Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Esai » Perilaku Anak, Tanggung Jawab Siapa? Mengurai Kesalahpahaman antara Rumah dan Sekolah

Perilaku Anak, Tanggung Jawab Siapa? Mengurai Kesalahpahaman antara Rumah dan Sekolah

  • account_circle Kabar Muhammadiyah
  • calendar_month Minggu, 29 Jun 2025
  • visibility 15
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Pristila Putri, Mahasiswa Magister Psikologi UMS

Dalam dunia pendidikan, seringkali muncul persepsi bahwa segala perilaku salah anak sepenuhnya menjadi tanggung jawab guru di sekolah. Banyak orang tua yang beranggapan bahwa jika anak mereka bermasalah, itu karena pengasuhan atau pengajaran di sekolah kurang baik. Padahal, pendidikan anak adalah proses yang melibatkan dua lingkungan utama: rumah dan sekolah.

Belakangan ini banyak masyarakat berpendapat bahwa anak tidak pintar itu adalah sepenuhnya salah guru, anak berperilaku buruk adalah salah guru, bahkan tidak jarang orang beranggapan bahwa anak salah pergaulan pun salah guru disekolah. Mereka beraggapan bahwa guru adalah orang yang harus bertanggung jawab penuh atas perilaku anak. Mereka semua seakan buta bahwa anak tidak selalu bersama guru sepanjang hari tidak 24/7 disekolah. Hal-hal seperti ini banyak terjadi di desa-desa yang mayoritas masyarakatnya merantau ke luar kota atau bahkan ke luar pulau. Banyak dari mereka meninggalkan anak nya dan dititipkan kepada nenek atau sudara-saudari mereka dirumah. Hal ini mengakibatkan kurangnya perhatian orang tua terhadap anak.

Kejadian seperti ini mungkin jarang terjadi dikota-kota besar akan tetapi sangat sering di desa-desa disuatu kabupaten. Orang tua dengan mudahnya menitipkan anak kepada keluarga terdekat, mereka hanya mau tau baigamana kondisi fisik anak tersebut apakah sehat, apakah teurus dengan baik secara fisik, tidak sedikit dari mereka sangat abai terhadap kondisi psikis anaknya. Mereka lupa bahwa tumbuh kembang anak itu harus di damping penuh orang tua nya.

Dari Hati ke Hati, kolaborasi orang tua dan guru sebagai Perjalanan Memahami dan Menghargai Anak

Menggunakan teori humanistik yang dikembangkan oleh tokoh seperti Abraham Maslow dan Carl Rogers menekankan bahwa manusia adalah makhluk yang utuh dengan kebutuhan emosional, sosial, dan aktualisasi diri yang harus dipenuhi agar bisa berkembang optimal. Anak-anak bukan hanya ‘wadah penampung’ pengetahuan atau aturan, melainkan individu dengan perasaan, kebutuhan akan penghargaan, rasa aman, dan hubungan yang hangat.

Dalam konteks pendidikan, ini berarti anak memerlukan dukungan penuh baik dari lingkungan rumah maupun sekolah agar bisa berkembang secara optimal secara fisik, emosional, dan sosial. Peran penting terhadap tumbuh kembang anak memerlukan kolaborasi orang tua dan guru yang baik. Seharusnya ketika seoranga anak memiliki kendala dalam tumbuh kembangnya orang tua dan guru saling mengevaluasi diri bukan malah saling  menyalahkan antar pihak.

Ketika seorang anak melakukan kesalahan maka hal pertama yang harus dilakukan oleh orang tua dan guru adalah memperbaiki hal tersebut bukan saling menuduh “loh kok kamu masih kecil ngomong kasar? Disekolah apa nggak diajari sopan santun sama guru nya?” “ loh kok kamu berani ngelawan sama orang yang lebih tua apa dirumah nggak diajari adab sama orang tuamu?” hal ini seringkali terjadi dilingkungan sekolah dan rumah yang seharusnya tidak terjadi hal ini akan membuat seorang anak pun bingung seharusnya saya ini tanggung jawab siapa?, perilaku saya ini tanggungjawab siapa? Tentunya hal ini disebabkan kurangnya kolaborasi antara orang tua dan guru. Dan ketika seorang anak memiliki prestasi maka orang tua dan guru pun harus berperan penting mendukung bakat anak agar anak merasa kebutuhan emosianalnya terpenuhi. Dan sekali lagi kolaborasi guru dalam hal ini pun tidak jarang menimbulkan perselisishan. Giliran anaknya prestasi menang lomba orang tua dan guru saling berebut bahwa anak tersebut memiliki kelebihan karena orang tua nya atau karena gurunya yang seharusnya berkolaborasi untuk saling mendukung agar anak juga mendapatkan perasaan senang dan hubungan hangat.

