Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Esai » Small is Beautiful: Cerita Komunitas Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah

Small is Beautiful: Cerita Komunitas Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah

  • account_circle Kabar Muhammadiyah
  • calendar_month Senin, 28 Jul 2025
  • visibility 18
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Hening Parlan, Wakil Ketua MLH PP Muhammadiyah dan Wakil Ketua LLHPB PP ‘Aisyiyah

Tahun 2020, di tengah pandemi, saya menyampaikan teori ABCD kepada Ibu-ibu LLH Pimpinan Pusat Aisyiyah di sebuah pertemuan on line. Setelah itu kami melakukan system belajar bareng bagaimana memahami teori ini. Sebuah teori yang saya dapatkan setelah belajar bersama Inspirit, yang dipimpin oleh mas Dani Moenggoro.  Ini bukan teori yang muluk-muluk dengan bahasa ndakik-ndakik yang hanya dipahami segelintir orang, melainkan sederhana, membumi, dan bisa diaplikasikan di mana saja.

ABCD—Asset-Based Community Development—adalah jurus yang menghargai komunitas dengan segala dialektika dan warna-warni sebagai kekuatan. Saat itu, di masa masker dan cuci tangan menjadi rutinitas harian, kami duduk bersama secara daring menganalisis diri, menganalisis komunitas, mencatat poin-poin mana yang bisa dikerjakan bersama.

Dua syarat penting kami tetapkan: gembira dan berdampak.

Gembira, sebab kami tahu Ibu-ibu Aisyiyah memiliki segudang pekerjaan. Banyak dari mereka adalah pegawai kantor, dosen, pengusaha UMKM, atau guru, sementara Aisyiyah pun memanggil untuk dijaga amanahnya. Bila tidak dikerjakan dengan gembira, semua akan terasa sebagai beban, dan kita tidak ingin pelayanan di Aisyiyah menjadi beban.

Berdampak, sebab apa yang kita lakukan tak boleh berhenti di ruang rapat atau diskusi daring. Kita ingin setiap langkah menjadi nyata, menyentuh kehidupan warga, dan menjadi catatan amal baik, bukan hanya catatan notulen rapat yang terlupakan. Kita ingin ibu-ibu pengajian dan ranting merasakan perubahan di kampungnya, dari urusan sampah rumah tangga hingga penguatan ekonomi berbasis komunitas.

Inti dari semua ini sederhana: kekuatan sejati ada pada mereka, orang-orang di dalam komunitas. Itulah kekayaan, itulah kekuatan.

Saya sering mengatakan bahwa ibu-ibu pengajian yang setiap pagi mengumpulkan uang sedekah subuh Rp 2.000 dan Bapak – Bapak di mengurusi masjid  adalah powerfull. Mereka memikirkan apa yang akan dimakan hari ini, dari mana uang sekolah anak, bagaimana menyemarakkan ranting, bagaimana membangun menyemarakkan majelis taklim dan masjid, bagaimana membantu tetangga yang sakit. Mereka adalah profesor-profesor komunitas yang layak kita hormati.

Lalu bagaimana agar berdampak? Dana-dana kecil yang terkumpul, keringat yang bercucuran, kerudung yang lepek setelah seharian berkeliling kampung, itulah yang menciptakan dampak nyata. Mereka membuat gerakan menanam cabai di polibag, membuat bank sampah sederhana, membagikan sayur kepada tetangga yang kesulitan, membuka warung sedekah dengan modal urunan kecil, membantu AUM bertahan agar tetap bisa membayar listrik di tengah pandemi. Mereka adalah wujud nyata kekuatan “small is beautiful”.

Small is Beautiful: Dari Schumacher untuk Muhammadiyah – ‘Aisyiyah

Ketika membaca karya E.F. Schumacher, Small is Beautiful: A Study of Economics As If People Mattered, saya merasa buku ini seperti menegaskan jalan yang telah Muhammadiyah – Aisyiyah tempuh. Schumacher menolak gagasan bahwa yang besar selalu lebih baik. Ia mengajarkan bahwa solusi-solusi kecil, lokal, sederhana, dan manusiawi adalah kekuatan sejati yang menjaga keseimbangan bumi dan martabat manusia.

Dalam Small is Beautiful, Schumacher menekankan teknologi tepat guna dan ekonomi berbasis komunitas, yang menjadi landasan dalam pembangunan berkelanjutan dan pemberdayaan masyarakat. Bukankah inilah yang telah dilakukan oleh ibu-ibu Aisyiyah dan kader – kader Muhammaidyah di berbagai daerah?

