NGOPAQ #2 MPQ UMS Bahas Adab dan Hakikat Kritik dalam Perspektif Islam
- account_circle Unaise Albunayya
- calendar_month 6 jam yang lalu
- visibility 47
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
KABARMUH.ID, SURAKARTA — Mahasiswa Pencinta Al-Qur’an (MPQ) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menyelenggarakan kegiatan Ngobrol Seputar Qur’an (NGOPAQ) #2 bertajuk “Ketaatan Tanpa Kritik: Kesalehan atau Pembungkaman? (Hakikat Kritik dan Demonstrasi dalam Perspektif Islam)” pada Sabtu (17/10/2026). Kegiatan yang berlangsung di Fakultas Komunikasi dan Informatika (FKI), Kampus 2 UMS, ini diikuti sekitar 27 orang, termasuk pemantik dan moderator.
Diskusi ini mengangkat persoalan ketaatan, kritik, dan demonstrasi dalam perspektif Islam. Tema tersebut menjadi ruang dialog untuk mendiskusikan hubungan antara nilai-nilai keislaman, sikap kritis, dan penyampaian aspirasi dalam kehidupan bermasyarakat.
NGOPAQ #2 menghadirkan dua pemantik, yakni Azhar Ardiansyah, Ketua Umum PC Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Sukoharjo 2026, dan Tholhah Hananah, Ketua Departemen Musabaqoh Pembinaan Huffazh MPQ UMS 2026. Diskusi dipandu oleh Fauziyah Salma Anfihar, Sekretaris Departemen Syiar MPQ UMS 2026, sebagai moderator.
Membedakan Ketaatan Mutlak dan Kritik Konstruktif
Meneladani QS. An-Nisa ayat 59, pemantik NGOPAQ #2 Tholhah Hananah menjelaskan bahwa ketaatan kepada pemegang kekuasaan (ulil amri) tidak bersifat mutlak layaknya ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.
“Di dalam Al-Qur’an kan disebutkan memang ayatnya berbunyi ‘Athi’ullaha wa athi’ur-rasula wa ulil amri minkum’. Tapi di situ terdapat perbedaan sebenarnya terkait bagaimana cara kita memandang untuk mematuhi ataupun menaati daripada hal tersebut,” kata Tholhah. Ia menambahkan, “Ada satu paradigma yang mengatakan bahwasanya kritik itu berbeda dengan ketidaktaatan.”
Tholhah juga mengutip petunjuk Al-Qur’an (QS. An-Nahl: 125) mengenai metode penyampaian saran dan kritik secara bijaksana.
“‘Ud’u ila sabili rabbika bil-hikmati’. Yang pertama tentunya dengan hikmah. Hikmah di sini kalau kita boleh memahami adalah dengan kebijaksanaan, yang mana salah satu artinya adalah dengan memilih cara ataupun metode yang sekiranya berdampak,” jelasnya.
Senada dengan hal itu, Azhar Ardiansyah menegaskan bahwa menyampaikan pendapat dan mengkritik kebijakan merupakan bentuk kepedulian terhadap bangsa.
“Oh, kita bebas berekspresi. Oh, kita bebas menyuarakan kritik terhadap kebijakan, ya, bukan personalitas, bukan personal,” ujar Azhar. Ia menambahkan, “Karena mengkritik itu bentuk satu bentuk cinta, ya, cinta tanah air.”
Azhar juga menekankan bahwa kritik yang baik harus dilandasi oleh argumen dan fakta yang kuat.
“Kritik itu yang saya pahami adalah ketika kita benar-benar membawa satu isu dengan data. Membawa satu isu dengan data, membawa satu keresahan dengan data,” tegasnya.
Refleksi Gerakan Mahasiswa dan Ragam Saluran Aspirasi
Diskusi semakin dinamis saat Zulfikar, mahasiswa semester 7 Prodi IQT UMS yang hadir sebagai peserta, menyoroti fenomena massa aksi yang rentan terjebak sikap ikut-ikutan (FOMO) tanpa memahami substansi kajian isu.
“Mayoritas mereka ikut demo itu hanya sekadar FOMO, atau bahasa yang ke-Arab-araban itu taklid buta,” ujar Zulfikar sembari mendorong pentingnya edukasi dan penafsiran historis atas pandangan ulama.
Menanggapi hal tersebut, para pemantik menekankan pentingnya adab serta keragaman cara dalam memperjuangkan aspirasi. Tholhah mengingatkan agar aksi penyampaian pendapat tetap berlandaskan moral dan solusi.
“Diam di hadapan kezaliman bukan berarti taat, teman-teman. Kemudian, berteriak tanpa adab juga bukan berarti sebagai tanda keberanian. Tentunya ketika kita mengkritik, ketika kita menyampaikan aspirasi, tentunya harus dengan ilmu, adab, dan kalau bisa sebisa mungkin kita juga berkontribusi untuk menawarkan solusi,” pungkas Tholhah.
Sementara itu, Azhar mengajak mahasiswa untuk tidak kaku dan memanfaatkan saluran karya ilmiah maupun media sebagai saluran perjuangan.
“Mungkin dari saya closing statement, ya. Teman-teman, mengeluarkan aspirasi tuh enggak harus demo. Teman-teman bisa tulis esai, tulis artikel, bisa mengeset-eset tentang isu-isu daerah, tentang sampah atau banjir dan sebagainya,” tandas Azhar.
Melalui forum ini, peserta memperoleh ruang untuk mendiskusikan hakikat kritik dan demonstrasi dengan menjadikan perspektif Islam sebagai salah satu landasan pembahasan. Melalui NGOPAQ, mahasiswa diharapkan dapat mengembangkan pemahaman keagamaan yang reflektif, dialogis, dan bertanggung jawab dalam menyikapi dinamika kehidupan masyarakat.
Kontributor: Anqiya Zaki Mushoddiq
Editor: Unais Albunayya
- Penulis: Unaise Albunayya