Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Berita » Mengubah Cara Pandang: Dari Bumi sebagai Objek Menjadi Ruang Kehidupan Bersama

Mengubah Cara Pandang: Dari Bumi sebagai Objek Menjadi Ruang Kehidupan Bersama

  • account_circle Kabar Muhammadiyah
  • calendar_month Rabu, 6 Mei 2026
  • visibility 20
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

KABARMUH.ID, Jakarta – Krisis lingkungan yang semakin nyata hari ini tidak bisa lagi dilihat semata sebagai persoalan teknis. Di balik kerusakan alam, konflik sosial, hingga ketimpangan ekonomi, terdapat akar persoalan yang lebih mendasar: cara pandang manusia terhadap bumi.
Hal inilah yang menjadi benang merah dalam sesi pembuka Akademi Eco Bhinneka Muhammadiyah bertajuk Akar Krisis Lingkungan, Ketimpangan Sosial, dan Tantangan Pluralisme di Indonesia, pada 1 Mei 2026, yang berlangsung di Aula Asrama Mahasiswa FKIP Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (UHAMKA), Jakarta.
Sesi ini menghadirkan Direktur Eco Bhinneka Muhammadiyah, Hening Parlan, sebagai narasumber. Diskusi dimoderatori oleh Syahrul Ramadhan, dari GreenAbility Eco Bhinneka Muhammadiyah.
Dalam pemaparannya, Hening mengajak peserta untuk melihat bahwa akar krisis lingkungan berangkat dari cara manusia memandang bumi sebagai objek yang bisa dimanfaatkan sesuka hati.
Cara pandang ini tidak hanya datang dari sistem ekonomi yang mengejar keuntungan, tetapi juga dari pemahaman keagamaan yang belum utuh.
“Cara pandang kita terhadap bumi itu yang keliru. Kita menganggapnya sebagai objek yang bisa dieksploitasi,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa konsep khalifah fil ardh sering dipahami sebagai izin untuk menguasai alam, padahal seharusnya diiringi dengan tanggung jawab, keadilan, dan keseimbangan.
Diskusi kemudian diperdalam oleh Syahrul Ramadhan yang mengajak peserta melihat persoalan ini dari sisi spiritual. Ia mengingatkan bahwa dalam banyak tradisi, alam bukanlah sesuatu yang mati atau sekadar benda.
“Kalau kita melihat alam hanya sebagai objek atau komoditas, di situlah masalahnya dimulai. Padahal dalam banyak ajaran, alam itu punya nilai dan kehidupan,” jelasnya.
Ia juga mengaitkan hal ini dengan kisah tentang sifat iblis, yang memandang manusia—yang berasal dari tanah—sebagai sesuatu yang lebih rendah dan tidak bernilai. Cara pandang yang merendahkan dan menganggap “yang lain” sebagai objek inilah yang kemudian menjadi akar dari sikap eksploitatif.
Ketika manusia melihat alam hanya sebagai benda tanpa nilai, di situlah pola pikir yang sama terus berulang—mengambil, menguasai, dan mengeksploitasi tanpa mempertimbangkan dampaknya.
Akibatnya, krisis lingkungan tidak bisa dilepaskan dari ketimpangan sosial. Kekayaan dari sumber daya alam sering kali hanya dinikmati oleh segelintir pihak, sementara masyarakat luas harus menanggung dampaknya. Dari sini, konflik sosial pun muncul.
Lebih lanjut, Hening Parlan memaparkan dampak nyata dari cara pandang yang keliru tersebut.
“Kita sedang menghadapi tiga krisis besar sekaligus: krisis iklim, polusi, dan hilangnya keanekaragaman hayati,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa kerusakan ini tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga pada kehidupan sosial masyarakat.
“Dampaknya bukan hanya ke alam, tapi juga memperbesar konflik sosial dan melemahkan kehidupan bersama,” tegasnya.
Menjawab pertanyaan peserta, Hening menekankan bahwa batas antara pemanfaatan dan eksploitasi adalah pada prinsip sederhana: tidak merusak dan tidak berlebihan. Namun, ia juga mengakui bahwa dalam kenyataan, banyak orang dihadapkan pada pilihan yang tidak mudah, terutama karena tekanan ekonomi.
Karena itu, perubahan bisa dimulai dari hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-hari, sambil tetap mendorong perubahan yang lebih besar melalui advokasi dan kolaborasi.
Sebagai penutup, sesi ini mengajak peserta untuk membawa tiga hal penting. Pertama, menyadari bahwa akar krisis ada pada cara pandang kita, sehingga perubahan harus dimulai dari cara berpikir. Kedua, memahami bahwa krisis lingkungan adalah persoalan keadilan, bukan sekadar isu alam. Dan ketiga, menyadari bahwa setiap orang punya peran—sekecil apa pun—untuk ikut merawat bumi dan kehidupan bersama.
  • Penulis: Kabar Muhammadiyah

