruskah Anak Muda Selalu Merantau?

Dari Desa ke Kota, Haruskah Anak Muda Selalu Merantau?

  • account_circle Dwi Kurniadi
  • calendar_month Selasa, 7 Okt 2025
  • visibility 252
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh Muhammad Rofiqul Anam, Ketua Bidang Perkaderan PW IPM Lampung dan Penggerak Bumiloka Indonesia

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), mulai dari tahun 2010, 49,8 persen masyarakat Indonesia pergi dari desa untuk merantau ke kota, persentase tersebut meningkat hingga 56,7 persen di tahun 2020 dan diprediksi akan terus meningkat menjadi 66,6 persen pada tahun 2035, tren perantauan di Indonesia meningkat dengan rata-rata pertumbuhan 5 persen setiap lima tahun. Meski terlihat mengesankan, fenomena ini justru menyiratkan ironi yang cukup mendalam, mengingat desa yang dulu menjadi pusat pertumbuhan perlahan merasakan mulai kehilangan sumber daya ekonomi, budaya, juga manusia. Stereotip masyarakat Indonesia yang meyakini sepenuhnya bahwa perkotaan memiliki peluang dan kesempatan yang lebih menjanjikan menjadi alasan utama dibalik perantauan, terutama terhadap pendidikan dan pekerjaan.

Data menunjukkan bahwa banyak perantau yang justru terjebak dalam kemiskinan akibat tingginya biaya hidup dan ketidakmampuan untuk bersaing di dunia yang semakin dinamis dan kompetitif. Selain itu, populasi yang meningkat akibat banyaknya perantau menjadikan perkotaan harus menyediakan infrastruktur dan layanan yang memadai.Jika tidak, kemacetan, kurangnya fasilitas, dan ketimpangan sosial akan semakin meningkatkan kualitas hidup para perantau diperkotaan. Oleh karena itu, meskipun kehidupan di kota menawarkan banyak peluang, kota acapkali menjadi tempat pertemuan antara impian dan realita yang kurang mengenakan. Lalu, bagaimana dengan anak muda, kenapa kita lebih memilih pergi daripada membangun desa sendiri?.

Mengapa Anak Muda Lebih Memilih Merantau ke Kota?

Ketimpangan antara desa dan kota jadi penyebab utama anak muda lebih memilih merantau ke kota. Dalam segmen pendidikan misalnya, data BPS tahun 2023 menunjukkan 5,11 persen anak muda di desa tidak sekolah dan 12,39 persen diantaranya putus sekolah (SD), sementara di kota, hanya 1,93 persen anak muda yang tidak sekolah dan 6,62 persen yang putus sekolah. Selain itu, terdapat 49,16 persen pelajar di kota yang lulus SMA, sementara di desa hanya 27,98 persen. Data ini menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk desa menyelesaikan pendidikan hanya pada jenjang SD, yaitu sebesar 31,13 persen.

Ketimpangan pendidikan dapat ditandai dengan adanya kesenjangan kualitas dan kuantitas pada sarana, fasilitas, guru, serta akses transportasi dan komunikasi antara pendidikan di desa dan kota. Tentu saja hal ini memiliki efek domino yang cukup berpengaruh pada kondisi sosial dan ekonomi masyarakat di desa, karena peluang dan kesempatan kerja semakin besar seiring tingginya tingkat pendidikan. Diversifikasi ekonomi membuat pedesaan sulit berkembang sehingga tidak mengherankan jika anak muda lebih memilih pergi ke kota. Stigma bahwa “Sukses Itu di Kota” seakan semakin dapat diterima, anggapan bahwa bekerja di kota lebih prestisius daripada di desa menjadi satu keyakinan bagi mayoritas anak muda desa. Kurangnya sosok inspiratif yang sukses dengan tetap tinggal di desa menjadi satu penyebab hal ini dapat terjadi. Selain itu, tekanan sosial membuat anak muda merasa harus meninggalkan desa agar bisa berkembang.

