Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Berita » Mengubah Cara Pandang: Dari Bumi sebagai Objek Menjadi Ruang Kehidupan Bersama

Mengubah Cara Pandang: Dari Bumi sebagai Objek Menjadi Ruang Kehidupan Bersama

  • account_circle Kabar Muhammadiyah
  • calendar_month Rabu, 6 Mei 2026
  • visibility 98
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

KABARMUH.ID, Jakarta – Krisis lingkungan yang semakin nyata hari ini tidak bisa lagi dilihat semata sebagai persoalan teknis. Di balik kerusakan alam, konflik sosial, hingga ketimpangan ekonomi, terdapat akar persoalan yang lebih mendasar: cara pandang manusia terhadap bumi.
Hal inilah yang menjadi benang merah dalam sesi pembuka Akademi Eco Bhinneka Muhammadiyah bertajuk Akar Krisis Lingkungan, Ketimpangan Sosial, dan Tantangan Pluralisme di Indonesia, pada 1 Mei 2026, yang berlangsung di Aula Asrama Mahasiswa FKIP Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (UHAMKA), Jakarta.
Sesi ini menghadirkan Direktur Eco Bhinneka Muhammadiyah, Hening Parlan, sebagai narasumber. Diskusi dimoderatori oleh Syahrul Ramadhan, dari GreenAbility Eco Bhinneka Muhammadiyah.
Dalam pemaparannya, Hening mengajak peserta untuk melihat bahwa akar krisis lingkungan berangkat dari cara manusia memandang bumi sebagai objek yang bisa dimanfaatkan sesuka hati.
Cara pandang ini tidak hanya datang dari sistem ekonomi yang mengejar keuntungan, tetapi juga dari pemahaman keagamaan yang belum utuh.
“Cara pandang kita terhadap bumi itu yang keliru. Kita menganggapnya sebagai objek yang bisa dieksploitasi,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa konsep khalifah fil ardh sering dipahami sebagai izin untuk menguasai alam, padahal seharusnya diiringi dengan tanggung jawab, keadilan, dan keseimbangan.
Diskusi kemudian diperdalam oleh Syahrul Ramadhan yang mengajak peserta melihat persoalan ini dari sisi spiritual. Ia mengingatkan bahwa dalam banyak tradisi, alam bukanlah sesuatu yang mati atau sekadar benda.
“Kalau kita melihat alam hanya sebagai objek atau komoditas, di situlah masalahnya dimulai. Padahal dalam banyak ajaran, alam itu punya nilai dan kehidupan,” jelasnya.
Ia juga mengaitkan hal ini dengan kisah tentang sifat iblis, yang memandang manusia—yang berasal dari tanah—sebagai sesuatu yang lebih rendah dan tidak bernilai. Cara pandang yang merendahkan dan menganggap “yang lain” sebagai objek inilah yang kemudian menjadi akar dari sikap eksploitatif.
Ketika manusia melihat alam hanya sebagai benda tanpa nilai, di situlah pola pikir yang sama terus berulang—mengambil, menguasai, dan mengeksploitasi tanpa mempertimbangkan dampaknya.
Akibatnya, krisis lingkungan tidak bisa dilepaskan dari ketimpangan sosial. Kekayaan dari sumber daya alam sering kali hanya dinikmati oleh segelintir pihak, sementara masyarakat luas harus menanggung dampaknya. Dari sini, konflik sosial pun muncul.
Lebih lanjut, Hening Parlan memaparkan dampak nyata dari cara pandang yang keliru tersebut.
“Kita sedang menghadapi tiga krisis besar sekaligus: krisis iklim, polusi, dan hilangnya keanekaragaman hayati,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa kerusakan ini tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga pada kehidupan sosial masyarakat.
“Dampaknya bukan hanya ke alam, tapi juga memperbesar konflik sosial dan melemahkan kehidupan bersama,” tegasnya.
Menjawab pertanyaan peserta, Hening menekankan bahwa batas antara pemanfaatan dan eksploitasi adalah pada prinsip sederhana: tidak merusak dan tidak berlebihan. Namun, ia juga mengakui bahwa dalam kenyataan, banyak orang dihadapkan pada pilihan yang tidak mudah, terutama karena tekanan ekonomi.
Karena itu, perubahan bisa dimulai dari hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-hari, sambil tetap mendorong perubahan yang lebih besar melalui advokasi dan kolaborasi.
Sebagai penutup, sesi ini mengajak peserta untuk membawa tiga hal penting. Pertama, menyadari bahwa akar krisis ada pada cara pandang kita, sehingga perubahan harus dimulai dari cara berpikir. Kedua, memahami bahwa krisis lingkungan adalah persoalan keadilan, bukan sekadar isu alam. Dan ketiga, menyadari bahwa setiap orang punya peran—sekecil apa pun—untuk ikut merawat bumi dan kehidupan bersama.
  • Penulis: Kabar Muhammadiyah

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • UMS Jadi Tuan Rumah Annual Meeting ASKUI PTMA 2025, Gelorakan Semangat Internasionalisasi

    UMS Jadi Tuan Rumah Annual Meeting ASKUI PTMA 2025, Gelorakan Semangat Internasionalisasi

    • calendar_month Selasa, 21 Okt 2025
    • account_circle Dwi Kurniadi
    • visibility 76
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) dipercaya menjadi tuan rumah kegiatan “Annual Meeting Asosiasi Kantor Urusan Internasional (ASKUI) Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) 2025”. Kegiatan ini diselenggarakan di ruang meeting Hotel Alana, pada Senin-Rabu (20-22/10), dan dihadiri oleh delegasi dari 45 PTMA dari berbagai daerah di Indonesia. Kegiatan yang rutin digelar setiap tahun […]

  • Panti Asuhan Yatim Putri Aisyiyah Grogol Sukoharjo, Gelar Wisuda Tahfidz Serta Pelepasan Anak Asuh.

