Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Esai » Masjid dan Generasi Muda: Menjemput yang Pergi, Merangkul yang Rindu

Masjid dan Generasi Muda: Menjemput yang Pergi, Merangkul yang Rindu

  • account_circle Kabar Muhammadiyah
  • calendar_month Sabtu, 6 Sep 2025
  • visibility 19
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Arif Rahmatullah, M. Pd, Ketua Lembaga Dakwah Komunitas PWM Kalimantan Timur

Pernahkah kita merasa heran mengapa masjid kini lebih ramai oleh jamaah paruh baya, sementara wajah-wajah muda semakin jarang terlihat? Bukan berarti anak muda hilang imannya, tapi ada jarak yang membuat mereka merasa masjid bukan lagi ruang yang akrab.

Sebuah penelitian dari PPIM UIN Jakarta (2023) menunjukkan bahwa remaja lebih banyak belajar agama dari media digital, podcast, atau influencer ketimbang dari masjid. Mereka terbiasa dengan konten singkat, bahasa sederhana, dan ruang interaksi yang cair. Ketika masjid hanya menawarkan format lama yaitu ceramah panjang, komunikasi satu arah yang akhirnya menyebabkan mereka merasa kurang terhubung.

Padahal, masjid sejatinya bukan hanya tempat ibadah, tapi juga pusat kehidupan sosial. Studi terbaru menegaskan bahwa shalat berjamaah bisa memperkuat ikatan sosial antarjamaah. Jika anak muda tidak ikut hadir, masjid kehilangan denyut kaderisasi dan energi generasi penerus.

Lantas, apa yang bisa kita lakukan? Pertama, kita perlu jujur melihat kenyataan. Masjid harus membuka ruang partisipasi bagi anak muda, bukan sekadar menjadikan mereka penonton. Bayangkan jika mereka dilibatkan sebagai penggerak acara, tim kreatif media sosial masjid, atau bahkan penanggung jawab kegiatan sosial—mereka akan merasa memiliki, bukan hanya mampir.

Kedua, mari benahi desain ruang masjid. Banyak remaja enggan datang bukan karena tidak mau beribadah, tetapi karena mereka merasa kaku, tidak punya ruang untuk belajar atau berdiskusi. Penelitian mutakhir tentang *youth-friendly mosque* menekankan pentingnya ruang ramah remaja: pojok baca, area diskusi, hingga fasilitas yang membuat mereka betah tanpa mengurangi kekhusyukan jamaah.

Ketiga, masjid bisa menjadi pusat pengembangan diri. Kita bisa hadirkan mentoring karier, kelas beasiswa, pelatihan digital, atau bazar UMKM pemuda. Hasil riset manajemen masjid menunjukkan bahwa ketika masjid menawarkan program yang relevan dengan kebutuhan generasi muda, tingkat keterlibatan mereka meningkat signifikan.

Keempat, jangan lupakan organisasi remaja masjid. Banyak Remas vakum karena minim pendampingan. Padahal, riset terbaru menegaskan bahwa dengan pembagian peran yang jelas dan target program sederhana, organisasi pemuda bisa hidup kembali dan menjadi motor penggerak kegiatan masjid.

Intinya sederhana: anak muda bukanlah masalah, mereka adalah potensi. Tugas kita bukan menghakimi jarak mereka dari masjid, melainkan menjemput mereka dengan cara yang ramah, relevan, dan penuh kepercayaan. Jika masjid berhasil memberi ruang tumbuh, berkreasi, dan berkontribusi, maka saf-saf kita tidak lagi sunyi, justru akan kembali hidup dengan energi generasi penerus.

  • Penulis: Kabar Muhammadiyah

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • 10 Prodi Favorit UMS 2026 dan Kisaran Biaya Kuliahnya

    10 Prodi Favorit UMS 2026 dan Kisaran Biaya Kuliahnya

    • calendar_month Minggu, 24 Mei 2026
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 22
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, SURAKARTA – Minat calon mahasiswa untuk melanjutkan studi di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id terus meningkat pada Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) pmb.ums.ac.id tahun 2026. Hingga saat ini, total pendaftar di UMS telah mencapai 16.237 calon mahasiswa. Koordinator One Day Service (ODS) UMS, Alif Rahmat Yudha Putra, S.Kom., menyampaikan bahwa dari jumlah tersebut, sebanyak 3.174 […]