Bersama Membangun Jiwa, Peran Guru dan Orang Tua dalam Memanusiakan Anak

Menurut Carl Rogers, guru yang efektif adalah mereka yang mampu menciptakan suasana belajar yang kondusif dengan sikap empati, penerimaan tanpa syarat, dan keaslian. Namun guru bukanlah satu-satunya figur penting orang tua juga adalah pendukung utama yang membentuk landasan karakter dan emosi anak.

Jika lingkungan rumah penuh dengan perhatian, penghargaan, dan komunikasi terbuka, maka anak akan membawa sikap positif tersebut ke sekolah. Sebaliknya, jika anak mengalami pengabaian atau ketidakharmonisan di rumah, itu akan berpengaruh besar terhadap perilakunya di sekolah. Sorang anak diibaratkan suatu gelas ketika dari rumah gelas tersebut kosong  (perhatian, kasih sayang, pengertian orang tua, didikan dasar orang tua) maka anak tersebut akan haus ketika disekolah, kebanyakan anak yang seperti ini mereka akan mencari perhatian disekolah dengan perilaku dan tingkah laku yang kurang baik misal, jail dengan teman nya, tidak mau mendengarkan gurunya, bermain seenak nya dikelas sehingga membuat perkembangan anak tersebut menjadi lebih lambat dari temanya yang lain. Sebaliknya anak yang dari rumah membawa gelas berisi penuh (perhatian, kasih sayang, pengertian orang tua, didikan dasar orang tua) maka anak tersebut akan sangat siap menjalani kegiatan belajar di sekolah dan biasanya anak seperti ini akan memiliki kemampuan yang lebih dari teman nya yang lain. Hal ini pun juga harus terjadi disekolah ketika pulang sekolah anak juga harus membawa gelas yang penuh lagi kerumah.

Ketika orang tua menyalahkan guru sepenuhnya atas perilaku anak, seringkali hal ini disebabkan karena kurangnya pemahaman akan kebutuhan emosional anak dan peran masing-masing pihak. Dalam teori Maslow, jika kebutuhan dasar seperti rasa aman dan rasa dihargai tidak terpenuhi di rumah, anak akan sulit mencapai tingkat aktualisasi diri yang optimal di sekolah.

Menyatukan Peran dan Hati antara Guru dan Orang Tua dalam Pendidikan

Hal yang pertama bisa dilakukan yaitu dengan komunikasi empatik guru dan orang tua perlu membangun komunikasi yang saling mendengar dengan sikap empati tanpa saling menyalahkan, agar setiap masalah dapat diselesaikan secara bersama dengan saling berkolaborasi membangun komunikasi di setiap perkembangan anak. Saling menyampaikan apa yang menjadi kendala ketika mendampingi tumbuh kembang anak di sekolah maupun dirumah agara anak merasakan suasana yang tenang dan hangat sehingga dalam melakukan aktivitas puna anak akan merasa nyaman dan aman.

Kemudian hal kedua membangun lingkungan yang menerima dan mendukung

Baik di rumah maupun di sekolah, anak harus merasa diterima tanpa syarat, sehingga mereka dapat mengekspresikan diri dan tumbuh secara optimal. Tidak membatasi anak ketika ingin mengekspresikan keinginanya contoh misal dirumah anak ingin membantu mencuci piring, kadang orang tua khawatir karena masih kecil takut nanti piringnya pecah kemudian melarang anak tersebut untuk membantu mencuci piring hal ini termasuk pembatasan anak dalam mengekspresikan keinginannya. Begitupun juga di sekolah misal ada kegiatan lomba tingkat kecamatan atau tingkat kabupaten sering sekali guru tidak mengadakan seleksi namun langsung menunjuk salah satu dari siswa. Jadi anak yang memiliki keinginan ikut lomba tadi jadi merasa bakatnya kurang di wadahi.

Yang ketiga melibatkan anak dalam proses pembelajaran dan perbaikan anak diajak untuk memahami dan mengelola perasaannya sendiri, meningkatkan kesadaran diri dan tanggung jawab personal sesuai dengan prinsip humanistik.

Kemudian yang terahir menghargai keunikan setiap anak Pendekatan humanistik mengajarkan bahwa setiap anak unik dan membutuhkan cara pembinaan yang sesuai dengan kebutuhan individualnya. Ketika dirumah tidak menyamakan karakter anak pertama, kedua ketiga dan seterusnya. Begitupun disekolah tidak menyamaratakan bahwa sema karakter anak itu sama.