Green Aisyiyah adalah salah satu contohnya. Di beberapa wilayah, Green Aisyiyah menginisiasi penanaman pohon di halaman masjid dan sekolah, membuat kebun sayur bersama di lahan sempit, mengembangkan eco-brick dari sampah plastik rumah tangga, hingga edukasi daur ulang minyak jelantah untuk sabun. Mereka tidak menunggu proyek besar datang, tidak menunggu anggaran milyaran rupiah, melainkan memulainya dengan small steps namun konsisten, melibatkan jamaah, dan berjejaring dengan komunitas lain.

Di Ponorogo, ibu-ibu Green Aisyiyah membuat program Sedekah Sayur dari kebun kolektif untuk keluarga dhuafa. Di Yogyakarta, mereka mengajak anak-anak TPA untuk belajar memilah sampah, mendaur ulang plastik menjadi pot tanaman, dan membiasakan membawa botol minum sendiri. Di daerah-daerah rawan bencana, Green Aisyiyah mendorong pembuatan sumur resapan sederhana untuk menjaga ketersediaan air bersih dan mencegah banjir.

Di Magelang, ranting – ranting Muhammaidyah mengusahakan pengelollan sampah mandiri, di Masjid Muharam, Brajan Bantul, masjid menggunakan energi tenaga surya, dan ratusan langkah – langkah kecil nan sunyi yang tak terpublikasi. Semua kegiatan ini tampak kecil, sederhana, dan lokal. Namun Schumacher berkata, “Small is beautiful,” sebab dalam yang kecil, ada nilai keterhubungan, ada keberlanjutan, dan ada keadilan ekologis.

Mengembalikan Martabat Lingkungan Melalui Langkah Kecil

Dalam Small is Beautiful, Schumacher mengkritik ekonomi modern yang hanya mengejar pertumbuhan dan keuntungan tanpa batas, seringkali mengorbankan lingkungan dan keadilan sosial. Muhammadiyah – Aisyiyah, harus tegas mengusahakan langkah-langkah kecilnya, menawarkan alternatif: pembangunan yang memperhatikan kesejahteraan masyarakat dan kelestarian lingkungan.

Gerakan bank sampah ranting Aisyiyah – Muhamamdiyah di beberapa daerah telah mengurangi ratusan kilogram sampah setiap bulannya dari lingkungan, sekaligus mengedukasi anak-anak untuk peduli pada kebersihan. Mereka juga melibatkan pemulung dan ibu-ibu rumah tangga, menjadikan sampah sebagai sumber pendapatan tambahan untuk kebutuhan sekolah anak atau belanja dapur.

Di beberapa cabang, Aisyiyah bekerja sama dengan mahasiswa Muhammadiyah dalam membuat urban farming sederhana dengan teknologi irigasi tetes dari botol bekas. Di tempat lain, ibu-ibu Aisyiyah membuat eco-enzyme dari sisa kulit buah untuk cairan pembersih rumah tangga, menggantikan pembersih kimia yang merusak air.

Semua kegiatan ini tidak terlihat “hebat” secara kasat mata, tidak menjadi berita besar, namun mereka adalah perlawanan nyata terhadap krisis iklim dan kerusakan lingkungan. Mereka adalah implementasi Small is Beautiful di tengah kampung-kampung kita.

Kekuatan ada pada yang kecil dan berkesinambungan

Schumacher mengajarkan bahwa dalam ekonomi dan pembangunan, yang kecil dan sesuai kebutuhan adalah jalan terbaik bagi kelangsungan hidup manusia dan bumi. Banyak komunitas telah membuktikan hal ini dalam setiap langkahnya: gerakan ibu-ibu dengan sedekah subuh, kebun kolektif, bank sampah ranting, warung sedekah, hingga penanaman pohon satu per satu.

Teori ABCD yang kita jalankan bersama ibu-ibu Aisyiyah adalah jalan untuk menghargai potensi komunitas, memaksimalkan kekuatan yang ada, dan tidak menunggu datangnya bantuan dari luar untuk bergerak. Dengan gembira dan berdampak, mereka menghidupkan masjid, sekolah, dan kampung, menjadi ruang ramah bagi bumi, perempuan, anak-anak, dan masa depan.

Karena itu, saat kita melihat ibu-ibu dan bapak – bapak Muhammaidyah dan Aisyiyah yang sedang membawa karung sampah botol plastik dengan sepeda motor, memegang bibit cabai untuk dibagikan, atau memegang catatan keuangan hasil penjualan sampah untuk sedekah sekolah anak-anak dhuafa, ingatlah satu hal: Mereka sedang menjalankan “Small is Beautiful” dengan iman, ketekunan, dan cinta yang membumi.

Maka tugas kita adalah mendokumentasikan, mendukung, dan memperluas langkah kecil ini agar menjadi kekuatan besar untuk masa depan bumi dan generasi kita. Sebab langkah kecil yang dilakukan bersama, dengan hati gembira dan keinginan untuk berdampak, adalah kekuatan yang tak terkalahkan.