  • Pendidikan Sebagai Upaya Pembebasan

    Pendidikan Sebagai Upaya Pembebasan

    • calendar_month Rabu, 30 Mar 2022
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 700
    • 0Komentar

    Oleh : Intan Dwi Rahmah (202110230311005) Paulo Freire adalah salah satu filsuf pendidikan paling berpengaruh abad kedua puluh. Dia bekerja dengan sepenuh hati untuk membantu orang baik melalui filosofinya dan praktik pedagogi kritisnya. Berasal dari Brasil, tujuan Freire adalah untuk memberantas buta huruf di antara orang-orang dari negara dan benua yang sebelumnya dijajah. Wawasannya berakar […]

  • Menuju Penggunaan Gawai yang Sehat: Peran Program Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa dalam Memerangi Adiksi Gawai di Kalangan Masyarakat

    Menuju Penggunaan Gawai yang Sehat: Peran Program Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa dalam Memerangi Adiksi Gawai di Kalangan Masyarakat

    • calendar_month Selasa, 27 Feb 2024
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 319
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Malang – Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang merupakan suatu komitmen yang harus dipenuhi oleh setiap mahasiswa yang sedang  menjalani studi di universitas tersebut. Kegiatan ini merupakan cara bagi mahasiswa untuk memberikan kontribusi langsung kepada masyarakat sekitar. Kegiatan PMM yang dilaksanakan oleh kelompok 39 gelombang 3 pada tanggal 12 Februari 2023, merupakan wujud […]

  • Ikhtiar Dakwah IMM Saat Awal Mahasiswa Baru

    Ikhtiar Dakwah IMM Saat Awal Mahasiswa Baru

    • calendar_month Selasa, 1 Sep 2026
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 40
    • 0Komentar

    Oleh: Moch. Muzaki, TKK DPD IMM Jatim Masa awal menjadi mahasiswa adalah sebuah fase peralihan yang tidak sederhana. Seseorang yang sebelumnya berada dalam dunia sekolah, dengan pola kehidupan yang relatif terarah, tiba-tiba memasuki ruang baru bernama kampus. Ia bertemu dengan lingkungan yang lebih luas, karakter manusia yang lebih beragam, kebebasan yang lebih besar, tuntutan akademik […]

  • Pesantren Berkemajuan Dimulai dari Kepengasuhan Tanpa Perundungan: Refleksi Diklat Kepengasuhan Zero Bullying

    Pesantren Berkemajuan Dimulai dari Kepengasuhan Tanpa Perundungan: Refleksi Diklat Kepengasuhan Zero Bullying

    • calendar_month Selasa, 27 Jan 2026
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 12
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Kebumen – Lembaga Pengembangan Pesantren (LPP) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah menyelenggarakan Pelatihan Kepengasuhan Pesantren Zero Bullying di Pesantren Modern Wiriosoedarmo Muhammadiyah (TrenMu) Gombong, Kebumen, melalui Korwil Karesidenan Banyumas. Selasa (27/01/26) Kegiatan ini diikuti oleh 90 peserta yang merupakan perwakilan Pesantren Muhammadiyah se-Korwil Karesidenan Banyumas meliputi Banyumas, Cilacap, Purbalingga, Banjarnegara, dan Kebumen. Setiap […]

  • Membangun sistem Pendidikan yang inklusif dan Merata: Kerja Sama Pemerintah dan Mahasiswa

    Membangun sistem Pendidikan yang inklusif dan Merata: Kerja Sama Pemerintah dan Mahasiswa

    • calendar_month Kamis, 2 Okt 2025
    • account_circle Dwi Kurniadi
    • visibility 9
    • 0Komentar

    Oleh Aulia Safitri, Ketua Bidang Immawati PC IMM Kota Metro Dalam menyambut Indonesia Emas 2025, kita dihadapkan pada tantangan serius yang memerlukan perhatian mendalam. Banyak sekolah negeri yang kekurangan siswa, bahkan beberapa sekolah terpaksa ditutup karena tidak lagi diminati. Fenomena ini tidak hanya mencerminkan masalah angka, tetapi juga menggambarkan ketidaksetaraan akses pendidikan yang merata di […]

expand_less