Refleksi Akhir

Memahami perilaku anak dari perspektif teori humanistik menegaskan bahwa pendidikan bukan hanya soal pengajaran akademis, tetapi juga soal pemenuhan kebutuhan emosional dan sosial. Oleh karena itu, tanggung jawab membentuk perilaku anak tidak bisa hanya disandarkan pada sekolah saja, melainkan harus menjadi kolaborasi erat antara guru dan orang tua.

Dengan sinergi yang penuh empati dan penghargaan, anak-anak dapat berkembang menjadi pribadi yang utuh dan bahagia  bukan hanya pintar, tapi juga berkarakter.

  • Penulis: Kabar Muhammadiyah

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Perkuat Peran Strategis Pesantren Mahasiswa, UMS Jadi Tuan Rumah Munas Aslama PTMA Se-Indonesia

    Perkuat Peran Strategis Pesantren Mahasiswa, UMS Jadi Tuan Rumah Munas Aslama PTMA Se-Indonesia

    • calendar_month Sabtu, 31 Jan 2026
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 13
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) dipercaya sebagai tuan rumah Musyawarah Nasional (Munas) Asosiasi Pengelolaan Asrama (Aslama) Perguruan Tinggi Muhammadiyah Aisyiyah (PTMA), Kamis-Sabtu, 29-31 Januari 2026. Munas Aslama merupakan forum yang diselenggarakan oleh Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian, dan Pengembangan Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, sebagai forum memperkuat pengelolaan asrama/pesantren mahasiswa, serta meningkatkan peran strategis asrama […]

  • Kabut Asap Jadi Ancaman, KKN UMRI dan Pemdes Buluh Rampai Gaungkan Gerakan Pakai Masker

    Kabut Asap Jadi Ancaman, KKN UMRI dan Pemdes Buluh Rampai Gaungkan Gerakan Pakai Masker

    • calendar_month Senin, 24 Agt 2026
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 14
    • 0Komentar

    KABARUH.ID; BULUH RAMPAI – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 143 Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI) bersama Pemerintah Desa Buluh Rampai mengajak masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi kabut asap yang menyelimuti wilayah desa. Imbauan tersebut disampaikan sebagai bentuk kepedulian terhadap kesehatan masyarakat di tengah menurunnya kualitas udara. Kondisi kabut asap yang terjadi menjadi perhatian bersama […]

  • Pemuda Muhammadiyah Purbalingga Gelar Sarasehan Kepemudaan: Sinergi untuk Kemandirian dan Pembangunan Daerah

    Pemuda Muhammadiyah Purbalingga Gelar Sarasehan Kepemudaan: Sinergi untuk Kemandirian dan Pembangunan Daerah

    • calendar_month Senin, 26 Mei 2025
    • account_circle Dwi Kurniadi
    • visibility 6
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID Purbalingga – Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Purbalingga periode Muktamar XVIII sukses menggelar Sarasehan Kepemudaan #1 yang dihadiri oleh para tokoh pemuda, aktivis, dan simpatisan Muhammadiyah di Pendopo Dipokusumo, Sabtu, 24 Mei 2025. Acara ini menghadirkan dua narasumber utama, yaitu Mas Bagus Ardeni, A.Md.Ak, S.M , Ketua BUMP (Badan Usaha Milik Pemuda) PP Pemuda […]

  • Gus Bach: Kader Diaspora adalah Duta dan Jembatan Peradaban Muhammadiyah

    Gus Bach: Kader Diaspora adalah Duta dan Jembatan Peradaban Muhammadiyah

    • calendar_month Selasa, 14 Jul 2026
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 17
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Yogyakarta – Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah resmi menutup kegiatan Coaching Instruktur Pendamping Perkaderan Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) wilayah “Asia Pasifik dan Mediterania” (Maroko, Libya, Thailand, dan Mesir) pada Kamis (4/7). Acara yang berlangsung secara daring melalui _zoom meeting_ ini menjadi momentum penting untuk menyelaraskan gerak […]

  • Magius Guide

    Magius Guide

    • calendar_month Sabtu, 22 Agt 2026
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 18
    • 0Komentar

    Magius – Magius

  • UMS Resmi Buka Program Magister Ilmu Komunikasi, Perkuat Pengembangan Keilmuan

    UMS Resmi Buka Program Magister Ilmu Komunikasi, Perkuat Pengembangan Keilmuan

    • calendar_month Senin, 27 Apr 2026
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 14
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, SURAKARTA – Fakultas Komunikasi dan Informatika (FKI) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) resmi membuka Program Studi Ilmu Komunikasi jenjang Magister (S2). Izin pembukaan tersebut tertuang dalam Keputusan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia Nomor 383/B/O/2026. Terbitnya izin ini menjadi langkah penting bagi FKI UMS dalam memperkuat peran sebagai institusi pendidikan tinggi yang adaptif […]

expand_less