  • Penulis: Kabar Muhammadiyah

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Gerak Jalan Sehat RT 08/RW 03 Desa Buluh Rampai Sukses Digelar Bersama KKN 143 UMRI

    Gerak Jalan Sehat RT 08/RW 03 Desa Buluh Rampai Sukses Digelar Bersama KKN 143 UMRI

    • calendar_month Minggu, 16 Agt 2026
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 28
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, BULUH RAMPAI – Pada 16 Agustus 2026 Kegiatan Gerak Jalan Sehat RT 08/RW 03 Desa Buluh Rampai sukses diselenggarakan dengan meriah melalui kerja sama masyarakat bersama KKN Kelompok 143 Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI). Kegiatan ini menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya hidup sehat sekaligus mempererat silaturahmi dan kebersamaan antarwarga. Kegiatan gerak jalan […]

  • UMS dan PDM Boyolali Jalin Sinergi dalam Persiapan Program Pendampingan Sekolah

    UMS dan PDM Boyolali Jalin Sinergi dalam Persiapan Program Pendampingan Sekolah

    • calendar_month Rabu, 8 Okt 2025
    • account_circle Dwi Kurniadi
    • visibility 19
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) melalui Deputi Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) dan Hilirisasi Direktorat Pengabdian Kepada Masyarakat, Publikasi, dan Sentra KI (DRPPS), menunjukkan komitmennya dalam pengembangan masyarakat. Bidang PkM dan Hilirisasi UMS bekerja sama dengan Majelis Dikdasmen dan Pendidikan Nonformal (PNF) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Boyolali, menggelar koordinasi persiapan pendampingan sekolah di Ruang Sidang […]

  • Kader IMM DIY Serukan Keadilan dan Amanah Hadapi Main Hakim Sendiri, Kemiskinan, dan Korupsi

    Kader IMM DIY Serukan Keadilan dan Amanah Hadapi Main Hakim Sendiri, Kemiskinan, dan Korupsi

    • calendar_month Sabtu, 1 Agt 2026
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 21
    • 0Komentar

    KABARMUH. ID, BANTUL — Khutbah Salat Jumat di Masjid Al- Musannif, 50 Tabligh Institute, Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Jumat (31/7), mengangkat keresahan atas maraknya aksi main hakim sendiri, himpitan ekonomi yang menghimpit masyarakat, dan praktik korupsi yang dinilai tak kunjung surut.  Bertajuk “Antara Keadilan, Kesabaran, dan Amanah: Menyikapi Main Hakim Sendiri, Himpitan Ekonomi, dan Korupsi”, khutbah disampaikan oleh Dafa Isandi Ananto, S.Hum., Sekretaris DPD IMM DIY Bidang Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat yang juga mahasiswa Magister Antropologi Universitas Gadjah Mada menegaskan tiga persoalan tersebut yang saling berkelindan dan berakar pada dua nilai dasar Islam, yakni keadilan dan amanah. Ia mengawali dengan menyoroti bahaya tindakan main hakim sendiri atau vigilantisme yang belakangan terjadi di tengah masyarakat, seperti kasus pengeroyokan terhadap terduga pencuri hingga tindak kekerasan massa lainnya. “Perbuatan main hakim sendiri, betapapun kemarahan yang mendasarinya bisa dipahami, tentu tidak dibenarkan dalam Islam. Penegakan hukum adalah hak dan kewajiban otoritas yang berwenang, bukan hak perorangan atau kerumunan,” ujarnya mengutip QS. An-Nisa ayat 58 tentang kewajiban menetapkan hukum secara adil. Meski demikian, Dafa mengajak jamaah untuk jujur melihat akar persoalan. Menurutnya, tidak sedikit kasus pencurian kecil di masyarakat berawal dari desakan kebutuhan hidup, bukan semata niat jahat. “Ini bukan pembenaran atas perbuatan mencuri, karena mencuri tetap haram dan harus dipertanggungjawabkan. Namun memahami sebabnya, penting agar penyelesaiannya menyentuh akar permasalahan, bukan berhenti pada amarah sesaat,” katanya, mencontohkan kebijakan Khalifah Umar bin Khattab r.a. yang menangguhkan hukuman potong tangan bagi pencuri saat terjadi paceklik. Ia mengingatkan kaidah fikih dar’ul mafasid muqaddamun ‘ala jalbil mashalih, yang artinya “mencegah kerusakan lebih diutamakan daripada mendatangkan kemaslahatan.” Hal tersebut sebagai dasar pentingnya peran pemerintah, ulama, dan masyarakat untuk membuka lapangan kerja layak serta menghadirkan jaring pengaman sosial, bukan sekadar menghukum gejala di permukaan. Kedua, Dafa membahas himpitan ekonomi yang dihadapi banyak keluarga akibat kenaikan harga kebutuhan pokok dan terbatasnya lapangan kerja. Ia mengajak jamaah untuk menguatkan ikhtiar yang halal sekaligus tawakal, mengutip QS. At-Talaq ayat 2-3 tentang jalan keluar dan rezeki tak terduga bagi siapa saja yang bertakwa. “Himpitan ekonomi tidak boleh dijadikan alasan untuk menempuh jalan haram, baik itu mencuri, menipu, berutang riba, apalagi terlibat korupsi. Justru dalam kesempitan itulah keimanan seseorang diuji,” tegasnya. Ketiga, Dafa menyoroti praktik korupsi yang menurutnya justru memperparah kesulitan ekonomi rakyat kecil karena dana yang seharusnya sampai kepada yang membutuhkan diselewengkan oleh pihak yang mengkhianati amanah. “Korupsi bukan hanya pelanggaran hukum negara, tetapi juga dosa besar di hadapan Allah karena merupakan bentuk pengkhianatan terhadap amanah dan penzaliman terhadap hak-hak rakyat,” tegasnya. Ia membedakan akar dua persoalan tersebut. Jika pencurian kecil oleh rakyat kerap lahir dari desakan kebutuhan hidup, korupsi oleh sebagian pejabat atau pemegang amanah umumnya lahir dari keserakahan dan rasa tidak pernah cukup. “Memutus mata rantai kemiskinan struktural, pencurian kecil, hingga aksi main hakim sendiri harus dimulai dari akar paling atas, yakni memberantas korupsi serta menegakkan amanah,” ujarnya. Di penghujung khutbah, Dafa mengajak jamaah untuk menahan diri dari tindakan main hakim sendiri dan menyerahkan permasalahan hukum kepada pihak berwenang, sembari mendesak aparat keamanan meningkatkan kesiapsiagaan 24 jam. Ia juga mengajak untuk menguatkan ikhtiar halal di tengah kesulitan ekonomi, menjauhi dan melawan praktik korupsi sekecil apa pun mulai dari diri sendiri. Selain itu, selalu memperbanyak doa kepada Allah SWT agar hadirnya pemimpin yang amanah, serta memperkuat ta’awun atau saling membantu antar sesama, khususnya di masa-masa sulit seperti sekarang. Kontributor: Faisal Editor: Muhammad Farhan