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Leas Imreoirí mar Thosaíocht: 500 Casino Pioneers Responsible Gaming in Ireland

    Leas Imreoirí mar Thosaíocht: 500 Casino Pioneers Responsible Gaming in Ireland

    • calendar_month Sabtu, 29 Agt 2026
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 9
    • 0Komentar

    Seo mise, comhairleoir cairdiúil ar chúrsaí cearrbhachais https://500-casinos.org/ga-ie/. Táim anseo leat chun plé a dhéanamh faoin ábhar seo, ábhar atá an-tábhachtach dúinn go léir in Éirinn. Tá an spraoi agus an craic fite fuaite inár gcultúr, mar a bhí i gcónaí. Ach tá a fhios ag gach duine freisin go mbíonn an lá ann nuair […]

  • Sofortige Aktivierung bei Unibet Casino bietet Boni zügiger in Österreich aus

    Sofortige Aktivierung bei Unibet Casino bietet Boni zügiger in Österreich aus

    • calendar_month Selasa, 11 Agt 2026
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 7
    • 0Komentar

    Wer in Österreich gerne online spielt, erlebt das Problem: Man will sofort loslegen, doch die Kontofreischaltung dauert https://unibet.one/de-at/. Bei Unibet Casino ist das anders geregelt. Hier wird freigeschaltet das Konto sofort nach der Registrierung. Das heißt, ich kann ohne Wartezeit mit dem Spielen starten und meine Willkommensboni direkt einsetzen. Für Spieler aus Österreich verändert das […]

  • Rahasia yang Disyukuri

    Rahasia yang Disyukuri

    • calendar_month Rabu, 31 Jul 2024
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 237
    • 0Komentar

    Oleh: Fathan Faris Saputro, MPID PDM Lamongan Fiersa Besari pernah berkata, “Beberapa rasa memang harus dibiarkan menjadi rahasia. Bukan untuk diutarakan, hanya untuk disyukuri keberadaannya.” Ungkapan ini menekankan pentingnya rasa syukur dalam hidup, bahkan untuk hal-hal yang tersembunyi. Rahasia-rahasia kecil yang kita simpan dapat menjadi sumber kebahagiaan dan kepuasan jika kita mampu mensyukurinya. Surat Ibrahim […]

  • Resmi Pimpin IMM Kota Gorontalo, Yunus Pasau Tancapkan Komitmen Transformasi Total dari Akar Rumput

    Resmi Pimpin IMM Kota Gorontalo, Yunus Pasau Tancapkan Komitmen Transformasi Total dari Akar Rumput

    • calendar_month Senin, 10 Agt 2026
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 15
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID; GORONTALO – Musyawarah Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Kota Gorontalo di bawah kepemimpinan yang baru, Periode 2026-2027 resmi menancapkan komitmen untuk melakukan transformasi total organisasi. Mengusung tema besar “Redesain Paradigma Gerakan Produktif Ikatan dalam Mengonstruksi Kepemimpinan yang Responsif-Solutif”, kepengurusan periode ini bertekad menghadirkan angin segar melalui gerakan yang berakar kuat dari tingkat basis (akar […]

  • Kader Muhammadiyah dan Pemuda Indonesia Jadi Jembatan Persahabatan Baru Lewat JENESYS 2025

    Kader Muhammadiyah dan Pemuda Indonesia Jadi Jembatan Persahabatan Baru Lewat JENESYS 2025

    • calendar_month Rabu, 26 Nov 2025
    • account_circle Dwi Kurniadi
    • visibility 12
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, JAKARTA — Delapan pemuda Indonesia yang tergabung dalam program JENESYS 2025 resmi kembali ke tanah air setelah mengikuti rangkaian kegiatan pertukaran pemuda di Tokyo dan Nagasaki, Jepang. Program ini menjadi ruang belajar bersama yang mempertemukan pemuda dari berbagai latar belakang untuk memperkuat dialog lintas budaya dan kolaborasi masa depan Indonesia–Jepang. Dalam acara penyambutan resmi […]

  • Pemanfaatan Artificial Intelligence Sebagai Media Pembelajaran Tafsir Al-Qur’an Di Era Digital

    Pemanfaatan Artificial Intelligence Sebagai Media Pembelajaran Tafsir Al-Qur’an Di Era Digital

    • calendar_month Jumat, 31 Okt 2025
    • account_circle Dwi Kurniadi
    • visibility 21
    • 0Komentar

    Oleh: Dava Agus Pratama Putra Pada era digital saat ini, perkembangan teknologi Artificial Intelligence (AI) berlangsung dengan sangat cepat dan telah menyentuh berbagai sektor, termasuk bidang pembelajaran keagamaan, khususnya tafsir Al-Qur’an. Sebagai sumber utama ajaran Islam, Al-Qur’an memiliki peran sentral dalam kehidupan spiritual umat Islam. Seiring kemajuan teknologi digital, metode pembelajaran tafsir yang sebelumnya bersifat […]

expand_less