Perkembangan arus modernisasi memiliki pengaruh yang signifikan terhadap sikap, perilaku serta struktur sosial dimasyarakat, hal ini menjadikan kebanyakan anak muda mulai meninggalkan nilai-nilai kedaerahanya. Anak muda saat ini atau yang lebih familiar dengan istilah Gen Z cenderung menilai bahwa segala sesuatu yang berbau kedaerahan adalah sesuatu yang terkesan terbelakang atau sebut saja ”ndeso”, terutama terhadap masalah budaya. Tidak jarang kita menemukan anak muda yang enggan bahkan malu untuk menggunakan bahasa daerahnya masing-masing hanya karna agar tidak dianggap ndeso sehingga perlahan tutur bahasa daerah ini mulai ditinggalkan, padahal bahasa daerah adalah warisan budaya dari bangsa Indonesia yang harus tetap terjaga. Hal ini mengakibatkan desa kehilangan sumber daya, anak-anak muda yang seharusnya menciptakan perubahan di desa lebih memilih pergi ke kota untuk memenuhi gaya hidup dan kebebasanya.

Peluang dan Tantangan Generasi Muda Dalam Membangun Desa

Jika hal ini terus terjadi, lambat laun desa akan mengalami “missing generation”, dimana ia akan kehilangan generasi produktif sebagai sumber daya yang seharusnya dapat menciptakan perubahan di desa, dalam hal ini generasi muda. Sejalan dengan Sofyan Sjaf sosiolog IPB, 70 persen generasi muda yang hadir dalam bingkai bonus demografi kedepan diprediksi akan mengalami kemiskinan ekstrem, terutama yang tinggal dipedesaan. Fakta ini menunjukkan bahwa Indonesia akan mengalami keadaan dimana desa sebagai sumber kehidupan bangsa akan ditinggalkan oleh kebanyakan anak muda, tentu ini menjadi tantangan yang besar.

Selain itu, desa ini memiliki banyak sekali potensi yang sebenarnya bisa dikembangkan. Namun, acapkali pembangunan desa cenderung hanya berfokus pada aspek fisik seperti jalan tol, waduk, bandara, hingga mega proyek yang memiliki investasi asing besar-besaran. Saya pikir hal ini hanya akan memaksa desa seolah harus menjadi kota yang justru berakibat pada corak sosial-budaya anak muda desa yang menjadi ciri khas akan memudar.

Selain sektor pertanian, peternakan, atau budaya, bagi saya satu hal yang dapat dikembangkan untuk dapat meningkatkan kualitas desa adalah perihal sumber daya manusia, dalam hal ini anak-anak muda. Anak muda harus membangun narasi baru tentang desa, bagaimana menciptakan ruang dan kesempatan untuk sukses di desa dan memberikan dampak yang besar untuk mendobrak stigma yang ada.

Saat ini, banyak sekali program dari pemerintah yang dapat mendorong anak-anak muda desa agar dapat memiliki daya saing dan tidak kalah dengan anak-anak muda yang ada di kota. Kementrian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal meluncurkan beberapa program yang masuk dalam dua belas Rencana Aksi Kemendes tahun 2025. Mulai dari program pembangunan ekonomi, budaya hingga wisata, hampir semuanya melibatkan peran anak-anak muda. Oleh karena itu, perihal pembangunan desa memerlukan kolaborasi dan sinergi antara pemerintah bersama masyarakat muda untuk dapat mewujudkan astacita keenam yang menjadi misi bangsa indonesia lima tahun ke depan.

Redaksi : Al Fadhlil Raihan Yunan

  • Penulis: Dwi Kurniadi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • UMS Raih Bronze Medal IPITEx 2026, ZIMO Hadirkan Inovasi AI untuk Pantau Gizi dan Aktivitas Remaja

    UMS Raih Bronze Medal IPITEx 2026, ZIMO Hadirkan Inovasi AI untuk Pantau Gizi dan Aktivitas Remaja

    • calendar_month Sabtu, 17 Jan 2026
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 83
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, SURAKARTA – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) di tingkat internasional. Tim mahasiswa UMS berhasil meraih Bronze Medal pada ajang International Intellectual Property, Invention, Innovation and Technology Exposition (IPITEx) 2026 yang diselenggarakan oleh National Research Council of Thailand (NRCT) pada 5 – 9 Januari 2026 di Bangkok, Thailand. Penghargaan ini diraih melalui […]