    Panti Asuhan Yatim Putri Aisyiyah Grogol Sukoharjo, Gelar Wisuda Tahfidz Serta Pelepasan Anak Asuh.

    • calendar_month Senin, 1 Jul 2024
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 306
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Sukoharjo – Gedung LKSA Panti Asuhan Putri Muhammadiyah Grogol menjadi ruang dan waktu berlangsungnya sebuah acara Wisuda Tahfidz dan pelepasan anak asuh. Acara wisuda tahfidz tersebut resmi diselenggrakan pada Ahad pagi. (23/6/2024). Acara Wisuda ini mewisudakan 18 santriwati dari 35 orang santriwati yang mengikuti acara, Panti Asuhan Yatim Putri Aisyiyah Grogol Sukoharjo. Sambutan ibu […]

  • Kekufuran Bani Israil sebagai Renungan Setiap Insan, UMS Gelar Kajian Tafsir Al-Baqarah Ayat 60-66

    Kekufuran Bani Israil sebagai Renungan Setiap Insan, UMS Gelar Kajian Tafsir Al-Baqarah Ayat 60-66

    • calendar_month Selasa, 9 Des 2025
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 72
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menyelenggarakan Kajian Tafsir Al-Qur’an, bersama Dr. Ainur Rha’in Bakrun, S.Th.I, M.Th., sebagai narasumber. Kali ini, pembahasan merefleksikan sejarah Bani Israil untuk dijadikan sebagai pelajaran dalam menjalani kehidupan. Rhain-begitu sapaan akrabnya, memaparkan tafsir surat Al-Baqarah ayat 60-66, yang secara garis besar membahas tentang nikmat-nikmat yang didurhakai oleh Bani Israil, […]

  • Dari Pesantren untuk Negeri: Gerakan 1000 Cahaya Dorong Kemandirian Energi dan Budaya Hemat Listrik

    Dari Pesantren untuk Negeri: Gerakan 1000 Cahaya Dorong Kemandirian Energi dan Budaya Hemat Listrik

    • calendar_month Senin, 9 Mar 2026
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 89
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Banyumas – Upaya mendorong kemandirian energi dan budaya hemat listrik di lingkungan pesantren memasuki babak baru. Selama tiga hari, 27 Februari–1 Maret 2026, Program 1000 Cahaya bekerja sama dengan Lembaga Pengembangan Pesantren (LPP) PP Muhammadiyah menggelar Lokakarya Efisiensi dan Transisi Energi Listrik di Aula Pondok Pesantren Zam-Zam Cilongok, Banyumas. Kegiatan ini mempertemukan 40 perwakilan pesantren […]

  • DAD PK IMM Salahuddin Al-Ayyubi Sukses Digelar, Masjid Taqwa Muhammadiyah Jadi Saksi Lahirnya Kader Berkemajuan

    DAD PK IMM Salahuddin Al-Ayyubi Sukses Digelar, Masjid Taqwa Muhammadiyah Jadi Saksi Lahirnya Kader Berkemajuan

    • calendar_month Selasa, 21 Apr 2026
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 72
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, PADANG – Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PK IMM) Salahuddin Al-Ayyubi sukses menyelenggarakan Darul Arqam Dasar (DAD) sebagai upaya memperkuat basis ideologi mahasiswa. Kegiatan ini berlangsung selama empat hari, sejak Kamis hingga Ahad, 16–19 April 2026, bertempat di Masjid Taqwa Muhammadiyah Sumatera Barat. Mengusung tema “Transformasi Kader dari Krisis Identitas Menuju Gerakan Berkemajuan di […]

  • Soroti Perlindungan WNI di Luar Negeri, Tim Mahasiswa UMS Raih Juara II Policy Brief 2026

    Soroti Perlindungan WNI di Luar Negeri, Tim Mahasiswa UMS Raih Juara II Policy Brief 2026

    • calendar_month Selasa, 6 Okt 2026
    • account_circle Nurul Fahri Friyanda
    • visibility 68
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID; SURAKARTA – Penguatan perlindungan terhadap Warga Negara Indonesia (WNI) di luar negeri membutuhkan dukungan regulasi dan integrasi data antarlembaga yang lebih kuat. Gagasan tersebut diangkat delegasi Kelompok Studi Penelitian dan Debat (KSPD) Verfassung Fakultas Hukum dan Ilmu Politik (FHIP) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) melalui policy brief yang berhasil mengantarkan mereka meraih Juara II Policy […]

expand_less