  • Mahasiswa FH UMS Jalani PKL di Ngadirejo, Belajar Organisasi hingga Pengabdian Masyarakat

    Mahasiswa FH UMS Jalani PKL di Ngadirejo, Belajar Organisasi hingga Pengabdian Masyarakat

    • calendar_month Minggu, 17 Mei 2026
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 19
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, SURAKARTA – Sebanyak 15 mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id menjalani kegiatan Praktik Kerja Lapangan (PKL) di lingkungan Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) dan Pimpinan Ranting Aisyiyah (PRA) Ngadirejo, Kartasura, Sukoharjo. Kegiatan tersebut menjadi sarana pembelajaran langsung bagi mahasiswa untuk memahami kehidupan sosial masyarakat sekaligus memperkuat pengalaman berorganisasi di lingkungan Muhammadiyah dan Aisyiyah. […]

  • Refleksi Hari Sumpah Pemuda Ke-97

    Refleksi Hari Sumpah Pemuda Ke-97

    • calendar_month Selasa, 28 Okt 2025
    • account_circle Dwi Kurniadi
    • visibility 22
    • 0Komentar

    Sekretaris Bidang Hikmah PC IMM Pekalongan: Pemuda Harus Kembali pada Jati Diri Bangsa Sumpah Pemuda menjadi momentum penting bagi bangsa Indonesia dalam merefleksikan kembali peran generasi muda sebagai penerus cita-cita perjuangan. Namun, kondisi generasi muda Indonesia saat ini kerap memperlihatkan wajah yang memprihatinkan. Fenomena pergaulan bebas, perkelahian antar pemuda, penyalahgunaan narkoba, hingga tindakan yang mengabaikan […]

  • Berani Melangkah Keluar Batas

    Berani Melangkah Keluar Batas

    • calendar_month Rabu, 18 Sep 2024
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 237
    • 0Komentar

    Oleh: Fathan Faris Saputro, Anggota MPI PCM Solokuro Di sebuah desa kecil yang dikelilingi sawah hijau, hiduplah seorang anak buruh tani bernama Ardi. Sejak kecil, ia sudah akrab dengan cangkul dan lumpur, membantu orang tuanya di ladang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Keluarga mereka hidup sederhana, bahkan untuk makan sehari-hari terkadang harus menahan diri dari membeli […]

expand_less