  • PKMTM III PW IPM Lampung Dorong Lahirnya Kader Pelajar Berjiwa Kepemimpinan Inovatif

    PKMTM III PW IPM Lampung Dorong Lahirnya Kader Pelajar Berjiwa Kepemimpinan Inovatif

    • calendar_month Jumat, 16 Jan 2026
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 80
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, SURAKARTA – Pimpinan Wilayah (PW) Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Lampung menyelenggarakan Pelatihan Kader Madya Taruna Melati (PKMTM) III yang berlangsung selama tujuh hari, Kamis–Rabu, 8–14 Januari 2026. Kegiatan ini dipusatkan di Komplek Perguruan Muhammadiyah Bungur, Way Bungur, Lampung Timur. Mengusung tema “Building Innovative Leadership”, PKMTM III menjadi ruang pengkaderan strategis untuk membentuk kader pelajar […]

  • Green Youth Quake: Pemuda NU dan Muhammadiyah Bergerak Lawan Krisis Iklim

    Green Youth Quake: Pemuda NU dan Muhammadiyah Bergerak Lawan Krisis Iklim

    • calendar_month Sabtu, 26 Jul 2025
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 78
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, BOGOR — Krisis iklim bukan lagi ancaman masa depan. Ia sudah menjadi kenyataan yang dirasakan di banyak sudut dunia, termasuk Indonesia. Cuaca ekstrem, gagal panen, banjir rob, polusi udara, dan penyakit tropis yang meningkat adalah bagian dari dampaknya. Namun, kesadaran publik, khususnya kalangan muda, masih belum memadai. Menjawab tantangan itu, Greenfaith Indonesia, Enter Nusantara, […]

  • Zakat Fitrah dan Dampak Sosial Penyaluran Zakat

    Zakat Fitrah dan Dampak Sosial Penyaluran Zakat

    • calendar_month Rabu, 18 Mar 2026
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 77
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, SURAKARTA – Zakat fitrah menjadi salah satu ibadah wajib bagi umat Islam menjelang Hari Raya Idul Fitri. Setiap muslim yang mampu diwajibkan menunaikan zakat ini sebagai bentuk penyucian diri sekaligus kepedulian sosial kepada masyarakat yang membutuhkan. Di tengah masyarakat, istilah yang sering digunakan adalah zakat fitrah. Namun dalam kajian istilah keislaman, penyebutan yang lebih […]

  • Peduli Sesama, PCM Girimulyo dan PKU Muhammadiyah Gamping Bagikan Daging Qurban di Daerah Terpencil

    Peduli Sesama, PCM Girimulyo dan PKU Muhammadiyah Gamping Bagikan Daging Qurban di Daerah Terpencil

    • calendar_month Rabu, 19 Jun 2024
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 276
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Kulon Progo –  Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Girimulyo menyalurkan paket daging qurban kepada warga Muhammadiyah di Desa Purwosari. Kegiatan ini merupakan hasil qurban dari civitas Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Gamping. Penyerahan daging qurban secara simbolis dilakukan di SD Muhammadiyah Purwosari, dengan dihadiri oleh tokoh masyarakat setempat dan penerima manfaat dari program ini. (18/06/24). Sukemsi, […]

  • UMS Dorong Pendampingan Psikososial Berkelanjutan untuk Korban Bencana Alam

    UMS Dorong Pendampingan Psikososial Berkelanjutan untuk Korban Bencana Alam

    • calendar_month Kamis, 11 Des 2025
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 70
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID SURAKARTA – Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menyoroti pentingnya psikoedukasi bagi penyintas bencana di tengah meningkatnya kejadian banjir, gempa, dan erupsi yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia belakangan ini. Hal tersebut disampaikan oleh Dosen Psikologi UMS, Fajar Ruddin, S.Psi., M.Sc., M.A. Fajar menjelaskan bahwa bencana alam merupakan stressor besar yang memicu tekanan psikologis, […]

expand_less